Cerita Singapura #6 (Tamat)

Selasa, 21 Februari 2012

Hari terakhir di Singapura itu kami tak punya acara khusus. Pagi itu kami sedikit bersantai setelah berkemas dan membereskan tas-tas. Berhubung teman saya si Abah harus pergi ngantor jam 09.00, kami harus berfoto dulu dengan keluarganya…hehehe. Sekalian pamit. Kebetulan pas difoto, saya dan anak-anak Abah belum mandi semua…top!🙂

Jam 10 kami jalan-jalan lagi, menghabiskan beberapa jam yang tersisa di Singapura. Pesawat kami terbang jam 18.30, jadi setidaknya kami sudah berada di bandara jam 16.00 biar nggak terburu-buru. Perjalanan ke bandara pun butuh waktu sedikitnya 1 jam dengan kereta MRT. Berhubung kami hanya jalan-jalan santai, pagi menjelang siang itu kami awali dengan ritual sarapan nasi lemak di Chinese Garden dulu, seperti biasa.🙂

Selama mondar-mandir naik MRT di Singapura, saya suka memerhatikan tingkah laku warga di sini. Salah satu hal yang kita dapat saat jalan-jalan ke luar negeri adalah mengadopsi kebiasaan positif warga di negara yang kita kunjungi. Di gerbong MRT, walaupun ada tempat duduk khusus untuk orang lanjut usia, ibu hamil, orangtua dengan balita, dan difabel, kalau memang tak ada orangnya mereka tetap duduk di situ. Tapi kalau ada, mereka akan berdiri dan menawarkan tempat duduk itu. Hari pertama tiba di Singapura pun saya sempat duduk di situ, tapi menawarkan tempat saya ke seorang nenek. Tapi dia malah menolak. “No, no. Sit, sit lah,” begitu katanya. Di hari lain, seorang cewek berpakaian tanktop dan hot pants yang tadinya duduk di tempat khusus manula mendadak menghampiri seorang pria lanjut usia untuk menawarkan tempat duduknya. Tapi pria itu menolak dengan ramah, dan si cewek seksi itu juga tidak kembali ke tempat duduknya.

Saat dalam perjalanan, sebagian penumpang lebih suka mengobrol dengan teman atau bermain dengan gadget masing-masing. Untuk smartphone, sebagian besar mereka lebih memilih iPhone, atau berbagai ponsel Android seperti Samsung dan HTC. BlackBerry? Saya hampir tak pernah lihat. Mungkin benar juga tuh berita-berita yang menyatakan bahwa penggila BlackBerry tinggal orang Indonesia saja.🙂 Untuk tablet, lagi-lagi produk Apple-lah yang paling sering terlihat di sini: iPad. Banyak juga yang pakai Samsung Galaxy Tab. Bagaimana dengan BlackBerry PlayBook? Saya nggak pernah lihat.🙂

Antre panjang menunggu bus kota.

Soal budaya antre, jangan tanya. Mereka bahkan bersedia antre bus kota walau panjang seperti ini. Soal kebersihan juga menakjubkan. Di sini saya nyaris tak pernah melihat petugas kebersihan di jalanan. Polisi lalu-lintas juga tidak pernah terlihat. Siang itu kami hanya mondar-mandir ke Chinatown, Little India, dan beberapa tempat lain. Kami hanya berhenti di satu stasiun, turun, mondar-mandir di sekitar situ, lalu naik kereta lagi dan turun di tempat lain.

Jam 2 siang kami sudah pulang lagi ke apartemen, berkemas sedikit lagi, makan siang, dan pamitan sama Atti dan anak-anak. Di stasiun, kami sempat membeli waffle dan jus leci untuk ngemil di bandara nanti. Enaknya naik dari stasiun yang nyaris di ujung rute kereta, kami selalu mendapati gerbong yang nyaris kosong. Berhubung perjalanan ini akan makan waktu satu jam dan kami membawa beberapa tas yang sudah penuh, berdiri sepanjang perjalanan jelas cuma bikin sengsara.🙂 Sambil duduk manis dan menyender, kami hanya tinggal menikmati perjalanan kereta ke bandara Changi. Saya bahkan sempat tertidur selama 15 menit. Lumayan lah.🙂

***

Traveling itu menyenangkan. Bahkan banyak orang sering bilang “life is a journey, not a destination.” Jadi, why not travelingBackpacking mengajarkan banyak hal kepada kita—selain kemandirian, pastinya. Saat-saat berkemas, misalnya, menunjukkan bahwa sebenarnya hidup itu tak perlu berlebihan. Seperlunya saja dan seringkas mungkin. Artinya kita belajar untuk merencanakan sesuatu sebaik mungkin. Termasuk Plan B-nya juga. Persiapan sebelum pergi sebenarnya mengasyikkan, walau terkesan agak merepotkan: Memilih-milih dan menggulung baju yang akan dibawa, mengemas perlengkapan mandi dengan ringkas, mempelajari rute perjalanan dan informasi penting tentang negara yang akan dikunjungi, menghitung dan menyesuaikan biaya perjalanan dengan tabungan, memilah-milah uang agar tidak disimpan di satu tempat, menukar uang rupiah dengan mata uang negara tujuan, menghitung jatah cuti dari kantor, mengurus visa (kalau negara yang dikunjungi mensyaratkan visa), dan banyak lagi. Tapi semua kerepotan itu terbayar lunas saat kita tiba di tujuan dan tinggal menikmati semua yang kita rencanakan.

Namun, entah kenapa saya masih bisa menangkap kesan membosankan kalau tinggal di Singapura dalam jangka lama (Ya, kadang saya membayangkan seperti apa rasanya tinggal dan bekerja di sini). Sekali lagi: entah kenapa. Apakah karena terlalu banyak aturan dan ancaman denda? Rasanya tidak. Saya pribadi kok bisa menerima semua itu, ya? Dilarang merokok, meludah, makan dan minum di bus dan kereta, buang sampah sembarangan, dan lain-lain…apa yang salah dengan semua itu? Lihat hasilnya: bersih dan tertib di mana-mana. Sejak pertama ke luar negeri ke Hong Kong 10 tahun lalu, sadar tak sadar saya juga mengikuti kebiasaan positif warganya. Sekarang kalau akan membuang sampah dan tidak melihat ada tempat sampah di dekat saya, biasanya saya simpan dulu benda yang akan saya buang itu. Cuma memang kebiasaan positif ini kalau dibawa ke Indonesia sering bikin sakit hati.😛 Atau mungkin karena saking teraturnya negara mungil ini terasa kurang “hidup”? Rasanya tidak. Singapura sudah lama menjadi kota yang sering menggelar konser band-band internasional. Pusat seni dan kebudayaan juga tak kurang. Lalu apa? Biaya hidup yang tinggi? Entah juga. Apartemen teman saya di sini yang berkamar tiga biaya sewanya sekitar S$ 2.000 – 2.500. Tapi tentu saja standar gaji di Singapura jauh lebih tinggi dibandingkan kita.

Jadi, apa dong? Yaa…saya tidak tahu.😛 Mungkin ini: banyak hal terasa artifisial di sini. Kita tahu Singapura pernah (dan masih) melakukan reklamasi wilayah dengan pasir. Sekarang pun pemerintahnya masih membeli pasir dari luar negeri, persisnya dari Thailand (karena Indonesia dan Malaysia tak lagi mau menjual pasirnya). Ini bisa dimaklumi mengingat terbatasnya wilayah mereka, sementara jumlah penduduk terus bertambah. Saat ini jumlah penduduk Singapura mencapai 5 juta orang. Hebatnya, dengan wilayah yang “sempit” itu mereka bisa memaksimalkan potensi negaranya: sanggup menarik sekitar 13 juta wisatawan tahun lalu, menjadi pelabuhan laut paling sibuk no.6 sedunia, punya bandara Changi yang disebut sebagai salah satu bandara terbaik sedunia, dan sederet prestasi lain. Tapi beberapa tempat bagi saya terkesan artifisial dan datar saja (mungkin ya karena alamnya tak seindah kita). Misalnya, Sentosa Island atau Merlion. Kita bisa saja toh bikin patung Garuda di pinggir pantai, dilengkapi dengan air mancur, dan jadilah salah satu ikon Indonesia, kan? Memang sih kita punya patung Garuda Wisnu Kencana di Bali, tapi mosok Indonesia cuma Bali melulu sih? Gagal dong promosi pariwisata kita kalau turis asing cuma tahu Bali dan Bali lagi. Namun secara keseluruhan saya harus mengakui keunggulan Singapura dalam hal penataan kota, kebersihan, keamanan, kedisipilinan warganya, dan transportasi massal yang terintegrasi. Semua itu sanggup mendongkrak semua hal yang biasa-biasa saja dan artifisial menjadi penyedot turis asing untuk selalu datang ke negeri kecil ini.

Semua kisah yang saya tulis ini tentu adalah persepsi saya pribadi. Memang masih terlalu umum dan menyederhanakan, hanya berdasarkan pengamatan selama beberapa hari. Jadi tentu tak bisa mewakili kondisi sebenarnya. Saya hanya pergi melancong ke negeri lain dan menikmati momen-momen anak kecil yang selalu takjub ketika melihat dan mengalami hal-hal baru. The joy of finding new things. Paul Theroux, seorang penulis top buku-buku bergenre travel writing, pernah bilang, “Perjalanan itu bersifat pribadi. Kalaupun aku berjalan bersamamu, perjalananmu bukanlah perjalananku.” Kesan yang didapat istri saya yang baru pertama ke luar negeri juga pasti berbeda dengan saya.

***

Suasana di Budget Terminal, Changi.

Jam 16.00 kami sudah tiba di Budget Terminal Bandara Changi. Ini pertama kali saya melihat terminal keberangkatan di area ini. Sebenarnya terminal ini tampak sederhana, tapi jadi nyaman sekali rasanya karena tempat ini sangat bersih. Setelah check in, kami numpang duduk di area sebuah kafe dan menghabiskan kue waffle dan jus leci yang kami beli di stasiun Pioneer sejam sebelumnya. Soalnya di pesawat nanti cuma dikasih sebungkus kecil kacang, tanpa minum.🙂

Setelah makan, kami masuk ke ruang tunggu di area Boarding Gates. Selain beberapa kafe, resto, toko suvenir, dan toko buku, ada area untuk main Internet gratis di sini. Walau gratis, akses Internet akan mati sendiri setelah 15 menit, supaya bisa bergantian dengan pemakai berikutnya. Tapi kalau tidak ada orang lain yang mengantre, silakan lanjut.🙂 Habis dari situ saya juga sempat main ke toko buku Hudson News dan membeli buku biografi Steven Tyler…hehe!

Internet gratis di area Boarding Gates.

Setelah 15 menit ber-Internet ria, kami mencari keberangkatan kami dan duduk di depannya. Setelah mendaftar untuk mendapatkan boarding pass di gate tersebut, saya kena bencana. Saat itu istri saya bertanya, “Lho, mana tas yang satu lagi?” Saat itu saya hanya membawa backpack, satu tas selempang kecil, dan satu tas tenteng kecil berisi celana dalam kotor dan buku-buku pesanan teman kantor yang saya beli di Kinokuniya. Yang terakhir ini tidak ada. Saya mendadak panik luar biasa.

Satu-satunya tempat yang saya ingat adalah tempat duduk di luar gate ini tadi. Saya berlari keluar dan sempat diteriaki petugas agar meninggalkan paspor dan kertas boarding pass saya dulu. Baru setelah itu saya bisa berlari-lari mencari tas saya yang hilang. Di deretan kursi depan gate tidak ada. Saya berlari ke area Internet gratis tadi. Tidak ada juga. Ke toko buku tadi, tidak ada juga. Siapa yang mengambil? Mungkin salah seorang penumpang yang berbakat klepto. Atau bisa juga petugas keamanan bandara yang menyangka tas itu berisi bom. Saya tidak ingat kapan terakhir kali saya sepanik ini. Saat itu mungkin 15 menit lagi pesawat akan lepas landas. Tinggal satu cara: melapor ke petugas keamanan.

Tas saya hilang di sini😦

Saya pun lari menemui petugas keamanan terdekat, seorang wanita India. Herannya, sambil ngos-ngosan, saya masih sanggup melaporkan kehilangan saya (dengan bahasa Inggris) dan mendeskripsikan bentuk serta warnanya. Si petugas membawa saya ke kantor dan saya dilayani seorang petugas bertampang Melayu. Saya melaporkan lagi soal tas saya yang hilang, tapi kali ini dengan bahasa Indonesia. Saya sudah tidak sadar lagi bicara dengan bahasa apa ke kedua orang itu. Gonta-ganti. Mereka pun sibuk dengan walkie-talkie dan beberapa detik kemudian empat orang petugas mendekat. Setelah di-briefing beberapa detik, mereka pun berpencar. Para petugas keamanan bandara kini jadi sibuk gara-gara saya. Si petugas Melayu tetap menemani saya. Seorang pelayan kafe melaporkan ada sesuatu yang ditinggalkan di meja. Tapi ternyata hanya sebuah tas yang bukan milik saya. Lalu saya mendengar nama saya dipanggil lewat pengeras suara untuk segera naik karena tinggal saya penumpang yang belum muncul.

They’re calling my name,” kata saya ke si petugas yang masih tetap sibuk berkomunikasi dengan walkie-talkie.

It’s okay, tenang. I understand.”

Si petugas Melayu juga bertanya ke orang-orang sekitar, termasuk ke petugas boarding. Tapi hasilnya nihil. “Nothing,” katanya kepada saya sambil pasang wajah menyesal dan angkat bahu. Saya cuma bisa lemas dan berjalan gontai ke pesawat.

Di pesawat, saya masih sedih dan menyesali kehilangan tas saya. Bukan soal celana dalam yang hilang, itu sih biarin aja, tapi hilangnya tiga buah buku senilai dua ratus ribuan pesanan teman kantor yang sebenarnya bisa diklaim nantinya. Tapi ya…sudahlah. Itu keteledoran saya sendiri. Tas saya juga kemungkinan sulit dilacak karena tas itu akan dibawa masuk ke kabin, jadi nggak dilabeli nomor apa pun seperti tas-tas yang masuk ke bagasi pesawat. Bisa saja sih mengecek CCTV dan mencari siapa pun yang mengambil tas saya. Tapi jelas sudah tidak ada waktu lagi. Istri saya bahkan sudah naik ke pesawat. Sepertinya karena terlalu capek, saya jadi teledor meninggalkan tas saya di samping kursi tunggu. Saat hendak boarding, saya menenteng backpack saya—bukan menggendongnya. Jadi secara psikologis saya merasa sudah membawa tas saya yang ditenteng—padahal tas itu tertinggal di samping kursi saya tadi. Sial….😦

***

Mendarat kembali di Bandara Soekarno-Hatta, saya merasa semakin sedih. Meskipun hanya dibedakan sekitar 1,5 jam terbang, kondisi Changi dan Cengkareng sangat berbeda. Ibarat bumi dan langit. Ya, negara tertib dan negara semrawut tentu saja berbeda. Setelah membeli tiket bus ke Bandung, saya diminta menunggu di sebuah sudut karena busnya akan menjemput penumpang di situ. Berhubung tempat duduk terdekat sudah penuh (dan banyak perokok brengsek), saya pun nongkrong di dekat tembok. Itu pun saya diusir satpam, dan disuruh duduk di deretan kursi yang sudah penuh tadi. Sebalnya, jarak antara deretan kursi itu ke kursi terdekat lainnya lebih dari 150 meter. Padahal ruang kosong yang ada untuk menempatkan kursi-kursi pun sebenarnya masih luas sekali.

Setelah naik ke bus yang menuju Bandung, saya membayangkan diri menjadi orang asing yang baru pertama kali datang ke Indonesia. Betapa membingungkan. Tak ada papan petunjuk bagaimana caranya menuju pusat kota Jakarta. Kalau tak ada orang yang menjemput, semua harus naik taksi (padahal taksi itu mahal!). Naik bus Damri pun pasti harus tanya-tanya ke sana kemari dulu. Kereta dari/ke bandara? Wah, paling cepat baru selesai pembangunannya akhir tahun 2012 ini. Ojek? Walah, memangnya turis first-timer tahu itu benda apa?😛

Untuk urusan transportasi, kita tertinggal cukup jauh dibandingkan para tetangga kita. Singapura memiliki MRT sejak 1987. Kuala Lumpur punya monorail dan subway sejak awal tahun 2000-an, Bangkok boleh berbangga dengan skytrain dan MRT yang dioperasikan sejak 1999. Manila punya LRT dan MRT sejak 2005. Diam-diam negara-negara tetangga kita itu maju dengan mantap dan pasti, sementara kita di sini masih ribut dengan banjir dan tomcat. Okelah, Bangkok memang masih didera kemacetan pada jam sibuk walau sudah punya sistem transportasi yang lebih maju daripada Indonesia (baca: Jakarta). Tapi itu masih lebih bagus karena setidaknya mempu mengurangi tingkat kemacetan yang lebih parah sebelum moda transportasi massal itu diluncurkan. Untuk soal transportasi ini, Singapura masih juara di Asia Tenggara.

Konon, negara tertinggal bisa dilihat dari masih adanya sistem setoran dan angkot. Nah, kita masih punya semua itu. Siapa pun bisa saja membeli beberapa mobil untuk angkot. Asalkan si pemilik mengantongi izin dari Dishub dan Organda, beres deh. Tinggal mencari beberapa orang untuk menjadi sopirnya, dan mereka diwajibkan memberikan setoran sekian ratus ribu sehari. Perkara si sopir mau kebut-kebutan, balapan dengan angkot lain, jalan mundur, ngetem sembarangan berjam-jam, menaik-turunkan penumpang seenaknya, kongkalikong dengan pemerkosa yang sakit jiwa, itu urusan lain. Yang penting pemilik mobil terima setoran tiap hari.

Walhasil, dengan pola seperti itu, kacau balaulah transportasi kita. Bus dalam kota dan antarkota kebanyakan juga masih pakai sistem setoran. Angkot bikin macet, tidak aman karena penumpangnya rentan dirampok atau diperkosa, sopirnya pun banyak yang jadi korban pemalakan preman yang minta disebut timer, dan macam-macam lagi. Warga yang sudah muak pun banyak yang lebih suka beli kendaraan pribadi—motor jelas yang paling murah. Kalau sudah begini, jalanan jadi tambah macet. Butuh revolusi transportasi kalau begini caranya. Mestinya pemerintah bisa bikin konsorsium bekerja sama dengan swasta atau luar negeri, hapus sistem setoran, bikin perusahaan profesional, gandeng dan bina semua sopir angkot dan bus kota untuk jadi karyawan bergaji, remajakan semua kendaraan yang tidak layak jalan. Paling-paling yang protes Organda…hehehe.🙂

Saya menyadari betapa mahalnya harga sebuah mentalitas negara maju. Soal infrastruktur sih kita masih bisa berutang ke sana kemari. Itu pun mudah-mudahan nggak dikorupsi. Bikin gedung pencakar langit, alat transportasi massal, jalanan lebar, kita semua bisa kok. Tapi mental warga negara maju tidak bisa dibeli. Ia harus diusahakan melalui pendidikan atau edukasi informal, dan dilengkapi dengan peraturan yang dipatuhi semua warga. Tapi prosesnya mungkin akan makan waktu bertahun-tahun.

Warga Beijing dulu terkenal doyan meludah sembarangan. Tapi Olimpiade Beijing 2008 lumayan bisa mengubah kebiasaan buruk itu. Larangan meludah sembarangan dikeluarkan dan dijalankan dengan tegas. Jelas pemerintah Cina akan malu berat kalau turis-turis yang datang untuk nonton Olimpiade melihat sendiri warga ibukotanya meludah massal di jalanan. TransJakarta itu dulunya bus yang bagus dan pada awalnya semua pengguna bus itu masih tertib. Sekarang bus itu sudah kacau balau, kotor, banyak yang rusak, sesekali bahkan terbakar sendiri. Pengelola tidak bekerja maksimal, jumlah bus yang beroperasi semakin sedikit. Penumpang juga semakin susah diajak tertib. Kalau lagi ramai, mau keluar dari bus pun mesti sikut-sikutan dulu dengan penumpang yang akan masuk. Belum lagi kadang ada orang gila yang suka melakukan pelecehan seksual di bus. Semrawut. Suatu hari nanti, kalau Indonesia (baca: Jakarta) sudah punya kereta bawah tanah subway, seperti apa ya orang kita menyikapi dan memperlakukan fasilitas itu?😛

***

Singkat cerita, tengah malam saya sampai di daerah Batununggal, pemberhentian terakhir bus Primajasa kami. Beberapa taksi sedang antre menunggu penumpang di sana. Ada plang pengumuman yang isinya pemberitahuan bahwa semua taksi harus antre dan harus memakai argometer. Saat saya tanya beberapa sopir taksi, mereka semua bilang tak mau memakai argo dan memasang tarif Rp 40 ribu untuk ke rumah saya di daerah Ciganitri—tidak jauh, sebenarnya.

Jelas kami nggak mau, karena kami tahu tarifnya tidak semahal itu kalau pakai argo. Jadi, kami pun menelepon Blue Bird. Operatornya bilang mereka akan menjemput kami di masjid dekat situ, karena mereka “tidak bisa” menjemput penumpang persis di depan pool Primajasa. Silakan tebak sendiri kenapa.😛

Omong-omong, berapa tarif taksi setelah sampai di rumah saya? Hanya 25 ribu. []

Tamat.

with abahSpecial thanks to Abah & family for making our trip more fun and cheaper🙂

Next backpacking trip in 2012: Thailand.

5 thoughts on “Cerita Singapura #6 (Tamat)

  1. idah juniarsih

    kiut,.critanya keren en gokil,…tapi aku mau lg ke spore kl duit dah ngumpul byk…

    Reply
  2. Prisca P.

    Waaaah keren Mas cerita-ceritanya!! Sip buat dijadiin buku nih😀 Kalo ditambahin yang Thailand nanti mungkin bisa jadi Travelogue Asia Tenggara😀 Detail banget, banyak referensi baru juga, aku baru tahu kalo Chinese town di Singapura sebagus itu, hehehe… Banyak referensi tentang makanan juga😀 Aku paling suka quote ini nih:

    “Beberapa menit saya sebelum lenyap ditelan mimpi, saya melamun. Seandainya kita setuju bahwa hidup adalah sebuah perjalanan, bukan tujuan, bukankah kita harus jalan-jalan? Bepergian? Melihat dunia? Ah…”

    Memang seperti yang dikatakan orang bijak, lakukanlah perjalanan, karena dalam perjalanan itu kita akan menemukan banyak hikmah😀

    Dari tulisannya sih kayaknya lebih berkesan Singapore ya😀

    Btw yang paling ngenes ya cerita tentang buku ilang itu T.T Jadi nggak enak waktu baca Mas Indra nyarinya sampe hampir ketinggalan pesawat T.T

    Reply
  3. Mila Said

    yuhuuu… berkunjung..
    jd begini toh klo editor bikin blog :p
    believe me, I don’t like singapore either, too expensive. uang nya cuman habis buat beli air mineral hehehee…

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Halo Mila…makasih udah mampir🙂
      Eits…editor kan juga manusia, pengen ngeblog jg…hehe🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s