Thai Times #1

Backpacking ke 3 negara cukup bawa ini aja🙂

“Traveling…it leaves you speechless, then turns you into a storyteller.”

~ Ibnu Batutah (“backpacker” & travel writer abad ke-14)

Namanya pegawai swasta, jatah cuti sangat terbatas. Jadi saya harus bisa pintar-pintar mengatur waktu supaya hobi backpacking saya tidak terganggu. Untunglah libur Lebaran tahun ini harinya sangat enak: Idul Fitri jatuh pada 19-20 Agustus 2012. Itu hari Minggu dan Senin. Puasa sudah, sholat Ied sudah, silaturahim dengan keluarga sudah. Di TV beritanya juga cuma soal macet melulu. Tempat-tempat publik juga pasti sangat ramai karena semua orang liburnya bersamaan. Duh, membosankan! Jadi, mau apa lagi? Jawaban saya sudah jelas: backpacking!🙂

Lagi pula, ini pertama kalinya saya bisa ngetes backpack Rei ukuran 50 liter saya untuk pertama kali, setelah selama ini cuma gendong ransel kecil yang sehari-hari juga dipakai buat ngantor itu.🙂

Jadi, hari Selasanya saya dan istri memilih terbang ke Thailand buat backpackingyahooo!! Sebelum berangkat, sejak 2,5 bulan sebelumnya saya sudah memesan semua tiket pesawat, hotel, dan bus dari Hatyai ke Kuala Lumpur. Entah ada hubungannya atau tidak, agak susah dapat tiket pesawat langsung ke Thailand yang harganya rada murah di bulan Agustus atau sekitar hari raya Idul Fitri.  Jadi saya sengaja cari rute yang bisa transit di sana-sini agar tiketnya bisa rada murah dikit.🙂 Jadilah saya beli 3 tiket pesawat: Jakarta-Singapura, Singapura-Bangkok, dan Kuala Lumpur-Bandung.

Supaya tidak rugi transit di satu negara, saya memilih jeda waktu yang agak panjang saat transit di Singapura dan KL. Lumayan kan jalan-jalan seharian di sana? :) (FYI, mulai September Mandala membuka rute Jakarta-Bangkok langsung). Tiket Jakarta-Singapura sekitar Rp 250 ribu per orang dengan Jetstar. Tiket dari Singapura ke Bangkok sendiri sekitar Rp 600 ribu per orang dengan pesawat Tiger Airways.

Kami tiba di Singapura tengah malam jam 00.50 waktu lokal. Setelah lewat pemeriksaan imigrasi, saya langsung menyesal karena tampaknya spot untuk tidur lebih nyaman di area transit sebelum keluar dari imigrasi. Tapi setelah iseng-iseng naik Skytrain (= monorel di kawasan Bandara Changi) bolak-balik ke terminal 2 dan 3, saya kembali ke Terminal 1 dan menemukan banyak tempat duduk kosong di luar departure lounge dan banyak pula orang yang tidur di sekitar situ. Dan setidaknya di area ini tak terlalu ramai seperti di area dalam imigrasi.

Karena lupa membawa jaket, saya mengeluarkan sarung untuk sedikit melindungi tubuh karena AC di sini lumayan dingin. Backpack yang cuma berisi baju saya jadikan bantal. Pukul 05.30 saya bangun. Setelah cuci muka dan sikat gigi (istri saya malah sempat mandi pakai shower WC gitu :P), kami mencari mushola, namun ternyata mushola hanya ada di bagian dalam departure lounge. Terpaksalah kami sholat di samping kursi tempat kami tidur tadi.

Walaupun terhitung transit, saya punya misi khusus di Singapura kali ini: mengunjungi taman indah yang baru dibuka di Singapura: Gardens by the Bay. Gardens by the Bay adalah wahana baru Singapura yang baru dibuka sekitar akhir Juni lalu. Sebuah taman raksasa seluas 101 hektar di kawasan Marina Bay. Setelah sarapan kari ayam dan laksa di area bandara, sekitar jam 06.30 kami pun keluar. Lebih tepatnya, turun ke stasiun MRT di bawah Terminal 2.  Sebelumnya, saya menitipkan backpack kami di bagian Left Luggage di Terminal 2—biayanya SGD 6 untuk dua tas besar selama 24 jam. Saya juga masih punya kartu EZ Link, biar praktis ke mana-mana naik MRT.

Sekitar 40 menit kemudian, saya tiba di stasiun Bayfront. Keluar dari stasiun, di sebelah kiri tampak gedung Marina Bay Sands yang terkenal itu. Dan di sebelah kanan pintu keluar langsung tampak pohon-pohon artifisial berukuran raksasa yang menjadi ikon utama Gardens by the Bay. Dari jauh, taman raksasa itu sudah tampak menakjubkan.

Gardens by the Bay, Singapura.

Gardens by the Bay adalah bagian integral dari proyek pemerintah Singapura untuk mengubah tata kota negara itu dari “Garden City” (Kota Taman) menjadi “City in a Garden” (Kota di Dalam Taman). Itu semua ditujukan untuk meningkatkan kualitas kehidupan di perkotaan. Taman besar itu juga dibangun untuk menjadi ruang terbuka publik terbesar di Singapura dan ikon negara-kota tersebut.

Pemandangan ke arah Singapore Flyer dari Dragonfly Bridge, gerbang Bay South, Gardens by the Bay.

Gardens by the Bay dibagi menjadi dua bagian: Bay South dan Bay East. Memang masih ada area yang belum selesai dibangun, tapi itu tak mengganggu bagian-bagian lain yang bisa dinikmati pengunjung. Dari arah stasiun MRT Bayfront, pengunjung taman ini akan langsung diarahkan ke area Bay South—area ini gratis dan buka pukul 05.00 sampai 02.00 dini hari. Dari pintu masuk, pengunjung akan menyeberangi jembatan di atas danau buatan yang dinamakan Dragonfly Lake. Setelah itu, pengunjung akan menemukan Supertrees—media berupa tiang-tiang yang dibentuk menyerupai pohon, kemudian jutaan flora langka dan flora yang masuk dalam daftar konservasi ditempatkan di tubuh “pohon” tadi.

Pohon-pohon artifisial yang surealis itu🙂

Sekitar 11 Supertrees menjulang ke angkasa. Pemandangan semacam ini terasa surealis dan mengingatkan saya pada film Avatar dengan pohon-pohon raksasa setinggi dan sebesar gedung belasan lantai. Dengan membayar SGD 5, Anda bisa naik lift di salah satu pohon yang disambungkan dengan jembatan ke sebuah pohon lain. Dari atas, Anda bisa melihat pemandangan taman dan sebagian kota.

Taman ini keren banget buat yang suka fotografi dan punya kamera bagus (gak kayak saya)😛

Pada malam hari, Supertrees—yang di tubuhnya juga dipasangi lampu-lampu hias—akan menyala terang dan menciptakan pemandangan spektakuler. Di sekitar situ juga ada area Heritage Garden, sebuah theme park yang akan membawa pengunjung menikmati kebun dengan nuansa sejarah dan budaya tiga etnik besar di Singapura: Melayu, Cina, dan India.

Setelah itu, saya sampai di area Cloud Forest dan Flower Dome. Untuk masuk ke kedua wahana itu, pengunjung harus membayar tiket yang sangat mahal: SGD 28 per orang (sekitar Rp 205.000). Setelah merenung dan mengamati dompet sejenak, akhirnya saya memutuskan untuk membeli tiket. Pikir saya, ya sudahlah, tak apa kalau hanya untuk sekali seumur hidup.

Air terjun buatan menyambut pengunjung di pintu masuk Clod Forest.

Gedung Cloud Forest didesain ala suasana pegunungan tropis berketinggian 1.000-3.500 meter. Di pintu masuk, pengunjung akan disambut dengan air terjun artifisial dan embusan angin sejuk yang disetel pada suhu belasan derajat Celcius. “Gunung” buatan ini bisa dijelajahi dengan lift, tangga, atau cukup berjalan kaki di sepanjang jalur yang ada. Dinding-dinding di bagian dalam dipenuhi gambar-gambar berisi informasi tentang lingkungan hidup.

Di dalam “gunung”, ada area bioskop mini bernama +5, tempat pengunjung disuguhi film dokumenter berdurasi sekitar 5 menit yang terus diulang dengan jeda 15 detik. Pesan film tersebut adalah tentang pemanasan global alias global warming—suhu Bumi diperkirakan akan naik 5 derajat Celcius selama abad ke-21 ini dan bagaimana dampaknya pada kehidupan di planet kita.

Bioskop +5. Keren, gambarnya juga “ditembak” dari atas ke lantai di depan layar🙂

Menariknya, di ruangan ini gambar juga ditembakkan dari atas, sehingga area di depan layar pun ikut menjadi media yang menciptakan gambar-gambar yang memanjakan mata. Dari Cloud Forest, saya lanjut ke Flower Dome yang desain interiornya spektakuler. Ini adalah taman bunga yang menampilkan ribuan panel yang diisi ribuan jenis bunga dan pohon dari berbagai wilayah dunia.

Di Bay East, pengunjung akan disuguhi pemandangan hutan tropis, danau buatan yang luas, taman bunga, area jalan-jalan, hingga lokasi piknik dengan pemandangan perairan Marina Bay yang indah. Area bagian timur ini cocok digunakan sebagai tempat nongkrong dengan teman, bersantai bersama keluarga, atau bahkan melakukan aktivitas olahraga seperti jogging dan bersepeda.

Ini dia yang namanya Flower Dome.

Kalau jalan-jalan santai model begini, sudah pasti kita akan dehidrasi kalau tak banyak minum. Untunglah Singapura adalah negara yang menyediakan air di tempat-tempat publik yang bisa langsung diminum. Jadi, saran saya, jangan lupa bawa  botol kosong dan cari tempat-tempat yang mirip wastafel di area taman ini untuk mendapatkan air minum gratis. Di Bandara Changi sendiri sebelumnya saya sudah mengisi botol sampai penuh buat bekal. Di Gardens by the Bay ini juga ada. Lumayanlah, daripada beli.🙂

Ngisi botol minum dulu di bandara🙂

Sambil ngaso di bawah rindangnya pohon-pohon dan minum air gratisan tadi, saya melamun soal taman ini. Singapura sialan, batin saya. Mereka bahkan bisa mengemas taman menjadi tujuan wisata yang mengagumkan. Padahal konsepnya lumayan sederhana, hanya memang eksekusinya total dan serius.

Apakah Anda sekadar transit atau memang menghabiskan beberapa hari di Singapura, Gardens by the Bay ini wajib dikunjungi. Sebagian besar areanya gratis, hanya Cloud Forest dan Flower Dome yang memungut bayaran kalau mau masuk. Itu pun saat kita keluar dari kedua wahana itu, tangan kita akan dicap khusus yang bisa dilihat hanya dengan senter infra merah dan kita diperbolehkan kembali masuk pada hari yang sama. Jadi, kalau dana cekak, jalan-jalan di Bay South dan East saja udah lebih dari cukup bikin kaki gempor. Tapi puas kok!🙂 Kalau masih ada waktu, jalan kaki dari sini ke Merlion Park (yang ada patung singa itu) juga dekat. Paling jalan sekitar 30 menit lah. Itu pun kalau nggak berhenti-berhenti dulu buat foto-foto narsis…hehehe.😛

Tak terasa, sudah jam 1 siang. Sebenarnya waktu itu saya berencana mengunjungi Botanic Park dan taman-taman lain di Singapura (yang gratisan). Tapi berhubung sudah capek dan saya perkirakan waktunya ngepas buat sampai di bandara untuk ambil tas, naik shuttle bus ke Budget Terminal, check-in, dan makan siang, saya putuskan untuk kembali ke bandara dari Gardens by the Bay.

Pukul 15.30, Tiger Airways yang kami tumpangi terbang ke Bangkok, Thailand. Penerbangan ini akan makan waktu 2,5 jam.

(Bersambung)

NB: Ini saya kasih bonus foto-foto keren Gardens by the Bay. Apa artinya taman cantik kalau tak difoto?🙂

Satu pemandangan di Cloud Forest.

Gardens by the Bay dengan latar gedung Marina Bay Sands.

Supertrees dengan latar belakang gedung Marina Bay Sands.

Flower Dome yang megah🙂

Di dinding-dinding Cloud Forest banyak gambar dan info soal lingkungan hidup.

Pohon baobab asal Afrika. Yang disebut-sebut di buku “Little Prince”-nya Saint-Exupery itu🙂

Dragonfly Lake.

Salah satu sudut taman.

Toko suvenir. Di sini sih mahal-mahal. Saya cuma beli magnet kulkas satu aja.😛

6 thoughts on “Thai Times #1

  1. Melia

    Kalo dr Merlion Park ke Garden by The Bay beneran bisa jalan kan, Mas? Takutnya jalur yg ada cm jalan tol or rel kereta gitu, jd gak bs jalan kaki.. Pengennya, sih beneran jalan2 di Singapore, jalan kaki, bukan naek bus or MRT.. hehehehe..

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Kalo dari Merlion deket lah. Liat aja ke arah gedung Marina Bay Sands, nah, tamannya ada di seberangnya/belakangnya.

      Reply
    1. Indradya SP Post author

      Huh…udah gratisan masih pengen injek2 rumput😛 Di tempat2 lain ada rumput tp dilarang injak2…ya sami mawon🙂

      Reply
  2. Dina Begum

    Hah! Lebaran bukannya sungkeman sama sanak keluarga malah tamasya ke luar negeri?? aneh sekali. *patut dicoba*
    Aaaaaaa!!! Aku jadi pingin ke Kebun raya ituh!!!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s