Jejamuran

Akhirnya nulis soal kuliner lagi, setelah kemarin soal backpacking melulu.🙂 Ceritanya, dua tahun lalu, saya pertama tahu resto Jejamuran di Festival Jajanan Bango, ajang kuliner nasional yang waktu itu kebetulan diadakan di Bandung. Sejak itu saya jadi terobsesi (halah!) dan akhirnya pas long weekend kemarin berhasil sampai ke sini.

Resto ini nggak buka cabang di kota lain. Jadi, mumpung mudik ke Jogja barusan, saya sempatkan sowan ke Jejamuran. Peduli amat semua orang pada pesta kolesterol makan kambing dan sapi, saya udah mantap pengen makan makanan serba jamur!🙂 Jumat sore, setelah pinjam motor om saya, saya dan istri berboncengan menuju resto tersebut.

Lokasinya, kalau dari Terminal Jombor Jl. Magelang, sekitar 4 kilometer ke arah utara. Nyetir aja teruuussss mengikuti jalan utama, sampai Anda frustrasi.🙂 Tiba di perempatan Beran Lor, di Niro, Pendowoharjo, Kab. Sleman, ada papan merah yang menunjukkan lokasi resto. Belok kanan, sekitar 800 meter kemudian ketemu deh resto itu. Kalau sampai nggak ketemu….aduh, makanya pas kecil ikutan Pramuka dong.😛 Jangan tertipu dengan satu restoran yang menjual jamur juga, di pinggir jalan tak jauh sebelum tiba di perempatan tadi.

Interior resto.

Resto Jejamuran ini gede banget luasnya. Sekitar setengah lapangan bola, mungkin. Kami memesan sate jamur, tongseng jamur, sop jamur, jamur bakar pedas, dan tumis jamur lombok ijo. Sebenarnya menu lain masih banyak, tapi nggak mungkin saya pesan semuanya, dong. Sebut saja: rendang jamur, pepes jamur shitake, jamur crispy asam manis, tom yam jamur, gudeg jamur, dadar jamur shitake, lumpia jamur, semur edan jamur, karedok jamur, dan banyak lagi.

Yang kuning itu carica squash🙂

Untuk minumannya, kami memesan carica squash dan jus jambu. Carica (baca: karika) alias pepaya gunung adalah buah yang dibudidayakan di kawasan Dieng, Wonosobo. Berhubung baru tahu buah ini, iseng-iseng saya tanya si pelayan. Lumayan jadi tambah pengetahuan.🙂

Pepaya gunung diperkenalkan ke Indonesia saat menjelang Perang Dunia II oleh pemerintah kolonial Belanda, dan berhasil dikembangkan di Dataran Tinggi Dieng. Sekarang carica menjadi salah satu oleh-oleh khas dari daerah itu. Buah berwarna kuning ini bisa diolah jadi sirup, jus, manisan, dan selai. Rasa buahnya top banget. Manis, segar, dan entah bagaimana berasa-rasa “asing”. Minuman yang sangat direkomendasikan kalau mampir ke Jejamuran!

Hajar bleeeh!😛

Harga menu di sini menurut saya sangat baik bagi kesehatan dompet. Rata-rata di kisaran Rp 8.000 – 15.000. Mantap kan? Rasanya juga nyamleng tenan! Apalagi saya suka banget masakan-masakan yang ditumis-tumis, bakar-bakar, goreng-goreng, santan-santan…hahaha! Dan memang rasa masakan di sini mantap, setidaknya menu yang saya pesan.

Kalau makannya sambil merem mungkin saya akan mengira ini rasa daging betulan (misalnya sate). Teksturnya mirip, tapi rasa dan bumbunya sama, walau bahan utamanya tetap jamur. Enaknya sih makan di sini beramai-ramai, bisa pesan mungkin 10 masakan dan tinggal dicicipi satu per satu. Namanya juga masakan lauk, nggak perlu dimakan sampai habis. Cukup beberapa sendok ini, beberapa sendok itu, kalau lauknya masih banyak ya tambah aja nasinya. Lazis!😛

Bermacam jamur hasil budidaya.

Di sini juga ada tempat budidaya bermacam jenis jamur, sehingga pengunjung yang ingin mencoba budidaya jamur bisa langsung bertanya-tanya. Satu lagi, kita juga bisa membeli jamur segar atau olahan buat oleh-oleh camilan berbahan jamur untuk keluarga atau teman. Pokoknya, kalau ke Jogja, harus mampir ke sini!🙂

4 thoughts on “Jejamuran

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s