Cerita Singapura #4 (+ KL Stories)

Minggu, 19 Februari 2012

Hari itu kami bangun pagi seperti biasa. Bedanya, kali ini kami tak terlalu terburu-buru. Setelah sarapan laksa dua mangkok (dipaksa tuan rumah), saya memilih bersantai dulu sambil main sama anak-anaknya Abah. Mereka sekeluarga rencananya mau mampir ke KBRI hari Minggu itu. “Ada pemutaran film Laskar Pelangi sama jumpa fans dengan Andrea Hirata. Mau ikut?” Waduh, sudah pasti nggak mungkin deh. Malam tadi saya sudah mencatat jadwal bus yang menuju Kuala Lumpur.

Teman saya ini sudah punya 3 junior: Zahwa (4,5 tahun), Gazi (2,5 tahun), dan si bayi Raissa (4 bulan). Lucunya, Zahwa dan Gazi sudah bisa bicara bahasa Inggris sederhana. Lumayan cas-cis-cus untuk anak seumuran itu. Gazi yang belum bisa bicara dengan jelas pun mengerti ketika saya ajak ngobrol dengan kata-kata sederhana. Sementara Zahwa sudah bisa memperlihatkan aksen bahasa Inggris yang bagus, tak ada aksen Singlish (Singaporean English) sama sekali.

Menurut Atti, ibu mereka, anak-anak Singapura sebenarnya terbiasa berbahasa Inggris, tapi dalam percakapan sehari-hari mereka lebih terbiasa berbahasa Singlish alias bahasa Inggris berantakan versi warga negeri singa ini. Katanya lagi, kadang-kadang orang yang berbahasa Inggris dengan “baik dan benar” malah ditertawakan. Walaupun pemerintah dan warga kelas atas Singapura tak menyukai/menyetujui penggunaan bahasa aneh ini, Singlish nyatanya populer di kalangan masyarakat umum. Pemerintah memang pernah mencanangkan Speak Good English Movement—sebuah kampanye untuk “memaksa” dan menyadarkan warganya akan pentingnya berbicara dengan bahasa Inggris standar yang dipahami secara umum oleh masyarakat dunia. Kampanye ini digaungkan misalnya di sekolah-sekolah dan media massa. Tetap saja, bahasa Inggris yang membingungkan itulah yang dipakai secara luas dalam keseharian warga Singapura. :P Tapi situasi yang mirip sebenarnya juga ada di negara kita, kok. Walau punya bahasa nasional yang diajarkan sejak SD, sebagian besar orang Indonesia juga tak bisa berbahasa Indonesia dengan baik, apalagi kalau sudah berada di ranah bahasa tulis. Kalau bahasa lisan sih bisa macam-macam, tapi yang biasa muncul di TV kita sih biasanya bahasa Betawi. Terserah mau menyalahkan sistem pendidikan atau apalah. Saya sih lebih suka belajar sendiri. Misalnya, dengan cara nge-blog.🙂

Setelah berkemas dan mandi, kami segera turun dan melompat ke MRT menuju stasiun Nicoll Highway, lalu berjalan kaki sekitar 10 menit ke Golden Mile Complex. Di dalam gedung kompleks di sini ada deretan ruko yang bersih dan didominasi oleh warga Thailand. Beberapa bendera Thailand tampak digantung di beberapa sudut bagian dalam bangunan itu. Mungkin Golden Mile Complex ini bisa disebut “Little Thailand” di Singapura.

Di tempat ini Anda dapat menemukan sedikit pengalaman Thai. Sebelumnya tempat ini dikenal sebagai Kompleks Who Hup. Ada total 400-an toko di sini, dan Anda akan menemukan toko-toko yang menjual CD, bir, pakaian, sayuran, dan buah-buahan segar. Golden Mile Complex katanya juga tempat terbaik di Singapura untuk mencicipi masakan Thailand yang murah dan enak. Sayangnya kami belum lapar waktu itu sehingga cuma membeli beberapa bungkus kecil kacang—untuk menghabiskan uang koin kami.

Satu sudut di Golden Mile Complex yang menjual sayuran, buah-buahan, dan daging.

Golden Mile Complex juga dikenal karena banyak agen perjalanan bermarkas di sini, dengan bus yang berangkat dan datang dari beberapa kota tujuan di Malaysia secara reguler. Sepengamatan saya, sebagian besar bus antarkota (atau bisa saya sebut antarnegara) dari sini, dan juga bus-bus umum di jalanan dan bandara Singapura, menggunakan kendaraan buatan Scania—produsen bus dan truk asal Swedia. Bus-bus Scania menurut saya bertampang keren dan modern. Baru melihat saja saya sudah jatuh cinta dan ingin segera melompat masuk. Tapi sebelumnya kami harus beli tiket dulu. Setelah bertanya ke 2-3 agen perjalanan, kami memilih bus StarMart Express tujuan Berjaya Times Square—sebuah mal di Kuala Lumpur. Berangkat jam 12.30 siang.

Agen-agen perjalanan di Golden Mile Complex.

Kami beli tiket bus di sini. Murah lho!🙂

Kata petugas agen itu, sih, Times Square terletak dekat sekali dengan Jl. Bukit Bintang, Kuala Lumpur—sebuah ruas jalan yang terkenal di kalangan backpacker karena banyak penginapan murah dan aksesnya mudah ke mana-mana. Tiket ke Kuala Lumpur cuma S$25/orang. Kalikan saja dengan Rp 7.100. Untuk perjalanan lima jam dengan bus mewah keren kelas satu, itu sih murah! Sambil duduk menunggu jam keberangkatan, saya berjalan-jalan ke sana kemari di kompleks pertokoan itu.

Naik bus ke Kuala Lumpur. Tiket untuk 2 orang cuma S$ 50 (sekitar Rp 350 ribu).

Sekelompok backpacker bule dengan tas punggung yang ada emblem daun maple tampak berkelompok sambil melihat-lihat agen perjalanan yang oke. Di depan kami ada dua lajur yang diperuntukkan untuk mobil. Yang sebelah kiri khusus untuk antre taksi, sementara yang kanan untuk mobil lain atau taksi yang akan menurunkan penumpang. Di ujung jalur, ada tempat khusus bagi calon penumpang taksi untuk mengantre. Saat itu ada dua orang yang sudah mencegat taksi dan memasukkan beberapa tas ke bagasi, tapi salah satunya balik lagi entah ke mana, sepertinya ada barang yang ketinggalan, sementara yang satu lagi menunggu di dekat taksi. Calon penumpang taksi di belakang mereka kehilangan kesabaran karena taksi di belakang jelas terhambat. Dia langsung minggat ke lajur kanan dan mencegat taksi yang baru menurunkan penumpang. Hebatnya, si sopir taksi menolak sambil menunjuk-nunjuk lajur kiri. Dia menolak karena ingin bersikap tertib. Penumpang hanya boleh naik taksi yang di lajur kiri. Sayang, taksi kedua yang dicegat orang itu bersedia ditumpangi.

Sementara itu, penumpang yang tadi bikin antrean taksi terhambat akhirnya menyadari kebodohannya—setelah 5 menit temannya belum kembali juga. Dia mengeluarkan tas-tasnya dari bagasi supaya taksi itu bisa diambil penumpang lain yang sudah mengantre panjang di belakangnya. Nah, gitu dong! Saya mengutuk dalam hati. Sudah bagus orang bodoh itu nggak dimaki orang-orang. Seolah mendukung kedongkolan saya saat melihat drama itu, sebuah taksi lewat di depan saya. Ada iklan bank di bodi sampingnya yang bertulisan “Life is simple when it’s organized”. Wew, ah. Bener banget!

Si cewek backpacker di sebelah asik banget baca Lonely Planet.😛

Saya menoleh ke kiri saya. Melihat ada cewek backpacker asal Kanada yang lagi serius banget baca Lonely Planet Asia Tenggara, saya menyapanya untuk meminjam bukunya—sekadar ingin melihat peta Kuala Lumpur sekilas. Saya tak banyak tahu tentang Kuala Lumpur dan tempat-tempat apa saja yang akan kami kunjungi di sana. Ternyata benar, dari Times Square tinggal jalan kaki ke Jl. Bukit Bintang. Katanya, sih, di sana nanti tinggal mencari penginapan murah dan itu tidak sulit. Saya memotret peta itu dengan ponsel saya, sekadar jaga-jaga. Terminal bus Puduraya—yang sering saya baca di milis atau grup FB khusus backpacker—sebenarnya juga tak jauh lokasinya dari Times Square, tapi Times Square lebih dekat lokasinya ke Jl. Bukit Bintang. Menara kembar Petronas pun terbilang dekat untuk dicapai dengan jalan kaki dari situ.

Setengah jam kemudian, para penumpang dipanggil untuk masuk ke bus. Dan….oh, busnya keren sekali!🙂 Bus itu parkir sebentar di depan pom bensin. Setelah semua penumpang naik dan dicek, bus pun berangkat. Bagian dalam busnya sangat nyaman dan bersih. Kursinya berukuran lebih lebar daripada rata-rata bus antarkota di Indonesia, dengan formasi tempat duduk 1-2. Penumpang siang itu tak terlalu banyak. Paling-paling bus hanya terisi 3/4-nya. Sopirnya orang India yang berbadan besar tapi ramah.

Bus kami menuju KL.🙂

Interior bus. Formasi tempat duduk 1-2 bikin kursinya jadi lebar dan nyaman.

Perjalanan menuju Tuas, lokasi kantor imigrasi Singapura sebelum menyeberang ke daratan Malaysia, ditempuh dalam waktu satu jam dari Golden Mile Complex. Saya tak bosan-bosan menikmati pemandangan kota. Singapura sangat bersih dan rimbun. Tipe kota ala game PS NFS Underground.😛 Di Tuas, semua penumpang turun tanpa membawa barang bawaan kecuali paspor, kemudian naik lagi ke bus yang menyeberangi jembatan yang membentang di atas Selat Johor. Di ujung daratan satunya lagi, semua penumpang harus turun dengan membawa semua tas/koper dan mengantre di konter imigrasi. Kami hanya ditanyai soal tiket pulang dan paspor saya pun dihiasi cap imigrasi Malaysia untuk pertama kali.🙂

Perjalanan menuju KL melewati jalan tol antarprovinsi yang mulus dan dan tidak terlalu ramai. Sebenarnya, pemandangan sepanjang perjalanan itu tak terlalu bagus. Di kanan-kiri ada banyak perkebunan kelapa sawit. Terus terang saja, tol Cipularang malah menyajikan pemandangan yang lebih indah dan beraneka. Di bus, saya memilih membaca koran Strait Times edisi Minggu dan koran berbahasa Melayu Berita Harian yang kadang bikin dahi saya berkerut karena bahasa yang rada aneh. Selesai baca koran sampai habis, saya pun tertidur. Bangun lagi, baca buku The Geography of Bliss, lalu tertidur lagi. Setelah dua jam, bus berhenti di sebuah rest area. Jangan bayangkan rest area di sini sekeren Rest Area 57 di tol Cikampek yang penuh resto dan toko. Isinya cuma toilet (yang rada pesing), dan dua mobil bak terbuka yang difungsikan sebagai warung. Kami cuma beli minuman di situ.

Warung di rest area dalam perjalanan ke KL.

Bus-bus keren yang parkir di rest area.

Sekitar jam 17.30 kami tiba di Kuala Lumpur. Berdasarkan ingatan pada peta yang tadi saya potret, kami berjalan kaki ke Jl. Bukit Bintang. Jalanan kota sore itu ramai, namun tidak macet, apalagi kalau pakai ukuran Jakarta dan Bandung. Sepeda motor juga banyak, tapi tergolong sedikit kalau dibandingkan dengan di kota-kota besar di Indonesia. Kami menyeberang jalan dan melewati sebuah jalan yang dilalui monorail di atas kami. Tiba-tiba istri saya berteriak, “Iih! Itu ada orang pipis sembarangan!” Sial, saya sempat melihat orang sialan yang lagi pipis itu. Bukan apa-apa, tapi posisi orang itu mudah terlihat siapa pun di sekitarnya. Orang itu bahkan tak mau repot-repot ngumpet saat pipis. Saya tak sempat mengambil kamera di tas. Memang bukan pemandangan yang bagus untuk dua orang yang baru saja tiba di KL. Tapi, sudahlah. Di kita juga banyak kok.😛

Sore hari di KL.

Sepuluh menit berjalan kaki dari Berjaya Times Square, kami langsung menemukan Jl. Bukit Bintang. Ternyata kawasan itu memang kawasan turis. Ada banyak tempat penting yang dibutuhkan backpacker: hotel murah, money changer, ratusan toko, kios-kios penjual cinderamata, mal, stasiun monorail, serta ratusan warung makan dan resto. Beberapa resto cepat saji juga gampang terlihat. Setelah merasa cukup melihat-lihat kawasan di sekitar situ, kami mulai mencari penginapan murah. Patokan kami adalah hostel bertarif maksimal RM 80 atau di bawah Rp 250 ribu (RM 1 = Rp 2.900).

Monorail melewati kawasan Bukit Bintang.

Kawasan Bukit Bintang.

Di sebelah resto McDonald’s, ada satu tangga menuju ke lantai atas. Begitu mau naik, saya melihat sepasang betis putih, kemudian rok mini, kemudian tank top ketat, dan semua itu akhirnya mewujud menjadi sosok seorang wanita seksi berpenampilan mesum dan wajah berbedak tebal nan lebay. “Massage? Massage?” kata si wanita ke saya, menawarkan jasa pijat. Saya berpandangan dengan istri saya sambil cengar-cengir bingung. “Ini daerah mesum kali, ya?” bisik saya.

Akhirnya kami berjalan lagi sedikit dan hanya 10 meter dari situ ada hostel  bernama Shuttle Inn yang menawarkan tarif RM 77 (sekitar Rp 223 ribu) untuk double bed (kamar dengan satu ranjang untuk 2 orang). Nggak dapat sarapan sih, tapi itu bukan masalah. Di sudut mana pun di kawasan ini kami selalu melihat makanan.🙂 Karena sudah capek, kami pun mengambil kamar di situ. Seorang pria India dengan bahasa Melayu melayani kami. “Check-out jam 12 siang, ya,” katanya sambil menyerahkan kunci. Saat itu sudah jam 6 sore. Kamar kami cukup bagus. AC-nya disetel dengan suhu tetap, sehingga tamu tidak bisa menaik-turunkan suhu udara (tapi dinginnya pas, kok). Kamar mandinya dilengkapi dengan pancuran sekaligus ember besar sebagai bak mandi. Airnya sejuk dan bersih. Mereka juga menyediakan handuk dan sabun.

Hostel di sini banyak yang model begini, pintu sempit di bawah, tapi di lantai atas tersedia banyak kamar.

Kamar hostel kami di KL.

Ada TV butut yang cuma bisa menangkap 4 saluran.😛

Setelah mandi dan sholat, kami jalan-jalan di kawasan itu untuk mencari makan malam. Saya sempat kaget saat jalan-jalan dan melihat ada beberapa hostel menawarkan tarif RM 28 atau RM 35. Setelah dicek, ternyata itu adalah tarif kamar dormitory alias satu kamar dengan banyak ranjang buat backpackers. Jadi tarif hotel saya tadi jatuhnya masih tetap murah, karena per orangnya cuma Rp 110 ribu. Plus privasi, tentunya.🙂

Jl. Bukit Bintang memang daerah turis. Yang bisa dilakukan di sini pertama jelas sightseeing. Di sepanjang jalan itu isinya didominasi resto, minimarket, toko suvenir, toko baju, warung Internet, dan banyak lagi. Kalau mau lebih ekstrem, alternatif kedua adalah mencoba pijat refleksi di daerah Changkat Bukit Bintang. Di sini banyak tukang pijat refleksi berpakaian mini-mini menjajakan jasanya. Tarifnya rata-rata RM 30 untuk setengah jam pijat. Kalau melihat nasib kaki yang masih sisa sedikit gempor, pengen juga sih dipijit…hehehe. Iseng-iseng saya tanya: boleh nggak pijat dua orang masing-masing 15 menit aja? Kan tarifnya tetap sama. Si makcik cuma ketawa. Katanya sih, di Bukit Bintang juga ada Red District yang disamarkan dengan pijat refleksi semacam itu. Tapi saya juga melihat 1-2 tempat pijat yang terbuka (bisa dilihat dari luar) yang untuk keluarga. Soalnya saya liat ada ibu-ibu berjilbab dan para suami mereka pijat di situ. Mungkin kaki mereka gempor habis belanja ke sana kemari.

Suasana Jl. Bukit Bintang saat malam.

Kawasan Bukit Bintang saat malam. Jalan ke sana dikit ketemu Jl. Alor.

Kami berbelok ke Jl. Alor. Menurut satu sumber yang bisa dipercaya, di jalan ini saat malam hari berubah menjadi surga kuliner. Benar saja, berbelok sedikit dari Jl. Bukit Bintang, di sepanjang jalan yang kalau siang isinya hostel dan toko ini dipenuhi tenda-tenda dan meja-meja para pedagang makanan kaki lima. Makanan yang ditawarkan macam-macam: chinese food, Thai food, Indian, sampai Melayu. Melihat istri saya yang berjilbab, beberapa pedagang merayu dengan kata “halal”. “Pak, makan dulu biar kenyang. Nanti enak jalan-jalannya,” sapa seorang pelayan di warung makan Thailand. Saya cuma senyum sambil melambai.

Wisata kuliner di Jl. Alor.

Ayo jajaaaan!😛

Akhirnya kami memilih satu warung bernama Alor Food Corner yang jelas mencantumkan logo halal. Koki dan para pelayannya semua orang India. Menu yang ditawarkan pun tak asing: aneka nasi goreng, bihun, mie, sotong (sejenis cumi), dan aneka masakan berbasis ayam. Kami memesan nasi goreng kampung dan ayam masak pedas. Tak disangka, dua masakan sederhana itu rasanya maknyus luar biasa! Untuk dua menu itu kami cuma bayar RM 15. Nggak terlalu mahal sih, tapi emang rasanya lezat banget.🙂

Menunya tampak akrab🙂

Nasi goreng kampung dan nasi ayam masak pedas.

Uh, enak banget masakannya! Buat si eneng di meja sebelah, sabar ya!😛

Habis makan, kami jalan-jalan lagi dong. Selain wisata kuliner, di sudut lain kawasan ini tentu saja juga ada: mal (!). Kami masuk ke Plaza Low Yat yang isinya barang-barang elektronik. Kira-kira mirip BEC di Bandung lah. Katanya sih harganya miring-miring, walau menurut saya sama saja. Tapi, menurut seorang mata-mata saya, di tempat ini ada satu toko cokelat yang wajib dikunjungi. Nama tokonya Famous Amos. Di sini banyak cokelat Beryl’s bikinan Malaysia. Cocok buat oleh-oleh. Tak lama kemudian, lenyaplah uang sebesar 30 ringgit untuk menebus enam kotak cokelat. Kalau bukan karena melihat kondisi dompet, saya mungkin juga ikut-ikutan menyambar dua kaleng cokelat hanya karena gambarnya bagus. : )

Di sekitar mal itu ada beberapa pedagang kaki lima yang menjual bermacam-macam barang. Ada yang menjual baju, ikat rambut, dan tas. Hampir saja saya kepengen beli tas di situ. Soalnya, tas punggung saya bagian retsletingnya sudah jebol di satu arah. Jadi, kalau saya tutup ke kanan, retsletingnya masih terbuka. Untung pas ditarik ke kiri masih bisa tertutup.

Belanja cokelat di Famous Amos.

Penjual "ikat rambut ajaib"🙂

Setelah membeli minum dan alat cukur di sebuah minimarket, jam 10 malam kami kembali ke hostel dengan kaki gempor. Sebenarnya malam itu bisa saja kami jalan kaki atau naik kendaraan umum ke Petronas Twin Tower. Foto gedung itu pas malam hari pasti keren. Tapi, yaah…kaki gempor bikin kami jalan kaki ke stesen (= stasiun) monorail pun jadi malas. Padahal stesen-nya dekat dari hostel. Tapi masih harus menyambung lagi naik kereta ke KLCC alias menara kembar itu.

Ah, sudahlah…masih ada esok hari!

Bersambung….

2 thoughts on “Cerita Singapura #4 (+ KL Stories)

  1. nizar_s

    Salam kenal mas..Bukannya lebih murah tiket bus nya jika naik dari Johor Baru…dri Woodlands nyebrang pake bus SBS transit bayar 3 SGD turun di terminal Larkin..beli tiket bus ke KL cma skitar 35 RM…

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Salam kenal jg… ya, waktu itu saya lagi gak mau ribet, pengen sekali jalan, gak perlu naik turun🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s