Penerjemah Masa Kini: Profesi Sarat Tantangan

Profesi penerjemah, konon, belum terlalu dikenal oleh masyarakat umum, apalagi kalau dibandingkan dengan profesi-profesi “populer” seperti public relationsalesman, presenter, MC, wartawan, sekretaris, anggota boyband, dan banyak lagi. Ini terkadang dirasakan oleh para penerjemah ketika berhadapan dengan situasi-situasi di tengah masyarakat, misalnya ketika menuliskan data pekerjaan di lembaga-lembaga publik. Atau, yang lebih sering lagi, mendapat pertanyaan tentang profesi tersebut dari orang yang bahkan tak pernah membaca buku. Sebagian masyarakat mungkin juga berpikir bahwa menjadi penerjemah itu “mudah”, walau kenyataannya yang jago bahasa asing pun belum tentu bisa menjalani profesi ini dengan baik. Padahal, profesi penerjemah dari masa ke masa semakin kompleks dan penuh tantangan. Sudah begitu, dunia penerjemahan pun sangat luas. Ada penerjemah buku atau dokumen (translator), juru bahasa (interpreter), penerjemah teks film (subtitler), atau yang lebih luas lagi adalah editor buku (yang idealnya juga dituntut kemampuan sebagai penerjemah).

Hal itulah yang melatarbelakangi oleh HPI (Himpunan Penerjemah indonesia) Komda Jawa Barat menggelar acara gelar wicara dengan tema “Penerjemah Masa Kini: Profesi Sarat Tantangan”. Acara yang digelar pada 14 Januari 2012 di ruang American Corner di Perpustakaan Pusat ITB itu menghadirkan Sofia Mansoor (pendiri milis Bahtera, penerjemah senior), Andityas Prabantoro (Manajer Redaksi Mizan), Wiwit Tabah Santoso (penerjemah dan pengelola grup “Belajar CAT Tools” di Facebook), dan Laksmi Utari (mantan manajer biro penerjemahan internasional) sebagai narasumbernya. Sementara acara ini sendiri dipandu oleh Indra Blanquita Danudiningrat (penerjemah tersumpah dari Jakarta). Peserta yang hadir pun, sekitar 50-an orang (kalau tak salah hitung), banyak yang datang dari luar Bandung, misalnya dari Jakarta, Lampung, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Banyak peserta acara ini mungkin sudah paham bahwa profesi penerjemah mensyaratkan penguasaan bahasa Indonesia dan bahasa asing yang tinggi, serta mampu mentransfer pesan dari satu bahasa ke bahasa lainnya dengan pas. Namun kini itu saja tidak cukup. Seiring perkembangan zaman dan teknologi, penerjemah yang baik juga dituntut belajar menguasai kemampuan lain di luar keterampilan menerjemahkan, yaitu teknologi. Sofia Mansoor, kata moderator, berhasil bertahan selama lebih dari tiga puluh tahun sebagai penerjemah karena tak malas mengakrabkan diri dengan kemajuan teknologi. Walau aslinya berlatar pendidikan Farmasi, dunia penerjemahan lebih membuatnya jatuh hati. Sofia, yang memulai karier penerjemahan sejak awal 1980-an, akrab dengan mesin tik, lalu beralih mengetik dengan komputer, menggunakan Internet, sampai menggunakan perangkat lunak sebagai alat bantu menerjemahkan (seperti CAT Tool dan WordFast) dan memperluas jejaring dengan situs jejaring sosia. Sofia adalah salah satu pendiri milis Bahtera (Bahasa dan Terjemahan Indonesia) dan terkenal sebagai seorang penerjemah senior. Namanya juga bisa ditemukan sebagai penerjemah di majalah National Geographic Indonesia.

Pengalaman Wiwit Tabah Santoso lain lagi. Penerjemah asal Lampung ini sempat tinggal di sebuah desa di Jambi. Di tempat itu, boro-boro Internet, listrik pun bisa byar-pet tiga kali sehari, katanya. (Mas) Wiwit mengawali karier sebagai penerjemah pada tahun 2000-an, dengan honor per lembarnya di bawah Rp 10.000. Pernah juga ketika masih mahasiswa ia harus berbagi hasil 60:40 dengan tempat persewaan komputer di sekitar kampus yang jadi pihak pemberi order terjemahan. Tentu kini nasibnya sudah tak semerana dulu, berkat kegigihannya mengatasi segala keterbatasan, dan tak lupa dia mengingatkan untuk rajin membaca manual berbagai peranti lunak penerjemahan (seperti CAT Tool). Dan, pastinya, meluaskan jejaring. Salah satunya melalui milis Bahtera. Karena kualitas terjemahannya dianggap bagus, ada klien Wiwit yang tak segan mengajarkan penggunaan perangkat lunak untuk menggarap proyek terjemahan. Bahkan, ada kawan penerjemah yang sampai diberi lisensi perangkat lunak alat bantu penerjemahan senilai harga sepeda motor baru oleh klien, saking puasnya sang klien terhadap kualitas hasil terjemahannya. Ah, sepertinya saya juga harus mulai belajar peranti lunak macam itu.

Pembicara ketiga adalah Andityas Prabantoro, Manajer Redaksi Penerbit Mizan. Selain menceritakan perjalanan kariernya yang berawal dari seorang penerjemah hingga berkarier di Mizan, dia juga mengungkapkan bahwa modal utama seorang penerjemah adalah gemar membaca dan menguasai betul bahasa Indonesia, selain tentunya juga menguasai bahasa asing. Selain itu, penerjemah juga harus berwawasan luas agar bisa menangkap konteks tulisan yang hendak diterjemahkan dengan tepat. Sebagai editor, Tyas masih sering menjumpai kekurangan wawasan ini pada naskah terjemahan yang mampir di meja redaksi. Ia mencontohkan kalimat “Secretary of State” yang diterjemahkan menjadi “Sekretaris Negara”, padahal yang dimaksud adalah Menteri Luar Negeri. Kalau saja kita mau membaca banyak tema/topik, rajin mengasah kemampuan menuangkan pendapat ke dalam bentuk tulisan, dan tahu cara menggunakan berbagai kamus dan tesaurus, kesalahan “sepele” semacam itu tentu tak perlu terjadi. Tambahan dari saya, banyak membaca mungkin juga masih kurang. Harus diimbangi dengan makan banyak.😛

Saat giliran pembicara keempat (Laksmi Utari) tiba, saya tak bisa konsentrasi menyimaknya, karena persis di belakang saya terjadi aksi gosip berisik yang dipelopori Mbak Esti dan Aini. Akhirnya saya memilih bermain game Angry Birds di ponsel saja.😛

Acara ini juga diramaikan dengan undian berhadiah buku. Yang paling menggelikan, buku The Girl With The Dragon Tattoo terbitan Mizan dimenangi oleh penyuntingnya sendiri: Nur Aini.🙂 Tapi dia lantas menolak dengan alasan sudah punya. Sialnya lagi, saya kurang cepat merespons, karena kalau Aini mengklaim hadiahnya, dia bilang mau kasih buku itu ke saya. Damn!

Menu makan siang🙂

Acara berakhir sekitar jam 13.00. Seusai makan siang, saya meminta Nur Aini, mantan teman seangkatan di Mizan dan kini menjadi penerjemah lepas, untuk mengantar saya keliling kompleks kampus ITB (soalnya baru sekarang saya masuk ke kampus ini). Sambil mengobrol ngalor-ngidul, termasuk cerita soal mantan pacarnya dulu yang pernah diceburin ke kolam “Indonesia Tenggelam”.  Lingkungan kampus yang rimbun dan pemandangan beberapa kelompok mahasiswa masih sibuk beraktivitas membuat saya ingin jadi mahasiswa lagi.

Setelah selesai tur keliling ITB, saya kembali ke kebiasaan lama: jelalatan melihat jajanan. Adanya di sepanjang trotoar persis di luar gerbang belakang kampus: nasi goreng, burger, bakso, cireng, lumpia basah, es krim, dan banyak lagi. Lalu saya masuk kembali ke dalam kompleks, mencari tempat duduk di bawah pohon rindang berangin sepoi-sepoi. Sambil makan lumpia basah isi kornet (merek kornetnya: Ajib) ukuran jumbo seharga Rp 7.000 yang masih hangat, saya kembali berkhayal tentang asyiknya saat menjadi mahasiswa.

5 thoughts on “Penerjemah Masa Kini: Profesi Sarat Tantangan

  1. Indradya SP Post author

    Haaa? Kalo masih semahal itu mendingan saya backpacking aja deh Mbak😛
    Wordfast denger2 ada yg versi gratisan? Atau itu cm trial aja?
    Anyway, thanks koreksiongnya ya🙂

    Reply
    1. Dina Begum

      Wordfast ada yang gratisan dan bukan trial, tapi cuma bisa menenyimpan hasil terjemahan 500 segmen atau kalimat. Lebih dari itu harus bikin bank data baru lagi. Hehe kalau dapat proyek menerjemahkan gede bisa balik modal deeh. Beneran! *been there, done that.*

      Reply
      1. Aini

        Nerjemahin satu novel dapet kok lisensi wordfast untuk 3 tahun🙂 Bulan Mei tahun lalu aku beli wordfast classic seharga 175 Euro. Eh … malah sebenarnya lisensi itu bisa berlaku selamanya asalkan nomor instalasinya tidak berubah😀

        Reply
  2. Dina Begum

    hmmmm… banyak makan ya? Itu sih ga usah disuruh lagi *sambil mengelus perut*
    Oia, koreksi dikiiiiit aja. CAT Tool adalah Computer Aided Translation Tool. Itu berupa perangkat lunak yang di antaranya ada yang bernama Trados, Wordfast dan macam-macam lagi. Harganya cukup idih, aku beli Wordfast 650 Euro (orang Indonesia dapat diskon 50%). Trados bisa dua sampai tiga kali lipatnya. Yang lain aku kurang paham.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s