Kedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI

Judul: Kedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI

Penulis: Valiant Budi

Penerbit: GagasMedia

Cetakan I: 2011

Tebal: 444 halaman + xii

“Kalau mampu bertahan kerja di Arab Saudi, kita bakal tahan banting kerja di mana saja.” ~ seorang TKI

Gara-gara sering baca ulasannya di Internet dan pernah lihat penulisnya di TV One, saya jadi tertarik beli buku ini. Penulisnya, Valiant Budi Yoga, bukan TKI “biasa”. Aslinya, sebelum memutuskan menjadi TKI, ia menyandang gelar sarjana hukum dan pernah bekerja sebagai penyiar dan editor buku. Karena sangat menyukai kisah-kisah 1001 malam, Vabyo (panggilan Valiant Budi) jadi berambisi bekerja di Arab Saudi.

Ia bekerja sebagai seorang barista (peracik kopi dan pelayan di kedai kopi) di sebuah mal di Al Khobar, sebuah kota minyak dan pelabuhan di pinggir pantai kawasan Teluk Persia. Nama kedai kopinya ia samarkan menjadi Sky Rabbit, tapi tak sulit menebak bahwa tempat ini pasti aslinya bernama Starbucks. Tinggal ganti kata “Star” menjadi “Sky” dan “bucks” menjadi “rabbit”, lalu dipisah dengan spasi. Selama bekerja di sana, banyak pengalaman seru dan menarik yang ia alami. Semua pengalaman tersebut ditulis dengan bahasa yang lugas, tanpa berpretensi rumit-rumit. Kata ganti bahasa Betawi (gue-elo) hanya ia gunakan di dalam dialog dengan teman setanah air, sementara ketika sedang bercerita kepada pembaca ia lebih suka menggunakan kata ganti “aku”.

Saat membaca kisah-kisah dalam buku ini, ada kesedihan mengetahui bangsa kita yang selalu dicap inferior dan manusia kelas dua, ada kegetiran dan simpati ketika penulis tidak mendapatkan keadilan di tempat kerjanya, dan ada senyum ketika ia bertemu dengan rekan setanah airnya.

Beberapa kali ia pernah mengalami kejadian tak mengenakkan dengan sopir taksi yang bersedia memberinya banyak uang agar mau “dibawa”. Tapi ketika ada seorang pelanggan yang bertingkah seperti itu, Vabyo mengucapkan audzubillahi mina syaithoni rajim dan si pelanggan langsung pucat dan kabur. Lalu, sebagai seorang beretnis Cina dan fisiknya tampak seperti orang Filipina yang memang banyak bekerja di sana, ia sering digoda di sepanjang jalan—oleh laki-laki. Kemudian ada kisah tentang polisi syariah yang memaksa seorang wanita yang tertangkap basah berselingkuh di kedainya untuk “melayani”nya di tempat tertutup, sebagai “hukuman”. Sialnya, setelah dua orang itu pergi,Vabyo sempat tak sengaja mengendus tisu bekas mengelap cairan kental sperma (huek!).

Adegan berikut ini menurut saya yang paling gila, seru, menjijikkan, dan….kocak abis! (hal. 170). Ceritanya, si Vabyo sedang berjalan pulang dan, lagi-lagi, ada orang-orang yang mau memerkosanya. Cowok, pula. Edan jika difilmkan, mungkin…hehehe. Coba bayangkan sendiri dalam adegan slow motion dengan musik latar yang menggetarkan.🙂

Tiba-tiba aku diadang mobil jip. Segerombolan om-om bertubuh raksasa turun. Salah satu yang badannya tiga kali ukuran badanku memelototi atas-bawah sambil menepuk-nepuk penisnya. Ya Allah, kenapa orang-orang ini? Kok gak habis-habis ya?

Di sebuah kisah lain, ia bercerita tentang salah satu manajernya yang memerintahkannya mencuci gelas kertas untuk digunakan kembali, mencampurkan susu basi dalam minuman, dan menjual kue sisa hari sebelumnya. Kemudian, dalam kisah lain, karena memiliki pelanggan yang sering kali “kurang berpendidikan dan beretika”, seorang barista rekan Vabyo melampiaskan rasa kesalnya di dapur dengan mencampur minuman pesanan dengan ludah, mengisi muffin dengan upil, dan bahkan mengencingi minuman pesanan pelanggan (!).

Blog Vabyo yang menceritakan hal-hal di atas pun konon diserbu komentar-komentar negatif yang menganggap si penulis sedang berusaha mendiskreditkan Islam. Tapi, sejak kapan Islam = Arab? Terbayang betapa sempitnya wawasan orang yang berpikir begitu.

Homoseksualitas di Arab Saudi sebenarnya bukan hal baru. Coba saja baca di sini. Cuma, saya jarang baca tulisan orang Indonesia yang pernah bekerja di sana dan melihat sendiri fenomena tersebut (bahkan nyaris jadi korban). Mereka yang bekerja sebagai buruh migran di negara lain selalu punya sejuta cerita yang bikin miris, menyedihkan, walau kadang ada juga yang kocak dan bisa bikin ketawa. Saya sendiri pernah bersentuhan dengan dunia TKI ini saat beberapa tahun lalu menulis liputan khusus tentang TKW di Hong Kong. Untungnya, hukum di sana relatif lebih keras ditegakkan bagi siapa pun. Berbeda dengan Arab Saudi yang hukumnya masih terkesan rasis dan berat sebelah.

Meski disampaikan dengan cara yang kocak, pesan buku ini serius: tentang sepotong dunia TKI dan sejuta problemanya, plus tentang budaya dan karakter orang-orang sebuah negara yang dianggap “suci tak bernoda” oleh sebagian orang fanatik yang gampang ngamuk.

Ada satu kutipan bagus yang ditunjukkan si penulis.  Saat itu ia dicibir seorang penumpang yang tahu bahwa si penulis hendak pulang ke Indonesia—sebuah negara “miskin” yang tidak menyenangkan. Vabyo membalas, “Maaf, tapi di negara miskin saya itu, saya lebih banyak tersenyum. Tak terbeli dengan ribuan riyal. Lagi pula, semua kebusukan negara saya, Indonesia, ada di negara lain, kok. Tapi keindahan Indonesia belum tentu dimiliki negara lain.” (hal 426).

Sayang, dalam buku ini ada (agak) banyak typo dan kelebihan spasi. Dan saya agak terganggu dengan penyebutan nama negara yang memakai bahasa Inggris (Saudi Arabia) dan bukannya bahasa Indonesia (Arab Saudi). Bagi saya itu sama tidak enaknya dengan menyebut nama negara Paman Sam dengan “United States” dan bukannya “Amerika”. Kemudian, ada juga cerita yang menurut saya masih menggantung. Misalnya kisah tentang Mas Rendi, teman sekamar Vabyo, yang dipindah ke Riyadh karena dituduh menggelapkan uang perusahaan. Penulis juga agak kurang berhasil dalam penyampaian drama di beberapa bagian. Misalnya, interaksi dengan keluarga tak banyak dibahas—mungkin memang tak ada yang menarik atau klasik, sehingga si penulis tak menceritakan lebih banyak.

Untunglah tulisan Vabyo ini sangat menarik dan bisa menutupi kekurangan tersebut. Overall, terlepas dari sedikit catatan minus tersebut, saya kasih 4 dari 5 bintang, deh. Habis, asyik banget bacanya. Saya cuma butuh 2 hari buat rampungin baca buku setebal 400 halaman lebih ini.🙂

4 thoughts on “Kedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI

  1. rangi ruru

    Halo, abis ngobrol sama kawan baik ttg buku ini dan googling terdampar di blog anda. Uhmm united states dan America, tapi kan America adalah benua yg terdiri dari banyak negara-negara?, Jadi mungkin ada benarnya disebut United States (atau mungkin musti USA (kali ya? Saya bukan ahli hehehehe) saja untuk menunjukkan negeri paman sam ini. Btw blognya bagus🙂.

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      USA atau US sama aja, mengacu ke sebuah negara. Dalam bahasa Indonesia, mau menyebut “Amerika” atau “Amerika Serikat” ya sama saja. Apalagi kalau konteksnya spesifik. Nggak mungkin ketuker sama Benua Amerika, kecuali emang kata “benua” disisipkan. Yang saya permasalahkan kan penyebutan nama negara dalam bahasa Inggris, di dalam novel berbahasa Indonesia. Cek aja di Wikipedia kalo nggak percaya. Contoh lain ya Saudi Arabia dan Arab Saudi. Atau Uni Emirat Arab/UEA (bahasa Indonesia) dengan United Arab Emirates/UAE (bahasa Inggris). Udah ya, begini aja jadi panjang….

      Reply
  2. atif309

    langsung cari informasi tentang kedai 1001 malam karena habis liat caption di instagram yang ngutip salah satu kalimat nya yang bagus bgt!!
    Indonesia—sebuah negara
    “miskin” yang tidak menyenangkan. Vabyo
    membalas, “Maaf, tapi di negara miskin
    saya itu, saya lebih banyak tersenyum. Tak
    terbeli dengan ribuan riyal. Lagi pula,
    semua kebusukan negara saya, Indonesia,
    ada di negara lain, kok. Tapi keindahan
    Indonesia belum tentu dimiliki negara
    lain.” (hal 426).
    keren keren .. jadi pengen baca keseluruhan .. buat admin nya .. salken yaa :v

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s