Bebek & Ayam Panggang Mr. Tarwood

Memang luar biasa rasanya kalau kita lagi jalan-jalan dan nggak sengaja nemu warung makan yang asyik punya. Ini saya alami Jumat lalu (14/1) di Bekasi. Ceritanya, Jumat pagi itu saya pergi ke Jakarta untuk rapat SPO (baca: jalan-jalan). Seperti biasa, rombongan kami mampir di Rest Area km 42 untuk sarapan. Biasanya kami makan di … ehm, saya lupa nama warungnya. Orang kantor saya yang sering rapat ke Jakarta pasti tahu. Yang jelas ada di seberang toilet, jalur bus dan truk lewat di bagian belakang Rest Area itu.

Setelah beberapa bulan tidak mampir di situ, ternyata tempatnya sudah agak berubah. Lebih luas dan lebih bersih, walaupun masih dikasih ‘bonus’ debu kendaraan-kendaraan besar yang lewat. Saya dan Mahdi, editor DAR! yang ngaku-ngaku mirip Justin Bieber obesitas, memilih nyobain CFC yang notabene gerai baru di situ. Saya beli nasi ayam pepper dan dia pesan nasi goreng (ya’elah, ke CFC kok menunya nggak banget!). Untung nasi ayam saya rasanya nggak parah-parah amat. Masih mendingan deh ketimbang nasi gorengnya Mahdi, yang dimakan sambil pasang ekspresi sakit hati.

Seperti biasa pula, pesanan saya selalu datang duluan. Mas Barhen yang pesan lotek di warung sebelah terpaksa menunggu agak lama, karena si pelayan lupa pesanannya. Kami memanggil si pelayan katro itu untuk menanyakan pesanan lotek dan pisang goreng (nah, yang terakhir ini menu cuci mulut saya). Si pelayan pun kembali ke dapur dan, berani sumpah, sepertinya saya mendengar dia bertanya ke ibu-ibu di dapur, “Emangnya kita jualan lotek?”

Waktu lotek pesanan Mas Barhen diantar, ternyata sayurnya terasa hangat, alias baru saja direbus. Gerombolan tukang makan seperti kami mudah marah-marah kalau urusan makan aja nggak beres. Saya juga terpaksa ngingetin si pelayan yang lupa sama pisang goreng pesanan saya. Ternyata, dia harus ambil/beli dulu pisang goreng saya entah di mana, yang jelas bukan di warungnya sendiri. Walhasil, ketika melanjutkan perjalanan ke Jakarta, di mobil kami sibuk mencaci-maki si pelayan. Setelah capek mencaci-maki, sisa perjalanan kami isi dengan tidur…hehehe.

Singkat cerita, setelah menyelesaikan agenda kami di Jakarta, kami menuju Bekasi dengan tujuan menengok Mizan Book Corner (MBC) di sana. Keluar dari pintu tol Bekasi Timur, menyusuri Jl. A. Yani yang lebar, kami tak sengaja menemukan Jl. H. Juanda, jalan tujuan kami. Sebenarnya kami juga sambil cari-cari tempat makan yang kira-kira enak, soalnya kami belum makan siang. Di seberang gedung bekas kantor Wali Kota Bekasi, kami melihat plang nama ini:

Kami malah tambah kaget waktu ternyata MBC ada di kompleks ruko ini. Wah, malah kebetulan deh! Makin ketawa lagi waktu melihat ada warung yang namanya Warung Engkong di belakang ruko MBC. Jadi, setelah nengok toko buku mungil ini, kami langsung jalan ke belakang.
Tadinya kami mau cobain makan di Warung Engkong, soalnya menunya banyak banget. Selain menu ‘lokal’ macam nasi goreng dan aneka mie, ada juga menu macam burger, hot dog, dan yoghurt. Hahaha…si Engkong emang top banget dah!
Saya dan Mahdi langsung bersekongkol pengen beli burger buat dimakan di jalan nanti. Tapi, hampir persis di depannya, ada warung makan Pak Tarwud. Membaca menunya, kami langsung tertarik mampir.
Secara lokasi, warung ini sebenarnya tidak menarik. Lokasinya ada di bekas bioskop yang dibongkar, jadi sisa-sisa reruntuhan masih ada di sekitarnya. Bagian dalam warung ini juga tampak menghitam, mungkin karena sudah lama dipakai dan jarang dibersihkan. Tapi kadang-kadang pusaka kuliner memang tersembunyi di tempat-tempat yang tampak tidak menjanjikan.
Waktu itu sekitar jam 4 sore dan kami belum makan siang. Dengan kata lain: nafsu kami sedang tinggi-tingginya! Tambahan lagi, jam segitu udah jauh dari jam maka siang, jadi warungnya agak sepi dari serbuan orang-orang kantoran di sekitar situ. Sebenarnya ada beberapa menu di warung ini, dari ayam, bebek, burung dara, dan lele.
Rata-rata kami memesan bebek panggang dan es kelapa muda, dengan tambahan lalap, sate ati ampela versi jumbo, sayur asem, dan es kelapa muda. Semua menu daging dipanggang dan dibaluri bumbu yang lezat.
Kelapa mudanya disajikan langsung dengan buahnya, tinggal cemplungin es batu aja. Nasinya kami pilih nasi uduk. Begitu semua pesanan diantar, pembantaian bebek pun kami mulai.

Ini tahu dan tempe bacemnya. Sori, udah kegigit!

Ukuran sepotong bebek di sini cukup besar, bumbunya pun pas, tidak terlalu pedas dan tidak terlalu manis. Bumbunya juga lumayan meresap ke daging bebek. Dan nasi uduknya, wuih, gurih banget!

Si penjual juga nggak pelit menaburi potongan-potongan telur dadar di atas nasi. Sambalnya ada dua jenis, saya nggak tahu apa bedanya, yang jelas semuanya enak, pedasnya pas.

Kalo sudah begini, makin ganaslah kami makan. Tahu dan tempe bacem pesanan Mahdi juga nggak biasa ukurannya, jumbo kayak yang pesan. FanFan, yang selama ini saya anggap keterlaluan kalau makan (keterlaluan kecil porsi makannya!), ternyata bisa juga nambah. Tadinya dia cuma nanya, “Ada yang mau tambah nasi nggak?”

Saya kira dia mau ngasih nasinya dia karena udah kenyang. Nggak taunya malah dia mau pesan nasi seporsi lagi, cuma nasi uduknya dibagi dua sama… saya, pastinya. Orang yang makan sedikit tapi minta nambah adalah indikator yang sah bagi makanan lezat. Sepanjang proses pembantaian bebek, Lusi sibuk memotret aksi kami.

Profesi lawas: editor toko roti

Puas makan, setelah leyeh-leyeh sebentar, kami membayar di kasir (makan berlima cuma habis 115 ribu, dengan bebek sebesar itu!), kami kembali ke MBC.

Sementara Mas Barhen mengunci diri untuk ‘bertapa’ di sebuah ruang di dalam toko buku, saya sibuk melirik-lirik gerobak roti yang lagi lewat di halaman ruko. Ah, nggak taunya itu roti Tan Ek Tjoan, merek roti lawas itu lho.

Sebenarnya saya lebih akrab dengan roti Lauw, tapi yang ini pun oke. Berhubung saya masih punya beberapa botol selai di rumah, tapi tidak ada rotinya, jadilah saya beli roti tawarnya, sekalian saya pinjam gerobaknya buat numpang foto.

Setelah itu kami pun kembali berkendara pulang ke Bandung. Sepanjang jalan, kami sibuk memuja-muji masakan di warung Pak Tarwud, dan tentunya kembali mencaci pelayan di warung Rest Area 42 yang tidak hafal apa yang ada di dalam menunya.

Kami juga sepakat menjuluki warung ini dengan sebutan “Mr. Tarwood” sebagai tanda hormat dari kami kaum Pelahap Maut…hehehe!

Pose brutal saat menenggak habis es kelapa muda yang segar itu.

Yang jelas, kalau kapan-kapan pas rapat di Jakarta nanti, kami sudah bersumpah akan mengunjungi warung Mr. Tarwood lagi. Oke, sampai ketemu di warung berikutnya!🙂

Suasana makan bebek panggang yang nikmat itu.

NB: berhubung sudah kenyang, saya dan Mahdi tidak jadi beli burger di warung Engkong. Toh, kami masih akan mampir ke Rest Area 57… yang banyak makanan enak itu🙂

Oya, ini daftar menu di warung itu ya:

Murah, kan?

 

One thought on “Bebek & Ayam Panggang Mr. Tarwood

  1. dhenny

    selamat pagi Kang. numpang memperkenalkan diri saya dari dapoer roti bakar jalan raya pasar minggu . buka 24 jam . roti bakar spesial kita adalah roti bakar selimut hijau. . jika ke jakarta silahkan mampir di tempat kami. kamipun mempunyai http://www.dapoerrotibakar.com terima kasih.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s