Cerita Singapura #5 (+ KL Stories)

Kawasan Bukit Bintang dengan KL Tower menjulang di latar belakang.

Senin, 20 Februari 2012

Walau baru satu malam berada di Kuala Lumpur, saya kadang berpikir bahwa mengunjung Malaysia atau Singapura itu seperti mengunjungi kampung halaman sendiri. Banyak hal terasa sama. Secara psikologis, tingkat ketegangan saat melancong ke negara-negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura tak setinggi saat berkunjung ke negara yang sangat “asing”. Saat tinggal di Ukraina empat tahun lalu, ketegangan tingkat tinggi dimulai ketika saya mendarat di Bandara Borispol, Kiev. Petugas bertanya kepada saya dengan bahasa Rusia dan di mana-mana tulisan didominasi huruf Cyrillic. Bahasa Inggris hanya sedikit berguna karena sebagian besar warga di Ukraina tak bisa berbahasa Inggris. Sesekali ada orang yang menoleh ke arah saya, dan mereka yang sering tertidur saat pelajaran geografi di sekolah mengira saya orang Afrika. Pada saat-saat seperti itulah saya merasa asing.

Di Singapura dan Malaysia, bahasa Indonesia masih bisa dimengerti orang-orang di sana. Kalau mentok, ya pakai bahasa Inggris campur Melayu–serendah apa pun level bahasa Inggris kita, mereka masih mengerti. Toh, bahasa Inggrisnya warga biasa di Singapura dan Malaysia juga nggak bagus-bagus amat. Mungkin masalah bahasa itulah yang menjadi faktor utama kalau kita merasa tegang datang ke negeri lain. Soal fisik sih mereka tak akan menoleh dua kali kalau melihat saya: rambut sama hitam, kulit sama cokelat. Rasa makanan juga cuma 11-12 alias beda tipis. Yang berbeda mungkin hanya nasib.🙂

Selain bahasa, faktor “atmosfer” atau lingkungan pasti juga berpengaruh. Maksud saya, cukup melihat sekeliling, kalau atmosfernya terasa sama atau mirip, secara psikologis itu berpengaruh untuk mengurangi ketegangan kita. Nah, itulah yang saya rasakan selama main di dua negara tetangga jiran kita.

Pagi itu, jam 07.30, setelah mandi dan sholat Subuh (hei, di sini Subuh jam 6 lho), kami keluar dari hostel. Walaupun hostel kami berada persis di samping McDonald’s dan A&W, ternyata kalau pagi ada juga pedagang kaki lima yang jualan nasi lauk. Kebanyakan pembelinya adalah warga sekitar atau para pegawai kantor yang sedang dalam perjalanan ke tempat kerja. Sialnya, saya baru lihat ada pedagang-pedagang nasi pas sudah sarapan burger telor dan teh manis di McD…haha! Melayanglah RM 9 untuk makan berdua…tapi saya beli lagi sih sebungkus nasi lemak. Naik ke kamar lagi sebentar, makan pakai tangan, dan turun lagi buat nerusin jalan-jalan.

Salah satu penjual nasi.

Salah seorang pedagang nasi lauk di Ain Arabia. Itu tabung gas kok di atas gitu sih😛

Persis di belakang deretan hostel saya ada satu kampung yang namanya Ain Arabia alias Arab Street. Kawasan ini banyak dihuni oleh restoran (halal) dan toko suvenir yang digemari turis. Konon, kawasan ini memang didesain oleh pemerintah kota Kuala Lumpur untuk menarik minat para wisatawan dari Timur Tengah, tempat orang-orang Arab makan, berbelanja, atau nongkrong bareng teman dan keluarga. Namun walaupun didesain untuk orang Arab, kawasan ini juga selalu diramaikan oleh warga lokal dan wisatawan non-Arab yang ingin merasakan suasana Timur Tengah di Malaysia.

Kata si pedagang nasi, kawasan ini biasanya ramai oleh turis sekitar bulan Juli sampai September saat banyak warga Arab mengunjungi Malaysia untuk berlibur. Pada bulan-bulan itu juga biasanya sekolah sudah libur dan banyak warga Timur Tengah pergi ke luar negeri untuk menghindari hawa panas Timur Tengah yang sangat menyengat gila-gilaan—biasanya di atas 47°C.

Gerbang depan kawasan Ain Arabia.

Pagi hari di kawasan Ain Arabia. Sepi. Beberapa orang masih tidur di taman.

Salah satu warung makan di kawasan Ain Arabia yang buka 23 jam. Yang 1 jam buat apa ya?🙂

Sejauh saya lihat sih, kawasan ini tak terasa atau terlihat terlalu Arab. Paling-paling hanya warung-warung makannya yang memberi kesan seperti itu. Ada banyak warung makan/resto yang menyajikan masakan India, Pakistan, Yaman, dan Melayu di kawasan ini. Pedagang-pedagang suvenir kaki lima di sini juga berwajah Arab, tapi tak semuanya.

Pagi itu agak sejuk dan sedikit mendung diiringi gerimis. Tujuan kami adalah Petronas Twin Towers. Kami berjalan kaki menyusuri Jl. Sultan Ismail. Menurut si tukang nasi tadi, kami hanya perlu berjalan sekitar satu kilometer. Tidak mungkin nyasar, karena itu adalah menara kembar tertinggi di dunia. Perhatikan kata “kembar”nya, ya.🙂 Sampai tulisan ini dibuat, sih, gedung tertinggi di dunia masih Burj Khalifa di Dubai (Uni Emirat Arab) dengan ketinggian 829 meter.

Hari Senin itu jalan raya cukup ramai, tapi tak bisa dibilang macet. Motor-motor juga berseliweran di jalanan, tapi jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kota-kota di Indonesia. Soal ketertiban sih relatif, ya. Pengendara motor di Jakarta atau Bandung masih jauh lebih ganas.🙂

Kalau di perempatan Buah Batu, Bandung, motor-motornya maju sampai ke tengah perempatan.🙂

Mungkin karena di kawasan jalan protokol, saya merasa berjalan di trotoar Kuala Lumpur lebih nyaman daripada di Jakarta atau Bandung. Memang ada 1-2 pedagang nasi lemak kaki lima yang menggunakan motor saat kami berjalan menuju Petronas, tapi kami tak merasa terganggu sama sekali. Sepanjang jalan pun keadaannya relatif bersih dan sejuk oleh rimbun pepohonan.

Suasana jalan di KL. Puncak KL Tower di belakang sana sedikit kelihatan.

Monorail di KL.

Sampai di perempatan Bukit Nanas, kami berbelok ke kanan ke Jl. Ampang. Menara Petronas sudah terlihat sehingga mudah dijadikan panduan. Sekitar 300 meter dari menara Petronas, kami melihat satu kios yang baru buka. Ini bukan kios jajanan, tapi semacam tourism information center. Di sana kami bisa mengambil brosur-brosur wisata dan peta rute monorail, dan tentu saja peta Kuala Lumpur. Ini sangat membantu orang-orang yang sedang melancong ke Kuala Lumpur. Saya tidak ingat (dan tidak tahu) apakah di Jakarta, Bandung, atau kota-kota besar lain di Indonesia ada tourism information center seperti ini. Mengunjungi Indonesia untuk pertama kali dijamin sangat membingungkan bagi orang asing, terutama transportasinya.

Jalan kaki di perkotaan emang enak kalo trotoarnya bersih dan lebar.

Sampailah kami di Petronas Twin Towers. Jangkung dan megah. Langsunglah kami bikin foto-foto narsis, dong. Mungkin karena masih pagi atau bukan musim turis, suasana di sekitar menara kembar itu tak terlalu ramai. Hanya ada dua kelompok besar dan beberapa pasang turis, termasuk kami.

Mejeng dulu😛

Kami hanya sempat berfoto-foto selama setengah jam di situ, sambil duduk-duduk santai menikmati pemandangan sekitar. Perlahan gerimis mulai turun dan 10 menit kemudian berubah menjadi hujan deras. Sial, kenapa ya saat mengunjungi landmark di Singapura dan Malaysia kok malah hujan terus? Saat kami mau masuk ke gedung untuk naik ke Skybrigde, jembatan yang menghubungkan kedua menara itu (lihat foto), petugas keamanan di situ memberi tahu kami bahwa hari Senin Skybridge ditutup bagi pengunjung. Sial lagi, deh. Sambil menunggu hujan reda, kami sibuk membaca peta Kuala Lumpur.

Dari tahun 1998 sampai tahun 2004, Petronas Twin Towers adalah gedung tertinggi di dunia, sebelum disalip oleh menara Taipei 101 di Taiwan. Namun, dengan tinggi 452 meter, setidaknya menara ini tetaplah menara kembar tertinggi di dunia. Dua menaranya dihubungkan dengan jembatan yang bernama Skybridge yang terletak di lantai 41.

Skybridge buka dari Selasa sampai Minggu. Jam berkunjung dari jam 09.00 sampai jam 17.00. Pada hari Senin, Skybridge akan dibuka setengah hari dari jam 09.00 sampai jam 13.00 siang bila liburan sekolah dan dibuka full day jika hari itu termasuk dalam public holiday. Sayangnya, tiketnya tidak lagi gratis. Sejak tahun 2010, tiket masuknya dijual seharga RM 10.

Istri saya mengajak ke Pasar Seni, lalu saya bertanya ke petugas keamanan di situ cara menuju ke sana. Petugas keamanan bernama Adam yang tampangnya mirip Bripda Saeful Bahri ini menjelaskan kepada saya dengan ramah. “Pasar Seni? Bisa naik bas…tapi better naik tren lah,” katanya dengan bahasa Melayu kesurupan bahasa Inggris. Soalnya bahasa Melayu untuk “kereta api” kan “keretapi”. Dari dia juga saya tahu cara terbaik menunggu hujan reda: Daripada bengong di pelataran Petronas, mendingan masuk lewat pintu tengah gedung dan jalan-jalan di mal Suria KLCC (Kuala Lumpur City Center, sebutan lain untuk gedung Petronas ini).

Suria KLCC adalah sebuah pusat perbelanjaan yang cukup sibuk di Kuala Lumpur. Lokasinya masih di gedung Petronas Twin Towers, tingginya 5 lantai dengan berbagai macam toko, termasuk department store Isetan dan—ini dia—toko buku Kinokuniya! Kebetulan pas kami naik ke lantai 6, pintu Kinokuniya persis baru dibuka.

Kinokuniya di lantai 6 mal Suria KLCC.

Ukuran Kinokuniya KL ini sekitar 1/3-nya yang di Singapura, tapi tetap saja luas. Setelah sekali lagi berhasil menahan nafsu belanja buku, kami segera mencari stasiun subway—masih di KLCC. Semua petunjuk yang mengarah ke stasiun mudah dipahami. Keretanya pun cukup nyaman, walau saya heran juga kenapa subway di sini cuma sedikit tempat duduknya dibandingkan dengan MRT Singapura.

Di subway.

Silakan tengok kenyataan hidup Anda di sini😛

Saat itu sudah hampir jam 11 siang. Sebenarnya, tadi kami bisa saja mampir ke satu lagi tujuan menarik di KLCC, yaitu Petrosains,  pusat peragaan ilmu pengetahuan yang menekankan pada aspek industri minyak Malaysia. Petrosains terletak di lantai empat Suria KLCC. Biasanya kalau liburan sekolah, banyak pelajar yang main ke sini. Sayang, hari Senin itu tutup juga! Di subway, saya berembug dengan istri; karena jam 12 kami harus check out, kami memutuskan untuk kembali ke hostel, mandi, berkemas, lalu pergi jalan-jalan lagi sambil menggendong tas punggung.

Seperti di Singapura, jaringan subway di Kuala Lumpur ini juga mudah dipahami bagi turis yang baru pertama kali datang ke sini. Peta rute ada di setiap stasiun. Cara membeli tiketnya pun, kalau tak punya tiket berlangganan seperti EZ Link di Singapura, juga mudah. Cukup mainkan layar sentuh pada mesin tiket di setiap stasiun, masukkan uang, dan voila! Jadi, kami turun di stasiun Bukit Nanas dan berganti monorail untuk kembali ke Bukit Bintang. Sampai di hostel kami mandi dan berkemas, lalu melanjutkan sisa hari itu dengan jalan-jalan lagi. Tapi sebelumnya kami harus makan siang dulu, dong. Tadinya sih kami mau makan di resto Turki (yang tampak mahal), tapi tak sengaja kami menemukan warung nasi di gang di belakang hostel. Banyak karyawan rendahan yang bekerja di sekitar Bukit Bintang makan siang di situ—sambil melirik dua backpacker kere yang makan banyak banget di gang senggol itu.

Warung nasinya si orang India muslim.

Menunya bikin ngiler😛

Setelah diintip-intip, ternyata menunya menarik. Mirip warung nasi atau warteg di gang senggol gitu deh. Nasinya juga boleh ambil sendiri. Si penjual cuma mengira-ngira saja berapa banyak nasi dan lauk yang saya ambil. Jadi siang itu kami makan enak dengan lauk kari kambing, ayam goreng, oseng toge, dan telur dadar. Untuk semua itu kami hanya bayar RM 12, itu karinya udah nambah lho!:) Kari kambingnya mantap lezatnya, kuahnya gurih, dagingnya empuk dan tidak bau prengus.😛

Menu maksi kami (sebelum nambah) ^_^

Markimak! (Mari kita makan)

Kenyang makan, kami naik monorail ke stasiun Pasar Seni. Sempat nyasar satu kali karena salah baca peta, akhirnya kami sampai juga di sana. Dari namanya, sih, Pasar Seni gampang ditebak adalah pusat jualan aneka suvenir. Jalan kaki dari stasiun Pasar Seni ke Pasar Seninya sendiri tidak jauh. Sambil menuju ke sana, saya lihat ada penjual gorengan dan minuman di pinggir jalan. Waduh, familiar sekali! Jelas saya beli dong buat iseng-iseng.😛 Murah kok, 1 ringgit dapat 5 biji…itung-itung ngabisin koin sen ringgit laah…hehehe!

Tukang gorengan🙂

Bangunan Pasar Seni tampak seperti bangunan peninggalan zaman kolonial yang sudah pernah dipugar kembali. Suasana di dalam cukup nyaman, bersih, dan sejuk karena berpendingin udara. Saat itu Pasar Seni juga tidak terlalu ramai oleh pengunjung. Isinya macam-macam: ada toko pakaian, suvenir, foodcourt, dsb.Kami hanya membeli suvenir-suvenir kecil seperti gantungan kunci, piring hiasan, dan magnet kulkas. Di beberapa toko, kita juga bisa menawar harganya. Ada juga lorong yang berisi toko-toko pakaian yang menjual batik. Saya mengintip bagian leher beberapa kemeja batik. Hmm, banyak yang buatan Indonesia, tapi ada juga yang buatan Malaysia. Tadinya saya iseng mau tanya ke penjualnya soal batik itu, tapi saya sedang malas berkonfrontasi soal batik dengan Malaysia…hehehe🙂

Tampak depan bangunan Pasar Seni.

CIM5019A

Suasana di Pasar Seni.

Tak terasa sudah jam 2 siang lebih. Sore sebelumnya saya sudah menanyakan soal jam berangkat bus ke Singapura di agen perjalanan yang sama. Saya dan istri sepakat pulang sore hari, sebelum jam 5 sore, mengingat waktu tempuh yang memakan waktu lima jam agar kami tidak terlalu malam sampai di apartemen Abah. Di dekat Pasar Seni katanya sih ada Chinatown juga. Tapi rasanya Chinatown di mana-mana hampir sama. Tadinya malah saya mau jalan-jalan ke terminal bus Puduraya gara-gara lihat bus-bus mondar-mandir di depan Pasar Seni. Tapi, ngapain juga ya lihat terminal bus? Hehehe! Ya…sudahlah. Sejak awal kami memang berencana hanya menghabiskan satu malam di Kuala Lumpur—walau ada teman yang bilang bahwa tak banyak yang bisa dilihat di sini. Yah, saya toh cuma ingin jalan-jalan, lihat-lihat, nyobain naik monorail, subway, dan beli sedikit suvenir. Kapan-kapan saya bisa ke sini lagi, kan?🙂

Suasana di dalam monorail.

Satu sudut kota KL, difoto dari monorail🙂

Kami lalu naik monorail ke stasiun Imbi, pas di depan Berjaya Times Square, lalu mencari kantor StarMart Express dan membeli tiket. Ternyata tiket bus dari KL ke Singapura lebih murah daripada sebaliknya: cuma 90 ringgit untuk dua orang! Kami membeli tiket  untuk jam 16.30. Sebelum berangkat, saya menukarkan uang ringgit saya kembali ke dolar Singapura, dan hanya tersisa 5,5 ringgit saat itu. Tak mau rugi, sisa uang itu saya gunakan untuk membeli roti yang agak besar dan sebotol jus. Totalnya: 6 ringgit. Waduh, saya jadi bingung karena tak punya ringgit lagi. Saya langsung protes, “Gimana sih, Mas? Tadi saya liat di label harganya nggak segini.” Si kasir langsung mengecek dan ternyata label harganya salah. Akhirnya dikoreksi dan total harganya jadi 5,4 ringgit. Sisa 10 sen buat kenang-kenangan, deh! Hahaha🙂

Tepat jam 16.30 kami pun naik ke bus. Kali ini kami dapat bus tingkat dan sopirnya orang India (lagi). Ini yang paling saya suka kalau lagi jalan-jalan: mencicipi alat transportasi di negara itu sepuasnya. Penumpang bus saat itu tak terlalu banyak. Ternyata bus dari KL ini mampir sebentar ke terminal bus Tasik Selatan untuk menjemput beberapa penumpang. Berhubung tak banyak yang bisa dilihat sepanjang perjalanan, saya cuma bisa menunggu kantuk datang sambil membaca buku atau melihat-lihat foto di kamera. Kalau punya tablet mungkin saya bisa sambil menulis.🙂

Sekilas pemandangan pusat kota KL .

Beberapa kali saya melihat motor melintas di bahu jalan tol antarnegara bagian dalam perjalanan ke dan dari Kuala Lumpur. Setelah tanya ke makcik di sebelah, saya baru tahu bahwa motor memang boleh melintas di jalan tol…dan gratis! Cuma, para pengendara motor harus tetap berada di bahu jalan. Ada sih 1-2 pengendara nakal yang nekat menyalip bus dan mobil. Wah, seandainya jalan tol di Indonesia dibolehkan dan digratiskan bagi pengendara motor….bisa bahaya, malah.😛 Yang jelas, perjalanan dengan bus kelas satu itu sangat nyaman. Jalan sepanjang ratusan kilometer itu mulus tanpa tambalan dan bus juga melaju dengan kecepatan sedang-sedang saja.

Motor melintas di jalan tol.

Waktu “pulang” ke Singapura dapat bus double decker🙂

Tiba di imigrasi Tuas, Singapura, seperti biasa kami harus melewati dua check point, satu untuk keluar dari Malaysia, dan satu lagi untuk masuk ke Singapura. Entah kenapa, saya diminta oleh petugas imigrasi Singapura untuk masuk ke kantor. Di sana, bersama satu perempuan Filipina (atau Thailand?) saya diminta menunggu karena mereka akan memeriksa paspor saya. Bahkan mereka sempat melihat paspor lama saya (ya, saya bawa paspor lama kalau-kalau mereka mengira saya baru pertama kali ke luar negeri) dan memindai sidik jadi saya. Seorang petugas berwajah India yang tampak ramah meminta paspor saya dan membawanya pergi sebentar. “Apa salah saya, Pak?” tanya saya kepada petugas yang sedang memindai kedua jempol saya. “Pemeriksaan biasa,” begitu doang jawabnya.

Perasaan saya mereka sedang iseng saja. Karena saat sedang duduk menunggu, ada 2-3 petugas malah sibuk berfoto. Saya tak menyisakan sedikit pun celah bagi mereka untuk mencari kesalahan saya. Semua dokumen dan tiket pesawat pulang bisa saya tunjukkan. Uang dolar Singapura juga masih sisa banyak. Setelah hampir 10 menit, saya dibebaskan keluar. Di luar pintu kantor imigrasi, ada seorang kakek berkursi roda sedang difoto dan diajak mengobrol rame-rame oleh para petugas imigrasi lainnya. Lagi dikerjain, mungkin? Entahlah. Istri saya sudah panik menunggu di luar, sementara saya cuma cengengesan. Hasil mengobrol dengan si sopir India, kalau dalam setengah jam ada penumpang yang belum kembali ke bus, dia akan ditinggal. “Sometimes they try to find your weakness for no reason. If you have all the documents with you, especially the return ticket, you’ll be alright,” kata si sopir. Ooh, begitu, ya?😛 Kami pun melanjutkan perjalanan ke Golden Mile Complex. Si perempuan di kantor imigrasi yang bersama saya tadi sudah kembali.

Persis jam 12 malam, kami menyelinap ke apartemen Abah yang sengaja tidak dikunci buat kami—rasanya kayak maling.🙂 Setelah mandi (oh, segar sekali!) dan sholat, kami langsung tidur—mengistirahatkan kaki gempor kami. Hanya tersisa setengah hari besok sebelum kami pulang. Perjalanan singkat ini mungkin sedikit terburu-buru, walau masih bisa disebut slow travel. Enam hari rasanya tak cukup untuk menjelajahi dua negara untuk bahan sebuah tulisan yang bagus dan mendalam seperti yang dilakukan para jagoan travel writer macam Paul Theroux, Eric Weiner, atau Pico Iyer. Tapi saya merasa rileks dan (untuk sementara) lega bisa berkesempatan jalan-jalan ke luar negeri lagi, menyerap banyak pengalaman yang sulit dinilai dengan uang, mengumpulkan bahan tulisan buat blog.🙂

Beberapa menit saya sebelum lenyap ditelan mimpi, saya melamun. Seandainya kita setuju bahwa hidup adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan, bukankah kita harus jalan-jalan? Bepergian? Melihat dunia? Ah…

Bersambung….

Next: tulisan terakhir, bikin heboh di Bandara Changi!

7 thoughts on “Cerita Singapura #5 (+ KL Stories)

  1. kanaya2013

    hi slm knl ya..
    sy kebetulan mau ke kuala lumpur, sebaiknya sy beli traveller cheque bank apa? (yg mudah dan ga repot penukarannya), kr klo bawa cash kan riskan.
    tolong balasnya via e-mail saja. thks a lot

    Reply
  2. admiyanti

    kita sudah duluan merdeka, dari pada mereka (malaysia n singgapura) tapi kenapa kita sudah jauh tertinggal dr mereka…..apa salah jajahan!!! apa pembesar kita tak ada niat untuk memajukan pembangunan negara ini. Andaikan indonesia ada Sosok seorang “Mahatir Bapak Pemodrenan” kita punya ” Habibie” yang diakui oleh negara eropa terutama Jerman, tapi dinegaranya….. Singapura dan Kl merupakan tempat liburan bagi kami daerah perbatasan (Dumai – Riau), (saya tidak bosannya ke Malaka – KL, ditambah lagi suami saya S2 ), kalo ke Jakarta mahal,macet,transportasi tak mendukung kemana harus naik taksi or rental mobil, kalo di singapura & KL Naik Tren je lah…..Ayo.kita dukung Jokowi untuk MRT, (masa membangun untuk rakyat hitung2an)….Nasib….Negara ku

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s