Pasar Tong Tong

Lama nggak main ke Cihampelas Walk (Ciwalk),Bandung, Jumat lalu (6/4) pas liburan saya main ke sana. Wah, di Ciwalk sekarang tempat makannya makin banyak dan penataan tempatnya makin oke. Terakhir kali main ke sana tahun lalu, foodcourt di bagian depannya belum jadi. Ciwalk sendiri memang ditata dengan konsep pedestrian dengan toko, resto, dan kafe di kanan-kirinya.

Habis Jumatan di masjid Cipaganti, saya dan istri berniat mencari tempat untuk makan siang. Pilihan kami jatuh pada resto bernama Pasar Tong Tong. Saya sih belum pernah dengar nama ini, tapi tampilan resto itu memang tergolong berbeda dibandingkan beberapa resto lain: suasana “jalanan” dan pasar tradisional.

Suasana pasar tradisional yang berdiri sejak September 2010 ini terlihat dari tata letak ruangan, dekorasi, dan tentu saja menu-menu yang ditawarkan. Menu yang ditawarkan adalah masakan-masakan Indonesia, seperti aneka nasi goreng, mie, nasi liwet, nasi uduk, sate ayam & kambing, iga bakar, bebek, ayam, cumi, lotek, karedok, nasi kuning, dan banyak lagi. Saya sampai puyeng mau pilih makan apa. :) Menu makanan berat itu masih dilengkapi juga dengan aneka jajanan pasar, seperti kue ape, serabi, roti bakar, cendol, cingcau, dan banyak lagi.

Akhirnya kami memesan nasi uduk, nasi liwet, dan mie goreng. Minumannya kami pilih es cendol nangka dan es cingcau. Sambil menunggu pesanan datang, saya sibuk menikmati interior resto ini. Saya suka penataan tempat ini. Selain mengangkat konsep tempat makan kaki lima atau pinggir jalan, konsep Pasar Tong-Tong ini juga terinspirasi dari festival kuliner Indonesia terbesar di Belanda. Itulah sebabnya kita bisa melihat beberapa helai bendera Belanda digantung di sini.

Meja dan kursinya dibuat dari kayu dengan pernis warna cokelat kayu yang rapi. Di satu sisi ada papan tulis besar bertulisan menu di Pasar Tong Tong. Di satu sudut di samping kasir ada fasilitas Internet gratis berupa tiga unit komputer yang bebas dipakai pengunjung asalkan sedang tidak dipakai. Di sebelahnya, mereka juga menjual magnet kulkas dengan berbagai desain ala bungkus makanan, misalnya magnet mie instan, cokelat, dan banyak lagi.

Hebatnya lagi, di area kasir, mereka menyediakan charger ponsel berbagai merek bagi pengunjung yang baterai ponselnya hampir habis. Saya lihat ada charger untuk Nokia, BlackBerry, Samsung, dan iPhone. Dengan kapasitas ruangan dua lantai yang saya taksir mampu menampung lebih dari 100 orang, Pasar Tong Tong juga menyediakan free wi-fi dan PlayStation (PS). Yang terakhir ini saya cuma lihat tulisannya, nggak tahu juga di mana main PS-nya.🙂

Pojok buat internetan gratis.

Sepuluh menit kemudian, pesanan kami diantar. Nasi uduk komplit pesanan istri saya enak juga. Sementara itu nasi liwetnya disajikan dengan panci kastrol, masih panas. Rasanya sih oke, tapi agak berbeda dengan nasi liwet yang pernah saya coba. Di sini nasinya disajikan agak lengket, dengan campuran suwir ayam, ikan teri, dan sayur labu di dalamnya. Nasi liwet yang pernah saya coba sih biasanya pakai putih telur atau telur rebus sekalian, dan lauknya itu disiram di atas nasinya. Kalau di Pasar Tong Tong ini semuanya sudah dicampur-aduk. Bakmi gorengnya? Mantap! Sudah begitu porsi bakminya banyak. Cukup deh buat 2 orang, apalagi makannya ditambah nasi putih. Pokoknya, semua makanan di sini menurut saya berasa enak ala kaki lima, bukan resto. Lha, apa bedanya? Ya beda lah, susah jelasinnya. Makanan kaki lima kan sering kali lebih enak.😛

Nasi liwet.

Nasi uduk komplit.

Bakmie goreng.

Oke, suasana pasar tradisional dan warung kaki lima sudah didapat pengunjung. Lalu bagaimana dengan harganya? Menu yang saya pesan harganya masih wajar, apalagi ini kan tempatnya di mal. Bakmie goreng harganya Rp 19 ribu, nasi liwet Rp 16.500, nasi uduk komplit 14.500, es cendol nangka 10 ribu, dan es cingcau 11.500. Masuk akal, menurut saya. Lagian enak kok makanannya. Cocok buat kongkow bareng teman-teman atau keluarga.🙂

Es cendol nangka dan es cingcau. Segar!

Sebenarnya saya masih pengen makan makanan ringan macam serabi, misalnya, yang cuma Rp 7.500 dapet 4 buah. Tapi saya udah telanjur kenyang. Jadi kapan-kapan saya harus makan di sini lagi. Habis kayaknya enak semua sih.😛

6 thoughts on “Pasar Tong Tong

  1. Cipu

    Untuk harga makanan dan suasana rumah makan seperti ini, pasar tong tong layak dijajal nih. Akan segera dicari mas saat berkunjung ke Bandung. Ini namanya warung yang mengerti pembeli. Thanks postingannya.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s