10 Buku Terbaik yang Saya Baca Selama 2011

Apa ya buku paling keren, laris, dan heboh tahun 2011 ini? Buku yang popularitas dan kelarisannya gila-gilaan? Setiap orang pasti punya opini sendiri-sendiri. Selama satu dekade terakhir ini ada Harry Potter yang disokong film, membuat buku ini laris manis. Kemudian ada tetralogi Twilight yang, walau tidak menyamai kesuksesan Harry Potter, tetap jadi buku laris dengan dukungan filmnya. Ada lagi The Lost Symbol-nya Dan Brown yang edisi bahasa Indonesianya laku puluhan ribu eksemplar—untuk sebuah buku yang tebalnya 700-an halaman dan harganya di atas 100 ribu rupiah, tentu itu merupakan prestasi besar.

Untuk buku karya penulis lokal, beberapa tahun lalu kita tahu ada tetralogi Laskar Pelangi tulisan Andrea Hirata, dan Habibburahman El Shirazy dengan Ayat-Ayat Cinta (yang semuanya difilmkan dan jadi box office), Dee (Dewi Lestari) dengan Supernova dan Perahu Kertas. Apa buku laris tahun 2011? Okelah, ada Madre-nya Dee dan Sebelas Patriot-nya Andrea Hirata (yang terakhir ini terlalu tipis dan agak kurang greget), tapi rasanya gaungnya belum bisa dibilang luar biasa.

Yang konon bagus penjualannya, bahkan di seluruh dunia, adalah biografi Steve Jobs yang terbit Oktober lalu, yang terdongkrak “berkat” kematian Steve Jobs. Apa lagi? Ada yang bilang Poconggg? Wah, saya nggak suka baca buku banyolan garing begitu. Takut jadi alay😛 Memang sih laris berat, tapi larisnya sebuah buku tidak selalu jadi jaminan bobot mutu buku tersebut.

Di bawah ini adalah sepuluh buku terbaik yang saya baca sepanjang tahun 2011 (dari kira-kira 30-40 yang saya baca). Kenapa tidak semuanya saja yang saya bahas? Alasannya hanya karena saya capek kalau harus menuliskan semuanya🙂

Tidak semua dari sepuluh buku yang saya anggap terbaik ini terbit pada tahun 2011—ada beberapa yang terbit tahun 2010. Kategori saya sederhana: ini adalah daftar buku-buku terbaik yang saya baca habis dalam kurun 2011, tak peduli kapan tahun terbitnya. Untuk buku terjemahan, yang saya hitung adalah tahun terbit versi Indonesianya, tak penting betul kapan tahun terbit buku aslinya. Ada juga satu serial komik yang masuk dalam daftar ini, yaitu Adolf karya Osamu Tezuka. Karena terdiri dari lima volume dan kisahnya tidak bisa berdiri sendiri, jadi saya masukkan Adolf ke dalam satu judul. Urutan nomor di sini juga tidak dimaksudkan sebagai urutan. Tentu saja semua buku ini selera saya, bukan untuk diperdebatkan. Jadi, silakan simak.

1. Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah – Agustinus Wibowo (2011)

Saat pertama melihat sampulnya, saya langsung tertarik. Membaca sinopsis di sampul belakang, saya langsung membelinya tanpa pikir panjang. Tulisan perjalanan atau travel writing yang isinya menjelajahi negara-negara Asia Tengah setahu saya sangat tidak biasa. Kebanyakan buku-buku traveling yang ada di pasaran adalah cerita-cerita si penulis yang berkunjung ke Eropa atau seputaran Asia Tenggara. Sangat biasa. Belum lagi serbuan buku-buku tentang tips backpacking murah dengan uang segini-segitu. Tidak menarik, kecuali bagi pelancong pemula. Tapi yang satu ini beda. Agustinus, yang punya latar belakang sebagai (foto) jurnalis, menggunakan “pisau bedah” antropologi dalam penulisan bukunya. Garis Batas berkisah tentang perjalanan Agustinus ke Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan berakhir di Turkmenistan.

Dalam bukunya, penulis ingin memberikan perspektif baru tentang garis batas. Bukan hanya garis batas yang membatasi negara secara wilayah atau geopolitik, namun juga garis batas yang membatasi manusia dalam menjalani berbagai esensi kehidupan, baik disadari ataupun tidak.

Garis batas wilayah ditandai oleh sungai, pegunungan, jalan, atau tonggak yang terpancang antardua wilayah negara yang berbeda. Saat kita melewati garis tersebut, kita akan melihat dan merasakan banyak hal yang berubah. Mulai negara, bahasa, mata uang, agama, adat istiadat, sampai budaya. Perubahan itu terkadang tipis tak terlihat sampai lebar tak terhingga. Sementara itu, garis batas manusia kadang ditandai dari kulit dan etnis. “Kulit membungkus manusia. Warnanya adalah garis batas, identitas, label, penentu takdir.” (hal 265)

Hal ini banyak ditemui penulis di negara-negara yang telah dijelajahinya. Banyak orang yang terjebak di sebuah negara dan harus menjadi minoritas dengan segala konsekuensinya. Kalaupun dia memaksa hengkang dan bergabung dengan etnisnya yang menjadi mayoritas di negara lain, mereka tetap saja dipandang berbeda. Tetap dicap sebagai orang asing.

Agaknya, kesamaan-kesamaan itu—seperti yang dialami penulis semasa kecilnya di Lumajang—membuat Garis Batas begitu kaya dan menggugah emosi. “Persamaan sebuah identitas bagi sekelompok orang begitu penting, sedangkan sekelompok orang lain sukar memahami di mana pentingnya.” (hal 396). Tapi, pengalaman itu justru membuat penulis menjadi dewasa. Agustinus pun terlihat mudah membaur dan beradaptasi meski etnis, bahasa, situasi, dan lingkungan tiap negara berbeda-beda.

Penulisan buku ini sangat menarik dan personal. Kisahnya begitu dalam, penuh perenungan, dan menyentuh. Mengingatkan saya pada Paul Theroux, penulis buku-buku travel “serius”. Sekali baca 1-2 halaman pertama, saya sulit meninggalkan buku ini hingga beberapa hari kemudian habis dibaca. Setiap malam sepulang kerja, yang saya lakukan cuma mojok di perpustakaan pribadi saya dan tenggelam dalam kisah perjalanan Agus. Membuat saya terkenang kembali saat saya tinggal di tempat asing, dipandang dan diperlakukan berbeda karena warna kulit dan agama. Ah, ini sungguh buku keren…

2. Selimut Debu – Agustinus Wibowo (2010)

Ini sebenarnya adalah buku pertama karya Agustinus Wibowo sebelum Garis Batas. Tapi saya justru baru membaca buku ini setelah Garis Batas. Memang tulisan-tulisan di sini sempat dimuat di travel.kompas.com, tapi saya tidak sempat membaca semua artikel di situ sampai habis. Selimut Debu adalah sebuah memoar perjalanan Agustinus ketika menjelajahi Afghanistan—sebuah negeri yang nyaris tak pernah berhenti berkonflik—pada 2006, yang merupakan kunjungan kedua setelah sempat bersinggungan dengan sisa-sisa Taliban pada 2003.  Ia mengandalkan buku lusuh An Historical Guide To Afghanistan  tulisan Nancy Dupree terbitan tahun 1970-an. Meski hanya berbekal buku dan uang seadanya, semangat menjelajahi setiap jengkal negeri itu membara sejak pertemuan Agustinus dengan seorang pencari karpet di kedai teh di wilayah Bamiyan.

Ada semangat eksplorasi yang ingin dibawa Agustinus untuk pembaca Selimut Debu. Sejarah Afghanistan bagi kita mungkin diawali ketika Uni Soviet menginvasi negeri ini, melahirkan gerakan Mujahiddin. Hingga sekarang pun rentas waktu Afghanistan adalah misteri.  Di sana perempuan hanyalah manusia kelas dua, harga sebuah nyawa pun tak lebih mahal daripada seekor domba. Negeri yang porak-poranda. Negeri perang. Berbahaya, dan makin tak bersahabat jika tak mampu mengakrabinya.

Penulis mengurai demografi negeri ini, melacak hingga sejauh mungkin lorong waktu negeri khaak (debu) hingga era kerajaan dan dinasti Mullah. Ada etnis Tajik, Hazara, Farsiwan, Pashtun yang menciptakan mozaik indah Afghanistan. Kecantikannya tertafsir sebagai sebuah godaan untuk dijarah, diambil alih, dirombak, dan bahkan dikangkangi oleh banyak kepentingan: Romawi, Alexander Agung, Uni Soviet, dan Amerika. Namun, Agustinus tetap mengagumi kegigihan dan harga diri bangsa Afghan yang diwakili berbagai etnis.

“Menjadi ‘Afghan’ berarti menjadi berani, tahan banting, dan pantang mundur. Itulah benang merah yang menyatukan berbagai suku bangsa yang mendiami Afganistan”. (halaman 330)

Meskipun perjalanan di buku ini adalah tentang negeri Afghanistan, Agustinus berusaha melihat dari perspektif luar. Membandingkannya dengan Tajikistan yang sempat dikunjungi dalam perjalanan menuju koridor Wakhan ataupun saat menyeberang ke Iran. Sebuah kejutan budaya yang diakui menjatuhkan kepercayaan dirinya sebagai “Afghan”.

Identitas adalah sebuah deretan pertanyaan tanpa henti. Anda Muslim? Anda Pashtun? Anda Ismaili, Sunni, Syiah?  Ini menandakan bagaimana negeri ini  terbangun dari  berbagai rumpun. Negeri yang dulunya bagian dari peradaban tinggi tiga ribu tahun silam. Jauh sebelum Kristus, agama kuno Yunani, Romawi, Zoroaster, Buddha, Islam, dan Komunis.

Toh Agustinus berani menyelipkan ironi dan absurditas di tengah perjalanannya. Tentang membanjirnya produk Barat seperti Coca Cola misalnya, warisan truk Soviet, atau betapa ia tak bisa memahami saat melihat semua lelaki di samovar—warung teh—terduduk ta’zim menonton sinetron Hindustan. Ia juga membahas pergulatan perempuan di Afghanistan untuk mendapatkan tempat di ruang publik, mempertanyakan efektifitas bantuan asing untuk penduduk pasca perang, dan juga esensi  konsep kebangsaan ‘satu bangsa satu bahasa’ di tengah keanekaragaman budaya.

Agustinus tidak ingin membuat penilaian absolut terhadap karakter hanya karena agama, budaya, opini, atau keberpihakan politik. Ia memilih untuk menyerap, mengolah, dan memahami. Sebuah proses panjang dari seorang backpacker menjadi explorer sekaligus observer. Baginya, seorang pengelana adalah perekam, pencatat, dan penguntai kisah negeri Afghanistan. Tentang manusia di dalamnya, tentang budaya yang membentuknya, dan pergulatan politik tanpa henti. Agustinus memilih melihat Afghanistan seperti dengan kamera. Ada keindahan tersembunyi di tengah sunyi dan ramai. Ada momen yang tak bisa dilihat dengan mata telanjang. Melihat negeri ini haruslah dengan hati. Termasuk ketika menceritakan isu-isu kontroversial seperti ladang opium dan bachabazi—alias homoseksual. Agustinus bahkan sempat bercerita bagaimana seorang warga Afghanistan menyambutnya dengan ramah, mengajaknya menginap di rumahnya dan memperlakukannya sebagai tamu terhormat. Saat malam menjelang, tiba-tiba penyambutnya itu sudah berdiri di hadapannya. Tanpa busana. Sontak Agus menjerit dan kabur. Homoseksual merupakan ancaman lain di luar perselisihan antar suku, teror Taliban versus penguasa serta ancaman dari para perampok dan bandit. Seperti halnya burqa, bachabazi adalah masalah budaya dan pergulatan kekuatan antara satu jender dengan subordinatnya.

Alur Selimut Debu mungkin terasa lamban untuk pembaca yang terbiasa dengan travel writing biasa yang garing dan tanpa dangkal perenungan. Selera humornya terasa reflektif, nyaris kering, namun sarat dengan simbol dan makna. Sebuah gaya penulisan yang mengingatkan saya pada penulis travel literature seperti Paul Theroux. Sebuah “novel” yang ditulis dengan “pisau bedah” antropologi dan kontemplasi.

Buku ini bukan hanya bertutur mendalam tentang sebuah negeri, melainkan juga pergumulan batin orang-orang yang ditemuinya. Setahu saya, jarang sekali penulis Indonesia bisa menghasilkan travel writing berkelas seperti ini. Tidak percaya? Tengoklah rak-rak di toko buku.🙂

3. Kilatan Pedang Tuhan: Sebuah Novel tentang Perang Salib – Kamran Pasha (2011)

Novel ini mengambil latar di Yerusalem, tanah yang hingga hari ini masih menjadi sengketa bagi umat Islam, Kristen, dan Yahudi. Ketika itu Yerusalem juga menjadi tempat terjadinya banyak pertumpahan darah, dan Salahuddin Al Ayubbi, atau lebih dikenal sebagai Saladdin di dunia Barat, adalah orang yang berjasa membawa kedamaian bagi tanah Yerusalem. Bahkan ketika Yerusalem harus menghadapi gempuran umat Kristen yang datang dari Eropa, Salahuddin tampil sebagai pemimpin kerajaan, panglima perang, dan pemuka agama yang baik. Para tentara dan pemimpin mereka, raja Inggris Richard si Hati Singa, pun dibuat kagum akan sosoknya.

Tokoh rekaan dalam buku ini salah satunya adalah karakter seorang wanita Yahudi yang menjadi wanita yang dicintai oleh Salahuddin dan Richard. Mungkin orang-orang yang fanatik pada sisi kepahlawanan Salahuddin akan mencela adanya karakter wanita Yahudi. Akan tetapi, justru dengan ini penulis dapat membuat sosok Salahuddin menjadi lebih manusia, menjadi lebih hidup dan lebih mudah dipahami. Artinya ia sama seperti manusia pada umumnya: ia jatuh cinta, ia bernafsu dan tentunya ia dapat khilaf, namun hal tersebut tidak mengurangi keistimewaanya. Ia tetap menjadi pelindung bagi umat Muslim, Kristen, dan Yahudi di Yerusalem pada masa itu.

Hal menarik untuk dipelajari dari buku ini adalah bagaimana perbedaan keyakinan tidak memecah belah sebuah negeri dan bahkan hubungan persahabatan. Di tengah banyaknya ancaman dari luar dan perbedaan di dalam negerinya, Salahuddin tetap mampu memimpin Yerusalem dengan sangat baik. Kesejahteraan masing-masing golongan diperhatikan dan tidak ada keistimewaan bagi golongan tertentu. Bahkan orang kepercayaan Salahuddin sendiri ialah seorang dokter dari kaum Yahudi, dan ketika orang-orang membencinya, Salahuddin tetap menjaganya sebagai penasihat dan sahabat.

Satu hal yang saya suka dari gaya penulisan Pasha adalah bahwa ia sanggup menggambarkan adegan-adegan dengan sangat hidup dan indrawi. Misalnya, adegan saat ia menggambarkan kondisi perkemahan pasukan Kristen: sumpek, bau pesing dan kotoran manusia (wajar, ribuan orang tinggal di satu lokasi), dan sebagainya. Saya merasa seperti sedang menonton film perang berlatar abad-abad lampau seperti Gladiator, Kingdom of Heaven, King Arthur, dsb. Seru banget!

Buku ini sangat bagus  dan mengajarkan banyak hal dari tokoh seperti Salahuddin dan Richard The Lion Heart. Ketangguhan, kebesaran hati, dan kejujuran menjadi garis besar yang dengan keren diangkat oleh Kamran Pasha. Buku ini memang tidak melulu membicarakan kebaikan dan kepahlawanan dari Salahuddin, tetapi saya jamin, selesai Anda membacanya, Anda akan tetap menaruh hormat dan kagum pada sosok Salahuddin.

4. Humaira: Ibunda Orang BerimanKamran Pasha (2010)

Saya membaca novel pertama Kamran Pasha ini justru setelah terpana membaca kedahsyatan novel keduanya, Kilatan Pedang Tuhan. Tidak seperti buku-buku lain tentang Nabi Muhammad atau para sahabatnya (terutama dalam bentuk novel), buku ini menurut saya bebas dari nuansa “religius”. Maksud saya, biasanya buku-buku tentang Nabi punya diksi yang khas dan berbau agama, tapi Pasha dengan enteng memakai kosakata yang terasa “modern” seperti oligarki, konfrontasi, moderat, independen, strategi, eksploitatif, politik, dan sebagainya. Dan semua itu terasa lumrah dalam novel yang mengalir lancar ini.

Dikisahkan dari sudut pandang Aisyah kecil, yang kelak menjadi istri Nabi, Humaira berkisah tentang masa-masa Nabi Muhammad saat mendakwahkan Islam, mengisahkan transformasi beliau saat menjadi sosok negawaran paling berpengaruh di dunia, sekaligus seorang guru bangsa, pemimpin politik, panglima perang, suami, dan ayah. Saya berkali-kali terharu membaca bagian-bagian yang menggambarkan betapa halus-lembut budi sang Nabi dan betapa ia bisa berubah menjadi seorang pemimpin perang, padahal menurut saya penulisan dalam novel ini beda dengan buku-buku lain yang cenderung terlalu “memuja” sang Nabi. Humaira mengalir dengan sangat wajar. Keagungan sang Nabi justru sangat terasa dengan tidak menggambarkan Nabi sebagai seorang manusia super.

Mungkin tidak semua orang bisa menerima cara Pasha bercerita dalam novel ini. Tapi saya justru lebih bisa memahami dan merasakan apa yang terjadi pada saat Nabi masih hidup dan mendakwahkan ayat-ayat Allah, lengkap dengan pergulatan politik dan kondisi sosial-budaya yang terjadi pada saat itu di jazirah Arab.

Ini sungguh prosa yang indah dan dikerjakan dengan riset yang teliti. Oh ya, Kamran Pasha ini adalah seorang sutradara Hollywood. Tak heran ia mampu menggambarkan adegan-adegan perang dengan seru dan mengingatkan saya pada adegan perang dalam film-film macam Kingdom of Heaven, King Arthur, atau bahkan Lord of the Rings. Dan, di bagian akhir buku setebal 616 halaman ini, Pasha menjelaskan bahwa ia adalah seorang sayyid, yaitu keturunan langsung Nabi Muhammad Saw. melalui putrinya Fatimah dan cucunya, Husein (!).

5. Steve Jobs – Walter Isaacson (2011)

Minat membaca buku biografi yang satu ini apalagi kalau bukan karena kematian Steve Jobs pada 5 Oktober 2011, sehari setelah peluncuran iPhone 4s. Saya sendiri bukan pengguna produk Apple–perusahaan tempat Jobs menjadi CEO. Tapi, seperti halnya buku-buku bagus yang lain, saya langsung terpikat sejak membaca halaman-halaman pertama. Sekitar 728 halaman dalam buku ini tidak terasa berat karena gaya penulisan Isaacson enak dibaca. Jenis buku yang berhasil membuat saya mojok baca buku di perpus pribadi saya.

 Jobs adalah orang besar di balik Apple Computer. Ibu biologis Jobs, Joanne Schieble, hamil di luar nikah dengan seorang asisten pengajar dari Suriah, Abdulfattah “John” Jandali. Hubungan Joanne dengan Jandali tentu tidak direstui orangtua Joanne. Karenanya, ketika Jobs lahir, ia diserahkan kepada orang lain untuk diadopsi. Sedianya Jobs akan diadopsi oleh pasangan pengacara karena Joanne menginginkan agar Jobs diadopsi oleh lulusan perguruan tinggi. Namun pasangan pengacara itu membatalkan niatnya karena mereka menginginkan anak perempuan.

Jobs akhirnya diadopsi oleh seorang yang bahkan tidak lulus sekolah menengah, Paul Jobs, seorang yang memiliki minat besar di bidang permesinan. Awalnya, Joanne tidak mau menandatangani surat adopsi. Namun setelah Paul Jobs berjanji bahwa ia akan menyekolahkan Jobs sampai ke perguruan tinggi, barulah Joanne setuju. Fakta bahwa orangtua biologisnya tak mau membesarkannya tak pelak melukai hati Jobs. Seorang teman dekat Jobs, Del Yocam, mengatakan, “Menurutku, keinginannya untuk mengendalikan apa pun yang dia ciptakan, berasal langsung dari kepribadiannya dan fakta bahwa dia telah ditinggalkan ketika lahir.” (hal. 6). Bisa jadi hal itulah yang membuat Jobs cenderung menjadi seorang perfeksionis yang cenderung menyebalkan, bahkan kasar, bagi sebagian orang.

Jobs mengelompokkan orang yang bekerja di sekelilingnya dengan orang-orang yang “mendapatkan pencerahan” dan orang – orang yang “tidak baik”. Hasil karya mereka juga dinilai sebagai karya yang “terbaik” atau “sampah”. Ia seringkali meneriaki ide orang yang bekerja padanya sebagai sampah. Namun jika beberapa hari kemudian ia menyetujui ide itu, ia akan membicarakannya kepada setiap orang sehingga seolah-olah ide itu berasal dari dirinya.

Meskipun Jobs sering mencela, ia sangat menghormati orang yang memiliki keyakinan terhadap idenya sendiri. Jika Jobs mencela salah seorang insinyurnya dan sang insinyur membantah dengan mengatakan bahwa ia sedang melakukan yang terbaik, Jobs seringkali bisa menerima ide itu. Jobs pernah melihat kerja Bill Atkinson dan mencelanya sebagai sampah. Atkinson membantahnya dan menjelaskan mengapa yang ia kerjakan merupakan sesuatu yang terbaik. Jobs pun menyerah.

Berdasarkan pengalamannya, Atkinson mengajari rekan-rekannya agar menerjemahkan celaan “sampah” Jobs dengan, “katakan kepadaku mengapa itu adalah cara terbaik untuk melakukannya”. (hal. 157). Banyak orang yang tidak menyukai gaya kepemimpinan Jobs. Tetapi, orang-orang terdekat Steve Jobs adalah orang-orang yang memiliki kepribadian kuat. Bukan para penjilat.

Oya, dari buku ini juga saya baru tahu bahwa Jobs itu cengeng. Sering kali ketika sedang terlibat dalam sebuah diskusi atau debat panas, dia justru mulai menangis, saking emosionalnya. Dan akhirnya setiap kali tiba di bagian menangis ini, saya malah ketawa.😀

6. The Geography of Bliss: Kisah Seorang Penggerutu yang Berkeliling Dunia Mencari Negara Paling Membahagiakan – Eric Weiner (2011)

Kalau Anda ingin mencari jawaban pasti dari dasar pemikiran buku ini, yaitu negara/tempat paling membahagiakan, maka Anda pasti akan kecewa. Namun kalau Anda senang menjelajahi konsep tersebut, buku Eric Weiner ini buku yang pas dan wajib dibaca.

Sejak lama Weiner ingin melihat dunia, terutama dengan dana dari pihak lain. Maka ia menjadi jurnalis, membawa tas punggung dan buku catatannya, lalu menjelajahi dunia. Hasilnya adalah buku The Geography of Bliss ini. Ia membawa pembaca melanglangbuana ke berbagai negara, dari Belanda, Swiss, Bhutan, hingga Qatar, Islandia, India, dan Amerika … untuk mencari tahu apa yang membuat orang-orang di sana bahagia atau murung. Buku ini adalah campuran aneh tulisan perjalanan, psikologi, sains, dan humor.

Apakah orang-orang di Swiss lebih bahagia karena negara mereka paling demokratis di dunia? Apakah penduduk Qatar menemukan kebahagiaan di tengah gelimang dolar dari minyak mereka? Apakah Raja Bhutan seorang pengkhayal karena berinisiatif memakai indikator kebahagiaan rakyat yang disebut Gross National Happiness sebagai prioritas nasional? Kenapa penduduk di Islandia, yang suhunya sangat dingin dan jauh dari mana-mana, termasuk negara yang warganya paling bahagia di dunia? Kenapa di India kebahagiaan dan kesengsaraan bisa hidup berdampingan?

Ditulis dengan wawasan yang dalam dan kocak, buku ini membawa pembaca ke tempat-tempat yang aneh dan bertemu dengan orang-orang yang, anehnya, tampak akrab. Sebuah bacaan ringan yang sekaligus memancing intelektualitas pembaca. Bacaan setebal 512 halaman yang sungguh mengasyikkan. Saya tertawa sekaligus merenung pada saat yang sama.🙂

7. The Shallows: Internet Mendangkalkan Cara Berpikir Kita? – Nicholas Carr (2011)

Internet memberikan kemudahan dan kesenangan, tetapi juga mengorbankan kemampuan kita berpikir secara mendalam. Demikian ditunjukkan Nicholas Carr dalam buku The Shallows ini. Finalis Pulitzer Award 2011 ini menujukkan bagaimana “alat-alat berpikir”—alfabet, peta, barang cetakan, jam, hingga komputer—yang telah kita gunakan selama berabad-abad bisa mengubah cara kerja otak kita.

Nicholas Carr galau. Penulis buku Does IT Matter? dan The Big Switch: Rewiring the World itu merasa ada yang berubah dalam dirinya dalam beberapa tahun terakhir. Utamanya menyangkut kebiasaan membacanya. Kini tak mudah lagi baginya menenggelamkan dirinya membaca buku tebal atau naskah-naskah yang panjang. Dulu asyik baginya terbuai oleh prosa, menggumuli narasi teks dan mencermati setiap argumen yang disajikan. Belakangan, konsentrasinya buyar setelah membaca tiga halaman, dan tergoda untuk melakukan hal lain. Perlu usaha lagi untuk menyeretkan perhatian kepada teks yang sedang dibaca. Pembacaan-mendalam (deep reading) yang baginya dulu mudah dan alami, kini perlu perjuangan.

Betapapun, dia tak menolak kegunaan luar biasa Internet. Sebagai peneliti, kehadiran Internet membuat proyek-proyek penelitiannya mudah dilakukan. Masukkan kata yang ingin diketahui dalam mesin pencari Google, klik sana klik sini, beberapa menit (kalau tidak detik) kemudian muncullah informasi yang diinginkan. Padahal pada zaman pra-Internet, informasi yang sama mungkin baru bisa ditemukan setelah berhari-hari mencari di perpustakaan.

Kegalauan Carr tampaknya mendapat dukungan ilmiah. Sebuah penelitian dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan dari University College London tentang pola riset online. Selama lima tahun, mereka meneliti dua situs populer untuk riset (satu dimiliki oleh British Library dan yang lain oleh sebuah konsorsium pendidikan) yang menyediakan akses ke jurnal elektronik, buku-elektronik, dan informasi penting lainnya. Mereka mencatat bagaimana orang yang melakukan riset menggunakan dua situs itu.

Mereka menemukan bahwa orang lebih sering lompat-lompat, dari satu artikel ke artikel lain, dan amat jarang kembali ke artikel-artikel yang sebelumnya sudah mereka kunjungi. Umumnya pengguna situs itu hanya membaca dua sampai tiga halaman pertama, sebelum meluncur ke situs lain. Kesimpulannya, tampaknya ada kebiasaan baru dalam membaca karena dimungkinkannya peselancaran (browsing) secara horizontal dari satu sumber ke sumber lain.

Buku ini menunjukkan bukti bahwa Internet memaksa kita menelan informasi secara instan, cepat, dan massal sehingga membuat pikiran kita mudah teralihkan. Kita menjadi terbiasa membaca cepat serbakilat dan cepat menyaring informasi, tapi akibatnya kita juga kehilangan kapasitas untuk berkonsentrasi, merenung, dan berpikir mendalam. Hal ini tentunya berbeda dengan membaca buku cetak. Kita diajak untuk fokus memerhatikan setiap kata dan kalimat. Dengan demikian kita secara pelan dan pasti mendapatkan pemahaman yang holistik dan berpikir mendalam serta kreatif.

Carr juga menyanggah sejumlah asumsi yang selama ini menganggap bahwa setelah manusia sudah dewasa otaknya akan berhenti berkembang. Ia menyajikan sejumlah hasil penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa Internet sanggup mengubah sirkuit-sirkuit dalam otak kita dan mengubah cara berpikir kita pelan-pelan.

Saya juga nyaris merasa begitu🙂 Tapi kemudian saya sadar bahwa kebiasaan membaca yang telah ditanamkan pada saya sejak kecil sanggup membendung ancaman Internet yang ini. Tapi bagaimana dengan mereka yang lahir dan besar di era digital ini? Mereka yang kita sebut digital native? Wah, ini masih harus diamati. Tapi setidaknya kita perlu tahu aspek-aspek negatif Internet sejak dini.

8. Naked Traveler 3 – Trinity (2011)

Tulisan Trinity selalu renyah, ngepop, dan lucu. Mungkin inilah buku bergenre travelogue paling populer di Indonesia. NT3 sempat ditarik dari peredaran saat terbit pada pertengahan tahun karena ada bagian tulisan yang dianggap “berbahaya” dan harus dibuang. Tentu saja saya tahu tulisan apa yang harus dibuang itu.🙂

Masih sama seperti buku pertama dan keduanya, dalam buku ini Trinity menulis pengalaman-pengalaman kocak dan anehnya saat bepergian ke berbagai negara. Bahasa yang ringan dan kisah yang seru menjadi andalan setiap seri Naked Traveler. Saking ringannya, buku setebal 326 halaman ini bahkan bisa rampung dibaca dalam beberapa jam saja. Maksimal sehari, deh.

Soul” buku ini jelas beda bila dibandingkan dengan karya Agustinus Wibowo yang lebih “dalem”, karena Trinity hanya berpretensi menulis setumpuk pengalamannya dalam sebuah buku kumpulan kisah perjalanan yang masing-masing ditulis hanya dalam 3-5 halaman saja. Yang jelas, Trinity sanggup menulis pengalaman paling sederhana sekalipun dengan memikat dan menghibur.

Dalam buku ketiga ini, ia bercerita tentang petualangannya memasuki perbatasan Palestina, mandi di Laut Mati, serunya melewati rumah artis Bollywood di India, mandi uap bersama orang Jepang, menyelam di Wakatobi, dan pengalaman-pengalaman seru lain yang kadang diakibatkan oleh bodinya yang gede.

9. The Lessons: Surat-Surat Seorang Jutawan kepada Putranya tentang Hidup dan Bisnis – G. Kingsley Ward (2011)

Buku ini aslinya terbit pada 1985 di Amerika Serikat. Saya jatuh cinta kepada buku ini ketika pada suatu hari saya menemukan fotokopiannya di rak buku seorang teman di Jogja, saat masih jadi mahasiswa dulu. Saya baca dalam beberapa hari dan terkejut saat menyadari kekayaan hikmah dalam buku ini. Langsung saja saya fotokopi dan jilid buku itu dan saya simpan dengan baik…hingga akhirnya saya bekerja di sebuah penerbit buku. Setelah beberapa kali melobi, akhirnya usulan saya untuk menerbitkan buku bagus ini diterima dan buku ini pun diterbitkan oleh Mizan.

Pada 1985, Kingsley Ward—seorang pengusaha Kanada yang memiliki tujuh perusahaan sukses—ragu-ragu saat istrinya menyarankan dia untuk menerbitkan surat-surat pribadinya kepada putranya. Ward akhirnya setuju. Toh tak ada yang akan membacanya, begitu pikirnya. Salah besar. Buku ini justru menjadi fenomenal: terjual lebih dari satu juta eksemplar dan diterjemahkan ke dalam delapan bahasa di 12 negara.

Untuk mentransfer pengetahuan yang ia miliki kepada generasi mendatang, termasuk untuk anak-anaknya, Ward menulis surat-surat kepada putranya, yang berisi banyak nasihat bijak dan inspiratif dalam berbagai aspek kehidupan: pentingnya pendidikan, memasuki dunia usaha, mendelegasikan tugas, berpenampilan rapi dalam berbagai kesempatan tertentu, pernikahan, persahabatan, pentingnya menjaga kesehatan, dan banyak lagi.

Buku klasik ini juga diperkaya banyak kutipan—ucapan para filsuf, penyair, penulis, pemimpin, dan negawaran yang pemikiran-pemikirannya telah tercatat selama berabad-abad untuk generasi mendatang.

The Lessons akan membuat Anda berpikir bahwa inilah yang ingin Anda ajarkan kepada anak-anak Anda. Atau, jika Anda seorang anak yang sedang menggapai cita-cita, inilah nasihat-nasihat yang ingin Anda dapatkan dari orangtua Anda.

10. Adolf – Osamu Tezuka (2011)

Karya Osamu Tezuka selalu menarik. Saya jatuh cinta kepada karya-karya manga Tezuka, terutama sejak Astroboy dan Buddha. Serial Adolf ini terdiri dari lima volume, dan hingga tulisan ini diterbitkan, baru empat yang sudah terbit di Indonesia (lihat foto). Serial Adolf ini dibuat pada kurun waktu 1983-1985 oleh Tezuka.

Kisah Adolf dibuka pada tahun 1936, saat seorang wartawan Jepang bernama Sohei Toge berkunjung ke Berlin untuk meliput Olimpiade. Di sana ia mengetahui bahwa adiknya, yang kuliah di Jerman, dibunuh. Selanjutnya, semua jejak yang berusaha dicari oleh Toge menghilang, seolah tidak pernah ada kejadian apa-apa. Belakangan ia mengetahui bahwa pembunuhan adiknya ada hubungannya dengan sebuah dokumen yang dikirimkan adiknya itu ke Jepang. Dokumen tersebut berisi informasi rahasia tentang Adolf Hitler yang kemungkinan punya darah Yahudi, kaum yang selama ini dimusuhinya (pada kenyataannya, informasi bahwa Hitler berdarah Yahudi sampai kini masih jadi kontroversi).

Seorang anggota Partai Nazi yang tinggal di Jepang, Wolfgang Kaufman, diperintahkan untuk mencari dokumen itu. Ia ingin putranya, Adolf Kaufmann, menjadi anggota Nazi dan loyal kepada Adolf Hitler. Namun, Adolf Kuafmann tidak tertarik kepada Nazi Jerman karena itu artinya ia nanti harus membunuh sahabat baiknya, Adolf Kamil, seorang Yahudi.

Kisah ketiga Adolf ini—Hitler, Kaufmann, dan Kamil—akhirnya akan saling berjalin dan semakin kusut saat Toge tak mau menyerah mencari siapa pembunuh adiknya.

Komik ini seru banget. Saya hampir tak pernah menunda waktu membelinya saat mengetahui info bahwa bukunya sudah terbit.

Nah, itulah 10 buku terbaik yang saya baca selama kurun 2011. Jadi, apa buku favorit Anda?🙂

9 thoughts on “10 Buku Terbaik yang Saya Baca Selama 2011

  1. che

    saya penasaran sama buku Garis Batas, sekarang ini susah nemunya. udah nyari muter2 Bandung lho, blm dapet juga. Kilatan Pedang Tuhan bagus banget, menurut saya🙂

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Garis Batas kayaknya masih gampang nemunya, soalnya udah cetak ulang beberapa kali. Atau hubungi toko bukunya aja dulu. Plus kontak toko2 buku online🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s