Thai Times #4

Lobi hotel.

“A traveler without observation is like a bird without wings.”

~ Moslih Eddin Saadi

Jumat, 24 Agustus

Pagi itu lobi hotel sepi. Bule-bule backpacker yang biasanya nongkrong di situ tampaknya belum ada yang bangun. Baguslah, jadi saya bisa pake Internet sebentar. Rencananya saya mau memesan hostel di Krabi, berhubung malam ini kami berangkat ke sana naik kereta. Sekalian web check-in untuk pesawat Air Asia kami dari Kuala Lumpur nanti.

Pakai Internet di hotel ini asyik juga. Sistemnya cukup dengan memasukkan koin 10 baht (Rp 3.000) untuk akses Internet selama 15 menit. Mahal sih, makanya nggak baik berlama-lama di depan Internet di sini.

Setelah beres semua urusan itu, kami menyeberang ke Stasiun Hua Lamphong. Di area food court di stasiun ini ada satu kedai makanan halal di pojokan. Masakannya sederhana saja: ada nasi goreng, tom yam, padthai, dan aneka lauk tumis serta oseng. Saya pilih nasi dengan lauk tumis ayam masak pedas, sementara istri saya pesan nasi goreng dengan telur dan suwir ayam. Untuk masakan yang porsinya rada banyak itu harganya cuma 50 baht (Rp 15.000) per porsi.

Sistem belinya emang agak ribet. Setelah memesan dan menanyakan harga, kami harus pergi ke loket kupon yang ada di situ. Kita lalu harus beli kupon seharga makanan yang barusan dipesan tadi. Misalnya saya pesan makanan seharga 100 baht, maka saya harus beli kupon senilai 100 baht di loket, lalu menukarkan kupon itu di tempat kita memesan makanan tadi. Tentunya setelah makanannya siap.

Rasanya? Muaknyuss….ayam masak pedas pesanan saya sukses bikin saya keringetan. Rasanya juga gurih nikmat. Sementara nasi gorengnya juga enak. Mirip-mirip nasi goreng tek-tek langganan saya lah. Bumbunya cukup terasa. Duh, saya demen dah makanan kayak gini!šŸ™‚

Setelah makan, saya memutuskan untuk melihat-lihat isi stasiun ini dulu. Kan lumayan bisa buat bahan cerita di blog ini.šŸ™‚

Tampak depan Stasiun Hua Lamphong, Bangkok.

Saat pertama kali masuk ke stasiun ini hari sebelumnya, saya mendapat kesan lega pada bangunan ini. Sepertinya itu disebabkan langit-langit stasiun yang didesain tinggi dan melengkung. Mirip sebuah hanggar pesawat. Menurut saya, desainĀ Hua Lamphong memang kuno, hampir tak ada kesan mewah dan modern, namun cukup elegan, bersih, dan terawat. Di atas pintu masuk utama dan pintu masuk ke peron ada poster raja Thailand berukuran besar. Setiap jam 6 sore, di tempat-tempat publik, termasuk stasiun, akan dikumandangkan lagu kebangsaan Thailand. Semua orang berdiri khidmat untuk menghormati lagu kebangsaan, termasuk turis–demi sopan santun.

HuaĀ LamphongĀ melayani lebih dariĀ 130Ā trayek danĀ sekitar 60 ribu penumpangĀ setiap hari.Ā Penumpang dapat langsung membeliĀ tiket diĀ hari yang samaĀ dengan keberangkatan, tetapi untuk tujuan populer dan ingin kelas sleeper train, sebaiknya kita memesan jauh-jauh hari hingga 60Ā hari sebelum keberangkatan. Di tiket kita akan tercetak waktu, tanggal, dan nomor bangku. Dua layar monitor berukuran besar akan memperlihatkan jadwal kereta yang akan berangkat hari itu. Mirip seperti di bandara.

Saya lihat ada total 22 loket pembelian tiket. Setengahnya untuk pembelian hari H, dan sisanya untuk pemesanan 1-60 hari sebelum keberangkatan. Tak semua loket buka, memang, tergantung kebutuhan. Petugas loket juga rata-rata bisa bahasa Inggris, walau sangat pas-pasan. Petugas di bagian Informasi bahasa Inggrisnya rada mendingan. Calon penumpang (biasanya backpacker bule) yang kehabisan atau malas duduk di tempat duduk memilih untuk leyeh-leyeh di area tengah yang luas sambil menunggu kereta mereka siap. Backpack mereka yang besar-besar diletakkan di lantai untuk sandaran.

Interior Hua Lamphong.

Fasilitas apa saja yang ada di stasiun ini? Selain food court, ada money changer dan Left Baggage untuk menitipkan tas. Tarifnya per 24 jam. Kalau tak salah, untuk backpack yang agak besar dikenakan tarif 70 baht (Rp 21.000).

Mushola.

Toilet di sini juga bisa digunakan untuk mandi dengan tarif 20 baht (Rp 6.000). Di depan toilet, ada tangga ke atas menuju mushola. Papan petunjuknya terbaca jelas seperti di foto. Di lantai 2, yang ada di sayap kanan dan kiri, ada kantor pos, kafe yang rada mahal, warnet, dan beberapa kantor agen perjalanan wisata ke kota-kota lain di Thailand.

Puas menjelajahi stasiun, kami kembali ke hotel. Selesai berkemas, jam 12 kami check out. Di hotel-hotel Thailand biasanya kita boleh menitipkan tas tanpa bayar walau sudah check out. Bisa dimaklumi, mereka ingin tambahan layanan ini bisa membuat tamu kembali kalau kapan-kapan main ke Bangkok lagi.

Mah Boon Krong (MBK).

Jelas saya senang karena tak perlu keluar uang untuk menitipkan tas di stasiun. Dua backpack kami pun diletakkan di tengah-tengah tumpukan ransel tamu lain yang sudah check out. Siang itu kami menuju mal MBK. Rutenya cukup mudah, tinggal naik MRT dari Hua Lamphong, turun di stasiun Si Lom, disambung dengan BTS Skytrain (= monorel) dan turun di stasiun Sala Daeng. Dari situ tinggal jalan kaki ke MBK.

Mal ini berada di kawasan Siam. Kawasan ini dikepung oleh mal-mal besar. Selain MBK, ada Siam Square, Siam Paragon, dan beberapa yang lain. Pokoknya tempat-tempat ini ini benar-benarĀ shopping heaven, deh!

Kaos-kaos serba 99 baht!

Di lantai 4 dan 5…nah, ini surganya orang gila belanja. Segala suvenir dengan harga murah. Saya, yang kalau ke luar negeri cuma pengen beli kaos oblong, langsung ngiler ngeliat toko-toko dan kios-kios t-shirt semuanya kompak jualan kaos keren cuma 99 baht (Rp 29.700)! Padahal bahannya bagus lho, agak-agak elastis gitu. Udah gitu desain gambarnya lucu-lucu. Ada yang serba tulisan “Thailand”, ada juga yang permainan kata bahasa Inggris. Misalnya: Sex Instructor, The Comma Sutra, Beer is the reason I get up every afternoon, dan banyak lagi.

Sialnya, setelah lirik-lirik dompet, ternyata uang baht kami tidak cukup lagi untuk sekadar beli oleh-oleh. Padahal kami belum lagi berangkat ke Krabi, dan masih harus ke Hatyai untuk melanjutkan perjalanan ke Kuala Lumpur. Sialnya lagi, tak satu pun pedagang di sana yang bisa menerima pembayaran dengan kartu kredit.

Setelah gempor muter-muter dan tak ada satu pun pedagang kaos dan suvenir yang bisa menerima kartu kredit, bahkan hingga keluar dari MBK dan muter-muter kawasan Siam ke mal-mal di sebelahnya, akhirnya kami terpaksa ngaso sebentar. Kaos bagus paling murah yang kami temukan sepertinya cuma di MBK. Jadilah kami kembali ke mal itu, mencari mushola (ada di lantai 5), dan mojok sebentar untuk menghitung lagiĀ recehan kami di dompet.

Kios suvenir.

Setelah mengaduk-aduk dompet, ditemukanlah beberapa puluh ribu rupiah (yang untungnya masih ada harganya di sini), dan kebetulan juga kami punya 100 dolar Hong Kong (= Rp 100.000!), dan beberapa ringgit. Setelah sholat, kami muter-muter dulu mencariĀ money changer di sana. Saya memilih satu yang berstiker Master Card dan menanyakan apakah saya bisa mengambil uang tunai baht dengan kartu kredit saya itu. Dan ternyata bisa! Walau dengan syarat harus mengambil minimal 3.000 baht (Rp 900.000), itu tak masalah karena bisa kami pakai buat cadangan hingga ke Kuala Lumpur. Mungkin bahkan masih sisa sampai di Bandung.

Total jenderal kami berhasil mengumpulkan 5.000 baht (Rp 1,5 juta) buat menyambung hidup sampai pulang.šŸ™‚ Yang pasti: beberapa kaos oblong, gantungan kunci, dan kantong bordiran yang digantungkan di dinding (saya nggak tahu apa sebutannya) akhirnya berhasil dibeli.Ā Kemudian, kami memutuskan segera pergi ke stasiun. Saya menyesal setengah mati karena tak sempat mampir ke Lumphini Park di dekat stasiun MRT Si Lom. Ini artinya suatu hari nanti saya harus datang ke Bangkok lagi! *bersumpah*

Menu makan malamšŸ™‚

Setelah mengambil ransel-ransel yang dititipkan di hotel, kami menyeberang ke stasiun Hua Lamphong. Gara-gara urusan kehabisan duit tadi, kami malah jadi nggak sempat makan siang. Jadi, kami kembali keĀ warung halal di foodcourt tadi pagi. Kali ini memesan menu yang agak beda. Istri saya pesan nasi goreng ayam-telor lagi, sementara saya pesan nasi dengan dua lauk tumisan ayam, kentang, dan sayur. Semuanya cuma 100 baht (Rp 30 ribu). Hebat juga nih yang masak, cuma tumisan sederhana begini enaknya bikin merem melek!šŸ˜€ Saya perhatikan, di Thailand jarang sekali ada sambal. Jadi kalau kita ingin makanan kita tambah pedas, biasanya disediakan cabe bubuk. Mantap kok, tetap bisa bikin kita berdesis kepedesan!šŸ™‚

Puas makan, kami bergantian ke mushola. Pas giliran saya, ada sekelompok pemuda tanggung lagi nongkrong di sana. Sambil mengucapkan salam, saya meminjam sajadah ke mereka (di mushola itu cuma ada karpet). Setelahnya, saya coba mengajak mereka ngobrol sebentar. Tampaknya mereka tak bisa bahasa Inggris sama sekali, tapi saat saya bilang saya dari Indonesia, mereka tampak mengerti dan menjawab bahwa mereka dari Pattani, kawasan Thailand selatan yang banyak dihuni muslim. Salah satu dari mereka entah ngomong apa ke saya, tapi saya menangkap dua kata intinya: “kakak ipar” dan “Aceh”. Oooh, begitu.šŸ™‚ Lalu saya pamit sambil mengucap salam. Saya dan istri segera ke peron dan mencari gerbong kami.

Kereta antarkota di Thailand penampilannya biasa saja, jelas bukan tandingan MRT dan Skytrain-nya. Ornamen kayu di dinding bagian dalam terkesan kuno. Kursinya tipe 2-2 dan reclining seat. Jarak antar kursi di depan dan belakang juga cukup lega, sehingga ketika penumpang di depan kita menurunkan punggung kursi, penumpang di belakangnya tidak akan terganggu. Jendela keretanya lebar dan bisa dibuka dengan cara ditarik ke bawah.Ā Kereta berangkat tepat waktu jam 19.30. Menurut jadwal, kami akan tiba di Surat Thani jam 07.00 keesokan harinya untuk kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus ke Krabi.

(Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s