Cerita Cinta Enrico

Judul: Cerita Cinta Enrico

Penulis: Ayu Utami

Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)

Terbit: Februari 2012

Tebal: 244 halaman

“Cinta tak perlu diuji atau dikatakan. Cinta akan tumbuh dengan sendirinya jika memang mau tumbuh.”

(Ayu Utami, Cerita Cinta Enrico, hal. 145)

Saya menggemari karya-karya Ayu Utami sejak novel pertamanya dulu, Saman. Kini ia meluncurkan buku terbarunya, Cerita Cinta Enrico. Bahasanya selalu lancar mengalir, dalam, tapi mudah dicerna, walaupun jalinan ceritanya cukup kompleks. Ketika buku barunya ini beredar, saya langsung memburunya. Apalagi gambar sampulnya lucu, warna kuning terang mencolok dengan teks judul Cerita Cinta Enrico. Setelah dilihat lebih dekat, ternyata huruf-huruf di sampul itu dibentuk dari gambar-gambar tentara yang tubuhnya membentuk huruf-huruf tersebut. Beruntunglah saya punya teman yang jadi editor di penerbitnya, jadi saya dikasih satu eksemplar deh, lengkap dengan tanda tangan penulisnya….hehehe🙂

Buku ini bercerita tentang kisah hidup seorang bernama Enrico, yang lahir bersamaan dengan sebuah pemberontakan di Padang, yang belakangan dikenal sebagai pemberontakan PRRI pada tanggal 15 Februari 1958. Ayah Enrico, Muhamad Irsad, adalah seorang letnan yang bertugas di bagian keuangan militer. Sebagai anggota militer, ayahnya tak punya pilihan selain mendukung revolusi di Sumatera Barat itu. Sang ibu, Syrnie Masmirah, yang baru saja melahirkan Enrico, membawa serta Sanda, kakak perempuan Enrico, ke hutan. Bentuk kaki Enrico di kemudian hari dianalogikan sebagai bentuk revolusi bagi ayahnya. Sebuah revolusi kaki kurus, pemberontakan kaki kurus, sebagaimana bentuk kaki Enrico. Baru beberapa hari setelah lahir, Enrico telah menjadi anak dari keluarga gerilya.

Enrico, bayi yang masih merah itu, sungguh lapar dan haus. Seperempat puting kiri ibunya pun ditelannya. Sebab, hampir tak ada persediaan makanan yang akhirnya mengakibatkan air susu ibunya tak mengalir lancar. Suatu hari, pasukan Ahmad Yani berhasil menghancurkan pemberontakan PRRI tersebut, termasuk melucuti pangkat ayahnya. Beruntunglah ia masih boleh kembali bertugas, meski tanda pangkatnya sudah dicopot. Ibunya tetap menyambut ayahnya dengan langkah mantap–dengan betis mengayun dari balik rok. Jauh berbeda dengan kaki kurusnya.

Enrico anak yang sangat mengagumi ibunya. Bersama ayahnya, mereka bertiga kerap melewatkan waktu bersama-sama. Ia bahkan tak bisa mengingat kematian Sanda, kakaknya. Sanda meninggal karena penyakit asma. Bagi ibunya, kematian itu tak mungkin terjadi jika ayahnya tidak mengabaikan peringatannya untuk tidak mengajak Enrico dan Sanda bermain di pantai. Peristiwa kematian Sanda membuat ibunya memendam sakit hati dan kepedihannya dalam-dalam selama bertahun-tahun.

Sikap ibunya berubah ketika mengenal dan aktif sebagai jemaah Saksi Yehuwa. Ia dijanjikan tentang hari kiamat, hari penantian yang nantinya ia yakini sebagai perjumpaan dengan Sanda. Syrnie sebelumnya adalah seorang Katolik, menikah dengan Muhamad Irsad yang keturunan Madura dan beragama Islam. Pernikahan beda agama keduanya ditentang oleh keluarga besar Irsad di Madura. Maka mereka pun memilih pergi ke Padang dan membangun rumah tangga. Syrnie Masmirah lahir dari istri pertama seorang pedagang di Kudus. Kehadiran istri kedua membuat Sarah, ibu Syrnie, memilih meninggalkan suaminya. Ia pergi membawa serta semua anak perempuannya ke Semarang, kemudian menjadi penganut Kristen.

Enrico sulit membantah kemauan ibunya, bahkan untuk mendapatkan kesenangan menonton bioskop atau sekadar bermain dengan kawan-kawannya. Ia harus mengerjakan PR hingga selesai. Masa kanak-kanaknya dilalui dengan tanggung jawab besar membantu ibunya. Saat ibunya mengalami pendarahan, dia pulalah yang merawat ibunya. Namun, bagi ibunya, tidak ada hal yang ia banggakan dari Enrico. Sejak Sanda meninggal, dalam dirinya hanya ada Sanda, atau tentang pertemuan kembali dengan putrinya itu pada hari kiamat—yang diperkirakan datang pada tahun 1975, sebagaimana diyakini kaum Saksi Yehuwa saat itu.

Enrico akhirnya mendapatkan kebebasannya saat diterima kuliah di ITB Bandung. Ia bisa tinggal jauh dari ibunya, jauh dari kewajiban melakukan syiar. Namun, kebebasan itu harus ditebusnya dengan pembaptisan dirinya sebagai penganut Saksi Yehuwa, sesuai permintaan ibunya. Sikap keras ibu Enrico berbeda dengan ayahnya, yang membebaskan anaknya menentukan pilihan. Perjalanan hidup kemudian membawa Enrico menjadi seorang fotografer, bukan sarjana ITB.

Menjelang akhir cerita, makin tampak jelas bahwa kisah ini adalah kisah nyata yang berhubungan erat dengan diri penulisnya. Misalnya tentang perjumpaan Enrico dengan A (yang, gampang ditebak, tak lain adalah Ayu Utami sendiri) di Teater Utan Kayu (TUK) di bagian ketiga, “Cinta Terakhir”. A memang bukan satu-satunya wanita yang pernah dekat dengannya. Sejak mahasiswa pun ia punya banyak teman wanita, yang sekaligus menjadi teman tidurnya.

Awal kedekatan Enrico dengan A adalah saat A memintanya membuat foto bugil wanita itu. Enrico yang saat itu sedang merindu kekasih melihat A sebagai representasi sosok ibunya: berkaki indah, punya aura kedewasaan, dan teguh pendirian.

Ayu Utami menikah dengan Erik Prasetya, Agustus 2011.

Cerita Cinta Enrico mengalir lancar tanpa kehilangan kedalaman jiwa para tokoh ceritanya. Kisah cinta yang terbalut dalam bentangan sejarah Indonesia sejak era pemberontakan daerah hingga reformasi.

Setiap bagiannya diceritakan Ayu Utami dengan telaten, menceritakan kisah Enrico dan perjalanan kisah cintanya dengan dalam dan hangat. Dan ternyata sosok Enrico itu adalah Erik Prasetya, seorang fotografer yang menikah dengan Ayu Utami Agustus 2011 silam.

Kisah nyata Enrico dan kelihaian menulis Ayu Utami membuat kisah dalam buku ini sangat menarik. Terlepas dari nilai-nilai dalam buku ini yang mungkin tak sesuai dengan sebagian pembaca, Cerita Cinta Enrico adalah sebuah karya sastra yang lezat dibaca.[]

Dapet tanda tangan Ayu Utami dong!🙂

One thought on “Cerita Cinta Enrico

  1. Pingback: 10 Buku Terbaik yang Saya Baca Selama 2012 | Jurnal Orang Susah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s