Manusia Setengah Salmon

Judul: Manusia Setengah Salmon
Penulis: Raditya Dika
Penerbit: GagasMedia
Cetakan I: Desember 2011
Tebal: 258 Halaman

“Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti.” ~Raditya Dika

Manusia Setengah Salmon adalah buku kumpulan tulisan Dika berisi 18 tulisan konyol, sebuah prakata, dan sembilan halaman comic strip. Sebenarnya saya jarang sekali membaca buku genre ini. Paling-paling hanya buku pertama Raditya Dika (Kambing Jantan) dan versi komiknya yang saya baca beberapa tahun lalu. Tapi kalau mau bersantai di akhir pekan, harus saya akui buku ini cukup menghibur.

Buku ini pada intinya berkisah tentang makna “pindah”. Bukan pindah dalam makna sesempit pindah rumah atau semacamnya, tapi juga Dika bisa memaknai “pindah” ketika ia baru diputus oleh pacarnya. Seperti yang dia tulis pada bab “Mencari Rumah Sempurna”, halaman 234: “Lucunya, di saat Nyokap sedang mencari rumah baru, gue juga mencari rumah dalam bentuk lain: hati yang baru. Waktu itu, gue memang baru saja putus cinta, dan memahami satu hal—yang ironisnya—bahwa urusan pindah rumah ini bertepatan dengan urusan pindah hati.”

Dika juga memaknai pindah sebagai pergantian fase dalam kehidupan, yang sebenarnya wajar, namun ketika waktunya sudah tiba, dia mau tak mau juga merenungkan hal itu.  Contoh, ketika dia menghadiri pernikahan teman SMA-nya bernama Mister. Di acara pernikahan Mister, Dika bertemu banyak teman lain yang sudah mengalami banyak “perpindahan”. Ada temannya bernama Pito yang sudah menggendong anaknya yang masih bayi. “Pito menggendong anaknya di bagian depan badannya. Si bayi, entah sengaja entah tidak, memeperkan ilernya ke baju batik yang dipakai Pito. Menyadari hal itu, Pito kembali cengengesan. Enak juga jadi bayi, bisa nempelin iler ke orang lain tanpa harus dimarahi. Coba kalau gue yang tiba-tiba nempelin iler gue ke Pito, pasti dia ngomel-ngomel,” tulis Dika dengan kekocakan khasnya.

Kisah perpindahan juga dialami teman Dika yang lain. “Seorang teman lain baru lulus kuliah, dan bapaknya yang sudah tua sering sakit-sakitan. Kerjaan dia sekarang selain bekerja adalah baby sitting, nungguin bapaknya di rumah, ngurusin bapaknya mulai dari minum obat sampai menemani bapaknya di kamar hingga sang bapak tertidur. Dia bilang, “Dulu, gue yang diurusin, sekarang gue yang ngurusin Bokap.” Peran yang dulu dilakukan oleh bokapnya ke dirinya, sekarang menjadi terbalik. “Tidak ada kehidupan yang lebih baik yang bisa didapatkan tanpa melakukan perpindahan. Mau tak mau, kita harus seperti ikan salmon. Tidak takut pindah dan berani berjuang untuk mewujudkan harapan. Bahkan rela mati di tengah jalan demi mendapatkan apa yang diinginkan.”

Apa maksudnya ikan salmon? Judul Manusia Setengah Salmon ternyata adalah juga judul bab terakhir dalam buku ini. Makna perpindahan didapat oleh Dika ketika pada suatu hari sedang menonton Discovery Channel. Saat itu, Discovery Channel sedang membahas tentang ikan salmon. “Setiap tahunnya, ikan salmon akan bermigrasi, melawan arus sungai, berkilometer jauhnya hanya untuk bertelur. Beberapa spesies, seperti Snake River-Salmon, bahkan berenang sepanjang 1.448 kilometer.”

Dalam perjuangan berpindah/bermigrasi itu, lanjut Raditya, banyak ikan salmon yang mati kelelahan atau menjadi santapan beruang yang menunggu di bagian-bagian sungai yang dangkal. Yang menakjubkan, salmon-salmon itu tetap pergi, tetap berpindah, apa pun yang terjadi. Inilah yang kemudian mengilhami Dika tentang sebuah kehidupan yang di dalamnya adalah potongan-potongan perpindahan. “Gue jadi berpikir, ternyata untuk mendapatkan sesuatu yang lebih baik, gue gak perlu menjadi manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani berpindah.” Begitu tulis Dika. Renungan ini boleh juga—untuk ukuran buku yang tidak diniatkan sebagai buku serius.

Saya melihat kekuatan terbesar Dika adalah penulisannya yang ringan dalam menuturkan kejadian sehari-hari. Tapi, setiap kali Dika mau  keluar dari area nyaman itu dan masuk ke wilayah gokil dan lebay, kualitas tulisannya rada hancur lebur dan kurang enak dibaca. Ada beberapa bab yang menurut saya “nggak banget”, seperti bab pertama yang berkisah tentang kebiasaan kentut ayahnya setiap pagi dengan alasan kesehatan, dan bab “Interview with the Hantus” yang rada maksa. Tapi ada juga yang dengan lugas dan kocak bercerita tentang bau badan akut yang diderita sopirnya. Sayang, ada bab-bab yang dipaksakan berisi reply dari tweet yang seakan hanya untuk menambah-nambah jumlah halaman saja.

Namun, saya harus mengakui kreativitas Dika pada bab “Jomblonology” yang membahas soal jomblo (baca: belum punya pacar) dengan gaya sok ilmiah, juga beberapa bab konyol yang berisi ikon-ikon konyol yang bisa dibuat di ponsel (BB, mungkin). Seperti biasa, Dika doyan menggunakan kata ganti bahasa Betawi (gue-elo), walau kalimatnya terkadang malah baku (tapi tidak kaku). Jadi kagok bacanya sih, menurut saya. Tapi Dika cukup piawai membanyol dan punya ciri khas tersendiri.

Mungkin gaya menulis seperti Dika ini banyak dilakukan oleh remaja/anak muda di zaman digital native ini, zaman ketika anak-anak lahir atau besar di masa ketika Internet dan aneka gadget sudah menjadi barang wajib. Tentunya gaya dan bahasa yang ditampilkan agak berbeda dibandingkan masa ’80-an, ketika anak muda Indonesia menggemari sosok petualang dalam Balada Si Roy-nya Gola Gong, atau pemuda culun tapi (agak) cerdik dalam Lupus-nya Hilman. Entahlah, tapi “rasa”nya jelas beda.

Anak sekarang nge-blog. Nge-tweet. Bahasa nggak perlu rapi. Bisa jadi sengaja atau memang nggak ngerti. Bego-begoan. Narsis. Konyol. Galau. Susah serius. Dan lihatlah hasilnya: Raditya Dika (Kambing Jantan, dll), Arief Muhammad (Pocong Juga Pocongg), Alit Susanto (Shitlicious), Benazio Rizki Putra alias Bena Kribo (Benablog), dan banyak lagi. Perhatikan gaya dan bahasa mereka yang hampir senada, punya ciri khas yang mudah terasa. Tulisan tentang kejadian sehari-hari, yang mungkin terasa remeh, namun gaya generasi mereka bisa sangat menarik bagi pembaca segenerasi mereka. Mungkin merekalah Hilman dan Gola Gong masa kini.

All in all, ini buku yang menghibur dan tak berpretensi berumit-rumit. Menurut saya, Dika (masih) berhasil berkomunikasi dengan pembaca sezamannya. Namun, sementara usianya semakin bertambah, Raditya pun tak sanggup untuk tidak memperlihatkan ke”dewasa”annya. Mengingat fanbase Dika yang sebagian besar anak SMP-SMA-mahasiswa, saya bertanya-tanya dalam hati apakah mereka kehilangan Dika yang dulu, apakah mereka bisa menerima kenyataan bahwa Dika tak akan selamanya jadi remaja konyol yang suka ngebanyol. Pada satu titik, ia akan merenung—dan merenung mendalam bukanlah sifat ABG atau alay. Mereka mungkin akan menganggap “kedewasaan” Dika sebagai hal yang membosankan atau memusingkan—alias nggak nyambung. Jadi, mungkin menarik melihat akan seperti apa buku Dika selanjutnya. Saya sih berharap dengan pengalaman dan kreativitasnya, Dika bisa menulis kisah fiktif sekalian, bukan melulu dari pengalaman pribadi atau status-status galau di Twitter.

4 thoughts on “Manusia Setengah Salmon

    1. Indradya SP Post author

      Iya, bener🙂 Tapi menarik juga sih melihat perkembangan Dika dan bobot tulisannya, dari buku ke buku dan dari umur ke umur…hehehe😛

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s