Cerita Singapura #1

Backpacking cukup bawa ini aja, bisa masuk kabin semua.

Sering kali, Singapura atau Malaysia jadi pengalaman pertama bagi orang Indonesia yang baru pertama kali pergi ke luar negeri. Buat saya sendiri ini sudah kedua kali. Terakhir kali ke Singapura kira-kira 10 tahun lalu, itu pun hanya jalan-jalan beberapa jam karena cuma transit sebelum terbang lagi ke Hong Kong. Tapi, saya sudah janji ke istri saya buat jalan-jalan ke luar negeri. Paling dekat dan paling murah ya cuma Singapura dan Malaysia. Cuma modal tiket, uang saku, dan tas punggung, nggak perlu ribet ngurus visa karena masuk ke negara-negara Asia Tenggara memang tidak perlu visa. Lagi pula, saya sudah gatal pengen backpacking lagi setelah empat tahun.

Terakhir kali saya backpacking tahun 2008 ke Ukraina dan Hong Kong. Jadilah September 2011 lalu kami kasak-kusuk cari tiket buat berangkat pada Februari 2012. Dapat tiket Tiger Airways dengan harga Rp 1,5 juta untuk dua orang, pulang-pergi. Dengan jarak waktu yang enak seperti itu, setidaknya kami punya 4-5 bulan menabung untuk uang saku kami di sana. Everything is well-planned. Bayar cicilan rumah juga nggak terganggu dengan acara backpacking ini.🙂

Saya pun ambil cuti empat hari dari kantor, 16-17 Februari dan 20-21 Februari. Jadi saya dapat “bonus” 2 hari (Sabtu dan Minggu) buat jalan-jalan. Sejak awal saya sudah wanti-wanti ke istri supaya kami pergi backpacking saja. Toh kami cuma pergi berdua. Sederhananya, backpacking itu artinya mengelola perjalanan secara mandiri dengan bawaan seperlunya dan dengan biaya seiirit mungkin. Mandiri artinya semua diurus sendiri, nggak perlu bermanja-manja pakai travel agent segala. Toh, saya juga nggak pernah dan nggak tahu cara pergi backpacking pakai travel agent. Apalagi saya ini orangnya bermental irit.🙂

Jadi, bawaan kami masing-masing ya cuma seperti di foto atas itu. Satu tas punggung dan satu tas selempang kecil, khususnya buat benda-benda yang harus disendirikan dan sering keluar-masuk: paspor, tiket, uang, dan kamera (aslinya sih memang nggak punya backpack yang gede…dasar kere). Di Singapura, kami akan menginap di apartemen teman lama saya yang sudah tinggal sekitar 5 tahun di sana.

Kami berangkat jam 5 subuh dari Bandung, dan pesawat kami lepas landas jam 11.25 dari Soekarno-Hatta. Pesawat Tiger ini lumayan bagus dan nyaman (standar budget airline deh), tapi sialnya, di pesawat mereka cuma memberi sebungkus kecil kacang kepada penumpang, tanpa minuman sama sekali. Makanan lain dan minuman harus beli di pesawat, dan harga minuman paling murah itu S$ 3 untuk soft drink kalengan (S$ 1 = Rp 7.100 – 7.200). Berhubung perjalanan cuma 1,5 jam, kami enggan beli minuman kaleng mahal begitu (aslinya sih memang kere).

Pemandangan Singapura dari pesawat menjelang mendarat.

Tiger Airways mendarat sekitar jam 14.00 waktu lokal di Budget Terminal Bandara Changi, Singapura. Budget Terminal ini letaknya agak jauh dari terminal-terminal lain. Begitu keluar dari imigrasi Singapura (sambil ngembat beberapa peta dan brosur berhadiah pembatas buku), tak jauh dari pintu keluar ada shuttle bus yang menunggu penumpang untuk menuju Terminal 2. Gratis. Di shuttle bus, ada segerombolan ABG Indonesia (ketauan dari bahasa Betawinya) tampak sibuk berkicau. Dari pakaian dan isi obrolannya, saya jadi tahu mereka datang ke Singapura buat nonton Super Junior (Suju), boyband Korea Selatan yang akan manggung di Singapore Indoor Stadium hari Sabtu dan Minggunya (18 & 19 Februari).

Dari Terminal 2, kami menuju stasiun bawah tanah dan membeli kartu EZ Link seharga S$ 12 biar gampang naik bus atau MRT (Mass Rapid Transit), jaringan kereta di Singapura. Perjalanan dari Changi menuju stasiun Pioneer, dekat tempat teman saya tinggal, memakan waktu satu jam, alias dari ujung ke ujung kalau melihat peta jalur MRT.

Suasana di dalam MRT. Papan elektronik di atas pintu keluar memudahkan penumpang, yang belum pernah ke Singapura sekali pun.

Enaknya main ke negara maju, petunjuk arahnya banyak dan mudah diikuti. Begitu turun di stasiun Pioneer, di kawasan Jurong West, nama jalan dan nomor gedung apartemen yang saya cari pun gampang ditemukan. Saya langsung merasa betah di lingkungan situ. Kompleks apartemen di sana terdiri dari beberapa gedung. Setiap gedung ada nomornya, rata-rata berlantai 16, dan tinggal cari nomor apartemennya. Teman saya ini, yang biasa dipanggil Abah, tinggal di lantai 15.

Kompleks apartemen teman saya. Nomor gedung ada di tembok atas dan di papan warna biru.

Setiba di apartemen Abah sekitar jam 5 sore, ada Atti, istrinya, sudah menunggu bersama ketiga anaknya yang lucu-lucu. Si Abah sendiri baru sampai di rumah sejam kemudian. Setelah ngobrol, tanya-tanya soal tempat-tempat yang wajib dikunjungi, mandi, dan makan ayam KFC (yang ukurannya nyaris sama dengan kepalan tangan seorang petinju), kami pun jalan-jalan sebentar. Malam itu kami sebenarnya sudah agak lelah. Keuntungan tiba sore/malam hari di negara tujuan jalan-jalan adalah bisa tidur cukup dan bangun dengan segar keesokan harinya. Siap jalan-jalan seharian.

Malam itu kami cuma jalan-jalan ke Chinese Garden, sebuah taman kota berjarak kurang dari 5 menit naik MRT dari stasiun Pioneer. Turun di stasiun MRT Chinese Garden dan jalan kaki sekitar 200 meter sampai ke gerbang depannya. Taman ini buka dari jam 06.00 sampai jam 23.00. Sayang hari sudah gelap, padahal malam itu sambil lalu pun kami yakin taman ini akan tampak lebih cantik kalau terang. Beberapa orang sedang jogging, beberapa pasang lain tampak sedang sibuk pacaran. Dua jam kemudian kami pulang ke apartemen Abah, setelah sebelumnya survei kecil-kecilan mencari kios atau warung buat jajan atau beli makanan yang murah meriah di sekitar stasiun Pioneer. Kami mengincar tiga tempat: satu kios bernama Sweetie menyediakan aneka jus buah segar dan wafel, satu toko roti, dan satu warung bernama Ananas Cafe yang menyediakan nasi lemak dan aneka lauk lain. Semua harganya murah (untuk ukuran dolar Singapura, lho). Pas buat backpacker kere macam kami ini.🙂

Malam itu setelah kembali ke apartemen, kami menyusun itinerary buat beberapa hari ke depannya, dibantu Abah dan Atti, sambil mainin (dan dipermainkan) anak-anak mereka….hehehe. Sekitar jam 11 kami pun tidur. Waktunya sangat cukup untuk istirahat dan tidur agak lama. Apalagi saya belum tidur lagi sejak jam 3 dini hari itu saat menjelang berangkat dari Bandung. Waktu subuh di Singapura sekitar jam 6 pagi. Matahari terbit pun sekitar jam 07.30.

***

Jumat, 17 Februari 2012

Jam 07.30 kami sudah selesai mandi dan siap menjelajahi kota. Tuan rumah belum ada yang keluar kamar, dan malam sebelumnya mereka bilang kalau kami mau jalan dari pagi, langsung keluar saja. Jam segitu di Singapura masih agak gelap. Langit belum terang sepenuhnya. Dan sepertinya juga sedikit mendung. Sambil berjalan kaki sekitar 300-400 meter menuju stasiun Pioneer, kami membeli dua porsi nasi lemak di sekitar stasiun MRT itu, rekomendasinya si Abah. Ditambah sandwich isi ayam dan telur buat ganjal perut kalau lapar agak siangan nanti. Setelah itu kami langsung naik kereta ke Chinese Garden. Taman kota itu hanya berjarak sekitar 200 meter dari stasiun MRT Chinese Garden.

Warung nasi lemak. Sudah buka sejak pukul 07.00.

Red Bridge di Chinese Garden.

Saat mencapai gerbang taman ini, ada jembatan merah yang oleh orang Cina dianggap sebagai simbol keberuntungan. Sungai di bawahnya memang berwarna agak keruh, tapi sangat bersih. Kita masih bisa melihat ikan dan kura-kura di sungai itu. Memancing, merokok, menyampah sembarangan, dan mengendarai sepeda di lingkungan Chinese Garden diancam dikenai denda sebesar beberapa ratus dolar Singapura. Ancaman denda ada di mana-mana. Inilah yang membuat Singapura dijuluki “A Fine City” (fine = bagus/denda).

Ikan dan kura-kura masih kelihatan🙂

Kami pun masuk dan menemukan lokasi yang oke buat sarapan: di bangku di pinggir kolam kecil tak jauh dari gerbang masuk. Suasana pagi itu tenang sekali. Udara pun masih terasa sejuk. Beberapa orang tampak sedang lari pagi, sementara yang makan cuma kami. Tapi, siapa yang peduli? Tak ada larangan makan di sini, asal sampahnya dibuang di tempat sampah. Sarapan nasi lemak di taman kota yang rimbun dan indah, di pinggir kolam yang cantik dan bersih, udaranya pun segar…sensasinya luar biasa.

Nasi lemak adalah jenis makanan khas Malaysia, masih satu etnis dengan nasi uduk dan nasi liwet di kita, deh. Makanan ini biasa dihidangkan untuk sarapan pagi. Nasi lemak merujuk kepada nasi yang dimasak menggunakan santan kelapa untuk menambah rasa gurih dan wangi. Kadang-kadang daun pandan dimasukkan ketika nasi lemak dimasak untuk menambahkan aromanya. Untuk lauknya bisa apa saja. Kebetulan saya beli set meal seharga S$ 2,50 per porsi di warung Ananas tadi. Lauknya sederhana banget: telur mata sapi, sosis goreng, dan ayam yang digiling dan digoreng dengan balutan tepung. Pilihan menu lauk lain ada sih: oseng kacang panjang, bakmi goreng, kentang goreng, dan banyak lagi. Sambalnya juga enak. Agak manis di depan, tapi di akhirnya cukup pedas dan bisa bikin saya berkeringat.

Sensasi sarapan nasi lemak di pinggir danau😛

Nasi lemak. Sederhana, tapi enak banget!😛

Singapura memang kota metropolitan, tapi punya beberapa taman rimbun dan indah seperti ini. Jalanan-jalanannya pun nyaris tak ada yang sepi dari pepohonon rimbun. Pagi pertama kami justru dihabiskan di sini, bukan di jalanan dengan hutan beton khas kota besar. Taman semacam ini selain sangat penting buat paru-paru kota, juga bisa menjadi tempat warga kota melepas lelah sedikit dari deru kesibukan kota besar dan tekanan pekerjaan sehari-hari. Di Indonesia taman keren macam ini bisa habis dikotori pedagang kaki lima dan disesaki warga sehingga bisa mirip pasar kaget. Itu sebabnya sarapan di sini sensasinya luar biasa buat kami. Sensasi keheningan yang menentramkan. Belakangan kami malah jadi terbiasa makan pagi di sini. Lagi pula, kalau makan pakai tangan di pinggir danau sini ada toilet buat cuci tangan.🙂

Kenyang makan nasi lemak, foto mesra dulu dong🙂

Setelah sarapan dan leha-leha sebentar, kami memutuskan jalan-jalan keliling Chinese Garden. Taman ini dibangun dengan konsep taman ala Cina. Karakternya menggabungkan arsitektur Cina bergaya imperial dengan tata kebun dan lingkungan alam yang rindang serta tertata rapi. Taman ini dibangun pada 1975, dikomandoi oleh arsitek Taiwan Yuen-Chen Yu. Di dalamnya ada satu area berisi patung-patung— tokoh, legenda, filsuf, termasuk patung Confucius dan Mulan seukuran manusia yang tersebar di antara rumpun perdu dan bunga di sekitarnya. Tak jauh dari deretan patung itu, ada Ru Yun T’a, pagoda 7 lantai setinggi kira-kira 30 meter. Warga Singapura juga memanfaatkan taman ini untuk banyak hal. Selain orang-orang yang sibuk jogging, kami melihat sekumpulan manula sedang berlatih tai chi, kemudian ada juga sekelompok orang India sedang asyik bermain kriket, sebuah olahraga permainan yang mirip bisbol. Bersambungan dengan Chinese Garden ini juga ada Japanese Garden. Namanya sudah cukup menunjukkan seperti apa tamannya.

Berikut ini beberapa foto Chinese garden dan Japanese Garden yang saya ambil:

Pagoda Ru Yun T’a.

Orang India emang sukanya main kriket🙂

Pemandangan tepi kolam yang indah.

Patung-patung itu…

Mejeng di Twin Pagoda, tapi yang kefoto cuma satu…🙂

Kebun bonsai di Japanese Garden.

Para manula asyik ber-tai chi…

“Ketemu” Confucius🙂

Stasiun MRT Chinese Garden, cuma 200 m dari tamannya.

Setelah satu jam puas mengelilingi taman ini, kami langsung menuju stasiun dan menuju beberapa lokasi berikutnya dalam itinerary kami hari itu: Chinatown, Little India, dan banyak lagi. Beruntung sekali kami bisa menengok sisi lain Singapura—yang ternyata bukan cuma Orchard Road, Merlion, atau Universal Studios di Sentosa Island.

Bersambung…

20 thoughts on “Cerita Singapura #1

  1. raka

    oia mas boleh saran ngga, sebaiknya mas juga cari info penginapan untuk backpacker, trus di infokan deh di ceritanya (bagi yang ngga punya kenalan di negara tujuan)..he..

    Reply
  2. natalia

    knp coment saya ga di bls yah pak..
    mohon info apartement donk🙂
    sama no telp abah…
    mohon di balas thx:)

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Hehehe….coba dibaca lagi deh. Saya gak pernah bilang saya nyewa apartemen. Lagian Abah itu temen saya🙂 Coba kalo mo cari penginapan maen aja ke http://www.hostelbookers.com. Hotel, hostel, guesthouse, apartemen jg ada di situ. Lain kali baca yg bener yaa, jangan buru2🙂

      Reply
      1. alya

        oo gt yah..
        abah punya apartement yg di sewa ga??
        hehehehehe
        oia pak, web yg dikasih kok ga da hrga indonya yah tuh terjamin ga klo di transfer??

        Reply
        1. Indradya SP Post author

          Nggak bisa, orangnya udah pulang ke Indo🙂 Lagian kenapa harus apartemen sih? Mahal. Kenapa gak mau nginep di hotel/hostel aja sih? Banyak kok yg terjangkau. Apalagi kalo rame2 sewa dormitory. Itu web internasional, gak ada pake rupiah. Terjamin, udah saya coba. Kalo mo gampang pake kartu kredit.

          Reply
    1. Indradya SP Post author

      Wah, saya belum punya anak, jadi saya nggak tau mesti jawab apa🙂 Tapi kalau saya punya anak usia 1 tahun, saya nggak akan ajak pergi2 jauh dulu. Usia segitu saya kira belum bisa mengerti apa2 waktu jalan2, malah ngerepotin. Agak mubazir. Paling saya tunggu sampai usia 5 tahun.

      Reply
  3. rika

    memang benar y,…hrs ada yg jemput kita dibandara singapur ???klu ngk ditolak masuk ???mhn jawabannya, mslhny kami berangkat tour keperluan kul tgl 09 april bsk, mnt tlng jwbnny ????tq

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Di bandara mana pun di seluruh dunia nggak ada keharusan dijemput siapa2 kok. Begitu nyampe dan lewat imigrasi ya udah jalan trs.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s