Balada Ukraina #2

Tibalah hari yang saya tunggu-tunggu itu. Pukul 4 pagi, saya diantar keluarga dan istri saya menuju Bandara Soekarno-Hatta. Setelah menguatkan diri dan pamit kepada keluarga tercinta, saya langsung check in ke konter China Airlines dan langsung menuju boarding area. Pesawat lepas landas pukul 8 pagi. Penerbangan ke Hong Kong (HK) memakan waktu 4,5 jam.

View Hong Kong yang paling terkenal. Gambar diambil dari Tsim Sha Tsui.

View Hong Kong yang paling terkenal. Gambar diambil dari Tsim Sha Tsui.

Hari menjelang petang saat saya tiba di Hong Kong. Setelah melewati bagian imigrasi, saya bergegas keluar untuk mengambil barang-barang saya di baggage claim. FYI, pemegang paspor hijau RI bakal diberi cap imigrasi HK yang berfungsi sebagai visa on arrival  dan kita diperbolehkan tinggal selama 30 hari sejak tanggal kedatangan, Saya pernah tinggal di Hong Kong beberapa tahun sebelumnya, dan ini adalah kunjungan ke-4 saya di bekas koloni Inggris ini, jadi saya cukup hafal bagaimana caranya menuju pusat kota. Setelah mengambil koper, saya berjalan kaki menuju terminal bus yang berada tak jauh dari pintu keluar. Udara dingin HK pada akhir Januari itu sungguh menyegarkan. Papan elektronik yang berada di sekitar situ menunjukkan bahwa di luar suhunya 10 derajat Celsius.

Saya tersaruk-saruk mendorong troli berisi koper besar dan ransel menuju terminal bus bandara yang menuju Hong Kong Island, sekitar 200 meter dari pintu keluar. Hong Kong adalah sebuah wilayah kepulauan. Bandara ini terletak di sebuah pulau hasil reklamasi. Sebelumnya, bandara HK (Kai Tak Airport) menempati lokasi di dalam kota. Kalau Anda masih ingat film-film Mandarin jadul, akan terlihat adegan pesawat-pesawat hendak mendarat dan jaraknya sangat dekat dengan puncak-puncak gedung pencakar langit di sini. Bayangkan kalau ada kecelakaan pesawat… bisa-bisa ada Boeing nabrak mal. Itulah sebabnya bandara kemudian dipindah ke lokasi yang jauh dari keramaian kota. Bandara ini bernama Chek Lap Kok—diambil dari nama pulau reklamasi tersebut—alias Hong Kong International Airport.

Kunjungan ke HK selalu membuat saya bersemangat. Saya sangat menyukai suasana dan lanskap kota modern dan bersih, gedung-gedung pencakar langit, jalanan yang sibuk, dan udara yang dingin. Di negara ini, tak seorang pun yang akan memandang Anda hanya karena warna kulit yang berbeda. Hampir semua orang dari semua benua di planet ini bisa ditemukan di HK. Perjalanan ke pusat kota akan memakan waktu 1 jam kalau menggunakan bus. Sebenarnya saya bisa saja naik kereta ekspres, tapi tarifnya jauh lebih mahal. Jadi, sambil duduk santai di dek atas double decker dan menikmati pemandangan sepanjang jalan, mari saya ceritakan sedikit tentang HK.

Sejak kembali ke pangkuan Republik Rakyat Cina (RRC) pada 1 Juli 1997, Hong Kong menyandang status SAR (Special Administrative Region) di mana otonomi penuh dipegang oleh Pemerintah Hong Kong sendiri, kecuali urusan luar negeri dan militer yang berada di bawah Pemerintah RRC. Dengan pertumbuhan ekonomi yang relatif stabil, sekitar 4-5 % per tahun, taraf hidup di Hong Kong relatif tinggi. Di kawasan Asia Timur, taraf hidup negara empat musim ini hanya berada di bawah Jepang dan Brunei, tapi masih di atas Singapura. Kepadatan penduduknya termasuk yang terpadat di dunia, mencapai 6.300 orang tiap kilometer perseginya. Mengingat keterbatasan wilayahnya (hanya 1.102 kilometer persegi), sebagian besar penduduknya tinggal di flat-flat (apartemen) sewaan.

Wilayah Hong Kong termasuk wilayah kepulauan dan dibagi menjadi tiga wilayah (subdivision) yaitu Pulau Hong Kong, Kowloon, dan New Territories. Kekayaan dan keindahan alam negara ini mungkin tak terlampau menonjol, apalagi dibandingkan dengan Indonesia. Namun semuanya dikelola dengan maksimal dan profesional, sehingga mampu memesona jutaan wisatawan internasional tiap tahunnya. Pemandangan kota metropolitan yang bersih dengan ratusan gedung jangkungnya, ditambah bukit-bukit hijau yang melatarbelakanginya, menjadi ikon khas Hong Kong yang kondang di seluruh dunia. Semarak lampu-lampu neon bertulisan huruf Cina yang menjorok ke jalanan dari toko-toko di sepanjang jalan menjadi pemandangan menarik tersendiri, terutama ketika malam tiba.

Hong Kong juga menawarkan banyak daerah wisata yang jauh dari hiruk pikuk kota metropolitan, seperti pantai dan pulau yang indah. Pulau Lamma, Sai Kung, atau Lantau dapat dicapai hanya dengan 40 menit naik kapal feri cepat (jetfoil) dari pusat kota. Di sana ada Kuil Po Lin dan patung Buddha raksasa, plus pemandangan pantai bersih berlatar bukit-bukit menghijau nan cantik.

Daerah wisata pantai lainnya tak kalah indah, seperti pantai Stanley yang juga punya pasar tradisional yang harga-harga cinderamata dan handycraft-nya bisa ditawar, atau pantai keren Repulse Bay. Bisa juga menyusuri kawasan nelayan di Sungai Aberdeen dengan perahu tradisional.

Mejeng di Aberdeen River.

Stanley Beach, salah satu kawasan wisata di HK.

Pemandangan khas lain adalah jalanan kota Hong Kong yang tergolong kecil-kecil, tapi bersih. Meski demikian, bus-bus double decker (bus tingkat) ala Inggris yang berbodi panjang di sini bisa dengan enak membelok, tanpa harus membuat jalan macet. Sebagian besar bus kota di sini memang berupa bus tingkat. Jangan harap bus kota di Hong Kong mau berhenti seenaknya seperti di Indonesia. Mereka hanya berhenti di halte yang telah ditentukan. Di semua halte bus terpampang jelas bagan yang berisi informasi nomor jalur bus, rute yang dilalui, serta daftar tarif. Alat transportasi lainnya adalah taksi, trem, minibus, dan MTR (Mass Transit Railway) alias kereta bawah tanah. Ada juga kapal feri bermodel semi-tradisional yang melayani penyeberangan selat kecil antara Pulau Hong Kong dan Kowloon. Semuanya dikelola pemerintah Hong Kong secara efisien sehingga memudahkan warga menggunakannya.

Double decker yang keren itu…

Di sini, mereka yang punya mobil pribadi biasanya memang warga yang betul-betul kaya. Sebab, wilayah yang padat menyebabkan mereka harus menyewa tempat parkir sendiri. Plus, mobil yang boleh berseliweran di kota adalah mobil keluaran 10 tahun terakhir. Tapi, menurut saya, naik kendaraan umum di HK jauh lebih nikmat ketimbang naik mobil. MTR dan bus-bus kota di sini sangat mewah, sehingga warga negara dunia ketiga seperti saya doyan bolak-balik naik bus atau MTR hanya untuk merasakan kenyamanannya. Lagipula tarifnya tidak mahal. Untuk jarak sedang, paling-paling kita hanya butuh biaya HK$3-5 (HK$ 1 = Rp1.100 – 1.200).

  Begini cara pakai Octopus di stasiun MTR. Tinggal tempel🙂

Cara pembayaran pun tidak harus pakai uang tunai. Di sini ada kartu elektronik (semacam kartu Flazz BCA) bernama Octopus yang bisa digunakan untuk membayar biaya transportasi. Cukup tempelkan di sebuah display elektronik dan “pulsa” kita di kartu itu akan terpotong sesuai tarif yang berlaku. “Pulsa” juga bisa diisi ulang di banyak tempat umum, seperti di terminal bus, stasiun MTR, dll. Di beberapa toko, Octopus juga diterima sebagai alat pembayaran. Praktis!

Di kawasan ramai dan sibuk, misalnya di Causeway Bay, amat mudah menemukan polisi yang sedang patroli berpasangan, itu pun hanya berjalan kaki. Terletak di jantung Pulau Hong Kong, Causeway Bay merupakan salah satu pusat bisnis dan perbelanjaan paling kondang, terutama bagi para turis asing. Kawasan ini sangat ramai dengan lalu-lalang orang-orang yang sedang berbelanja, ber-window shopping, dan para businessman yang sibuk dengan telepon selulernya. Di beberapa titik zebra cross, ratusan orang bisa sekaligus menyeberang ketika lampu merah bagi kendaraan menyala.

Kawasan sibuk Causeway Bay.

Toko-toko di sepanjang jalan merayu pejalan kaki yang lewat dengan tawaran discount-nya. Puluhan restoran, warung makan dan kafé padat dikunjungi mereka yang ingin bersantap. Warung-warung makan di Hong Kong terbilang punya konsep menarik. Dapurnya terletak di bagian depan, sehingga pejalan kaki yang lewat bisa melihat langsung “aksi” para kokinya dan mencium aroma makanan yang sedang dimasak. Ada juga satu-dua kios makanan ringan yang menawarkan sate dan bakso dengan saus, mulai dari daging sapi, ayam, udang, sampai babi. Bagi pendatang Muslim, lebih baik bertanya dulu daging apa yang dijual, karena seringkali tak ada tulisan keterangan. Sekalipun ada, kadang-kadang bertulisan huruf Cina. Namun tak usah kuatir, karena seluruh fasilitas umum dan petunjuk jalan di Hong Kong juga menggunakan bahasa Inggris, di samping Kanton (Cantonese: bahasa Cina berdialek Kanton), yang juga merupakan bahasa resmi di sini.

Pemandangan khas jalanan di HK.

Sejam kemudian, bus memasuki pusat kota. Hari sudah gelap waktu itu. Saya turun di halte Causeway Bay. Sambil menyeret koper besar, saya berjalan menuju gedung Konsulat Jenderal RI (KJRI). Di sini ada banyak kamar yang berfungsi sebagai guest house yang bisa disewa WNI. Biayanya standar lah, kalau dirupiahkan jadi sekitar Rp350 ribu per malam. Saya toh hanya akan menginap satu malam ketika itu. Besoknya, pesawat saya akan take off sekitar tengah malam.

Setelah check in dan meletakkan barang-barang di kamar, saya langsung mandi air panas, dilanjutkan dengan jalan-jalan. Pertama, tentunya saya harus makan dulu. Di Hong Kong, tak terlalu sulit menemukan restoran Indonesia, apalagi di kawasan sibuk Causeway Bay. Tapi, masa saya makan masakan Indonesia di HK? Makan mie instan Indomie dengan telur saja bisa habis Rp20 ribu di sini. Maka saya mencoba mencari lokasi resto chinese food  Cafe de Coral, favorit saya di HK. Cafe de Coral adalah sebuah jaringan resto terkenal di sini yang menawarkan menu-menu tradisional Cina. Sebelumnya, saya sempat mencari warung kaki lima yang menjual waffle enak di dekat KJRI, tapi ternyata warungnya sudah pindah. Lalu saya sempat mampir ke warungnya Tante Yohana, teman ibu saya, untuk membeli kartu SIM dan buka-buka e-mail sebentar di warnetnya. Saat akan pergi, saya dilarang membayar semua itu. Wah, alhamdulillah…🙂

Restoran Indonesia mudah ditemukan di Causeway Bay.

Malam itu, di Cafe de Coral, saya memesan menu Curry Beef Brisket alias kari sapi dengan nasi. Sederhana memang, tapi cukup lezat buat saya. Secara porsi sebenarnya tidak cukup. Tapi saya tak mau foya-foya berpesta kolesterol sebelum sampai ke tujuan. Setelah makan, saya memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati malam di Hong Kong.Supaya lebih afdol, saya membeli beberapa potong roti di bakery dan sebotol jus. Lalu menikmati semua itu sambil berjalan-jalan menikmati malam yang dingin. Inilah yang saya sukai ketika berada di negara ini. Jalan kaki (dengan aman dan nyaman) adalah sebentuk kemewahan yang sulit saya dapatkan di Indonesia. Jadi saya tak akan melewatkan malam ini dengan tidur lebih awal. Saya sempat membeli topi kupluk murah meriah di pasar tradisional untuk persiapan menghadapi suhu yang lebih gila di tujuan nanti. Sebentar-sebentar, saya terpaksa berhenti karena para pedagang makanan kaki lima tampak senang menggoda saya dengan jajanan-jajanan yang bikin lidah bergoyang dan air liur menetes. Tengah malam, barulah saya kembali ke gedung KJRI. Saya terpaksa lewat gang senggol di samping gedung karena pintu depan sudah dikunci.

Siang hari esoknya, saya menemui teman saya di sebuah kafe untuk mengambil tiket pesawat saya. Sejam sebelumnya, saya sudah menukar uang ke HK dolar (karena dia membeli tiket dengan HK dolar). Setelah ngobrol sejenak, ia pamit untuk pergi bekerja. Teman saya itu punya bisnis di HK. Beberapa tahun sebelumnya, saya pernah datang kemari untuk menulis laporan khusus tentang tenaga kerja wanita (di sini biasa disebut nakerwan, bukan TKW). Beberapa nakerwan yang saya kenal sudah pulang ke Indonesia. Dan karena hari itu hari kerja, saya tak bisa menemui mereka. Nakerwan di sini biasanya mendapat libur pada hari Minggu.

Teman-teman HK saya juga kebetulan sedang ke luar negeri. Mereka anak-anak HK Hardcore dan sedang konser di Taiwan. Yah, berhubung ini hanya kunjungan singkat untuk transit satu malam, agak susah kalau mau ketemu dengan teman-teman lama. Mungkin nanti, 6 bulan lagi, saya bisa ketemu mereka lagi setelah pulang dari Ukraina melalui rute yang sama. Jadi sisa hari itu saya habiskan dengan jalan-jalan lagi, sedikit wisata kuliner, keluar masuk toko melihat-lihat jaket keren atau gadget terbaru, foto-foto ke sana kemari, main ke toko buku, makan di taman sambil baca majalah/koran, dan petang harinya saya kembali ke gedung KJRI. Memeriksa kembali barang-barang saya, paspor, tiket, dan berkas-berkas untuk masuk ke Ukraina. Jam 8 malam, saya sudah berada di halte bus menuju bandara.

Sejam kemudian, setiba di bandara, saya langsung mencari konter pesawat Turkish Airlines yang menuju Kiev, Ukraina. Sambil menyeret koper dan memanggul ransel di punggung, saya mendapati pemandangan mencolok di depan saya. Lima petugas keamanan berseragam, kekar dan berkacamata hitam, mondar-mandir di sekitar sebuah loket check in. Senapan otomatis tergenggam erat di tangan. Mereka mengawasi antrean panjang orang-orang berpakaian jubah hitam, berjanggut panjang, dan bertopi tinggi. Orang-orang Yahudi Ortodoks. Saya melirik nama loket itu. El Al, maskapai penerbangan Israel, salah satu negara paling paranoid di dunia karena mempunyai musuh di mana-mana. Dugaan saya, otoritas keamanan bandara internasional Hong Kong tak mau ambil risiko terjadi kekacauan di sini karena ada pihak yang mau menyerang mereka.

Di loket Turkish Airlines, saya menyelesaikan proses check in setelah diminta menunjukkan berkas-berkas dan uang dolar tunai saya yang sebanyak beberapa lembar Benjamin kepada si petugas. Si petugas beralasan, saya harus menunjukkan uang tunai saya sebagai bukti bahwa saya punya uang untuk tinggal selama beberapa waktu di negara tujuan–atau di negara transit. Huh, memangnya tampang saya kayak imigran gelap, ya? Kurang ajar. Tapi memang hanya itulah uang tunai yang saya bawa sebagai uang saku pegangan. Toh, di sana saya akan menerima gaji. Sambil menggerutu, saya keluar dari loket dan mencari tempat duduk. Antrean di depan loket El Al sudah menghilang. Begitu pula para petugas bersenjata tadi.

Setelah mendapat tempat duduk, saya mencoba menelepon Nastya (kontak saya di Ukraina) dengan sisa pulsa terakhir untuk memberitahukan perkembangan terbaru. Untung saja saya menelepon dia. Kalau tidak, saya tidak akan tahu bahwa Nastya baru saja mengirimkan e-mail  penting. Segera saya mencari internet café terdekat (waktu itu saya belum punya laptop). Ternyata Nastya memberitahu bahwa tak ada orang yang akan menjemput saya di Bandara Borispol di Kiev. Tapi ia memberi petunjuk bagaimana cara menuju stasiun kereta api dengan bus dari bandara. Di stasiun, akan ada orang yang akan menjemput dan membantu saya mendapatkan kereta api ke Dnipropetrovsk, kota tempat saya akan tinggal, 450 kilometer dari Kiev. Saya mencatat semua petunjuk Nastya secepat kilat (tarif Internetnya per 15 menit, itu pun wajib beli minuman dulu), lalu kembali duduk.

Setengah jam kemudian, pesawat boarding dan semua penumpang masuk ke kabin. Beberapa saat setelah pesawat mengudara, saya bersiap tidur. Sekitar 11-12 jam lagi saya akan tiba di Istanbul untuk transit. Oh, tunggu dulu. Para pramugari sedang membagikan makan malam kepada penumpang. Ah, rasanya saya bisa menunda tidur saya barang sejenak. Tadinya saya mengharapkan menu kebab, tapi ternyata mereka hanya memberi menu makan standar di pesawat. Mungkin karena saat itu jam menunjukkan pukul 12 malam (atau pukul 11 malam WIB). Apa pun, yang jelas semua makanan itu saya eksekusi dalam beberapa menit saja. Penumpang di sebelah saya, orang Turki, tak jelas bahasa Inggrisnya. Jadi saya putuskan untuk tidur saja. Mengabaikan dua pemuda Turki yang sibuk berjoged sambil mendengarkan lagu Turki di pojok depan.

Perjalanan saya masih panjang. (bersambung)

* Tulisan ini pernah saya pajang di notes Facebook pada 24 Maret 2011. Sengaja di-posting di sini, dengan diedit seperlunya, biar blog saya agak rame dikit :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s