Cerita Singapura #3

Sabtu, 18 Februari 2012

Bangun subuh sekitar jam 6.30 (itu masih Subuh lho di sini!), gempor di kaki saya sudah berkurang setengahnya. Tapi tetap saja sakit. Setelah tidur nyenyak hampir 8 jam di kamar ber-AC, ditambah mandi pagi dengan air dingin, sekitar jam 07.30 kami menyelinap keluar dari apartemen Abah tanpa sepengetahuan si tuan rumah (kalau nulisnya kayak begini kok serasa maling yah?).

Pagi itu, kami mengawali jalan-jalan hari Sabtu kami dengan sarapan nasi lemak (!). Makannya di mana lagi kalau bukan di Chinese Garden (!)…hehehe. Tapi hari itu pun saya sengaja beli seporsi mie goreng juga biar cukup tenaga buat jalan-jalan. Cuma nambah S$ 1,5 buat seporsi mie goreng (dan porsinya banyak juga). Sejak kenal taman ini sehari sebelumnya, saya jadi terobsesi buat sering-sering sarapan di pinggir kolam, mumpung hawanya belum panas. Sensasinya tak tergantikan. Kapan lagi bisa begini di kampung sendiri? Taman yang bagus dan sepi aja nggak ada.

Sarapan hari ini harus lebih banyak!😛

Setelah sarapan dan jalan-jalan keliling taman sebentar untuk membakar lemak di tubuh, kami segera melompat ke MRT menuju Esplanade. Sepertinya kami keluar di exit yang salah. Tapi tak lama kemudian kami melihat Singapore Flyer (apa bahasa Indonesianya, ya? Bianglala?). Tapi sialnya, baru berjalan 10 menit saja setelah keluar dari stasiun MRT, kaki kami mulai terasa gempor lagi. Sakitnya bukan main! Sambil memaksa diri berjalan sedikit lebih jauh lagi, tiba-tiba saya melihat gedung Marina Bay Sands. Artinya, patung singa Merlion sudah dekat!

"Itu dia! Kita udah deket!"

Bus "Hop-on hop-off", bus tingkat yang dek atasnya terbuka biar turis-turis bisa asyik melihat-lihat pemandangan kota.

Kami duduk-duduk dulu di taman dekat situ sambil memijit-mijit kaki. Toh kami tak terburu-buru. Ternyata kelingking kaki kiri saya sudah ada jendolan alias kapalan. Haduh! Waktu mengaso sejenak itu saya gunakan untuk melihat-lihat peta. Selain memuat peta MRT Singapura, lembar peta itu juga memuat berbagai macam iklan tujuan wisata di Singapura. Ada beberapa yang menarik dicoba di sekitar Marina Bay ini. Misalnya Duck and Hippo Tour, yaitu naik kendaraan amfibi menyusuri Singapore River, kemudian langsung naik ke darat (dengan kendaraan yang sama) dan berkeliling daerah sekitar situ.

Lalu ada bus hop-on hop-off, yaitu bus double decker (bus tingkat) yang bagian atasnya terbuka sehingga turis bisa leluasa mendapat pemandangan kota yang cantik. Cocok banget buat yang malas jalan kaki dan yang ingin mengoleksi banyak foto dari banyak sudut kota dari atas bus. Sebenarnya menarik, tapi harga tiketnya cukup mahal buat saya. Duck & Hippo Tour tiketnya dijual seharga S$ 33 per orang untuk durasi satu jam. Bus hop-on h0p-off tadi tiketnya seharga S$ 27 per orang. Durasinya sih bisa seharian. Kita juga bisa membeli tiket gabungan semua itu, tentunya harganya tetap mahal. :) Tapi kami lebih suka jalan kaki sambil sesekali naik MRT.

Setelah sekitar 10 menit duduk-duduk, seolah sedang mengolok-olok saya, lewatlah sebuah bus hop-on hop-off penuh turis bule sedang sibuk memotret ke sana kemari.  Sambil memandang iri ke turis-turis bule itu, kami jalan lagi dan tak sampai 100 meter kemudian tampaklah pemandangan yang menjadi ikon Singapura selama ini. Kami tiba di kawasan Marina Bay.

Lanskap sekaligus ikon Singapura. Keliatan nggak patung Merlion di situ? Kecil karena difoto dari jauh.

"Horee!"

Kawasan Marina Bay ini adalah sebuah teluk yang perairannya menempel langsung dengan kawasan Central Business District (CBD) Singapura. Pemandangan ini mengingatkan saya pada banyak kota di dunia yang punya pemandangan serupa: perairan (bisa laut, sungai, selat, teluk) yang dilatarbelakangi pemandangan kota dengan hutan beton yang megah dan breath-taking. Selain Singapura, kita bisa melihat pemandangan sejenis di Hong Kong, Mumbai, Shanghai, Sydney, dan banyak lagi. Tak percaya? Simak foto-foto ini:

Singapura.

Hong Kong.

Dnipropetrovsk (Ukraina).

Sydney (hehe...saya belum pernah ke sini ding...🙂

Siang itu tampaknya agak mendung. Setelah berjalan sekitar 100 meter, kami menemukan sebuah taman kecil dengan beberapa bangku. Kami memutuskan ngaso lagi di situ, sambil ngemil sandwich isi telur dan ayam yang kami beli paginya di sebelah warung nasi lemak. Selesai makan, sambil memandang orang-orang yang lalu lalang di sekitar situ, perlahan kantuk saya pun muncul. Angin sepoi-sepoi saat mendung, ditambah kaki pegal dan habis makan sedikit, saya pun memutuskan untuk tidur siang sebentar…hehehe….🙂 Patung Merlion itu bisa menunggu. Jaraknya juga hampir satu kilometer, walau patungnya sendiri sudah terlihat dari posisi kami.

Makan siang cuma sandwich sama teh botolan. Dasar kere🙂

Habis makan siang, ya tidur siang!🙂

Setelah tidur siang hampir setengah jam, kami berjalan lagi. Menjelang jalan raya, kami menemukan semacam panggung yang disebut Theatres on the Bay dan gedung Esplanade yang eksteriornya berbentuk mirip kulit durian. Area Theatres on the Bay ini adalah area terbuka dengan atap melengkung di atasnya. Di depan panggung tersedia undak-undakan yang berfungsi sebagai tempat duduk penonton. Mungkin kapasitasnya hampir 1.000 orang. Mendung tampak sangat tebal saat itu. Udara pun menjadi lebih sejuk. Hebatnya, awan mendung dan kabut yang turun menyelimuti gedung-gedung pencakar langit justru membuat efek warna abu-abu yang keren.

Menjelang hujan badai. Mendung dan kabut menciptakan efek dramatis🙂

Tiba-tiba, angin bertiup sangat kencang dan kami melihat kabut dan awan mendung menyelimuti gedung-gedung pencakar langit di kejauhan sana. Gerimis pun turun diikuti hujan badai yang hebat beberapa menit kemudian. Turis-turis di sekitar situ pun berlarian dan berlindung di area tempat duduk penonton di depan panggung teater terbuka tadi. Tapi namanya juga hujan badai. Angin kencang meniup air hujan hingga membasahi area tempat duduk penonton. Mau tak mau semua turis pun makin merapat demi menghindar dari air hujan. Selama hampir satu jam kami terjebak di situ. Ada enaknya juga sih. Setidaknya udara jadi terasa sejuk dan segar.

Hujan badai di Esplanade🙂

Di belakang area penonton tadi ada gedung Esplanade Mall. Setelah hujan reda, iseng-iseng kami masuk ke mal itu. Sebenarnya tempat ini kurang pas kalau disebut mal. Atmosfernya lebih mirip sebuah gedung kantor yang santai dan bersuasana layaknya sebuah gedung seni yang modern. Di dalamnya ada beberapa pusat seni dan budaya, kafe, restoran, dan ada sebuah perpustakaan keren bernama library@esplanade. Perpustakaan ini terletak di lantai 3. Coba naik ke lantai 4, di sana ada ruang terbuka berupa taman yang cantik dan sajian pemandangan kota yang sangat indah dan menakjubkan.

Si patung Merlion di kejauhan, dilihat dari atap Esplanade Mall.

Pemandangan lanskap Singapura dari atap Esplanade Mall. Kabut sisa hujan badai masih menggantung.

Marina Bay Sands dari atap Esplanade Mall sehabis hujan badai.

Habis itu kami segera menuju lokasi wajib foto-foto di Singapura: Merlion! Sialnya, pas sampai di sana, hujan deras turun lagi dan kami kehujanan sedikit. Terpaksalah kami berteduh di bawah tenda sebuah kedai kopi selama setengah jam lebih. Padahal si Merlion itu hanya berjarak 25 meter di depan saya. Begitu hujan reda, turis-turis pun merubungi area di sekitar patung Merlion sambil bikin foto-foto yang banyak.🙂

Haus😛

Biar baju basah kehujanan, yg penting foto narsis dulu!😛

Singapore Flyer dan Marina Bay Sands di latar belakang🙂

Ada teman kantor yang minta print out wajahnya difoto di Merlion ini. Oleh-oleh paling gampang!😛

Masih jam 3 sore waktu itu. Kami segera mencari stasiun MRT terdekat dan menuju Vivo City dan Sentosa Island di kawasan Harbour Front. Vivo City adalah sebuah mal berukuran besar yang terletak persis di seberang Sentosa Island. Orang Indonesia mestinya sudah bosan dengan mal dan mal melulu. Jadi setelah putar-putar sebentar, mengintip foodcourt, dan membeli sandal karet di Giant (sandal lama kami sudah sekarat dan belakangan akhirnya dibuang!), kami keluar lewat pintu belakang Vivo dan dari sana langsung terlihat Sentosa Island. Untuk menuju ke sana setidaknya ada dua pilihan: naik monorail bertiket S$ 3 atau jalan kaki lewat boardwalk (jalur pedestrian yang lantainya terbuat dari kayu) dan membayar tiket S$ 1 di pintu masuk area Sentosa. Jelas kami memilih berjalan kaki.🙂

Jalan kaki menuju Sentosa Island tidak jauh, sekira 500-600 meter saja. Di boardwalk itu ada travelator (kadang disebut horizontal escalator), semacam “tangga” berjalan. Tapi yang ini bentuknya datar dan bergerak secara elektronis. Pas banget buat pejalan kaki yang malas atau gempor.😛 Jalur ini juga dilengkapi dengan kanopi yang dirimbuni tanaman dan pepohonan di sepanjang jalannya.

Ini yang namanya travelator🙂

Boardwalk menuju Sentosa Island.

Monorail dari Vivo City menuju Sentosa Island.

Sentosa adalah sebuah resor populer di Singapura, dikunjungi sekitar 5 juta turis per tahun. Pulau kecil ini menawarkan banyak atraksi hiburan: pantai, lapangan golf, hotel bintang lima, dan yang paling terkenal adalah sebuah theme park bernama Universal Studios Singapore. Ada permainan Transformers: The Ride yang konon sedang digandrungi para pengunjung taman hiburan itu. Sambil berjalan mencari Universal Studios dan mengamati seorang gadis India yang pacaran dengan seorang pemuda etnis Cina (seperti apa anak mereka nanti?), saya mengamati penataan pulau taman hiburan itu. Jujur saja, menurut saya tidak sangat istimewa. Kurang-lebih sama dengan Dunia Fantasi dan Ancol dalam versi tidak terlalu ramai. Tapi harus saya akui, Singapura memang pandai jualan. Semuanya ditata dengan rapi. Transportasi mudah dan nyaman. Menyampah dan sejenisnya didenda berat. Angka kriminalitas sangat rendah. Akhirnya semua itu menjadi modal yang lumayan untuk “menjual” negara ini sebagai tujuan wisata dan belanja. Indonesia punya jauh lebih banyak daripada itu, kecuali mental, visi, dan tingkah laku para pemimpin serta banyak warganya yang tidak memenuhi syarat untuk menjadi negara maju. Dan itu sudah cukup untuk menjadikan kita jalan di tempat sambil dengan memelas memandang para tetangga kita melesat maju.

Tiba di area Universal Studios, bisa ditebak, lagi-lagi kami urung menikmati atraksi di sana. Pasalnya, harga tiket terusannya sangat mahal buat kami: S$ 74 per orang alias Rp 500 ribu lebih! Akhirnya kami cuma berfoto di depannya.😛

Tiketnya mahal!😛

@Universal Studios. Gapapa deh gak masuk, yang penting nampang dulu dong🙂

Tapi orang baik-baik selalu diganjar sesuatu yang lain. Persis di sebelah konter tiket Universal Studios, saya melihat ini:

Malaysian Food Street P

Kebetulan kami sudah sangat lapar karena siangnya cuma makan sandwich, jadi tempat ini memang paling cocok!🙂 Malaysian Food Street sendiri sebenarnya adalah sebuah restoran beruangan luas yang dikonsep dengan gaya warung-warung kaki lima. Kebanyakan makanan di sini adalah chinese food, tapi kita juga bisa menemukan masakan India dan Malaysia yang halal. Setelah survei sebentar, kami memutuskan membeli nasi lemak (lagi?) with beef (yang ternyata rendang) dan nasi briyani. Semuanya full set dengan porsi lumayan banyak. Untuk dua menu itu kami harus membayar S$ 9,5 saja.🙂 Rasanya sendiri tak mengecewakan. Sudah begitu, istri saya pun nggak habis makannya, jadi saya bisa beraksi di ronde kedua!

Nasi lemak dan nasi briyani. Banyak juga kan?😛

Daripada ngurusin kaki gempor, mendingan makan!😛

Kampung Nasi Lemak. Yang disebut "beef" di papan menu itu tak lain adalah rendang!😛

Kenyang makan dan lelah, kami memutuskan untuk pulang saja. Dengan acara jalan-jalan non-stop sekitar 10-12 jam setiap hari begini, kami sudah tak kuat lagi untuk menikmati pemandangan Singapura malam hari. Sayang juga sih. Tapi, bagaimana lagi? Kaki sudah sangat gempor.

Kami tiba di apartemen Abah sekitar jam 8 malam. Setelah ngobrol dan makan (lagi), malam itu saya pergi tidur jam 10. Istri saya sudah lebih dulu bertualang di alam mimpi. Saya merebahkan diri dan langsung mengembuskan napas lega. Rebahan di kasur saat kaki sudah heboh menuntut haknya untuk diistirahatkan terasa sangat nikmat. Saat kaki mulai terasa rileks, giliran benak saya yang mengembara ke mana-mana.

Saya sedang jatuh cinta kepada negeri singa ini. Saya jatuh cinta kepada jaringan kereta di negeri mungil ini. Saya menyukai derunya yang halus. Saya menyukai bunyi derak roda kereta saat menghantam rel. Saya menyukai rekaman suara wanita yang mengumumkan nama-nama stasiun lewat pengeras suara. Saya menyukai bunyi pintu MRT saat membuka dan menutup. Saya menyukai bunyi beep saat menempelkan kartu EZ Link pada mesin elektronik untuk membayar tiket kereta. Saya suka pemandangan saat seorang gadis muda berpakaian seksi menawarkan tempatnya kepada seorang lelaki lanjut usia (yang malah menolak dengan ramah, mungkin karena si lelaki masih merasa bugar). Saya menyukai trotoar-troatoar di negeri ini, bersih dan lebar. Mereka tahu persis bagaimana memanusiakan pejalan kaki.

Kadang saya berpikir bahwa mungkin itulah sebabnya kenapa jalanan Singapura tak pernah kelihatan macet. Bus dan kereta di sini lebih dari cukup untuk melayani warga kota bepergian ke mana-mana dengan nyaman. Etnis Cina yang jadi mayoritas di sini pun tampak rata-rata berbadan langsing. Mungkin ini ada hubungannya dengan jaringan kereta MRT yang stasiunnya terletak di bawah tanah dan sebagian lagi di atas. Untuk menuju stasiunnya kita harus berjalan agak jauh dan naik-turun tangga. Jalan kaki dengan nyaman adalah sebentuk kemewahan bagi saya. Di kota-kota dengan infrastruktur yang rapi seperti ini, beraktivitas sehari-hari menggunakan MRT pun menurut saya sudah tergolong berolahraga. Di Hong Kong beberapa tahun lalu pun saya merasakan hal yang sama. Butuh beberapa hari berjalan untuk membiasakan kaki bisa keliling kota tanpa gempor.

Saya menguap lebar-lebar. Ah, kantuk sudah berhasil menaklukkan keinginan saya untuk melamun lebih lama. Saya harus segera tidur. Besok kami akan pergi ke Kuala Lumpur.

Bersambung…

4 thoughts on “Cerita Singapura #3

  1. velyani

    Kayaknya lumayan asik juga jalan kaki ke sentosa ya, ntar kalo ada kesempatan kesana lagi, mau nyobain boardwalk ^___^ makasi infonya Mas Indra..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s