Cerita Singapura #2

Setelah memulai petualangan di tempat yang bukan “Singapura banget”, kami melanjutkan perjalanan ke Chinatown. Malam sebelumnya, kami sudah menandai tempat-tempat mana saja yang akan kami kunjungi dan stasiun MRT terdekat mana yang harus dituju. Berkat peta rute MRT yang gampang dilihat di tiap stasiun (kami juga menyimpan peta MRT buat dibawa-bawa), semua tujuan yang sudah direncanakan jadi gampang dicari.

Setelah Chinese Garden, kami naik MRT menuju Chinatown. Pintu keluar dari stasiun MRT ke Pagoda Street di Chinatown agak dramatis. Begitu kita naik dengan tangga berjalan, yang terpampang di depan mata adalah sebuah pedestrian dengan toko-toko suvenir di kanan-kiri. Yang begini ini yang bikin turis jadi kalap belanja.

Saya pikir, “Wah, salah juga nih jalan ke sini duluan. Seharusnya ini jadi tujuan terakhir, karena di sini itu areanya orang belanja suvenir!” Tapi istri saya memaksa supaya kami belanja saat itu saja, mumpung sedang berada di Chinatown. Jadilah kami belanja benda-benda mungil yang harganya miring-miring itu. Sebagai yang memegang kartu kredit, saya berusaha mati-matian agar barang bawaan kami tetap murah dan kecil. Wajar dong kalau laki-laki logikanya dulu yang jalan: selama barang itu murah dan kecil, saya bersedia mempertimbangkan. Misalnya barang-barang seperti ini:

Yang lebih murah daripada ini juga banyak, asal sabar nyarinya🙂

Niat saya backpacking kan beneran pengen jalan-jalan, lihat-lihat, curi-curi pandang.😛 Oleh-oleh itu bersifat opsional. Walhasil, beberapa barang “besar” harus dikembalikan. Belum lagi godaan dari para pedagang yang bisaan banget menggoda kami dengan bahasa Singlish yang terdengar aneh di kuping saya.

You buy now lah, you come back later, somebody will take this t-shirt,” kata si makcik waktu saya lagi ngitung duit buat beli kaos oblong.

Can I pay with MasterCard?” tanya saya.

Can! Can!

Ha?”

Percakapan ganjil model begitu juga terulang di beberapa toko lain, dengan aksen yang membuat saya merasa bego mendadak untuk urusan berbahasa Inggris. Tapi umumnya warga Singapura juga bisa bahasa Melayu, termasuk mereka yang dari etnis Cina dan India, jadi bahasa Inggris dan Melayu itu dicampur semua.

Chinatown, salah satu surga belanja suvenir di Singapura.

Setelah satu jam merasa cukup berbelanja, kami berkeliling sebentar di wilayah itu. Di ujung Pagoda Street, ada bangunan unik yang ternyata adalah sebuah kuil Hindu bernama Sri Mariamman Temple. Dibangun dengan gaya Dravidian, yang paling mencolok dari bangunan ini adalah gopuram (menara di pintu masuknya). Gopuram itu terdiri dari enam tingkat, dihiasi dengan pahatan-pahatan berbentuk dewa-dewa Hindu, beberapa tokoh lain, dan dekorasi atau ornamen lain, yang semuanya dicat warna-warni. Menara itu skalanya makin kecil dari bawah ke atas. Mungkin untuk membantu menciptakan ilusi tentang ketinggian.

Kuil Sri Mariamman.

Sri Mariamman Temple Singapore

Detail pada pahatan gopuram.

Menjelang jam 12 siang, saya menyeret istri saya keluar dari situ. “Little India? Walking? Better take MRT lah,” kata seseorang yang saya tanyai arah ke Little India. Ceritanya saya mau lanjut perjalanan sekaligus mencari masjid untuk sholat Jumat. Katanya sih ada masjid di sekitar situ, tapi saya memilih untuk lanjut ke tujuan berikut. Biar sekalian jalan, gitu lho. Kalau naik MRT, stasiun Little India bisa dicapai kurang dari 5 menit. Keluar entah di jalan apa, nuansa India langsung terasa. Kalau tadi segalanya berasa atmosfer Cina, mendadak di sini berubah jadi India: orang-orangnya, aroma dupa, aroma rempah, dan musik India yang berdentum dari jejeran toko-toko di sana. Warga di sekitar sini mengenal dan menyebut kawasan Little India dengan nama Tekka.

Tanpa tahu mau ke mana, kami berjalan saja ke sana kemari, mengikuti nama jalan yang lucu-lucu, misalnya ini:

Tak ada kerbau di jalan ini🙂

Beberapa kali kami melihat orang-orang berbaju gamis dan memakai  peci, jadi kami berasumsi bahwa masjid sudah dekat. Saat saya tanya seseorang, dia bilang, “Mosque? Go straight, turn left, and keep walking. You will see it. It’s about 10 minutes walking from here,” kata Pak Haji dengan logat India Tamil yang masih bisa tertangkap kuping saya.

Sambil mengikuti petunjuk Pak Haji, kami berjalan kaki di bawah terik mentari siang itu. Berbeda dengan di Chinatown, toko-toko yang kami lewati di sini tak banyak yang menjual suvenir. Kami melewati pasar tradisional, deretan toko emas, beberapa monkey money changer, dan (ini yang asyik) banyak warung atau resto yang menjual makanan India (!).

Setelah melewati deretan toko emas, tanpa sengaja kami melihat sebuah bangunan yang ternyata sebuah kuil Hindu (eh, si Pak Haji  tadi nunjukkin masjid atau kuil ini?). Melihat banyak turis yang mampir ke bangunan itu, kami pun ikut-ikutan masuk sebentar. Kuil ini bernama Sri Veeramakaliamman Temple.

Plang nama kuil.

Tampak depan kuil ini. Di bagian atas ada gopuram.

Kuil Sri Veeramakaliamman terletak di Serangoon Road, sebuah jalan utama di distrik komersial Little India. Setelah hanya melihat-lihat sebentar, kami meneruskan perjalanan mencari masjid. Di sebuah area parkir, kami memutuskan untuk duduk-duduk dulu sambil ngaso. Kaki sudah lumayan pegal karena sejak pagi sudah berjalan kaki lumayan jauh. Acara ngaso sebentar itu lumayan bisa buat ngemil dan melihat-lihat peta lagi. Jalan-jalan seperti ini ternyata membutuhkan banyak sekali air minum.

Minum teruuss. Entah berapa botol/kaleng sehari🙂

Setelah ngemil sandwich, kami jalan lagi. Ternyata masjid itu sudah dekat. Sekitar 200 meter dari kuil itu saya melihat bangunan bertulisan Masjid Angullia. Bangunannya sendiri tak terlalu istimewa. Tak ada kubahnya. Saya bertanya kepada seorang pria berjenggot lebat di depan masjid.

Assalamualaikum. Jam berapa sholat Jumat di sini, Pak?”

One thirty,” jawabnya.

Okay, thank you,” kata saya. Saat itu hampir jam 12 siang. Jadi saya masih punya waktu buat jalan-jalan!

Masjid Angullia, di seberang Mustafa Center.

Bagian dalam masjid.

Masjid Angullia ini masih berada di Serangoon Road. Di seberangnya ada satu jalan bernama Syed Alwi Road di sebelah mal kecil bernama Mustafa Center yang penuh dengan restoran atau warung yang menyediakan masakan India dan Pakistan. Tempat ini betul-betul surga kuliner! Lihat deh:

Banyak resto India di sini.

Buat yang vegetarian🙂

Burger-burger juga ada🙂

Saat sedang asyik survei tempat makan siang, ada pelayan resto di seberang jalan yang memanggil-manggil kami. Sepertinya sih orang Indonesia. “Pak! Bu! Ayo, makan di sini…makan!” teriaknya sambil melambai. Saat melihat plang namanya, kami langsung ketawa ngakak. Nama restonya kok Madura, tapi menyediakan masakan India dan Pakistan.😛  Tapi sebenarnya Madura itu adalah nama sebuah kota di Provinsi Tamil Nadu di India. Sekarang nama kota itu sudah ganti jadi Madurai.

 

Resto Madura's.

Akhirnya kami memilih satu resto kecil bernama AB Mohammed Restaurant. Menunya India. Kami memesan satu set nasi briyani seharga S$ 6. Berhubung porsinya cukup banyak dan istri saya tidak terlalu lapar, nasi briyani tadi kami makan berdua saja. Ngirit, deh!🙂

Nasi briyani kumplit plus jus jeruk😛

Siap melahap nasi briyani😛

Di set ini, ada dua mangkuk kecil. Yang satu isinya semacam kuah gurih dan satu lagi mirip bubur susu. Kalau nggak salah sih namanya payasam. Rasanya manis banget, tapi kok uenak ya?🙂 Resto ini selain menyajikan masakan lezat juga menyajikan pemandangan Singapura yang internasional dan multietnis. Pemiliknya orang India, para pelayannya ada yang Cina, India, dan Melayu. Pengunjungnya juga macam-macam, termasuk seorang bule pirang gondrong di sebelah saya yang makan banyak banget…dan ludes sampai licin!

Kenyang makan, saya pun menuju masjid untuk sholat Jumat, sementara istri saya jalan-jalan keluar-masuk ke beberapa mal kecil di sekitar situ. Jamaah di situ kebanyakan beretnis India Tamil, hanya sedikit yang tampak berwajah Melayu atau Cina. Sesudah wudhu dan tahiyatul masjid, saya duduk tenang bersila, sambil dengan khusyuk mendengarkan khotbah (yang disampaikan dalam bahasa Tamil).😛

Usai sholat, sambil menunggu giliran istri saya sholat dzuhur, saya berleha-leha di lantai masjid. Ada rombongan perempuan (dari bahasanya jelas orang Indonesia) masuk. Di antara mereka ada dua perempuan berpakaian minim (yang satu memamerkan pundak dan memakai rok di atas lutut). Si penjaga masjid menegur mereka karena berpakaian kurang pantas di lingkungan masjid. Saat ia memanggil temannya untuk mengambilkan sarung, dua perempuan itu ngeloyor pergi. “Kami mau ambil celana dulu di mobil,” begitu alasan si cewek rok mini. Dan mereka pun tidak kembali lagi. Telanjur malu, mungkin. Habisnya saya pelototin melulu sih. Tapi hebat juga ya si rok mini masih mau sholat.😛

Dari masjid, kami jalan lagi mencari stasiun MRT terdekat, yaitu Farrer Road. Dari situ kami menuju Orchard Road. Sebenarnya sih Orchard Road biasa saja. Cuma seruas jalan utama yang penuh dengan gedung-gedung mal dan hotel di kedua sisinya. Tapi saya dari dulu memang suka lanskap perkotaan. Apalagi sejak kenal game PlayStation balapan mobil yang namanya Need For Speed (NFS), saya jadi tambah senang sama jalanan kota. Tapi lanskap kota yang tertata rapi, dong, dengan gedung-gedung modern dan rimbun pepohonan di kanan-kiri jalan. Kadang-kadang, pas lagi main NFS, saya malas ikutan balapan (aslinya sih emang udah kalah!), dan malah “nyetir keliling kota” buat cuci mata. Nah, Singapura ya kayak “sirkuit” NFS gitu, deh!🙂

Orchard Road. Ada skuter nyempil di situ🙂

Narsis dikit ah😛

Satu sudut Orchard Road.

Tiba-tiba lamunan saya itu jadi nyata: dua mobil mewah sedang kebut-kebutan di Orchard Road. Satu Ferrari dan satu lagi Lamborghini. Deru knalpotnya yang bising dan ngebas bergema di antara gedung-gedung di jalanan itu. Gaya ah tuh orang-orang kaya Singapura (sambil mijit kaki yang gempor). Setelah membatalkan niat mampir ke foodcourt di Lucky Plaza yang katanya penuh makanan murah dan enak, kami masuk ke mal Ngee Ann City. Saya dititipin beli beberapa buku buat kantor, belinya di Kinokuniya di mal ini. Dan ternyata Kinokuniya di sini luaaass banget! Mungkin luasnya sekelurahan (lebay, deh!).

Mal Ngee Ann City di Orchard Road.

Biasanya, kalau saya ada di toko buku, itu artinya tanda-tanda kebangkrutan segera tiba, karena saya jarang bisa menahan nafsu beli buku—satu di antara nafsu-nafsu yang tidak bisa saya lawan. Tapi hebatnya, setelah mendapatkan buku-buku pesanan kantor, saya berhasil menahan diri buat beli buku. Paling cuma baca buku ini-itu sebentar sambil ngiler. Terus terang, saat lagi traveling begini, nafsu baca buku agak berkurang, mungkin karena terlalu capek (yang nggak berkurang sih nafsu makan, tapi itu pun masih tertahan sama kondisi dompet). Gara-gara porsi olahraga rada kurang (paling cuma sepedaan tiap pagi), sore itu kaki kami mulai gempor luar biasa. Benar-benar mau copot rasanya!

Setelah duduk-duduk sebentar di teras mal, kami memutuskan menyusuri jalanan sekitar Orchard Road, lalu pergi ke Bras Basah. Dengar-dengar sih di Bras Basah Complex ada yang jual buku-buku bekas dengan harga super murah. Konon, buku Lonely Planet bekas bisa ditebus dengan S$ 2 saja! Ngiler dengan gosip ini, kami pun mencari stasiun MRT terdekat. Sambil di kereta menertawakan aksen bule saat melafalkan nama stasiun Bras Basah, saya membayangkan di masa depan di Indonesia ada stasiun kereta bawah tanah bernama Bras Ketan atau Bras Merah (coba lafalkan dengan aksen bule!).

Turun dari kereta dan naik ke jalan Bras Basah, kami menemukan peta wilayah sekitar situ. Sialnya, setelah berjalan tiga blok lebih, yang ketemu kok malah Bugis Street dan akhirnya malah nyasar ke terminal bus Queen Street. Waduh, salah baca peta! Sambil duduk-duduk pasrah dan nyaris ditabrak bus jurusan Singapura-Johor Bahru (Malaysia), kami sibuk memijit-mijit kaki yang sudah sangat sakit. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang saja. Sambil pulang, kami sempat bertanya soal harga tiket bus ke Johor Bahru, walaupun nantinya kami memilih pergi ke Kuala Lumpur.

Kawasan Bugis Street.

Stasiun terdekat dari situ ternyata adalah MRT Bugis. Di daerah Bugis sendiri tidak ada yang terlalu istimewa, menurut saya. Banyak hostel murah untuk backpacker di daerah sini, dan pastinya juga banyak tempat belanja ini-itu: dari CD, pakaian, suvenir, hingga makanan kecil dan buah-buahan. Saya sendiri sudah tidak berminat lagi belanja apa pun. Dan malam itu kami pun tiba di apartemen Abah dengan kaki gempor minta dipijit. Setelah seharian jalan kaki keliling kota, sambil sesekali naik MRT yang kadang naik-turun ke stasiunnya pun sudah terhitung olahraga, mandi dan tidur terasa luar biasa nikmat! Pastinya sambil memimpikan acara jalan-jalan esok harinya.🙂

Next: Esplanade, Merlion, Vivo City, Sentosa Island, dan banyak lagi!

Bersambung….

13 thoughts on “Cerita Singapura #2

  1. indah juniarsih

    ndra,.. kalo di jalan bugis,lebih save cari makan,ke jalan pisang,lurusan bugis junction,ada victoria st, sebelah kanannya tu jalan pisang,ada restoran hjh maemunah,.masakan melayu padang,.kita bertiga makan nasi pake sup,rendang + ayam goreng kena $11.oo ada cemilannya yg melayu banget,pisang goreng,lemper,ama ubi goreng,5 potong $2.oo. jam buka dari 7.oo -19.oo.. itu buat yg lidahnya gak mau kompromi ya…soalnya dah jalan jauh2 kok masih nyari gule daun ubi juga ya,…?..hehehe.. 😉

    Reply
  2. icha

    Akhir thn insya Allah saya dan tmn berencana ke singapur. Krn bru kali pertama kluar negri dan dengan dana yg minim pula jd saya mau tanya kalau ksana msh dikenakan biaya fiskal/free. Klo msh brp yupz mas? Hehe maklum uangnya cekak. Makasih yupz mas🙂

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Kalo cuma ke Singapura (dan negara2 Asia Tenggara lain) sih nggak ada fiskal. Tapi hrs bayar airport tax Rp 150rb. Dari Singapuranya sih biasanya harga tiket udah termasuk airport tax.

      Reply
    1. Indradya SP Post author

      Aduh mbak, aslinya segitu itu udah standar saya makan. Makan berdua itu kan cuma karena pertimbangan duit😛

      Reply
  3. Aini

    Aku jadi inget Medan, Ndra. Ada kuil hindu, orang-orang Tamil, ada Chinese-nya juga, mau masuk masjid ditegor. Hihihi🙂

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Hehehe…bedanya cuma di metropolitannya aja ya? Mungkin Medan mirip kota2 lain di Malaysia, kayak Penang atau Malaka.🙂

      Reply
      1. Aini

        Kali, ya. Tak bisa membandingkan karena belum pernah ke Penang, Malaka, atau Singapura😀
        Kalau Brunei kayak apa, ya?

        Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s