Bikepacker Nekat

Judul: Bikepacker Nekat: Dari Inggris ke India

Penulis: Danny Bent

Penerbit: Qanita/Mizan

Cetakan I: Oktober 2012

Tebal: 358 + vi halaman

“Berkelana membuatmu terdiam takjub, lalu perlahan mengubahmu menjadi orang yang pandai bercerita.”

~ Ibnu Batutah

Mudah ditebak, kata bikepacker adalah gabungan dari bike (sepeda) dan backpacker. Gampangnya: bikepacker adalah seorang backpacker yang bertualang naik sepeda dari satu negeri ke negeri lain. Tapi, cukup sampai di sini saja kita bicara soal definisi. Buku ini sama sekali tak bermaksud membahas apa itu definisi bikepacker.

Ini adalah memoar Danny Bent, seorang pemuda Inggris yang pada 2009 bertualang naik sepeda dari Inggris ke India untuk menggalang dana amal bagi ActionAid. Sejak kecil, Danny yang hiperaktif sudah dibiasakan bepergian bersama orangtuanya, sehingga ia tak asing lagi dengan apa pun yang berbau petualangan. Saat dewasa dan bekerja, ia mengalami kejenuhan dan pergulatan batin yang biasa dirasakan kaum pekerja kantoran. Danny menulis:

“Dengan sikap bak zombie sejak bangun tidur, menuju kereta, tiba di tempat kerja, dan kemudian pulang lagi, dia merasa menderita dan tenaganya terkuras. Pelariannya adalah sepedanya—dia mengayuh saat hari libur di pegunungan dan tidak memedulikan dunia.” (hal. 6)

Foto-foto berwarna di dalam buku.

Suatu hari, ia mengalami kecelakaan di Pegunungan Alpen. Kejadian itu justru membuka matanya. Ia merasa terlalu sering memikirkan diri sendiri, dan timbullah keinginannya untuk memikirkan orang dan hal lain. Jadilah ia seorang guru di sebuah SD di London. Lucunya, di sekolah itu Danny-lah “anak” yang paling bandel, lebih bandel daripada anak terbandel di sekolah itu malah. :P Cara mengajarnya di luar kebiasaan, namun sanggup membuat murid-murid bersemangat dan suasana lebih hidup. Danny juga lebih suka bergaul di lapangan main, bukan di ruang guru; gemar berlari-lari di koridor dan mengerjai guru-guru lainnya.

Ia berpikir, di zaman ketika elektronik merajai dan memasuki kehidupan anak-anak, mereka butuh seseorang yang berhubungan langsung dengan dunia luar. Saat suatu hari mengajar Geografi, tercetuslah keinginannya pergi ke India, melihat langsung kehidupan dan anak-anak di sana. Ke India…naik sepeda. Sebab, dia sendirilah yang pernah mengajarkan kepada murid-muridnya isu lingkungan hidup: naik pesawat akan menimbulkan polusi karbondioksida melebihi seluruh pembangkit listrik di Cina.

Danny pun memulai perjalanan bersepedanya yang akan menempuh jarak sekitar 15.000 kilometer dari Inggris ke India untuk menggalang dana bagi ActionAid. Dan apa yang ia alami adalah perjalanan yang sangat keras. Bayangkan rasanya menggenjot sepeda sambil terbatuk-batuk di belakang truk-truk besar yang menyemburkan debu dan asap knalpot, lalu menuruni jurang dengan kedalaman ratusan meter dengan tangan terlalu kebas untuk mengerem, otot terkilir, dan sadel sepeda yang robek-robek. Beberapa kali Danny juga nyaris mati karena keracunan makanan dan dehidrasi, atau dikerjai penjaga perbatasan yang galak dan korup. Namun wajahnya yang mirip Wayne Rooney KW 9 beberapa kali berguna juga, misalnya saat terhambat di imigrasi/perbatasan.🙂

Setelah melewati daratan Eropa, Danny bersepeda menembus negara-negara yang terkenal sangar dan berbahaya: negara-negara pecahan Uni Soviet (Ukraina, Uzbekistan, Kyrgyzstan), Rusia, Cina, kemudian menembus Pakistan sebelum akhirnya tiba di jantung India. Orang-orang yang Danny temui sepanjang perjalanan itulah yang mewarnai buku ini. Ia bertemu dengan beraneka jenis orang dengan segala macam sifatnya. Ada yang ramah, yang menawarkan tempat menginap atau sekadar minum teh di gubuk penduduk lokal; ada pula yang usil mendorongnya untuk menari di tengah stadion yang ramai setelah permainan polo lokal yang agak sadis. Pernah pula ia apes terjebak dalam perkelahian di jalanan.

Perjalanan Danny dalam buku yang berjudul asli You’ve Gone Too Far This Time, Sir! ini betulan menjanjikan ketegangan maksimal sekaligus kisah petualangan yang seru, hangat, dan menakjubkan nyaris di setiap halamannya. Kisahnya sangat beraneka warna: kadang serius, kadang datar dan menghasilkan efek lucu yang datang di belakang, kadang pembaca juga mendapatkan secuil kisah sejarah negara yang ia lewati dalam perjalanannya. Kisahnya begitu personal sehingga saya pun ikutan sakit perut saat Danny keracunan makanan, atau ingin muntah saat Danny berkisah tentang toilet umum di Cina dan Ukraina, di mana kotoran manusia bertebaran di mana-mana hingga ke wastafelnya! (hueek!)😛 Saya pernah ke Ukraina, jadi tahu persis betapa mengerikannya toilet umum di sana.🙂

Baca buku seru enaknya sambil makan bebek mercon! :)

Baca buku seru enaknya sambil makan bebek mercon!🙂

Membaca buku ini seperti mendengarkan seorang kawan yang sedang bercerita tentang perjalanan epiknya. Salah satu yang saya suka dari tulisan Danny adalah gaya menulisnya. Kadang ia tampak begitu sinis dan datar. Tapi, entah bagaimana, kalimat yang tadinya saya kira datar-datar itu ternyata punya efek lucunya sendiri, dan sering kali sarkastis. Ibarat makan  jenis sambel yang pedasnya datang belakangan.😛 Misalnya kalimat ini, saat Danny baru memasuki kota perbatasan di Cina:

“Berbagai restoran cepat saji menyediakan mi dan nasi dari panci besar di luar. Satu-satunya yang cepat dari restoran ini adalah seberapa cepat kau pergi ke toilet setelah menyantapnya.” (hal. 188)

Yang doyan jalan-jalan dan bertualang sudah selayaknya membaca buku seru ini.[]

11 thoughts on “Bikepacker Nekat

  1. agus wahyu

    wahhh kayaknya cocok ini jadi bahan bacaan😀
    aku rencana libur natal 2012 pengen sepedahan ke teluk kiluan di lampung😀 tapi dari palembang naik kereta k bandarlampung…baru mulai sepedahan dari sana😀

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Mantaap! Ayo gowes terus….saya sih muter2 kompleks aja, di luar kompleks udah ancur semua jalannya😛

      Reply
  2. zedeen

    pengen bikepacking juga neh mas..saya sepedaan udah sampe betis kayak tukang becak..tapi belum pernah yang kelayapan kayak gitu..kapan2 harus nyoba neh

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Ya emang harus nyoba, om….kalo nggak naik sepeda ya cukup naik pesawat pake tiket promo🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s