Bubur Ayam Pak Ukar

Minggu pagi, kemarin, saya dan istri menuju kawasan Buah Batu. Saat itu kami sedang sibuk keluar-masuk gang, mencari tukang bubur ayam favorit kami. Terakhir kali kami ketemu si tukang bubur itu setahun yang lalu. Kok segitunya? Begini ceritanya.

Agustus 2007 sampai Juli 2010, saya masih tinggal di loteng sebuah rumah kontrakan di Jl. Kecubung, di kawasan Buah Batu. Kawasan ini tenang walaupun hanya berjarak 100 meter dari jalan besar (Jl. Buah Batu). Seperti umumnya perumahan, banyak pedagang makanan yang lewat setiap hari di sini. Dan setiap hari akhir pekan, favorit saya adalah bubur ayam Pak Ukar.

Apa istimewanya bubur ayam Pak Ukar? Makanan yang satu ini sepertinya sudah jamak jadi menu sarapan atau jajanan favorit banyak orang. Di Bandung juga banyak sekali warung bubur ayam yang top. Tapi, bagi saya, sejauh ini bubur ayam Pak Ukar belum tertandingi kelezatannya. Untuk mengetahui apakah bubur ayam enak atau tidak, cicipi dulu buburnya saja, tanpa campuran lain-lain, karena bahan-bahan lain sama saja di mana-mana. Kalau dengan mencicipi buburnya saja terasa lezat dan gurih, maka itulah bubur ayam yang lezat.

Bubur ayam Pak Ukar.

Anda tak akan menemukan warung bubur Pak Ukar di mana pun, karena si penjual memang tidak membuka warung. Ia hanya beroperasi dengan gerobaknya di daerah Jl. Mutumanikam hingga Perum Polri di dekat Pizza Hut Buah Batu. Pak Ukar punya empat buah gerobak, yang salah satunya ia bawa sendiri. Usaha ini ia kerjakan sejak tahun 1979, dan sejak beberapa tahun lalu menjadi binaan PT Telkom guna membiayai usahanya ini. Bubur ayam hanya ia sendiri yang memasaknya. “Kira-kira setiap hari jam 12 malam saya masak bubur sendiri. Para pembantu saya tidak ada yang tahu, karena ini adalah resep istimewa yang membuat bubur saya digemari pelanggan,” jelasnya.

Empat orang pembantunya hanya bertugas menyiapkan, memasak, dan memotong bahan-bahan lain seperti ayam, seledri, bawang, ati-rempela, telur, cakwe, dsb. Sekitar pukul 05.30 pagi, beredarlah empat buah gerobak miliknya.

Saat masih tinggal di Jl. Kecubung itulah saya biasanya mengirim SMS ke ponsel Pak Ukar hampir setiap akhir pekan. Kira-kira setengah jam kemudian, bapak asal Garut ini mendentingkan sendok ke mangkuk tanda ia sudah siap di depan rumah saya.

Dengan mengeluarkan Rp 9.000, seporsi bubur ayam lezat komplit dengan telur dan ati-ampela siap disantap. Rasanya memang lezat. Apalagi, khusus untuk saya, ia tak segan menambah porsi bubur, ayam, dan krupuk. Tak tertarik membuka warung sendiri, Pak? “Tidak, lagi pula saya lebih percaya kalau saya sendiri yang mengerjakan. Dan saya juga punya banyak pelanggan setia, seperti Aden ini,” katanya kepada saya.

Selalu dipanggil pelanggan, meski sedang sibuk melayani yang lain.

Memang tak salah ia berkata demikian. Sering kali, ketika sedang meracik bubur pesanan saya, dering telepon dan SMS bertubi-tubi menyelanya. “Maaf ya Den, banyak yang nelepon…” katanya kerap kali. Pak Ukar tak pernah tahu nama saya, sehingga dia selalu memanggil saya “aden” (bahasa Sunda, panggilan sangat sopan yang kira-kira artinya: tuan, juragan).

Suatu kali bahkan ada pelanggan yang tinggal di Jl. Dago meneleponnya untuk janjian bertemu di suatu tempat, sebelum si pelanggan berangkat ke kantor dengan mobilnya. Bahkan kini, setelah saya pindah rumah sekitar 5 kilometer dari bekas kontrakan dulu, beberapa kali saya masih mencari Pak Ukar di sekitar bekas kontrakan saya, kalau tak malas keluar rumah pada Minggu pagi. Dan itulah yang saya lakukan kemarin.

“Yuk, sarapan bubur dulu.”🙂

“Masih ingat saya, Pak?” tegur saya saat menemukan bapak ini di depan sebuah rumah tak jauh dari bekas kontrakan saya.

“Masih, Den,” jawab Pak Ukar sambil tersenyum. Tangan kanannya terangkat ingin menyalami saya.[]

 

 

Catatan: foto-foto di atas adalah gabungan foto beberapa tahun lalu plus Minggu pagi kemarin.🙂

5 thoughts on “Bubur Ayam Pak Ukar

  1. inun

    mas ada bubur ayam yang enak pula..emang saya belom coba bubur ayam nya pak ukar,,,adanya di cicaheum….makan bubur polosnya aja uda enak…cobain deh…masuk ke dalem gang namanya gan irit ada nya di bawah jembatan penyebrangan terminal cicaheum

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s