Thai Times #2

Mejeng dulu di Suvarnabhumi🙂

“When you travel, remember that a foreign country is not designed to make you comfortable. It is designed to make its own people comfortable.”

~ Clifton Fadiman

Touchdown Bangkok! Jam 16.50 waktu Thailand (sama dengan WIB) akhirnya kami tiba di Bandara Suvarnabhumi (orang Thai melafalkannya: suwarnabum). Bandaranya lumayan bagus. Yang jelas masih lebih bagus daripada Soekarno-Hatta. Untuk menuju pusat kota, kita tinggal turun ke lantai B1 dan naik MRT. Sambil turun terus ke bawah dengan elevator, saya melihat ada banyak kios agen wisata yang menawarkan bus atau van ke tempat-tempat lain di sekitar Bangkok, misalnya ke pantai Pattaya.

Sejak sebelum berangkat, saya sudah hafal peta pusat kota Bangkok. Saya bahkan tahu harus naik apa menuju ke mana sebelum berangkat ke Thailand, termasuk cara menuju hotel kami di kawasan stasiun kereta Hua Lamphong. Semua jadi lebih nyaman dengan persiapan yang cukup. Di bandara, setelah mencomot beberapa peta Bangkok yang boleh diambil gratis, kami membeli tiket kereta Airport Rail Link menuju Makassan City Air Terminal. Harganya 150 baht (Rp 45.000) seorang.

Berhubung hanya punya pecahan 1.000 baht (Rp 300.000) dan ticket vending machine hanya menerima uang pecahan 10, 50, dan 100 baht, kami beli minuman dulu di 7 Eleven dekat pintu masuk ke stasiun, biar ada recehan. Setelah membeli tiket nanti kita akan mendapatkan token—keping plastik bulat yang berfungsi sebagai tiket. Tinggal ditempelkan saja di electronic reader saat mau masuk ke stasiun awal dan masukkan ke lubang di stasiun tujuan.

Pemandangan yang langsung membuktikan bahwa Thailand adalah negara yang dikunjungi 12 juta turis setahun adalah kereta dari bandara yang penuh dengan backpacker waktu itu. Ransel-ransel mereka banyak yang lebih besar daripada backpack saya. Bahkan ada beberapa bule yang bawa backpack gede sampai dua segala, depan-belakang. Saya perkirakan dua ransel model gitu ukurannya minimal 100 liter. Kalau terisi penuh, beratnya minta ampun dan merepotkan (buat saya), mungkin 20kg lebih. Biasanya backpacker yang begini jalan-jalannya lama, berminggu-minggu atau bahkan sampai bertahun-tahun (!). Kalau punya banyak duit dan waktu, saya juga bisa gitu kok. *mimpi*

Sekitar 30 menit kemudian, kami tiba di stasiun Makassan. Dari sini kami kami harus menyambung dengan MRT di stasiun Phetchaburi. Waktu saya bertanya ke petugas stasiun, dengan sangat ramah dia bahkan mengantar saya sampai ke dekat pintu keluar dan menunjukkan arah ke stasiun itu. Ternyata kami harus keluar dulu dari Makassan City Air Terminal, berjalan sekitar 200 meter melalui perlintasan kereta, menemukan stasiun MRT Phetchaburi, dan turun di stasiun Hua Lamphong. Stasiun yang terakhir ini tersambung langsung dengan stasiun kereta utama Hua Lamphong—semacam stasiun besar Gambir kalau di Jakarta. Hotel kami terletak di seberang gerbang depan stasiun ini.

Hotel kami.

Nama hotelnya pun mirip: @Hua Lamphong. Kami tiba sekitar jam 6-an sore. Sebenarnya tarif hotel ini agak mahal, sekitar Rp 200 ribu/hari untuk double bed. Pertimbangan saya, lokasi hotel ini sangat dekat dengan stasiun Hua Lamphong, sehingga kami bisa dengan mudah naik kereta ke kota lain dari Bangkok. Rencananya memang kami hanya akan tinggal dua hari di Bangkok, lalu lanjut ke Krabi naik kereta. Ada sih hotel, hostel, atau guesthouse yang lebih murah, berkisar 100 ribu atau kurang per malam, misalnya di Khaosan Road, tapi daerah itu belum dijangkau oleh jalur MRT ataupun Skytrain (sebutan monorel di Bangkok).

Sore itu kami mendapat kamar di lantai 5. Sialnya, nggak ada lift! Walhasil kami harus ngos-ngosan naik tangga sampai ke kamar. Tapi setelah sampai di kamar, kondisinya tidak mengecewakan. Kamar mandi bersih, TV, AC, dan kulkas kecil.

Si ibu penjual pancake.

Setelah mandi dan leyeh-leyeh sebentar, kami jalan-jalan di sekitar hotel. Banyak warung kaki lima di sepanjang trotoar, sayang nggak ada tulisan huruf latinnya, dan tak ada label halalnya. Setelah satu jam kurang, kami memutuskan kembali ke hotel.  Jangan lupa, saat itu masih hari yang sama dengan saat kami jalan-jalan di Singapura, jadi ya kami masih capek.🙂 Di trotoar dekat hotel, ada seorang ibu berwajah Thai campur Arab yang menjual pancake.

Sederhana, tapi kok enak banget ya….

Saya beli dua pancake pisang seharga 30 baht (Rp 15.000). Saya juga bertanya soal di mana kami bisa mencari makanan halal. Si ibu menunjuk ke arah stasiun. “Di daerah dekat stasiun ada beberapa. Di dalam stasiun juga ada,” katanya dengan bahasa Inggris patah-patah. Setelah itu kami membeli beberapa botol air minum di sebuah minimarket. Lumayan kan, bisa didinginkan dulu semalaman di kulkas di kamar. Jalan-jalan di Bangkok bakal menyiksa tanpa banyak air minum. Setelah makan pancake di kamar (enak banget ternyata!), jam 9 kami sudah siap tidur.

***

Kamis, 23 Agustus 2012

Paginya, setelah sholat Subuh, jam 06.00 kami sudah mandi dan siap jalan-jalan. Agenda hari itu adalah main ke Grand Palace, Wat Pho, dan Khaosan Road. Grand Palace adalah kompleks bangunan istana yang indah, yang berfungsi sebagai kediaman resmi raja-raja Thailand dari abad ke-18 dan seterusnya. Wat Pho adalah kompleks kuil Buddha dengan patung reclining Buddha (Buddha berbaring) yang sangat besar. Sementara yang terakhir adalah nama jalan paling ngetop di Bangkok di kalangan backpacker. Banyak barang-barang murah di Khaosan—suvenir, kaos oblong, Lonely Planet bekas (dan bajakan), money changer, warung makan, dan banyak lagi.

Dengan berbekal peta Bangkok dan Lonely Planet, pagi itu kami jalan kaki ke dermaga Ratchawong di tepian sungai Chao Phraya. Kalau dikira-kira sih, sekitar 30 menit jalan kaki seharusnya sudah sampai di dermaga itu. Saat itu kami berjalan melalui Chinatown—kawasan pecinan di Bangkok yang banyak jalan kecil dan gang. Gara-gara nggak ketemu juga itu dermaganya, terpaksalah kami naik tuk-tuk. Awalnya si sopir yang menghampiri saya menawarkan jasanya. Dia menyebut angka 60 baht (Rp 18.000).

“Masih jauh kalau jalan kaki. Kalau naik itu, Anda harus bayar 40 baht per orang,” katanya sambil menunjuk sekumpulan tukang ojek. Setelah adu sombong dan adu gengsi, saya berhasil menawar sampai 30 baht saja (Rp 9000). Akhirnya dia mau. Tuk-tuk adalah semacam becak motor di Bangkok. Modelnya lucu dan rame berwarna-warni. Dan yang paling top: sopirnya selalu ngebut! *kayak saya*😛 Orang bule mungkin bakal shock saat pertama kali naik tuk-tuk, tapi buat kita yang negaranya mirip-mirip Thailand, tuk-tuk sih sepotong kueee piece of cake!😛 Jadi, sementara istri saya teriak-teriak panik, saya jerit-jerit kesenengan.😀

Untuk naik kendaraan yang satu ini  memang harus nawar dulu. Itu pun sebaiknya kita sudah tahu perkiraan jarak ke tujuan. Tawarlah sampai sekitar 50% atau bahkan lebih. Kalau sopirnya menolak, ya tinggal saja. Kalau belakangan kita dipanggil lagi, artinya dia setuju dengan tawaran kita. Kalau naik bus kota, kesulitannya adalah semua tulisan ditulis dalam aksara Thai. Yang terbaca hanya nomor rute busnya. Bisa juga tanya-tanya orang di jalan—ini pun butuh kesabaran karena umumnya orang Thai tak bisa berbahasa Inggris dengan baik, aksennya pun kadang rada aneh dan sulit dimengerti.

Tuk-tuk🙂

Dibandingkan bajaj di Jakarta yang suaranya berisik, naik tuk-tuk rasanya lebih asyik. Tarikannya enteng macam motor bebek baru, tempat duduk untuk penumpang pun lega. Keringat bisa langsung hilang setelah angin-anginan pakai kendaraan satu ini….hehe! Ternyata naik tuk-tuk ke dermaga itu tak sampai 10 menit. Ini cuma gara-gara nyasar di Chinatown aja.🙂

Hanya menunggu 5 menit di dermaga, datanglah perahunya. Kalau tak salah, ada dua macam speed boat, yang ekspres dan yang biasa. Lebih aman, tanyalah petugas di tepi dermaga, sebutkan tujuan, dan dia akan dengan ramah menunjukkan di mana kita harus menunggu perahu. Naik perahu ini bayarnya pas kita udah naik. Ongkosnya tergantung jarak. Waktu itu saya cukup bayar 15 baht (Rp 4.500) per orang ke tujuan kami, dari dermaga Ratchawong ke Tha Tien. Saya perhatikan, kalau “kondektur”nya lupa nagih, boleh juga kita nakal sedikit dengan pura-pura nggak lihat…hehehe! *jangan ditiru*🙂 Naik perahu begini sangat menyenangkan di tengah suhu kota Bangkok yang panasnya sekitar 33-34 °C. Embusan angin terasa segar di tengah sungai yang airnya cokelat namun bersih dari sampah.

Serunya naik perahu di Chao Phraya🙂

Sekitar 15 menit kemudian kami tiba di dermaga Tha Tien—dermaga terdekat dengan kompleks Grand Palace dan Wat Pho. Di sekitar dermaga ada pasar dan banyak juga kios yang menjual suvenir dan warung makan. Berhubung belum sarapan, kami pun mencari makanan di sekitar situ. Tak sengaja, kami menemukan satu warung yang ada label halalnya. Menunya nasi goreng dan padthai. Karena harganya agak mahal, 60 baht (Rp 18.000) per porsi, saya pesan satu porsi padthai saja untuk dimakan berdua. Untunglah porsinya banyak.

Padthai🙂

Padthai adalah sejenis kwetiauw ala Thailand, dimasak dengan berbagai macam sayuran, tauge, potongan wortel, dan kalau mau spesial bisa ditambah telur dan potongan daging ayam. Yang jelas rasanya sangat Thai: ada manis-asem-pedas gitu. Rasanya lumayan lah. Tapi saya pribadi tak terlalu memfavoritkan menu ini, lebih karena asemnya itu. Kalau pedasnya kurang, bisa tambah cabe bubuk yang sepertinya selalu ada di setiap warung kaki lima di Thailand.

Saat sedang makan, ada sekelompok turis Indonesia yang lewat dipandu tour guide. Si pemandu ini malah menyapa kami dengan assalamualaikum dan menyalami saya. Walau bahasa Indonesianya bagus, saya tebak orang ini orang Thailand, karena bahasanya Indonesianya cenderung formal, ber-Anda-Anda-ria, dan selintas ada aksen yang aneh. Kalau soal wajah sih ya Asia Tenggara banget.🙂 Si pemandu sedang menggiring kelompok turis tadi untuk beli tahu goreng khas Thailand di depan kami. Tapi tahunya mahal, 20 baht (Rp 6.000) satunya.

Trotoar yang ini adalah sisi kanan kompleks Grand Palace (kalau dilihat dari arah pintu masuknya, di ujung sana terus belok kanan). Kami dihadang scammers di sini.

Kenyang makan, kami melanjutkan perjalanan. Kompleks Grand Palace dan Wat Pho langsung terlihat tak lama kemudian. Yang paling dekat dengan dermaga adalah kompleks Wat Pho, tapi kami memilih untuk mencari pintu masuk Grand Palace dulu.

Saat itu kami berjalan di sisi kanan (kalau dilihat dari arah pintu masuk Grand Palace), tapi di bagian yang dekat dengan sisi dinding Grand Palace, bukan di seberangnya—yang banyak pedagang kaki lima (lihat foto). Tiba-tiba, dua orang pria mencegat kami. Salah satunya menyapa ramah, dengan senyum licik. Yang satu lagi agak galak, sambil bilang, “Stop! Grand Palace is closed!” katanya sambil menunjukkan kartu pengenal bertulisan Tourist Police dari sakunya. Saya langsung waspada dan sadar bahwa kami mungkin akan ditipu. Tapi saya baru tahu ada modus pakai kartu identitas palsu segala.

“Hello, where are you from? Malaysia?” kata yang pertama setelah melirik istri saya yang berjilbab.

No, Indonesia,” jawab saya. Saya teringat blog-blog dan buku-buku panduan yang pernah saya baca. Di tempat-tempat wisata seperti Grand Palace ini, banyak scammer (penipu) yang mencoba mengalihkan turis ke tempat-tempat lain dengan naik tuk-tuk atau taksi. Dalam kasus Grand Palace ini, saya hafal sekali bahwa penipu macam ini akan bilang bahwa Grand Palace tutup karena sedang dipakai untuk ibadah, baru buka jam 3 sore, lalu dia akan menawarkan rute melihat kuil-kuil lain atau “pameran” perhiasan. Kenyataannya, turis nantinya akan dipanggilkan tuk-tuk yang akan membawa ke toko-toko perhiasan. Si penipu dan sopir tuk-tuk ini akan mendapat persenan kalau turis mau beli perhiasan di toko-toko tertentu.

“You bring map? Let me show you other interesting places.” Si penipu kemudian mencorat-coret peta saya.

Saya cuma cengengesan sambil bilang ke istri, “Asyik nih, kita lagi ditipu!” Tapi saya ladeni dulu usaha si penipu. Yah, sedikit menghargai usaha orang lain lah….hahaha!😀 Tapi Anda nggak usah takut. Posisi penipuan itu di daerah ramai orang kok, walau saat itu kami berada di sisi trotoar yang lengang. Tapi di seberang jalan sangat ramai. Mereka hanya mencoba menipu turis. Rasanya saya belum pernah dengar mereka mencoba menggunakan kekerasan fisik.

“So, where you want to go?” si penipu selesai mencorat-coret, mungkin juga sambil bersiap memanggilkan tuk-tuk.

Saya jawab, “Ya sudah, kalau tutup, saya balik lagi aja nanti.”

“Hei, jangan lewat sana! Lagi ada ibadah.”

“Ya sudah, saya mau ke Khaosan Road aja!”

“Khaosan Road? Tapi di sana juga tutup!”

“Tutup apaan?? Saya kan nginep di Khaosan Road!”

Pria yang satu lagi mencoba nimbrung, tapi langsung dicegah sama temannya tadi. Dalam bahasa Thai, dia tampak sangat murka. Kayaknya dia ngomel-ngomel, “Udah, biarin aja! Ni orang keras kepala, gak bisa ditipu!” *sok tau bahasa Thai*

Saya dan istri cepat-cepat menyingkir dari situ, sambil maki-maki dan ketawa-ketiwi.😀

(Bersambung)

9 thoughts on “Thai Times #2

  1. Rini Nurul Badariah

    Siap ditipu? Hahaha…
    Selamat ulang tahun ya, Indra (kan Indra lebih muda:p), semoga sehat terus meski sesekali mampir ke warung padang dan selalu bisa jalan-jalan menyenangkan bersama istri tercinta ^_^

    Reply
  2. mila

    kayaknya yang ke Bangkok mesti ada pengalaman nyaris kena scam ngeri gitu yak.. alhamdulillah pas aku ga ada yg aneh2, ngeri juga apalg klo sendirian… cuman selalu tiba2 diajak ngobrol bhs thai ajah sama org2 sana hihihiy -_______-“

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Iya ya…untung udah siap ditipu… hihi🙂 Pas balik ke Wat Pho, lewat trotoar sisi seberangnya, aku liat lagi si orang yg sama, kali ini lagi nipu rombongan bule. Tadinya mo nyamperin sih, trs bilang, “Woi, Grand Palace dah buka tuh!” Tapi takut digebukin sopir2 tuk2…..hahaha!😀

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s