Thai Times #6

Selamat pagi, Krabi!🙂

The real voyage of discovery consists not in seeking new landscapes, but in having new eyes.

~ Marcel Proust

Minggu, 26 Agustus 2012

Pagi yang tenang. Udara pun terasa agak sejuk. Langit sebagian cerah, sebagian lagi masih menyisakan mendung. Sisa hujan tadi malam terlihat dari sedikit genangan air di jalanan. Jam 6 lewat sedikit, kami sudah keluar dari hotel. Mencari sarapan sekaligus informasi soal bagaimana menuju Hatyai. Kami masih punya waktu 2 jam sebelum dijemput untuk main kayak di Ao Thalane.

Kata resepsionis (kali ini wanita berbeda tapi sama ramahnya), di sepanjang jalan dekat sungai dan sekitarnya ada banyak travel agent yang punya rute menuju Hatyai, bahkan sampai ke Kuala Lumpur dan Singapura. Jadi pagi itu kami cuma jalan sekenanya, memutari beberapa blok, melihat mobil baru tabrakan dan sedang menunggu polisi, sambil menikmati suasana pagi di Krabi Town. Kami kembali melewati dermaga Chao Fa, sambil duduk-duduk dan memandangi bukit karang kembar Khao Khanap Nam nun di sana.

Salah satu travel agent. Rutenya menarik.🙂

Lalu kami melanjutkan jalan kaki dan akhirnya menemukan satu ruas jalan dengan beberapa kantor travel agent. Di jalan itu ada tiga kantor, tapi hanya dua yang sudah buka sepagi itu. Kalau tahu dari sini ada transportasi ke Kuala Lumpur, saya tak perlu mampir ke Hatyai segala. Sayangnya saya sudah memesan bus dari Hatyai ke Kuala Lumpur. Setelah bertanya-tanya dan membandingkan harga serta jam berangkat, kami memilih yang kedua, bernama Bai Ngoen Tour. Tiket ke Hatyai naik van sekitar 200 baht (Rp 60.000) per orang. Kami lantas minta dijemput jam 12.30 di hotel kami.

Lega karena sudah mendapatkan tiket, kami jalan lagi mencari sarapan. Sepengamatan saya, banyak sekali warga Krabi Town yang punya mobil truk pick-up, misalnya Toyota Hilux atau Isuzu D-Max. Pemandangan ini cukup mencolok, apalagi jika dibandingkan dengan mobil sedan atau city car yang jarang terlihat.

Tak sengaja, kami menemukan papan bertulisan Day Market dan menemukan sebuah pasar besar bernama Maharaj Market. Di depan pintu masuk, tampak beberapa bhiksu Buddha sedang berjejer dan menerima sumbangan uang atau makanan dari warga setempat.

Bhiksu Buddha.

Setahu saya, di negara-negara yang mayoritas Buddha memang lumrah ketika para bhiksu setiap pagi pergi berkeliling dan menerima sumbangan makanan dari warga. Bhiksu perempuan dilarang menerima makanan, tapi boleh menerima bahan makanan (misalnya beras)—kadang uang— untuk kemudian dimasak bersama di biara. Bagi umat Buddha, memberi sumbangan atau makanan kepada biarawan/wati adalah simbol menanam kebaikan yang nanti hasilnya akan dipetik suatu saat kelak, dalam bentuk reinkarnasi yang lebih baik.

Maharaj Market. Kucing dan anjing dilarang masuk!

Rupanya pasar ini letaknya hanya di belakang hotel kami. Pasar ini menjual berbagai macam kebutuhan sehari-hari: sayuran, buah-buahan, bumbu dapur, dan makanan jadi. Pasar ini pun bersih, berubin, dan tak ada sampah berserakan di gang-gangnya.

Ukuran pasar indoor yang mirip hanggar pesawat ini cukup luas. Dibagi menjadi gang-gang yang setiap bagiannya berisi pedagang yang dagangannya sejenis. Turis asing pun tak terlalu kesulitan saat mencari sesuatu, karena biasanya pedagang di sini mencantumkan angka harga dagangan mereka. Memang sih jarang sekali yang bisa bahasa Inggris di sini. Tapi dalam urusan jual-beli, angka adalah bahasa universal.🙂

Moslem section.🙂

Di satu bagian, berjejer ibu-ibu berjilbab menjual makanan. Rata-rata mereka menjual nasi, lauk-pauk, ayam goreng, dan minuman. Wah, saya langsung ngiler. Langsung deh kami beli dua porsi nasi briyani, dua potong ayam goreng, dan segelas es Thai milk tea yang udah jadi favorit saya.😛 Semuanya cuma 100 baht (Rp 30.000).

Sampai di kamar hotel, kami langsung mandi dan dilanjut dengan sarapan. Makanan yang kami beli tadi di pasar enak banget! Thai milk tea-nya juga segar. Di Indomaret dekat kantor saya juga ada Thai milk tea kalengan sih, cuma harganya lebih mahal.

Jam 8 kurang, kami sudah check-out dan siap di lobi. Ransel-ransel kami titipkan ke petugas resepsionis, sementara kami hanya bawa tas selempang. Van dari tour agent Sea Kayak Krabi yang menjemput kami hanya telat 5 menit. Si pemandu yang menjemput kami bernama Hakeem—seorang Muslim asli Krabi. Perjalanan ke Ao Thalane, sebuah teluk di Krabi, memakan waktu sekitar 35 menit dengan mobil. Van yang kami naiki waktu itu bagus. Sopirnya juga rapi dan sopan. Pantaslah harga paket tur kayaking ini rada mahal.

Sepanjang jalan ke Ao Thalane.

Perjalanan menuju Ao Thalane menyajikan pemandangan cukup menarik. Kami bisa melihat beberapa sisi Krabi Town yang rapi dan tenang. Hutan dan bukit-bukit karang yang hijau menandakan bahwa kami sudah berada di luar kota—hanya dalam waktu beberapa menit (!). Setengah jam kemudian, kami di tiba di tujuan.

Ao Thalane adalah sebuah desa nelayan kecil di teluk bernama sama. Desa ini berlokasi di jantung jaringan hutan bakau yang terawat baik dan dikelilingi banyak batu karang (limestone), lengkap dengan “pulau-pulau” pasir kecil yang hanya bisa didarati ketika air sedang tidak pasang. Selain perikanan, desa ini juga dikembangkan sebagai area wisata alam di wilayah yang eco-friendly. Main kayak atau kano mengelilingi batu-batu karang hijau dan hutan bakau di sekeliling teluk adalah salah satu magnet untuk menyedot turis asing di Ao Thalane.

“Kita bahkan bisa jalan kaki di perairan, kalau laut sedang tidak pasang. Ada juga beberapa ‘pulau’ pasir kecil dan di sana kita bisa main-main dengan ribuan kepiting lumpur kecil,” Hakeem menjelaskan. “Kata ‘Ao Thalane’ dalam bahasa Thai itu artinya ‘teluk lumpur’.”

Sebelum mulai kayaking, Hakeem menjelaskan dulu bagaimana caranya mendayung.

“Sudah pernah main kayak?”

“Belum sama sekali,” jawab saya.

“Gampang kok. Ikuti gerakan saya, ya.”

Hakeem memperagakan gerakan mendayung. Menurut saya sih nggak susah. Kurang dari 10 menit latihan, Hakeem mengajak kami mulai. Saat itu air laut sedang turun. Kedalaman juga cukup dangkal. “Paling cuma satu meter,” kata pemandu kami itu. Beberapa barang kami, seperti dompet, kamera, dan ponsel (ini untuk memotret juga), disimpan di sebuah kantong kulit kedap air. Hakeem juga mempersilakan kami mengambil beberapa botol air mineral buat bekal minum. Sementara tas kami bisa disimpan aman di loker.

Ukuran perahu kayak ada yang 1 hingga 3 orang. Kami meminta yang ukuran 3 orang, dengan Hakeem di posisi paling belakang dan saya di depan. Dan mulailah kami mendayung. Duh, ternyata asyik juga! Walau saya berhenti mendayung setiap 5-10 menit karena pegal, itu tak menghalangi kami menikmati pemandangan indah di sekitar teluk. Pagi itu tampaknya hanya kami turis asing yang sedang main kayak.

Asyiknya main kayak🙂

Baru setengah jam mendayung, saya tiba-tiba kok langsung merasa sehat ya…hehehe! Soalnya, setiap kali backpacking, kami sangat sering jalan kaki dan banyak bergerak serta minum air. Dan yang namanya traveling jelas bawaannya senang melulu. Jadi, harus sering-sering traveling nih! Biar jasmani dan rohani sehat semua.🙂

Pagi itu udara cukup sejuk, matahari juga tidak terlalu terik, malahan langit sedikit mendung. Wah, kalau hujan bisa kacau acara asyik ini. Tapi Hakeem meyakinkan bahwa setengah hari ini cuaca bakal cerah. “Kalaupun hujan, biasanya sore hari,” katanya. Yang jelas, mendayung di tengah cuaca enak itu sangat menenangkan dan menyenangkan. Kadang-kadang kami berhenti mendayung karena pegal. Posisi duduk di kayak memang gampang bikin pinggang pegal karena tidak terbiasa.

Batu atau bukit karang benar-benar berkah bagi Krabi. Limestone yang bertebaran di berbagai penjuru Krabi ibaratnya tanah yang ditebari batu-batu permata. Menambah indah alam Krabi. Paket tur yang saya ambil ini sebenarnya sederhana. Rutenya pun pendek. Saya sendiri juga minta agar kami diantarkan kembali di hotel sebelum jam 12.30, karena van ke Hatyai akan menjemput kami jam segitu. Artinya kami harus menyudahi acara kayaking sekitar jam 11.30.

Kami mendayung memasuki celah-celah di antara batu-batu karang besar, membelah sungai di tengah hutan bakau yang lebat. Suara-suara kumbang dan binatang lain terdengar seperti orkestra alam di telinga kami. Kata Hakeem, kalau kami beruntung, kadang-kadang terlihat juga monyet, biawak, burung elang, dan “….buaya!”

“Hah?? Ada buaya di sini?” Saya langsung berhenti mendayung.

Hakeem terbahak. “Nggak kok! Cuma bercanda.”

Huh, sialan.😛

Sesekali kami berhenti untuk memotret atau sekadar ngaso sebentar sambil minum. Di tengah hutan bakau kami juga melihat dua ekor biawak, lalu kami juga turun sebentar sambil mencoba menangkap kepiting lumpur yang sangat gesit saat menggali lubang untuk kabur, atau iseng berjalan kaki saat melewati bagian perairan yang dalamnya cuma setengah meter. Kami juga melihat dua ekor monyet galau sedang berjalan di pinggir hutan bakau. Udara segar, orkestra alam karya para tonggeret, dan keheningan total. Nikmat sekali rasanya…

Turis lain yang lagi kayaking.

Kami kemudian mendayung ke arah “pulau” pasir. Dari jauh terlihat banyak turis bule mendayung kayak warna-warni, setelah sebelumnya mereka semua turun dan berfoto di sana-sini di “pulau” itu. Yang disebut “pulau” ini sebenarnya adalah secuil area pantai yang membukit kala air sedang surut. Kalau sedang pasang tentu “pulau” itu tenggelam.

“Di sana ada ribuan kepiting lumpur. Kita bisa mengejar-ngejar kepiting itu dan melihat mereka kabur sambil menggali lubang di pasir. Seru sekali,” kata Hakeem. Wah, saya jadi penasaran. Kami turun ke darat bersamaan dengan para bule tadi meninggalkan “pulau” ini. “Nah, pulau ini milik kalian selama 15-2o menit. Oke?” kata Hakeem.

Hakeem, saya, dan “Patrick”.😛

Saya dan istri pun berlarian ke tengah sambil menyerbu ribuan kepiting lumpur yang panik. Suara ribuan kepiting itu agak mengerikan saat dikejar. Tapi lucu sekali rasanya melihat binatang-binatang itu berlarian dan berlomba-lomba menggali lubang untuk bersembunyi. Kecepatan menggalinya itu lho yang hebat!

Beberapa kepiting yang agak lamban menggali tampak menutupi badannya dengan pasir secukupnya, seolah-olah bisa mengelabui kami.🙂 Sebagian kepiting di sini juga bentuknya rada aneh bagi saya yang bukan ahli biologi. Salah satu capitnya lebih besar dari yang satu lagi dan warnanya oranye, sementara badannya sendiri berwarna kekuningan. Hakeem juga menemukan beberapa bintang laut di sini. Hoho…setelah kemarin kami bertemu Nyonya Puff, sekarang malah ketemu Patrick!😀

Puas main-main dan foto-foto narsis di “pulau” seluas setengah lapangan bola itu, kami kembali mendayung kayak. Kembali ke dermaga. Walau saya puas, dua setengah jam main kayak terasa cukup singkat. Rasanya enak betul tinggal di kota kecil yang tenang dan bersih, dan kalau rada bosan tinggal main ke pulau atau pantai yang jaraknya cuma 1-2 jam dari kota.

Ao Thalane, Krabi.

Setelah kami kembali ke dermaga, ada seorang kru dari Sea Kayak Krabi yang memotret kami. Setelah membersihkan diri di pancuran dan makan buah-buahan jatah paket tur setengah hari, si pemotret mendatangi saya dan menyerahkan foto yang tadi, sudah terbungkus soft-frame bertulisan Ao Thalane, Krabi, Thailand.

“Ehm, ini harganya 100 baht,” katanya malu-malu.

“Lho, harus bayar ya?” saya agak kaget.

“Ehm, iya…”

Haduh. Saya cuma ngomel-ngomel sambil keluarin duit senilai Rp 30.000 itu. Kalau nggak bayar nggak enak juga. Tapi saya jadi merasa ditipu walau nilainya cuma seharga makan siang dua orang. Ya sudahlah.

Van Sea Kayak Krabi.

Beberapa menit kemudian, kami melompat ke van yang tadi. Jok penumpang sudah ditutupi plastik. Turis yang baru main kayak pastilah rada basah atau badannya masih dilengketi pasir.

Sampai di hotel hampir jam 12.30. Di dekat lobi ada kamar kecil yang bisa kami pakai untuk sedikit membersihkan diri dan berganti pakaian. Habis itu kami leyeh-leyeh sambil main Internet pakai ponsel dengan wi-fi yang sinyalnya agak lumayan kalau berada di lobi. Hingga jam 13.00, mobil ke Hatyai belum menjemput kami. Terpaksa saya minta tolong si resepsionis untuk menelepon travel agent-nya. “Soon,” katanya.

Lobi hotel JP Mansion.

Sambil menunggu, saya foto-foto dulu hotel ini. Penataan ruangan lobinya beda dibandingkan hotel konvensional. Ada satu bale-bale panjang yang dilengkapi kasur tipis buat tamu untuk leyeh-leyeh. Cocok juga kalau mau panggil Thai massage ke sini.😛 Meja dan kursinya pun terbuat dari kayu. Jadi atmosfernya memang dibikin santai dan natural. Asyik deh pokoknya.

Jam 1 siang lewat sedikit, van kami datang. Sopirnya tampak tidak bisa bahasa Inggris sedikit pun. Sampai repot menjelaskan bahwa kami harus duduk di tengah. Setelah mengucapkan goodbye sama mbak resepsionis yang ramah itu, kami pun berangkat. Van itu kembali dulu ke kantor travel agent untuk mengambil penumpang.

Hujan kembali turun saat kami berangkat. Selamat tinggal, Krabi. Rasanya suatu hari saya harus balik ke sini lagi dan tinggal sedikit lebih lama. Jarang sekali saya bisa merasakan suasana kombinasi kota kecil yang tenang dan bersih plus tempat-tempat turistik dalam radius satu jam dari kota. Apalagi paket-paket tur yang saya ambil itu masih yang standar. Kalau saya masih punya waktu, tentu saya akan mengambil paket-paket lain seperti jungle trekking, kayaking dengan rute yang lebih jauh dan yang pemandangannya lebih cakep, main ke pantai-pantai sepi lain di Krabi, kalau perlu lanjut terus ke Phuket dan pulau-pulau seperti Phi-Phi dan James Bond. Tak apa…saya toh masih ingin kembali ke Thailand suatu hari nanti.

Siang yang berhujan itu, saya memasang earphone ke ponsel, lalu menyetel Mr. Saxobeat-nya Alexandra Stan. Sambil menyandarkan kepala, saya memejamkan mata dan mencoba tidur. Mobil melaju mantap membelah hujan deras. Menuju Hatyai, Thailand selatan, empat jam dari sini.

Selamat tinggal, Krabi.🙂

(Bersambung)

8 thoughts on “Thai Times #6

  1. Dina Begum

    Agak nyesel juga bacanya… soalnya jadi pingin Thai milk tea *hiks*
    Ehm… kepiting sebanyak itu, berasa jadi Kapten Jack Sparrow ga? (Pirates of Carribbean 3)
    Daaannn… semoga kalian beli bantalnya ya…. karena itu nyaman sekali buat slonjoran, sodarah-sodarah

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Ih, itu mirip kayak yg di hotel. Beli di mana n berapa harganya mbak? Btw, Thai milk tea ada tuh yang kalengan di Indomaret. Rasanya sama kok. Harganya Rp 9.900, kalo di Thailand Rp. 6.000. Nah, pilih yg mana?

      Reply
      1. Dina Begum

        Mending Thai tea yang di Thailand doooong #eh.
        Bantal itu belinya di Thailand. Aku malakin kakakku yang kebetulan ke sana. My poor brother menggondol bantal itu ke tanah air, sementara istrinya dibelikan yg tanpa kapuk dengan harapan bisa diisi kapuk di sini.

        Reply
            1. Indradya SP Post author

              Tapi gede gitu mbak😛 Saya gak tega ngebayangin mbak resepsionis yg baik itu dipecat gara2 ada tamu yg gondol kasur😀

              Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s