Perjalanan ke Atap Dunia

Judul: Perjalanan ke Atap Dunia: Tibet, Nepal, dan Cina dalam Potret Jurnalisme

Penulis: Daniel Mahendra

Penerbit: Medium (imprint Penerbit Nuansa Cendekia)

Cetakan I: Mei 2012

Tebal: 354 halaman

“Begitu banyak petualang, traveler, atau backpacker. Tapi sedikit sekali yang melakukan pekerjaan menulis.” ~ Gol A Gong

Awalnya agak susah mencari buku ini. Mungkin karena saya terlalu cepat mencarinya (dan terlalu bernafsu, karena saya doyan buku-buku kayak begini), padahal buku ini belum beredar di toko buku. Sampai suatu hari saya menemukan informasi tentang acara bedah buku ini di sebuah kampus swasta di Bandung, Sabtu 5 Mei lalu.

Acara tersebut sebenarnya dijadwalkan mulai pukul 19.00. Tapi waktu saya datang jam 20.00 pun acara belum juga dimulai. Hanya tampak beberapa orang (yang sepertinya panitia) di ruangan itu. Akhirnya saya hanya beli bukunya, tapi langsung pergi lagi karena ada acara lain. Lumayan, saya beli buku ini dengan harga Rp 39.900, lebih murah daripada harga aslinya yang Rp 58.000. :P

Seminggu kemudian saya baru sempat membaca buku ini. Persisnya di kereta dalam perjalanan menuju Jogja. Saya memang selalu gelisah dan tidak tahan kalau bepergian tanpa membawa buku. Dan buku ini ternyata sangat pas dibaca dalam perjalanan saya dengan kereta malam itu.

Membaca sebuah catatan perjalanan (travel writing) itu sesungguhnya sangat menyenangkan. Pembaca dibawa ke negeri-negeri asing, seolah ikut melihat dan merasakan apa yang dialami penulisnya, berikut pergulatan batinnya. Perjalanan ke Atap Dunia berkisah tentang mimpi Daniel Mahendra. Saat masih kecil ia begitu terpukau pada komik Tintin berjudul Tintin di Tibet. Selain itu ia juga sangat menggemari kisah petualangan Balada Si Roy karya Gol A Gong (tak pelak, soul buku ini pun terasa sangat Gol A Gong). Belum lagi saat ia menonton film Seven Years in Tibet. Makin lengkaplah segala hal yang mendorongnya pergi ke negeri yang berada di dataran tertinggi di dunia tersebut.

Persiapan sebelum berangkat pun ia ceritakan dengan detail. Awalnya Daniel hendak pergi bersama seorang kawannya, namun karena ada halangan ia akhirnya harus pergi sendiri. Singkat cerita, Daniel pun berangkat dengan Thai Airways, menginap semalam di bandara Suvarnabhumi di Bangkok, lalu mendarat di Chengdu, Cina. Dari Chengdu perjalanan diteruskan lewat jalan darat.

Sungguh asyik saat menyimak kisah Daniel naik kereta yang perlahan-lahan melaju ke daratan tinggi, hingga ribuan meter dari permukaan laut. Kemudian saat Daniel menjalin pertemanan dengan beberapa backpacker dari negara-negara lain, jatuh cinta kepada seorang gadis Perancis yang sedang studi doktoral di India, bergantian terkena Acute Mountain Sickness (aneka penyakit yang timbul akibat berada di ketinggian ribuan meter) bersama Juan Carlos Muñoz, pemuda Amerika Latin namun berkewarganegaraan Amerika Serikat. Atau saat Daniel mengamati kehidupan warga Muslim Tibet yang minoritas dan sholat bersama mereka. Juga cara Daniel mengisahkan betapa sebalnya dia karena nama Indonesia ternyata tak terlalu dikenal oleh orang-orang dari negara lain, entah dia disangka orang Malaysia, atau saat dia bertemu orang betu-betul tidak tahu di mana itu Indonesia—kecuali saat sudah diberitahu bahwa Indonesia itu terletak di dekat Singapura dan Malaysia. Pendek kata: seru!

Daniel menuliskan pengalamannya dengan bahasa yang enak dan mengalir, namun hal ini tak mengurangi bobot tulisannya. Ia juga tak lupa menyelipkan potongan kisah yang ironis tapi disampaikan dengan kocak. Misalnya saat ia melihat kebiasaan warga Cina yang terkenal itu: berdahak keras dan meludah sembarangan. :) Daniel menulis: “Bukankah aku sedang berada di negara mereka? Mengapa aku harus jijik dengan kebiasaan mereka hanya karena aku datang dari negara yang tidak memiliki kebiasaan seperti itu?” Pemikiran yang cukup adil, saya kira, walau belum tentu semua orang setuju. Yang saya suka, Daniel selalu menyelipkan kutipan-kutipan indah pada awal setiap bab yang dia tulis.

Daniel juga gelisah. Awalnya dia sangat gembira karena akhirnya bisa mengunjungi negeri yang diimpikannya sejak lama. Namun saat ia memasuki kuil-kuil dan melihat para biksu yang sedang berdoa dijadikan tontonan oleh para turis, hatinya berontak. Tapi ia sedikit bisa berkompromi saat melihat bahwa para biksu itu pun tampak tidak peduli dan tetap khusyuk merapalkan kitab suci mereka.

Foto-foto berwarna di dalam buku. Sayang kurang banyak :)

Buku ini dilengkapi dengan foto-foto berwarna dan diberi kata pengantar oleh Gol A Gong—yang isinya tak kalah asyik dibanding tulisan Daniel. Yang lucu, Gol A Gong tampak “geram” saat Daniel meminta dibuatkan kata pengantar: “Huh! Sialan sekali Daniel ini! Baru juga ke Tibet, sudah menulis buku!” :P Kemudian Gol A Gong pun mendidih dan adrenalinnya berontak. Naluri petualangannya muncul akibat membaca tulisan Daniel ini….hehehe!

Ya, saya kira memang begitu rasanya saat kita membaca catatan perjalanan orang lain—kita seolah ikut melihat pemandangan yang dikisahkan penulisnya, merasakan pergulatan batin penulisnya.

Walau demikian, ada beberapa catatan dari saya:

1. Subjudul Tibet, Nepal, dan Cina dalam Potret Jurnalisme tidak cocok dengan isinya. Setelah rampung membaca buku ini, menurut saya tulisan Daniel sama sekali bukan sebuah tulisan jurnalistik. Emosi dan pergulatan batin penulis sangat kuat di sini. Buku ini jelas sebuah memoar, lebih tepatnya lagi catatan perjalanan. Contoh buku catatan perjalanan yang ditulis dengan gaya jurnalistik adalah buku Haji Nekat yang resensinya saya tulis di blog ini juga.

2. Ada beberapa typo dalam buku ini. Misalnya di halaman 21, tertulis “Traveling, al you have to do…” (ya, kurang satu ‘l’). Kemudian di halaman yang sama ada tulisan begini: “Suhu udara yang minus 0° Celcius terasa….”. Hmm, menurut saya sih nol ya nol, tidak ada namanya -0°, kan? Kemudian dalam buku ini bandara di Bangkok itu selalu ditulis Survanabhumi, padahal yang benar adalah Bandara Suvarnabhumi.

3. Cap bertulisan “Menggapai Impian, Meraih Makna Perjalanan” itu sama sekali tidak perlu. Kalimat tersebut berbau buku motivasi, padahal ini travelogue—memoar dan catatan perjalanan Daniel Mahendra. Cover-nya sendiri sudah oke, gambar rel kereta di tengah kepungan gunung, sepi dan melankolis.

Namun, terlepas dari sedikit kekurangan di atas, saya harus mengakui bahwa ini buku keren. Jangan berpikir bahwa catatan dari saya di atas lantas membuat buku ini jadi tidak asyik disimak. Tebalnya yang 350-an halaman malahan terlalu tipis rasanya buat saya, karena kisah perjalanan Daniel ini sangat menarik. Mestinya ada lebih banyak traveler/backpacker yang menuliskan pengalamannya. Soalnya buku panduan traveling sudah terlalu banyak.[]

6 Comments

Filed under Buku, Traveling

Mudik ke Jogja: Dari Kingkong Sampai Oseng-Oseng Mercon

Ini pertama kalinya saya mudik ke Jogja lagi setelah tiga tahun. Ada acara pengajian memperingati 1000 hari meninggalnya kakek saya (yang  meninggal tiga tahun lalu). Seminggu sebelum berangkat saya sudah memesan tiket kereta PP seharga Rp 260 ribu. Jumat malam (11/5) saya berangkat naik Lodaya. Ah, kelas bisnis ini kok sekarang makin kusam dan butut. Kalah jauh dibanding MRT Singapura…hehe! Dulu waktu saya masih pacaran dan bolak-balik Jogja-Bandung 4 kali setahun gerbongnya masih bagusan. Tapi untunglah saya selalu bawa buku untuk teman perjalanan sehingga bisa melupakan kebututan gerbong malam itu. Saya pun tenggelam menikmati buku Perjalanan ke Atap Dunia tentang perjalanan penulisnya ke Nepal dan Tibet.

Tiba Sabtu subuh di Jogja (12/5), saya langsung jalan kaki ke rumah, soalnya rumah saya cuma 5 menit jalan kaki dari pintu belakang stasiun. Dulu, ada tiga keluarga adik ibu saya yang tinggal di rumah di kompleks PJKA ini. Sekarang tinggal satu keluarga plus adik nenek saya. Kakek saya dulunya memang bekerja di PJKA (sekarang Perumka), makanya keluarga besar kami tinggal di kompleks ini. Ibu saya belum kuat melakukan perjalanan ke Jogja setelah pasang ring jantung bulan lalu, dan ayah saya pun di rumah menemani ibu.

Hari itu acara pertama saya adalah mengurus proses mutasi motor saya. Sudah tiga tahun saya tidak bayar pajak karena sejak 2007 saya sudah meninggalkan Jogja, sementara STNK motor saya akan habis Agustus 2012 ini. Jadi sekalian saya saya mutasikan ke Bandung karena sekarang saya sudah punya KTP (Kabupaten) Bandung. Proses yang memakan waktu sekitar dua jam lebih itu akhirnya ditutup dengan “vonis” bahwa saya harus bayar Rp 780 ribu dengan rincian pajak 3 tahun plus denda-dendanya. Saya sendiri sudah memprediksi bakal sebesar itu, jadi nggak terlalu kaget.

Dari Samsat Jogja, saya jalan kaki pulang ke rumah (cuma 10 menit), istirahat sebentar, lalu meminjam motor om saya untuk keliling kota. Ah, betapa fisik kota Jogja sebagian sudah berubah. Kota ini di mata saya jadi lebih hijau dan rimbun. Hotel-hotel juga semakin banyak. Bahkan gedung kursus bahasa Inggris LIA dekat rumah saya kini sudah jadi hotel.

Sekarang, di banyak ruas jalan sudah ada beton divider (pembatas jalan) yang sekaligus ditanami pepohonan. Divider ini terutama berguna sekali untuk mencegah pengendara ugal-ugalan yang suka mengambil jalur yang berlawanan arah. Dulu saya pernah terjebak dalam keributan antara sopir bus dan pengemudi mobil pribadi. Si sopir mobil ini tidak mau memberi jalan untuk bus yang jelas-jelas salah mengambil jalur yang berlawanan.

Selain divider, saya melihat di beberapa ruas trotoar juga dibangun kanopi yang atapnya dirimbuni oleh tanaman rambat. Saat melewati Jl. Malioboro, banyak juga area depan toko dan area parkir yang dihiasi kanopi hijau seperti ini. Bikin Jogja makin hijau dan rimbun! :P Saya acung jempol buat tata kota seperti ini. Dan Jogja juga bersih. Beda banget dengan Bandung yang kotor dan berdebu. Di Jogja juga agak susah cari jalanan yang banyak lubangnya, tidak seperti di Bandung yang warganya harus hafal posisi lubang di jalanan agar tidak tersungkur. :) Program bus TransJogja saya lihat juga lancar. Punya beberapa jalur dan setidaknya nggak bikin macet karena selalu berhenti di halte dan nggak ada angkot brengsek di kota.

Saya menyusuri Jl. Kaliurang, ring road, Jl. Gejayan, kawasan UGM…wow, pilihan wisata kulinernya makin edyan! Nyaris semua kawasan ini dipadati dengan warung makan, resto, dan kafe yang mengundang selera. Para pedagang kaki lima yang dulu ditempatkan di belakang gedung BNI sekarang sudah dipindah ke area lembah UGM. Dulu saya sering makan ketoprak dan sop buah saat para pedagang itu masih jualan di sekitar Bundaran dan Gelanggang UGM.

Sorenya, setelah tidur siang barang satu jam, saya bantu-bantu sedikit untuk persiapan acara pengajian malam harinya. Malamnya selepas acara, teman saya Adi dan Dinar, istrinya, tiba di rumah sekitar jam 9 malam. Kami mengobrol sampai tengah malam di kebun rumah yang luas, bergosip soal teman-teman di pers mahasiswa dulu, tentang Jogja, tentang MU (!), sambil ditemani sepiring kari yang rasanya nggak jelas dan segelas secang hangat….hehe! Sayangnya saya malah nggak jadi ketemu Imam, teman saya yang lain yang lagi kuliah S-2 di UGM dan doyan ngobrol hal-hal yang “dalem”. Padahal kalau saya tinggal agak lama lagi mungkin akan ditraktir makan di warung SS (Spesial Sambal) sama teman saya ini karena dia juga bekerja di sana. :)

Soto Pak Gareng…masih gayeng! :)

Hari Minggu (13/5), sekitar jam 6 pagi saya sudah keluar rumah, jalan kaki menuju Jl. Mangkubumi. Buat apa lagi kalau bukan untuk sarapan :) Dulu, paling tidak seminggu sekali saya biasa makan soto di warung Pak Gareng. Ternyata rasanya masih maknyus seperti dulu, harganya juga nggak mahal, cuma Rp 5.000 semangkok. Yang saya suka, “teman” untuk makan soto di sini banyak: ada sate ayam, sate telor puyuh, sate ati, dll. Pulangnya saya bawa lagi tiga bungkus buat orang rumah.

Semakin siang, makin tak jelas apakah saya bisa pinjam motor seharian atau ada teman yang bisa pinjemin motor atau nganterin saya ke mana-mana sekalian. Lagi pula, susah juga bikin janji dengan teman-teman yang sekarang punya kesibukan masing-masing. Mau ketemu Tante Tya, teman curhat saya dulu sekaligus partner main badminton dan wisata kuliner, juga agak susah karena dia punya acara dengan keluarganya.

Seporsi gudeg dengan ayam dan telor…. :P

Siangnya, saya sempat pinjam motor tante saya sebentar, dan saya gunakan untuk beli oleh-oleh bakpia dan keripik jamur, lalu saya main ke Jl. Wijilan untuk makan gudeg. Hmmm….gudeg paling enak memang di tempat asalnya. :) Saya juga akhirnya bisa beli gudeg kalengan yang artikelnya pernah dimuat di Kompas tempo hari. Harganya Rp 25 ribu dan tahan hingga setahun! Tanpa bahan pengawet pula….

Ini dia gudeg kalengan itu…

Sorenya, rombongan keluarga saya sudah pergi duluan untuk nyekar ke pemakaman keluarga besar kami di kawasan Krapyak. Saya bilang saya akan menyusul karena sebelumnya saya harus ketemu dulu dengan Saptuari, entrepreneur Jogja yang bukunya saya edit dan akan diterbitkan oleh penerbit Mizan.

Akhirnya, teman SMA saya, Ferry, memastikan bisa menjemput saya. Kami langsung menuju kawasan Wonocatur, Bantul, persisnya ke warung Mas Kingkong, warung makan milik Saptuari. Sepanjang jalan menuju ke sana Ferry banyak bercerita soal teman-teman SMA kami: ada yang jadi pengusaha mebel, ada yang kerja di Australia, ada yang jadi mualaf (!), ada yang hilang nggak jelas, dan ada juga yang entah kena penyakit apa sehingga jadi kurus kering kayak tengkorak. Termasuk tentang si Ferry sendiri yang setelah 12 tahun kuliah S-1 akhirnya lulus juga….hahaha! :P

Di warungnya, sekitar 300 meter arah timur dari Pasar Wonocatur, Maguwo, Saptuari menyambut kami dengan hangat dan senyum lebar. Baru duduk beberapa detik dia sudah mempersilakan kami memilih mau makan apa. “Aku yang traktir!” begitu katanya. Di warung ini ada beberapa menu yang namanya lucu-lucu: Ayam Kriuk-kriuk, Bubur Ayam Siang Malam, Rawon Monggo Mawon. Saya pilih rawon karena siangnya saya sudah makan ayam campur gudeg.

Makan sore bareng Saptuari :)

Sambil makan sore, kami mengobrol banyak hal. Dari topik seputar penerbitan bukunya sampai tentang bisnis-bisnis yang dia miliki. Beberapa tahun lalu saya pernah ketemu dengan alumnus UGM ini, tepatnya waktu saya mau wawancara tentang Kedai Digital untuk artikel di majalah Entrepreneur Indonesia tempat saya jadi wartawan, sekaligus bikin mug dengan foto saya dan mantan pacar saya (yang sekarang sudah jadi istri).  Beberapa tahun kemudian saat membaca buku Wirausaha Mandiri tulisan Rhenald Kasali, saya kaget karena menemukan nama Saptuari di situ sebagai juara dua tingkat nasional Penghargaan Wirausaha Muda Mandiri 2007 kategori alumni dan pascasarjana. Mantep tenan bos yang satu ini. :) Teman saya Ferry malah nggak bisa menyembunyikan kegembiraannya karena ketemu orang top dan minta difoto bareng…hahaha! :D

Awas daging kingkong! :D

Warung Mas Kingkong ini baru berdiri sekitar tiga minggu, dan ini hanya salah satu bisnis Saptuari. Bisnis awalnya adalah Kedai Digital, perusahaan yang memproduksi aneka barang cinderamata seperti mug, t-shirt, pin, gantungan kunci, mouse pad, foto dan poster keramik, serta banner) dengan hiasan hasil print digital. Selain itu ia juga punya warung bakso dan perusahaan t-shirt bernama Jogist, yang desainnya berisi permainan kata-kata lucu khas Jogja. Belakangan nama Saptuari juga selalu dikaitkan sebagai dedengkot Sedekah Rombongan, komunitas dunia maya yang sering mengumpulkan uang sedekah dan terjun langsung untuk memberikan sedekah tersebut kepada kaum miskin papa yang membutuhkan.

Puas makan dan ngobrol, saya diantar Ferry ke Krapyak untuk nyekar. Saat mengantar saya pulang selepas maghrib, kebetulan kami melewati Jl. KH. Ahmad Dahlan. Saya langsung ingat bahwa saya dulu sering makan oseng-oseng mercon di sekitar sini. Langsunglah saya minta diantar ke warung tersebut. Warung Bu Narti ini memang warung oseng-oseng mercon pertama di Jogja. Berhubung masih kenyang, saya beli aja seporsi oseng-oseng mercon dan iso goreng buat dibungkus dan dibawa ke Bandung. Cukup bayar Rp 20 ribu untuk dua masakan itu. Rasanya harganya tidak terlalu banyak berubah sejak zaman saya kuliah dulu. Buat yang nggak tahu, oseng-oseng mercon adalah masakan sandung lamur dan otot sapi yang diracik dengan menggunakan resep pedas dari cabai rawit dengan perbandingan untuk setiap daging 5 kg cabainya 1 kg, sehingga pedasnya sangat mantap bagi penyuka pedas seperti saya. Di Jl. KH. Ahmad Dahlan ini juga saya lihat sudah ada 4-5 warung oseng-oseng mercon lain selain milik Bu Narti, padahal dulu belum ada. Akankah oseng-oseng mercon menjadi kuliner khas Jogja selain gudeg? :P

Konon ceritanya warung oseng-oseng mercon Bu Narti ini dirintis oleh ibunya yang mulai berjualan tahun 1960-an. Waktu itu, ibunya  memperoleh pemberian daging yang dicoba dimasak menjadi oseng-oseng yang pedas dan dijual, dan ternyata laku. Bu Narti lalu meneruskan berjualan di jalan KH Ahmad Dahlan, dari jam 5 sore sampai dengan jam 10 malam. Beberapa hari sebelum berangkat ke Jogja malah saya melihat liputan soal oseng-oseng mercon ini di RCTI.

Sarapan oseng mercon…hebatnya nggak mules meski makannya pagi-pagi :D

Malamnya, sekitar jam 22.00, kereta Lodaya bergerak menuju Bandung. Tengah malam saya terbangun dan mengecek berita di Internet, lalu merasa sedih saat mengetahui MU gagal jadi juara Liga Inggris. :( Sedih juga karena sebenarnya saya lebih suka tinggal di kota asal ibu saya ini, tempat saya belajar, punya teman-teman yang baik dan hebat-hebat, dan menikmati masa-masa indah dan seru di kota gudeg ini. Sedih juga karena saya belum puas menikmati kuliner Jogja. Sampai ketemu lagi nasgor Pak Edi, sambal bawang Bu Santi, angkringan Lik Man, dll. Untunglah saya bawa oseng-oseng mercon. Sampai di rumah, setelah bongkar-bongkar bawaan, saya memanaskan oseng mercon dan iso goreng yang saya bawa. Wah, masih enak rasanya. Isonya sangat gurih dan oseng merconnya masih pedas menggigit! Saya harus balik ke Jogja lagi! []

13 Comments

Filed under Acara Ini-Itu, Traveling, Wisata Kuliner

13 Kutipan Inspiratif tentang Perjalanan

Siapa yang tak suka kutipan-kutipan indah dan menginspirasi? Dalam hal melakukan perjalanan, ada banyak sekali kutipan indah dan inspiratif, yang membuat saya merenungkan makna perjalanan ketimbang sekadar berfoto-foto narsis atau ngebut melancong ala kejar setoran—sekadar mengoleksi cap-cap imigrasi negara-negara lain.

Di bawah ini adalah “koleksi” kutipan tentang perjalanan yang saya temukan di buku-buku, dari teman-teman, dan banyak lagi. Kutipan-kutipan indah nan keren yang membuat saya ingin terus melakukan perjalanan, atau mungkin bisa menginspirasi siapa pun yang belum pernah melakukan perjalanan melihat dunia.

Lalu, kenapa 13? Karena angka 3, 10, dan seterusnya itu sudah biasa. Kalau 10 nanti jadi “Top 10″ yang sudah sangat biasa, jadi saya pilih angka 13 saja biar “maknyus” dikit. :) Bacalah, dan mungkin kau akan terinspirasi dan ingin merasakan mimpi yang sama dengan saya. Besides, if you agree that life is a journey, why not travelI’m living my dream. What is really stopping you from living yours?

1. “Don’t tell me how educated you are, tell me how much you have travelled.” – Prophet Muhammad PBUH

2. “He who would travel happily must travel light.” – Antoine de Saint-Exupery

3. “A man travels the world over in search of what he needs and returns home to find it.” – George Moore

4. “The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes but in having new eyes.” – Marcel Proust

5. “When you travel, remember that a foreign country is not designed to make you comfortable. It is designed to make its own people comfortable.” – Clifton Fadiman

6.  “Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn’t do than by the ones you did do. So throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.” – Mark Twain

7.  “Travel only with thy equals or thy betters; if there are none, travel alone.” – The Dhammapada

8.  “Travel is only glamorous in retrospect.” – Paul Theroux

9.  “The World is a book, and those who do not travel read only a page.” – Saint Augustine

10.  “I have found out that there ain’t no surer way to find out whether you like people or hate them than to travel with them.” – Mark Twain

11. “I never travel without my diary. One should always have something sensational to read in the train.” – Oscar Wilde

12.  “The traveler was active; he went strenuously in search of people, of adventure, of experience. The tourist is passive; he expects interesting things to happen to him. He goes sight-seeing.” – Daniel J. Boorstin

13.  “To get to know a country, you must have direct contact with the earth. It’s futile to gaze at the world through a car window.” – Albert Einstein

Jadi, yang mana kutipan favoritmu? Adakah kutipan kesukaanmu yang belum ada di sini? Silakan tambahkan sendiri di bagian komentar. :)

9 Comments

Filed under Renungan & Buah Pikiran, Traveling

Haji Nekat: Lewat Jalur Darat

Judul: Haji Nekat: Lewat Jalur Darat

Penulis: Haji Bahari

Penerbit: Pena Semesta (imprint JP Books)

Terbit: Maret 2012

Tebal: 494 halaman

Saya menjumpai buku ini di Gramedia di rak buku baru. Pertama, saya tertarik karena judulnya kocak, agak “norak”. :P Sampulnya yang sewarna dengan bungkus nasi rames pun lumayan enak dilihat di mata saya. Membaca sampul belakang dan membaca sedikit isi buku yang kebetulan tak dibungkus plastik, saya langsung tertarik beli. Saya doyan baca buku model begini. Tanpa pikir panjang, saya ambil satu untuk dibawa ke kasir.

Buku ini berisi kumpulan tulisan karya wartawan Jawa Pos, Haji Bahari, yang pernah dimuat secara berseri di koran tersebut. Ceritanya, Bahari diberi kepercayaan melakukan ibadah haji melalui jalur darat dan menuliskan laporannya secara rutin—backpacking way. :) Perjalanan itu dimulai dari Surabaya tanggal 5 Agustus 2011 dan berakhir di Makkah pada 1 November 2011. Bahari melewati 11 negara sebelum mencapai Makkah, yaitu Malaysia, Thailand, Myanmar, Laos, Kamboja, Vietnam, Cina (selatan), Nepal, India, Pakistan, Oman, dan (tentu saja) berakhir di Arab Saudi.

Dari situ saja saya bisa membayangkan betapa menarik dan serunya petualangan wartawan satu ini dalam menempuh perjalanan darat sejauh itu. Pertama-tama, Bahari berziarah dulu ke makam Wali Songo, sebelum melanjutkan perjalanan ke Jakarta, naik bus ke Jambi, menyeberang ke Malaysia, lalu lanjut naik kereta ke Thailand dan terus ke utara. Asyiknya, ia selalu menulis pernak-pernik menarik tentang tempat yang dikunjunginya. Misalnya, saat ia tiba di Jambi, ia menulis tentang jejak Islam di kota itu, juga tentang bisnis barang-barang eks Singapura seperti elektronik, pakaian, alat rumah tangga, dan banyak lagi.

Dilengkapi banyak foto berwarna di bagian belakang.

Saat berada di Bangkok, Thailand, ia menulis tentang komunitas Muslim keturunan Jawa di sana, juga soal soal masjid-masjidnya. Bahari banyak menulis soal komunitas Muslim di beberapa negara yang ia lewati, seperti di Thailand, Vietnam, serta kota-kota di Cina selatan dalam perjalanan menuju Tibet dan Nepal. Dalam perjalanannya, tentu saja, ia menemui banyak halangan. Misalnya, pada saat ia hendak menembus Myanmar, ia masuk ke Tamu, kota yang sangat terlarang bagi warga asing. Namun ia tetap nekat ke sana karena hanya ingin lewat untuk menuju India.

Karena gagal, ia naik pesawat ke New Delhi, tapi oleh redaksi Jawa Pos, ia diminta balik ke Bangkok. Dahlan Ihsan, Menteri BUMN sekaligus bos Jawa Pos, yang memintanya mengulang perjalanan itu dari Thailand. “Bukan jalan darat lagi namanya,” begitu kata Dahlan di Kata Pengantar. Rute baru ini membuat Bahari jadi melewati Kamboja, Laos, Vietnam, dan kota-kota di Cina selatan. Perjalanan selanjutnya malah jadi menarik, terutama karena Bahari cukup piawai mendeskripsikan tempat-tempat yang dilewati itu, dan sekaligus menambah wawasan bagi pembaca. Asyik sekali menikmati catatan perjalanan Bahari selama menempuh perjalanan dari Asia Tenggara, naik bus di jalan yang mulus dan kereta hingga ke dataran tinggi, melewati Cina selatan, lalu naik ke Nepal dan Tibet, sebelum masuk ke India dan Pakistan. Dari Oman, perjalanan ke Arab Saudi tak memungkinkan lagi lewat jalan darat, sehingga ia harus naik pesawat. Sebab, pemegang visa haji kuota harus masuk ke Jeddah melalui imigrasi Bandara King Abdul Aziz.

Harus diakui, Bahari adalah pejalan yang tangguh. Statusnya sebagai wartawan tak lantas mempermudah perjalanannya itu. Di Pakistan, ia harus tabah dibuntuti intel dan nyaris dipenjara gara-gara ketahuan bekerja sebagai wartawan tapi mengaku sebagai pekerja seni. Dalam seluruh petualangannya ini, ia banyak dibantu oleh mahasiswa-mahasiswa Indonesia di negara yang ia kunjungi, para staf KBRI, dan juga para warga lokal.

Sesampainya di Arab Saudi pun ia banyak menulis tentang Makkah dan Madinah: tentang ibadahnya, tempat-tempat belanja, pembangunan di sana, dan banyak pernak-pernik menarik lain. Tulisan Bahari renyah dan mengalir. Sudah begitu, ia membagi tulisannya per bagian yang masing-masing hanya terdiri dari 4-10 halaman, jadi memudahkan pembaca yang senang membaca dengan cara “ngemil”. Tak penting benar apakah pembaca juga akan mengikuti jejaknya melakukan perjalanan haji lewat darat, yang notabene lebih keras dan berbahaya daripada langsung ke Arab Saudi naik pesawat. Fisik kuat dan mental baja adalah syarat mutlak. Eh, tapi…kalau mencermati halaman fotonya, dugaan saya ia berangkat dengan 1-2 temannya, karena foto-foto itu dibuat bukan oleh Bahari (bisa dilihat di kredit foto).

Rute Bahari menuju Makkah. Tapi ini rute yang belum di-update. :)

Secara keseluruhan, catatan perjalanan ini sangat menarik. Sangat detail dan kronologis. Penuh dengan kisah-kisah petualangan yang menegangkan dan informasi-informasi menarik. Sayangnya, masih ada beberapa typo di sana-sini dalam buku ini, walaupun sudah dikawal oleh dua editor. Sayangnya lagi, Bahari ini tipe wartawan sejati. Dia nyaris tidak pernah melibatkan emosinya dalam tulisan-tulisannya. Tapi, yaah…namanya juga tulisan feature jurnalistik. Wartawannya harus menjaga garis batas antara peristiwa yang dilaporkan dan opini/emosi pribadinya. Walhasil, walau peristiwa yang dilaporkan tetap seru, buku ini agak kehilangan jiwanya. Berjarak dengan pembacanya. Ini pendapat saya, lho.

Seandainya Bahari mau menulis ulang semua kisahnya dan memberi polesan emosi, saya yakin buku ini jadi dahsyat sekali.  Namun, buku ini tetap seru dan saya rekomendasikan, khususnya bagi penyuka buku travel writing.[]

4 Comments

Filed under Buku, Traveling

Cerita Cinta Enrico

Judul: Cerita Cinta Enrico

Penulis: Ayu Utami

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Terbit: Februari 2012

Tebal: 244 halaman

“Cinta tak perlu diuji atau dikatakan. Cinta akan tumbuh dengan sendirinya jika memang mau tumbuh.”

(Ayu Utami, Cerita Cinta Enrico, hal. 145)

Saya menggemari karya-karya Ayu Utami sejak novel pertamanya dulu, Saman. Kini ia meluncurkan buku terbarunya, Cerita Cinta Enrico. Bahasanya selalu lancar mengalir, dalam, tapi mudah dicerna, walaupun jalinan ceritanya cukup kompleks. Ketika buku barunya ini beredar, saya langsung memburunya. Apalagi gambar sampulnya lucu, warna kuning terang mencolok dengan teks judul Cerita Cinta Enrico. Setelah dilihat lebih dekat, ternyata huruf-huruf di sampul itu dibentuk dari gambar-gambar tentara yang tubuhnya membentuk huruf-huruf tersebut. Beruntunglah saya punya teman yang jadi editor di penerbitnya, jadi saya dikasih satu eksemplar deh, lengkap dengan tanda tangan penulisnya….hehehe :)

Buku ini bercerita tentang kisah hidup seorang bernama Enrico, yang lahir bersamaan dengan sebuah pemberontakan di Padang, yang belakangan dikenal sebagai pemberontakan PRRI pada tanggal 15 Februari 1958. Ayah Enrico, Muhamad Irsad, adalah seorang letnan yang bertugas di bagian keuangan militer. Sebagai anggota militer, ayahnya tak punya pilihan selain mendukung revolusi di Sumatera Barat itu. Sang ibu, Syrnie Masmirah, yang baru saja melahirkan Enrico, membawa serta Sanda, kakak perempuan Enrico, ke hutan. Bentuk kaki Enrico di kemudian hari dianalogikan sebagai bentuk revolusi bagi ayahnya. Sebuah revolusi kaki kurus, pemberontakan kaki kurus, sebagaimana bentuk kaki Enrico. Baru beberapa hari setelah lahir, Enrico telah menjadi anak dari keluarga gerilya.

Enrico, bayi yang masih merah itu, sungguh lapar dan haus. Seperempat puting kiri ibunya pun ditelannya. Sebab, hampir tak ada persediaan makanan yang akhirnya mengakibatkan air susu ibunya tak mengalir lancar. Suatu hari, pasukan Ahmad Yani berhasil menghancurkan pemberontakan PRRI tersebut, termasuk melucuti pangkat ayahnya. Beruntunglah ia masih boleh kembali bertugas, meski tanda pangkatnya sudah dicopot. Ibunya tetap menyambut ayahnya dengan langkah mantap–dengan betis mengayun dari balik rok. Jauh berbeda dengan kaki kurusnya.

Enrico anak yang sangat mengagumi ibunya. Bersama ayahnya, mereka bertiga kerap melewatkan waktu bersama-sama. Ia bahkan tak bisa mengingat kematian Sanda, kakaknya. Sanda meninggal karena penyakit asma. Bagi ibunya, kematian itu tak mungkin terjadi jika ayahnya tidak mengabaikan peringatannya untuk tidak mengajak Enrico dan Sanda bermain di pantai. Peristiwa kematian Sanda membuat ibunya memendam sakit hati dan kepedihannya dalam-dalam selama bertahun-tahun.

Sikap ibunya berubah ketika mengenal dan aktif sebagai jemaah Saksi Yehuwa. Ia dijanjikan tentang hari kiamat, hari penantian yang nantinya ia yakini sebagai perjumpaan dengan Sanda. Syrnie sebelumnya adalah seorang Katolik, menikah dengan Muhamad Irsad yang keturunan Madura dan beragama Islam. Pernikahan beda agama keduanya ditentang oleh keluarga besar Irsad di Madura. Maka mereka pun memilih pergi ke Padang dan membangun rumah tangga. Syrnie Masmirah lahir dari istri pertama seorang pedagang di Kudus. Kehadiran istri kedua membuat Sarah, ibu Syrnie, memilih meninggalkan suaminya. Ia pergi membawa serta semua anak perempuannya ke Semarang, kemudian menjadi penganut Kristen.

Enrico sulit membantah kemauan ibunya, bahkan untuk mendapatkan kesenangan menonton bioskop atau sekadar bermain dengan kawan-kawannya. Ia harus mengerjakan PR hingga selesai. Masa kanak-kanaknya dilalui dengan tanggung jawab besar membantu ibunya. Saat ibunya mengalami pendarahan, dia pulalah yang merawat ibunya. Namun, bagi ibunya, tidak ada hal yang ia banggakan dari Enrico. Sejak Sanda meninggal, dalam dirinya hanya ada Sanda, atau tentang pertemuan kembali dengan putrinya itu pada hari kiamat—yang diperkirakan datang pada tahun 1975, sebagaimana diyakini kaum Saksi Yehuwa saat itu.

Enrico akhirnya mendapatkan kebebasannya saat diterima kuliah di ITB Bandung. Ia bisa tinggal jauh dari ibunya, jauh dari kewajiban melakukan syiar. Namun, kebebasan itu harus ditebusnya dengan pembaptisan dirinya sebagai penganut Saksi Yehuwa, sesuai permintaan ibunya. Sikap keras ibu Enrico berbeda dengan ayahnya, yang membebaskan anaknya menentukan pilihan. Perjalanan hidup kemudian membawa Enrico menjadi seorang fotografer, bukan sarjana ITB.

Menjelang akhir cerita, makin tampak jelas bahwa kisah ini adalah kisah nyata yang berhubungan erat dengan diri penulisnya. Misalnya tentang perjumpaan Enrico dengan A (yang, gampang ditebak, tak lain adalah Ayu Utami sendiri) di Teater Utan Kayu (TUK) di bagian ketiga, “Cinta Terakhir”. A memang bukan satu-satunya wanita yang pernah dekat dengannya. Sejak mahasiswa pun ia punya banyak teman wanita, yang sekaligus menjadi teman tidurnya. Awal kedekatan Enrico dengan A adalah saat A memintanya membuat foto bugil wanita itu. Enrico yang saat itu sedang merindu kekasih melihat A sebagai representasi sosok ibunya: berkaki indah, punya aura kedewasaan, dan teguh pendirian.

Ayu Utami menikah dengan Erik Prasetya, Agustus 2011.

Cerita Cinta Enrico mengalir lancar tanpa kehilangan kedalaman jiwa para tokoh ceritanya. Kisah cinta yang terbalut dalam bentangan sejarah Indonesia sejak era pemberontakan daerah hingga reformasi. Setiap bagiannya diceritakan Ayu Utami dengan telaten, menceritakan kisah Enrico dan perjalanan kisah cintanya dengan dalam dan hangat. Dan ternyata sosok Enrico itu adalah Erik Prasetya, seorang fotografer yang menikah dengan Ayu Utami Agustus 2011 silam. Kisah nyata Enrico dan kelihaian menulis Ayu Utami membuat kisah dalam buku ini sangat menarik. Terlepas dari nilai-nilai dalam buku ini yang mungkin tak sesuai dengan sebagian pembaca, Cerita Cinta Enrico adalah sebuah karya sastra yang lezat dibaca.[]

Dapet tanda tangan Ayu Utami dong! :)

Leave a Comment

Filed under Buku

Seperti Sungai yang Mengalir

Judul: Seperti Sungai yang Mengalir: Buah Pikiran dan Renungan

Penulis: Paulo Coelho

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit: April 2012

Tebal: 303 halaman

Walau mengaku penggemar buku-buku Paulo Coelho, kadang saya tidak bisa memahami beberapa bukunya karena kontennya terlalu Kristiani. Bukan apa-apa, cuma nggak ngerti aja kok. :) Tapi yang satu ini beda. Diterjemahkan langsung dari edisi bahasa Spanyol, Seperti Sungai yang Mengalir berisi kumpulan renungan dan cerita pendek Paulo Coelho, kisah-kisah yang menggugah tentang kehidupan dan kematian, suratan takdir dan pilihan, cinta yang hilang dan ditemukan. Kadang humoris, kadang serius, tapi hebatnya isinya selalu bernas dan dalam—dan mengalir, seperti judulnya. Kisah-kisah dalam buku ini sebelumnya telah diterbitkan di berbagai surat kabar di seluruh dunia, dan dikumpulkan menjadi buku atas permintaan para pembaca Coelho.

Seperti semua buku karya Paulo Coelho lainnya, buku ini mengeksplorasi artinya menjalani hidup yang bermakna dengan sepenuh-penuhnya. Apalagi buku ini saya baca pas dalam perjalanan ke rumah sakit untuk menengok ibu saya yang dirawat di sana karena serangan jantung. Makin “kena” deh…

Ada 102 bab dalam buku ini. Kok banyak sekali? Tenang, masing-masing bab ditulis cukup pendek, sekitar 1-4 halaman setiap babnya (tapi kedalaman maknanya jauh lebih daripada angka-angka itu). Ini memudahkan pembaca untuk “ngemil” isi buku ini dengan santai. Tema ceritanya sangat beragam, berasal dari kisah-kisah yang pernah didengar Coelho maupun dialaminya sendiri. Semuanya sangat mengundang pembaca untuk sejenak merenungkan pesan yang terdapat di dalamnya. Dalam bab “Arti Penting Sebuah Gelar” (hal. 20), misalnya, Coelho menulis:

Sebagian besar teman saya, dan sebagian besar anak mereka, juga mempunyai gelar. Tetapi belum tentu mereka berhasil mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan. Sama sekali tidak. Mereka masuk universitas karena seseorang berkata—pada masa-masa ketika masuk universitas sangatlah penting—bahwa supaya bisa mendapatkan tempat yang mapan di dunia, orang mesti mempunyai gelar. Dengan demikian, dunia ini kehilangan kesempatan untuk memiliki orang-orang yang sebenarnya adalah tukang-tukang kebun yang hebat, tukang-tukang roti, pedagang-pedagang barang antik, pematung-pematung, dan penulis-penulis. Barangkali inilah saatnya merenungkan keadaan tersebut. Para dokter, insinyur, ilmuwan, dan pengacara memang perlu belajar di universitas, tetapi apakah semua orang perlu berbuat demikian?

Atau simak bab berjudul “Genghis Khan dan Burung Rajawalinya” (hal. 32). Dikisahkan, Genghis Khan suatu pagi pergi berburu membawa burung rajawali kesayangannya. Saat sedang beristirahat di tengah hutan, ia tak bisa menemukan sumber air karena semua mata air saat itu sudah mengering dalam terkaman musim panas. Tiba-tiba Genghis Khan melihat ada air menetes-netes dari bebatuan di depannya. Ia lalu melepaskan rajawalinya dan mulai menampung tetesan air itu dalam cangkir yang selalu ia bawa. Setelah penuh terisi, ia pun meminumnya. Namun sebelum air itu sempat masuk ke mulutnya, rajawalinya menyambar cangkir itu sampai jatuh. Hal ini dilakukan berkali-kali hingga Genghis Khan murka. Ia pun menghunus pedangnya dan membunuh binatang kesayangannya itu.

Karena tetesan air itu sudah berhenti, Khan penasaran dan naik ke atas bebatuan untuk mencari sumber air itu. Alangkah kagetnya Khan ketika menemukan bangkai ular berbisa di tengah genangan air di atas bebatuan—salah satu jenis ular paling berbisa di daerah sekitar situ. Ia bisa saja mati terkena bisa ular yang bercampur dengan air. Khan lalu memerintahkan anak buahnya untuk membuat patung emas burung itu.

Di salah satu sayapnya ia meminta dituliskan kalimat ini: Saat seorang sahabat melakukan hal yang tidak berkenan di hatimu sekalipun, dia tetaplah sahabatmu. Di sayap yang satu lagi, ada tulisan: Tindakan apa pun yang dilakukan dalam angkara murka hanya akan membuahkan kegagalan.

Dalam bab berjudul “Orang Katolik dan Orang Muslim” (hal. 277), Coelho menegaskan pentingnya kerukunan umat beragama. Ia mengisahkan pada saat itu ia sedang makan siang bersama seorang pastor Katolik dan seorang rekan beragama Islam. Rekannya yang Muslim ini sedang berpuasa sehingga tak ikut makan. Selesai makan, ada orang yang berkomentar pedas melihat si orang Muslim ini. “Kalian lihat betapa fanatiknya orang Muslim itu! Untunglah kalian orang-orang Katolik tidak seperti mereka.”

Si pastor membalas perkataan tak sopan tersebut. “Tetapi kami pun sama. Dia berusaha mematuhi Tuhan, sama seperti saya. Hanya saja kami mengikuti hukum-hukum yang berbeda.” Lalu ia berkata kepada Coelho, “Sayang sekali orang hanya melihat perbedaan-perbedaan yang memisahkan mereka. Seandainya kita memandang dengan kasih yang lebih besar, kita akan lebih banyak melihat kesamaan-kesamaan, dan sebagian dari masalah-masalah di dunia akan terselesaikan.”

Indah dan teduh, bukan? Ini sungguh buku keren dan penuh perenungan yang mendalam dan menyejukkan. Bacalah saat hati sedang haus akan makna kehidupan.[]

1 Comment

Filed under Buku

Tips Internship untuk AIESECer

Tulisan ini pernah dimuat di blog lama saya di Blogspot, tapi berhubung saya nggak bisa konsen ngurusin dua blog, maka saya pindahkan ke WordPress ini. Rencananya juga saya akan menghapus akun saya di Blogspot itu dan mengamankan semua tulisan lain yang dimuat di sana. Beberapa hal mungkin sudah kedaluwarsa, jadi untuk lebih jelasnya harus tetap mengontak AIESEC, karena pengalaman internship saya dengan AIESEC sudah lama, yaitu tahun 2008.

Banyak orang, khususnya anggota AIESEC, yang bertanya kepada saya bagaimana mempersiapkan internship (magang kerja) ke luar negeri sebagai bagian dari program pertukaran (exchange program) di AIESEC. Daripada saya harus menjawab pertanyaan-pertanyaan itu satu per satu, lebih baik saya menulis satu artikel khusus mengenai hal ini di blog JOS.

Buat para calon trainee AIESEC (atau sekarang istilahnya EP—Exchange Participant, dulu namanya SN—Student Nominee), tentunya paham bahwa setelah lolos dari berbagai macam tes, nama dan CV kita akan masuk ke dalam satu daftar (list). Di dalam daftar itu, kita berhak memilih dan dipilih. Kita berhak memilih TN Taker di seluruh dunia dan begitu juga sebaliknya. Jika kita sudah sampai pada tahap ini, berbahagialah karena kita termasuk orang-orang terpilih. Dan kalau banyak tawaran datang ke kita, artinya CV kita memang keren punya. Kalau banyak tawaran datang, kita jadi leluasa memilih. Berikutnya, semua adalah masalah manajemen (pengelolaan), entah itu manajemen waktu, dana, persiapan kerja, dan sebagainya.

Berikut ini beberapa tips dari saya sebelum berangkat internship:

1. Pastikan diri kita untuk memilih TN Taker yang segala deskripsinya sesuai dengan kemampuan kita dan akomodasinya mencukupi. Artinya, jangan asal pilih. Kalau negara pilihan kita tergolong jauh (dan berdampak pada biaya perjalanan), pastikan juga bahwa gaji kita di tempat kerja nanti minimal bisa menutup semua pengeluaran kita alias break even point (atau paling tidak mengurangi). Buatlah daftar TN yang kita sasar, kirim imel ke setiap manajer TN, nyatakan bahwa kita tertarik dengan TN-nya dan minta informasi lebih terperinci. Jangan hanya mengirim ke satu TN, tapi kirim ke sebanyak-banyaknya!

Pertimbangkan juga soal waktu: apakah persiapan kita cukup dengan waktu internship? Apakah cukup waktu untuk mengurus visa (atau paspor bagi yang belum punya)? Bagaimana dengan dana? Well, untuk yang satu ini, suka tidak suka memang harus merogoh kocek sendiri. Minta/pinjam ortu, pakde, om, tante, menggadaikan motor, bekerja, cari proyek, dsb. Banyak cara. Yang jelas, hampir tidak ada institusi resmi yang mau menanggung biaya perjalananmu. Kecuali bosnya bapakmu sendiri (iya dong, emangnya situ siapa?). Karena itu, dibutuhkan kelihaian manajemen dana dan waktu di sini. Tidak perlu terburu-buru mendapatkan TN, pilih yang durasinya pas dengan waktu yang kita punya. Saya saja harus menunggu sampai setahun untuk bisa benar-benar matched. Sebelum itu, sudah banyak tawaran dari beberapa negara seperti India, Venezuela, dan Turki. TN Taker dari Turki bahkan menelepon saya langsung dari sana, tapi gara-gara manajer TN dari AIESEC sana tidak becus mengurus, internship pun batal.

2. Apa saja yang harus ditanyakan kepada manajer TN? Banyak sekali, di antaranya: akomodasi, gaji, bahasa, budaya, kurs harga-harga kebutuhan pokok, suhu udara, binatu (seandainya tidak ada mesin cuci di tempat tinggal kita), ongkos-ongkos transportasi (dalam dan luar kota, sendainya kita mau jalan-jalan), dan berbagai fasilitas lain yang ditawarkan oleh local committee/LC sana (misalnya: kupon makan dan nonton bioskop gratis, atau kursus bahasa negara itu. Dulu saya di Ukraina juga diajari bahasa Rusia, walau cuma informal sama anak AIESEC juga). Lakukan juga riset kecil tentang negara yang akan kita datangi. Ini ada imel dari OCP LC Dnipropetrovsk di Ukraina pada masa-masa awal engagement (ini sih istilah saya sendiri) :

Date: Mon, 1 Oct 2007 23:22:49 +0300
From: “Anastasiya Belous” 
To: “Indradya SP”
Subject: Re: From Indra-Indonesia

Hello again=) something is wrong with my internet connection-I cannot be there=( so, how are you doing I am very surprised:you even know about Shevchenko!!!wow!football(soccer) fan???=))) we are fond of it too here=))
I’ve sent your CV to our managers and tomorrow they will give me an answer! the begining of December is really perfect!!!I can manage our time and I am sure that it will be good for both of us if you come in this time. but for how long can you stay in Ukraine?
a little bit about our project: it is ET project “English Marathon”.we made it (actually it will be the 3d time we provide it) because we want our children/adults to improve the quality of their English language..because of this we provide a lot of Discussion Clubs and conferences there…I think it is really great…I hope,cause I am OCP,hahaha=) there were a lot of trainees from the whole world!Just one month ago there was a girl from Singapore-Diana Dawidson (former LCP).we like her so much!!!!!!!!!!!and now there are trainees from Switzerland,Canada,Colombia and India..

You don’t have to pay for your appartments-we will find some flat for you and your TN taker will pay for it.
you’ll receive your salary (min 300$,it is OK for our country=) and work 20 hours per week but if it will be OK for you to work more you’ll receive more per month…it is up to you=)))
another benefits:
we have some good partners.And among them:
1.a restaurant of ukrainian food (it is very tasty,believe me),where all trainees can be at the weekends 3 times per day
2.a cinema (English cinema)that trainees can visit for free every Friday
3.coffee-cafe where you can drink tea/coffee for free every sunday
4.tour agency that provide 1 free trip in Ukraine…
I hope it is not bad=)))
if to say about methods at school:you can make your own programme of the lessons and you can choose with what group you want to work (children 6-14 or 14-17 years old).There are also a lot of methodological materials in the school that you can use. also you’ll have your personal workplace, access to enternet and cellphone so you can easy to be in contact with everyone. At the school (where I want you to work) you’ll have free breakfast and lunch. believe me you will be full for the whole day=)
we have one guy from Canada now…when he came we were surprised how much he ate…we were afraid that it would be not enough for him but he said that so much he even didn’t eat at home,hahaha=)
so it will be OK with the school also,we use to make a lot of parties,Global Villages and so on for our trainees…I can give you e-mails of some our trainees and you can ask them too…
I hope I gave you answers on your questions…If you have more-just ask me!!!!=)))
hope to speak with you tomorrow!
bye
Anastasiya

Bahasa Inggrisnya tidak terlalu bagus ya? Hehehe…jadi, pede ajalah! Tentu saja akan lebih baik kalau bahasa Inggris kita mantap. Mungkin saya sedang beruntung waktu itu, karena saya ditawari untuk mengajar bahasa Inggris lagi pada sore/malam harinya. Ini dia imel keberuntungan itu:

Date: Tue, 2 Oct 2007 14:22:40 +0300
From: “Anastasiya Belous”
To: “Indradya SP”
Subject: Re: From Indra-Indonesia
wwwooowww!!!
our TN taker agreed to employ you!!
they like your CV and hope that you’ll show good performance toward the students…
but the only one their ask is that you have to prepare your Educational plan.
you will work with the students from14 to 17 years old.OK?
and even more:your salary will be higher that I said you before.It will be 300$ and if you want you can work additional hours at another school at the evnings and earn additional 250-300$.
it is OK for us if at first you’ll arrive till the end of May…it is very good=)

tonight we will add this TN form to Insight.
I’ll send you it.and if you really decided to arrive you can match it.
Is it OK for you? or you have more questions to me?
so,I’ll send you our TN form and if you can you can put it on match tonight.
you have to cheack up your embassy website and say me what do you need for visa.
and ATTENTION: you don’t need Working visa.you have to apply for Student or Science visa…
about it we can speak later!!!
oh I am so happy if you’ll arrive!!!!=))))
wait for your answer!!!
bye

3. Kalau kita tidak punya cukup biaya untuk pergi ke negara-negara yang jauh, realistis saja: cari yang dekat-dekat, seperti negara-negara di Asia Tenggara, Asia Timur, atau Australia. Jangan lupa tadi itu: apakah gajinya mampu menutupi biaya pengeluaran kita (minimal biaya tiket pesawat). Saran saya: coba cari internship yang durasi waktunya cukup lama, antara 6-12 bulan, kalau memang memungkinkan. Itu bagus untuk menguji kekuatan mental dan fisik kita tinggal dan bekerja di negeri lain.

4. Bagi yang memilih bidang Development Traineeship (DT), terimalah fakta bahwa di bidang ini kepedulian dan keterampilan sosial kita lebih dituntut daripada soal gaji. Biasanya TN Taker (yang kebanyakan NGO) hanya menyediakan akomodasi, gaji tidak pernah lebih dari US$ 100, itu sudah termasuk besar. Lebih banyak TN yang tidak menggaji. Dulu, saya resminya memang ‘terdaftar’ di bidang ini. Tapi setelah berhitung-hitung dan pikir-pikir lagi, saya memutuskan banting setir dan pindah ke bidang Education Traineeship (ET) dan mulai mencari-cari tawaran pekerjaan di TN Taker List sebagai guru bahasa Inggris. Toh saya mampu. Latar belakang pendidikan saya yang Sastra Perancis UGM ‘hanya’ memungkinkan saya memilih bidang ET dan DT. MT dan TT jelas tidak mungkin. Biasanya untuk bidang ET ini kita dituntut punya pengalaman mengajar.

Jangan lupa juga: pastikan bahasa Inggris kita memang keren punya dan bebas aksen, soalnya ada kemungkinan kita akan diwawancara via sambungan telepon internasional atau Skype. Jadi bagi kalian yang medhok, yah wallahualam. Untungnya, dulu saya sempat dapat pekerjaan sebagai guru bahasa Indonesia untuk orang asing di Berlitz Language Center, Jakarta. Jadi selain dapat pengalaman mengajar (juga gaji untuk menambah-nambah biaya keberangkatan), saya juga punya kesempatan membiasakan diri berbahasa Inggris dengan para bule guru bahasa di sana.

5. Bagi yang memilih bidang Technical (TT) atau Management (MT), bergembiralah. Bidang-bidang ini menjanjikan uang yang cukup. Sebenarnya, ET juga kok. Tapi jangan lupa, bukan uang yang jadi tujuan utama kita. Saya membicarakan uang dan gaji di sini dengan maksud untuk meminimalkan pengeluaran kita untuk pulang pergi ke negara tujuan, itu saja. Anggap saja uang yang kita keluarkan itu adalah biaya yang harus kita bayar untuk “belajar tentang kehidupan”. Lebih baik mimpikanlah pengalaman tak ternilai tentang bekerja dan hidup di luar negeri, berinteraksi dan beradaptasi dengan budaya dan masyarakat yang belum pernah kita kenal sebelumnya. Di sini kita dituntut mempunyai kemandirian dan sedikit jiwa backpacker (supaya bisa foto-foto bareng cewek-cewek cantik seperti di atas…hehehe!) :P . Kisah hidup saya saat magang di Ukraina diceritakan secara berseri di blog ini dalam tulisan-tulisan berlabel Balada Ukraina.

- Indradya SP
Mantan trainee dari AIESEC LC Undip di Dnipropetrovsk, Ukraina (Januari-Juli 2008)

NB: Silakan tulis pertanyaan di bagian Comment kalau ada pertanyaan. Nanti akan saya jawab di blog JOS ini juga.

6 Comments

Filed under Tips, Traveling