Seminar Merry Riana

Foto bareng Merry Riana. Cantik ya?😛

Minggu pagi. Saat seharusnya masih bermimpi, saya harus ikut seminar motivasi. Pagi itu, jam 08.00 kurang sedikit (3/6), saya sudah tiba di lantai 2 auditorium gedung Pendidikan Kedokteran Unpad, di depan RS Hasan Sadikin, Bandung.

Hari itu ada seminar motivasi yang menghadirkan Merry Riana. Acara ini dihadiri oleh sekitar 400-500 peserta yang sebagian besarnya mahasiswa. Kebanyakan dari Unpad, dan lainnya ada yang dari IPDN (kelihatan dari seragam mereka).

Acara dimulai sekitar pukul 08.30 dengan  sambutan panitia, dilanjutkan dengan penampilan seorang musisi kampus bergitar bernama Ian entah-siapa. Suara mahasiswa yang sedang bikin skripsi ini boleh juga. Empuk—cocok untuk lagu-lagu akustik. Sayang sound system di ruangan ini sering mati. Entah karena masalah teknis atau kru acara yang kurang sigap. Untunglah si Ian ini sesekali mampu meluncurkan guyonan-guyonan yang lumayan bikin ketawa.

Selama hampir setengah jam masalah sound system ini terus menganggu, hingga akhirnya beres dan Merry Riana pun siap tampil. Pada usia 32 tahun, Merry tampil enerjik dan riang. Cantik dan tak tampak sombong sedikit pun—untuk orang yang mendapatkan sejuta dolar pada usia 26 tahun, itu enam tahun yang lalu. Suaranya juga enak didengar.

Berhubung saya sudah pernah membaca bukunya, Mimpi Sejuta Dolar, maka saya sudah mengetahui cukup banyak hal-hal yang disampaikan Merry saat itu. Saya ceritain sedikit deh buat yang belum tahu.

Merry berasal dari keluarga sederhana yang tinggal di Jakarta.Saat kerusuhan tahun 1998 silam, persisnya saat ada kerusuhan yang membawa korban etnis Cina saat itu, orangtua Merry mengirim putri pertama mereka itu untuk kuliah di Singapura selepas lulus SMA dengan uang pas-pasan, berbekal uang pinjaman dari Development Bank of Singapore sejumlah 300 juta rupiah dalam kurs dolar Singapura saat itu. Dengan biaya finansial seadanya serta kemampuan bahasa Inggris yang sama ngepasnya dengan modal merantau saat itu, Merry harus rela meninggalkan tanah air dan mengarungi masa perkuliahan yang menegangkan di Nanyang Technological University (NTU). Peristiwa Mei 1998 memang menorehkan jejak luka batin yang mendalam bagi banyak kalangan, termasuk Merry yang kala itu harus memupuskan keinginannya untuk menjalani pendidikan di Universitas Trisakti.

Setelah dipotong untuk biaya kuliah, biaya hidup, buku-buku, dan kebutuhan lainnya, Merry harus berjuang hidup dengan biaya hanya 10 dolar Singapura seminggu. Bayangkan uang sepuluh dolar selama tujuh hari dengan perbandingan harga sepiring nasi goreng dalam satu kali makan yang harganya dua dolar. Merry pun harus melakukan pengiritan ekstrem untuk tetap bertahan hidup. Hampir setiap hari ia terpaksa harus makan mie instan atau roti tawar. Pertemuannya dengan Alva Tjenderasa, mahasiswa teknik Mesin di NTU yang juga berasal dari Indonesia menjadi sebuah penyeimbang baru di tengah kesulitan yang dihadapi Merry. Keduanya adalah perpaduan mengesankan sebagai rekan kerja yang saling melengkapi dalam perjuangan membentuk masa depan.

Alberthiene Endah, penulis buku Mimpi Sejuta Dolar, menggiring pembaca untuk benar-benar menyelami kehidupan Merry saat terjebak pada kegagalan demi kegagalan mencari tambahan penghasilan, bekerja sebagai pembagi brosur, penjaga bunga hingga pelayan banquet saat pesta di ballroom hotel mewah. Tidak hanya itu, pupusnya harapan Merry dan Alva juga terjadi saat saat ingin mencari peluang lewat bisnis penjilidan skripsi, hingga batalnya kesempatan untuk menjadi distributor salah satu produk kesehatan, padahal sudah mengeluarkan biaya hingga 2250 dolar (sekitar 16 juta rupiah). Bisnis jual beli saham pun harus menelan kerugian mencapai 10.000 dolar (sekitar 70 juta rupiah). Kegagalan demi kegagalan silih berganti mampir dalam kehidupan Merry, namun perempuan ini selalu mampu menjadikan kegagalan sebagai ruang bagi aktualisasi diri yang lebih baik. Dalam keadaan yang sulit, ia selalu berusaha menciptakan peluang dan menarik hikmahnya, hingga akhirnya perjuangannya itu terbayar saat pada usia 26 tahun meraih pendapatan 1 juta dolar dari bisnis konsultan keuangan/asuransi.

Selepas sesinya Merry, sebenarnya masih ada acara class discussion yang menghadirkan beberapa nama seperti Melanie Subono (liaison officer), Dendy Darman—pemilik distro Unkl347, Dara Illahiya (pemilik tokok The Dream’s Cake), dan Marin—pemilik label FastForward. Acara itu terbatas untuk 200 peserta (masing-masing 50 orang untuk mengikuti satu sesi pembicara). Sayang saya ada acara lain sehingga harus melewatkan sesi ini.

Terus terang, kesan saya terhadap acara motivasi Merry Riana ini biasa saja. Pertama, mungkin karena saya sudah pernah nonton acara-acara motivasi yang menghadirkan nama-nama macam Ippho Santosa, Jamil Azzaini, Ali Akbar, Rangga Umara, dan lain-lain yang lebih heboh dari segi penampilan dan pengemasan acara. Kedua, konten acara sudah pernah saya baca di bukunya. Ketiga, rasa-rasanya target acara ini lebih pas untuk mahasiswa, lebih tepatnya mahasiswa yang ingin berwirausaha atau punya start-up business.

Soal buku Mimpi Sejuta Dolar, menurut saya pribadi sih penulisannya terlalu bertele-tele. Banyak sekali kalimat atau substansi yang tampak diulang-ulang untuk mengundang efek dramatis. Bahasa Alberthiene Endah terlalu mendayu-dayu buat saya, sehingga agak melelahkan juga saat membacanya. Memang khas Alberthiene, sih. Tapi itu semua hanya pendapat saya.🙂 Namun, saya salut dengan sikap pantang menyerah Merry dalam mengatasi kerasnya hidup. Kisah hidupnya inspiratif, tentu saja, tapi kalau kita mau buka mata lebar-lebar, siapa pun pasti punya kisah hidup yang bisa ditarik hikmahnya.

Di luar itu, bagi saya sebenarnya tak ada yang baru dengan isi atau konten acara-acara motivasi semacam itu. Saya bukan tipe orang yang tak tahu akan melakukan apa dalam hidup saya ini. Siapa pun yang banyak membaca buku dan mau sesekali meluangkan waktu untuk merefleksikan hidupnya dan bersyukur rasanya sudah mempunyai amunisi motivasi yang cukup. Kejar saja mimpimu, hasratmu, tak usah bingung-bingung. Kisah sukses atau perjuangan hidup bisa kita temukan di mana-mana. Bahkan tukang bubur ayam langganan saya dulu juga punya pandangan hidup menarik yang bisa saya tiru sisi positifnya.

Rasanya aneh kalau semua orang harus jadi pengusaha. Hidup ini menurut saya harus berwarna, mau jadi apa pun dirimu, asalkan bermanfaat bagi sesama. Mengutip slogan Hong Kong Police Force dalam iklan TV yang pernah saya lihat di sana: Everyone has a part to play.[]

3 thoughts on “Seminar Merry Riana

  1. Pingback: Everyone has a part to play | Ada Deadline di Balik Batu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s