Marshrutka, “Angkot”nya Ukraina

Ini dia tampang marshrutka di Dnipropetrovsk.

Ini dia tampang marshrutka di Dnipropetrovsk.

Pemirsa, hampir enam bulan tinggal di Ukraina pada 2008, saya cukup akrab dengan transportasi publik di negara pecahan Uni Soviet itu. Nah, yang mau saya ceritain di sini adalah tentang marshrutka. Susah ya nyebutnya? Hehehe…

Jangan bayangkan transportasi publik di Ukraina sangat modern seperti di Eropa Barat atau Asia Timur. Di beberapa kota, selain trem butut, kereta subway yang jalurnya pendek, dan trolley bus yang tampak nyaris rontok, warga Ukraina akrab dengan yang namanya marshrutka—semacam angkot kalau di negara kita. Kendaraan umum ini mudah ditemukan di negara-negara bekas Soviet, Eropa Timur, serta beberapa negara Asia Tengah dan Barat.

Hampir semua marshrutka di Dnipropetrovsk, kota tempat saya tinggal dulu, menggunakan mobil van Mercedes-Benz Sprinter. Bentuknya? Ya itu, kayak foto di atas.🙂 Di kota lain di Ukraina, atau di negara-negara lainnya, merek Sprinter tak selalu dipakai. Di Kiev, ibu kota Ukraina, bahkan bus yang lebih besar ukurannya daripada di Dnipro ini banyak juga yang disebut marshrutka.

Interior marshrutka.

Interior marshrutka.

Untuk menyetopnya, cukup lambaikan tangan—di mana saja, asal jangan di dekat lampu merah. Saat naik, langsung bayar ongkos ke sopirnya, jauh-dekat tarifnya sama. Nggak ada kondektur di “angkot” ini. Untuk turun, tinggal teriak saja, “остановиться, пожалуйста!” Baca: Ostanovitsya, pazhaluista (terjemahan bebasnya: Stop di sini, Bang!). Dulu saya harus belajar mengucapkan dan menghafal kata-kata itu sebelum akhirnya berani naik marshrutka sendirian. Naik dan turun boleh di mana saja, tak perlu di halte (yang juga jarang ada di Ukraina). Nah, mirip angkot, kan?😛

Hampir sama seperti angkot atau bus kota di Indonesia, di kaca depan marshrutka ada kertas bertulisan nomor bus, rute, dan juga tarifnya. Ongkosnya murah kok, kalau hanya dalam kota sih paling mahal UAH 2 atau sekitar Rp 4.000 (UAH = hryvnia, mata uang Ukraina, USD 1 = UAH 5 waktu itu). Di Dnipropetrovsk, marshrutka tak pernah ngetem, KECUALI saat berada di “terminal” keberangkatan dan tujuan. tapi ada juga beberapa rute yang memang sudah “terjadwal” ngetem di satu lokasi, biasanya tempat yang ramai, seperti alun-alun, stasiun kereta, atau terminal bus besar. Kadang-kadang, sopir suka menyetel radio atau lagu-lagu pop Ukraina yang cukup asyik buat goyang.

Kursi penumpang dalam mobil ini ada 12-14 buah. Saat musim dingin, naik marshrutka cukup nyaman karena ada penghangat (heater), apalagi kalau penuh, serasa berada di oven. Sebaliknya, di musim panas AC juga mengembus sejuk. Kalau mobil penuh dan kita terpaksa berdiri di belakang, repot juga pas mau turun. Soalnya, pintunya cuma satu dan ada di depan, sejajar sopir. Kalau kita nggak kebagian kursi dan terpaksa berdiri di dekat pintu, kita juga harus turun sebentar untuk memberi jalan buat penumpang yang akan turun. Saat jam sibuk, misalnya pagi waktu jam kerja, kalau ada marshrutka yang tak mau berhenti ketika kita melambai, itu artinya mobil sudah penuh penumpang.

Naik marshrutka bareng teman-teman :)

Naik marshrutka bareng teman-teman🙂

Ada yang unik soal minibus yang satu ini. Kalau kita naik, sebenarnya bisa langsung duduk dan bayar belakangan. Nah, lucunya, kalau misalnya kita duduk di bangku belakang, kita bisa nitip bayar dengan cara memberi uang ke penumpang di depan kita, dan penumpang itu akan mengoper ke penumpang di depannya, begitu terus hingga duitnya tiba di tangan sopir. Kalau uang kita ada kembaliannya, si sopir akan menyerahkan duit kembalian dengan cara mengoper ke orang di belakangnya. Begitu terus hingga duitnya sampai di kita.😛 Hebatnya, duit itu nggak tiba-tiba lenyap atau berhenti dioper di “tengah jalan”. Hahaha!😀

15 thoughts on “Marshrutka, “Angkot”nya Ukraina

  1. lulu

    Bener-bener mirip angkot di Indonesia ya😀 Tapi penumpang bisa berdiri di dalamnya, ya? Abis, kayaknya rendah. Jadi inget metromini zaman duluuuuu banget, mungkin tahun 80-an. Penumpang yang berdiri ga bisa tegak.🙂

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Kalo saya sih masih bisa berdiri (dgn kepala nunduk), kalo bule jangkung harus membungkuk2…hehehe🙂

      Reply
  2. Dina Begum

    Dulu pas masih ngantor aku sering naik bis 3/4 yang mau pulang, jadi di luar trayeknya. Enggak pake kenek. Seseorang yang berdiri paling dekat dengan sopir bertindak sebagai debt collector dan memberikan ongkos ke sopir. Mungkin sopirnya lulusan Ukraina😉

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s