Seperti Sungai yang Mengalir

Judul: Seperti Sungai yang Mengalir: Buah Pikiran dan Renungan

Penulis: Paulo Coelho

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Terbit: April 2012

Tebal: 303 halaman

Walau mengaku penggemar buku-buku Paulo Coelho, kadang saya tidak bisa memahami beberapa bukunya karena kontennya terlalu Kristiani. Bukan apa-apa, cuma nggak ngerti aja kok.🙂 Tapi yang satu ini beda. Diterjemahkan langsung dari edisi bahasa Spanyol, Seperti Sungai yang Mengalir berisi kumpulan renungan dan cerita pendek Paulo Coelho, kisah-kisah yang menggugah tentang kehidupan dan kematian, suratan takdir dan pilihan, cinta yang hilang dan ditemukan. Kadang humoris, kadang serius, tapi hebatnya isinya selalu bernas dan dalam—dan mengalir, seperti judulnya. Kisah-kisah dalam buku ini sebelumnya telah diterbitkan di berbagai surat kabar di seluruh dunia, dan dikumpulkan menjadi buku atas permintaan para pembaca Coelho.

Seperti semua buku karya Paulo Coelho lainnya, buku ini mengeksplorasi artinya menjalani hidup yang bermakna dengan sepenuh-penuhnya. Apalagi buku ini saya baca pas dalam perjalanan ke rumah sakit untuk menengok ibu saya yang dirawat di sana karena serangan jantung. Makin “kena” deh…

Ada 102 bab dalam buku ini. Kok banyak sekali? Tenang, masing-masing bab ditulis cukup pendek, sekitar 1-4 halaman setiap babnya (tapi kedalaman maknanya jauh lebih daripada angka-angka itu). Ini memudahkan pembaca untuk “ngemil” isi buku ini dengan santai. Tema ceritanya sangat beragam, berasal dari kisah-kisah yang pernah didengar Coelho maupun dialaminya sendiri. Semuanya sangat mengundang pembaca untuk sejenak merenungkan pesan yang terdapat di dalamnya. Dalam bab “Arti Penting Sebuah Gelar” (hal. 20), misalnya, Coelho menulis:

Sebagian besar teman saya, dan sebagian besar anak mereka, juga mempunyai gelar. Tetapi belum tentu mereka berhasil mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan. Sama sekali tidak. Mereka masuk universitas karena seseorang berkata—pada masa-masa ketika masuk universitas sangatlah penting—bahwa supaya bisa mendapatkan tempat yang mapan di dunia, orang mesti mempunyai gelar. Dengan demikian, dunia ini kehilangan kesempatan untuk memiliki orang-orang yang sebenarnya adalah tukang-tukang kebun yang hebat, tukang-tukang roti, pedagang-pedagang barang antik, pematung-pematung, dan penulis-penulis. Barangkali inilah saatnya merenungkan keadaan tersebut. Para dokter, insinyur, ilmuwan, dan pengacara memang perlu belajar di universitas, tetapi apakah semua orang perlu berbuat demikian?

Atau simak bab berjudul “Genghis Khan dan Burung Rajawalinya” (hal. 32). Dikisahkan, Genghis Khan suatu pagi pergi berburu membawa burung rajawali kesayangannya. Saat sedang beristirahat di tengah hutan, ia tak bisa menemukan sumber air karena semua mata air saat itu sudah mengering dalam terkaman musim panas. Tiba-tiba Genghis Khan melihat ada air menetes-netes dari bebatuan di depannya. Ia lalu melepaskan rajawalinya dan mulai menampung tetesan air itu dalam cangkir yang selalu ia bawa. Setelah penuh terisi, ia pun meminumnya. Namun sebelum air itu sempat masuk ke mulutnya, rajawalinya menyambar cangkir itu sampai jatuh. Hal ini dilakukan berkali-kali hingga Genghis Khan murka. Ia pun menghunus pedangnya dan membunuh binatang kesayangannya itu.

Karena tetesan air itu sudah berhenti, Khan penasaran dan naik ke atas bebatuan untuk mencari sumber air itu. Alangkah kagetnya Khan ketika menemukan bangkai ular berbisa di tengah genangan air di atas bebatuan—salah satu jenis ular paling berbisa di daerah sekitar situ. Ia bisa saja mati terkena bisa ular yang bercampur dengan air. Khan lalu memerintahkan anak buahnya untuk membuat patung emas burung itu.

Di salah satu sayapnya ia meminta dituliskan kalimat ini: Saat seorang sahabat melakukan hal yang tidak berkenan di hatimu sekalipun, dia tetaplah sahabatmu. Di sayap yang satu lagi, ada tulisan: Tindakan apa pun yang dilakukan dalam angkara murka hanya akan membuahkan kegagalan.

Dalam bab berjudul “Orang Katolik dan Orang Muslim” (hal. 277), Coelho menegaskan pentingnya kerukunan umat beragama. Ia mengisahkan pada saat itu ia sedang makan siang bersama seorang pastor Katolik dan seorang rekan beragama Islam. Rekannya yang Muslim ini sedang berpuasa sehingga tak ikut makan. Selesai makan, ada orang yang berkomentar pedas melihat si orang Muslim ini. “Kalian lihat betapa fanatiknya orang Muslim itu! Untunglah kalian orang-orang Katolik tidak seperti mereka.”

Si pastor membalas perkataan tak sopan tersebut. “Tetapi kami pun sama. Dia berusaha mematuhi Tuhan, sama seperti saya. Hanya saja kami mengikuti hukum-hukum yang berbeda.” Lalu ia berkata kepada Coelho, “Sayang sekali orang hanya melihat perbedaan-perbedaan yang memisahkan mereka. Seandainya kita memandang dengan kasih yang lebih besar, kita akan lebih banyak melihat kesamaan-kesamaan, dan sebagian dari masalah-masalah di dunia akan terselesaikan.”

Indah dan teduh, bukan? Ini sungguh buku keren dan penuh perenungan yang mendalam dan menyejukkan. Bacalah saat hati sedang haus akan makna kehidupan.[]

4 thoughts on “Seperti Sungai yang Mengalir

  1. gust.nd

    Saya baru baca dan sdh lama sekali tdk ke toko buku. Akhir’y saya menemukan buku karangan ” coelho “. Yg menarik adalah sinopsis cerita’y. Lalu saya browsing di internet pada saat itu juga, alhasil saya pun membeli buku’y ” Aleph “

    Reply
  2. Pingback: 10 Buku Terbaik yang Saya Baca Selama 2012 | Jurnal Orang Susah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s