Ayam Betutu Khas Gilimanuk Bali

Hari Rabu lalu (25/1), saat menuju rumah Remy Sylado dan melewati kawasan Setiabudhi, Bandung, tanpa sengaja saya melihat plang nama dengan logo yang tak mudah dilupakan—seperti di atas. Pasalnya, saya pernah makan di resto tersebut akhir tahun 2009 lalu, saat saya pergi ke Bali untuk urusan kantor di Ubud Writers and Readers Festival. Atas rekomendasi seorang sopir taksi, saya mencicipi salah satu masakan khas Bali, ayam betutu, di restoran Ayam Betutu Khas Gilimanuk di Denpasar. Padahal saat itu saya dan Mbak Tutuk (mantan mbak bos saya) baru saja mendarat di Denpasar. Pulangnya, saya sempat beli lagi buat oleh-oleh.

Hari Sabtunya (28/1), saya melihat iklan satu halaman grand opening resto ini di koran Pikiran Rakyat. Saya langsung menyadari sesuatu: alam semesta sedang bersatu memberi tanda kepada saya untuk segera menyambangi tempat makan ini. Maka jadilah Sabtu sore itu saya dan istri menuju TKP.

Tempatnya ternyata cukup luas. Ditata dengan gaya campuran antara resto indoor dengan beberapa saung di halamannya yang rindang dan asri. Ditambah dengan alunan gamelan Bali, menambah nyaman suasana sore yang sejuk itu. Kami memilih duduk di meja di sebuah saung yang kosong. Saung lain yang ada lesehannya sudah penuh semua.

“Ini cabang dari Denpasar itu ya, Mas?” tanya saya kepada pelayan.

“Iya, betul, Pak. Ini baru buka kemarin.”

Suasana di resto ini.

Wow, jadi kami termasuk pembeli pertama!🙂 Kami memesan setengah ekor ayam betutu (termasuk plecing kangkung, kacang goreng, dan sambal matah), nasi putih, lawar ayam, dan lima tusuk sate lilit ayam. Tak sampai 10 menit kemudian, pesanan kami sudah diantarkan ke meja. Tampilan semua menu pesanan kami sungguh menggoda. Saya cocol sedikit bumbu ayam betutunya dengan sate lilit ayam dan….lezatnya luar biasa! Persis sama dengan yang saya makan di Denpasar beberapa tahun lalu. Bumbu-bumbunya begitu meresap masuk sampai ke tulang-tulang ayamnya.

Total menu pesanan saya hari itu: ayam betutu, lawar ayam, sate lilit ayam.😛

Betutu adalah masakan kebanggaan masyarakat Bali.  Biasanya dibuat dari daging bebek atau ayam yang dibungkus daun pisang, lalu dibungkus lagi dengan pelepah pinang sehingga rapat.  Bebek ditanam dalam lubang di tanah dan ditutup dengan bara api selama 6-7 jam sampai matang. Itu yang tradisional. Kalau yang di resto-resto biasanya dipanggang hingga ayam merona dan warnanya lebih segar, setelah dilumuri/diungkep dengan bumbu-bumbu seperti sereh, cabe, bawang putih, bawang merah, jahe, laos, kunyit, ketumbar, terasi, gula, dan garam yang diblender dan ditumis sebentar.

Plecing kangkung, lawar ayam, dan sate lilit ayam. Ajib!😛

Ayam betutu 1/4 ekor, dengan sepisin sambal matah😛

Sambil makan multitasking, saya nyicipin lawar ayamnya. Lawar adalah masakan tradisional khas Bali yang dibuat dari daging yang dicincang (bisa ayam, sapi, atau bahkan babi). Lalu dicampur dengan sayur-sayuran dan rempah-rempah lainnya. Rasa lawar ini aneka ria:  pedas, gurih, dan agak asem. Berhubung resto ini halal, jadi nggak usah takut rasa asem lawarnya dicampur darah hewannya. Kalau yang di Bali mungkin cara masaknya tidak persis sama. Yah, disesuaikan dengan lokasi, lah.

Sate lilitnya juga oke. Dagingnya tebal dan gurih rasanya. Dimakan “solo” atau dicocol dengan bumbu ayam betutu, atau dicocol sambal matah (dibuat dari potongan cabe, bawang merah, dan bawang putih yang masih segar), semuanya enak! Makan pedas sampai berkeringat di tengah suasana sore yang sejuk itu memang pas. Semua masakan yang saya pesan rasanya nendang banget. Kalau kata saya sih, ini bukan sekadar nendang, tapi malah spinning kick alias tendangan putar! (ini nggak lebay lho).😀

Pelahap Maut dan ayam betutu yang sudah tandas!😛

Salah satu sudut halaman resto ini.

Soal harga, menurut saya standar resto, deh. Setengah ekor ayam betutu dibandrol dengan harga Rp 50 ribu saja. Ini porsi dua orang, lho, karena yang seperempat ekor (porsi 1 orang) dihargai Rp 27.500. Itu sudah termasuk plecing kangkung, sambal matah, dan kacang goreng. Tambah nasi putih Rp 5 ribu per porsi. Lawar ayamnya Rp 20 ribu/porsi, dan sate lilitnya (ada juga sate ayam) harganya Rp 4 ribu per tusuk (dengan daging yang cukup tebal). Masih ada banyak menu lain yang belum saya coba di sini sih, seperti bebek betutu, nasi campur bali, telur bumbu bali, ayam bumbu rajang, dan banyak lagi. Tapi itu sih bisa nanti, karena saya pasti akan kembali ke sini lagi. Udah ketagihan!😛

Ini buku menunya🙂

One thought on “Ayam Betutu Khas Gilimanuk Bali

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s