Balada Ukraina #5

Lenin Square, Dnipropetrovsk.

Lenin Square, Dnipropetrovsk.

Minggu siang, sehari sebelum mulai mengajar besoknya, saya sempat minta tolong ke Nik supaya diantar ke money changer dan ke supermarket buat beli barang kebutuhan sehari-hari. Lokasinya tak jauh dari tempat tinggal saya. Jalan kaki sekitar 500 meter. Perginya sih tak masalah. Pulangnya, sambil menggotong belanjaan, saya harus berjalan kaki mendaki bukit. Di tengah udara beku di bawah nol sekalipun, kalau begini caranya, saya masih bisa berkeringat.🙂

Sorenya, cewek keren baik hati bernama Julia, buddy lain selain Nik (buddy adalah istilah untuk orang-orang yang bertanggung jawab atas keseharian trainee), juga mampir ke apartemen saya. Sebenarnya nama asli cewek ini Yulia, tapi rupanya ada beberapa orang Ukraina yang kadang ingin dipanggil dengan nama “versi Inggrisnya”, terutama saat bertemu orang asing. Misalnya, Yulia jadi Julia, Nikolai jadi Nicholas, Mikhail jadi Michael, dan seterusnya. “Namaku Julia, tapi aku lahir bulan Mei, bukan Juli,” kata gadis 20 tahun ini.

Julia kuliah di Dnipropetrovsk National University, jurusan Sastra Inggris, tapi banyak salah grammar di kata-katanya (beginilah kalau jadi guru bahasa Inggris, masih sempat mengoreksi…hehehe!). Dia tinggal di pinggiran kota Dnipro bersama orangtuanya, tapi kadang-kadang dia pindah ke tengah kota supaya lebih dekat dengan kampus. Kadang Julia tinggal di apartemen neneknya, tapi dia juga sedang berencana menyewa apartemen bersama pacarnya.

Setelah ngobrol-ngobrol beberapa lama, Julia saya kasih buku resep masakan Indonesia (dalam bahasa Inggris) dan dia girang banget. Kami pun janjian untuk kapan-kapan bikin pisang goreng bareng.😛 Habis itu, cewek berambut cokelat panjang ini mengajak saya jalan-jalan sore ke Lenin Square alias Alun-alun Lenin. Ternyata apartemen saya tak jauh dari alun-alun, hanya 1,5 kilometer. Pusat kota di Dnipro ini dikelilingi gedung-gedung kotak berwarna kelabu. Ada Europe Shopping Center dengan kafe-kafe outdoor, warung kebab, restoran, dan lapangan luas berubin. Tak jauh dari situ, ada sebuah patung besar Lenin yang sedang menatap resto McDonald’s.😛 Warga kota tampaknya biasa berkumpul di sini untuk nongkrong dan bikin janji bertemu teman-teman. Bahkan di musim dingin begini, kalau sore hari masih banyak orang yang berkumpul di situ.

Di tengah jalan, Julia mengajak saya beli teh panas di sebuah kios kaki-lima. Mantap sekali minum teh panas sambil jalan-jalan sama cewek cakep di tengah udara beku sore itu. Saya sempat merenung, mengherankan juga bahwa negara-negara bersuhu dingin seperti ini tak mengenal makanan-makanan pedas seperti di Asia. Saya membayangkan, betapa asyiknya makan oseng-oseng mercon di musim dingin begini!😛

***

Tiap hari jalan kaki naik-turun bukit ini.

Senin pagi. Hari kerja pertama. Saya sudah diberitahu cara menuju sekolah naik trem. Setelah semalaman kedinginan di tempat tidur, pagi ini ingin saya balas dengan mandi air panas sepuasnya. Pemanas ruangan (heater) di kamar saya entah bekerja baik atau tidak, tapi yang jelas semalaman saya tetap bisa tidur nyenyak walau harus memakai sweater dan celana panjang training—plus dua selimut tebal. Maklum, suhu di luar sering naik-turun di kisaran -2 sampai -10°C! Saya selalu bisa mengecek suhu hari itu, karena setiap stasiun TV di sini selalu mencantumkan suhu udara di pojok layar.

Setelah mandi air panas dan berpakaian empat lapis plus topi kupluk tebal dari katun, saya turun dan keluar dari hotel. Udara beku segera menyergap tubuh. Saya juga menggotong satu set angklung buat modal “menaklukkan” anak-anak di sekolah. Ini hari pertama, paling hanya untuk perkenalan. Jadi saya harus bisa mencuri perhatian mereka. Saat itu sekitar jam 8 pagi. Jam mengajar saya dimulai jam 9. Saya hanya perlu jalan kaki ke halte trem yang berjarak 200 meter dari apartemen dan naik trem no. 1.

Jam berangkat kerja pagi-pagi begini ternyata sama saja di kota mana pun. Walau tingkat kemacetan tak parah, saya terpaksa harus melewatkan 1-2 trem karena sudah sangat penuh. Ketika akhirnya berhasil naik pun, trem itu sudah sangat sesak. Dalam kesempitan itu, saya mengamati bahwa beberapa orang pura-pura tidak melihat ketika kondektur (yang selalu perempuan) menagih ongkos. Sebenarnya ongkos trem tidak mahal, jauh dekat cuma 75 kopeck (sen), namun setiap kali saya naik trem ada saja penumpang yang nakal, pura-pura sudah bayar. Mata uang di Ukraina adalah hryvnia (Ukraine Hryvnia = UAH). Nilai USD 1 pada 2008 kurang-lebih UAH 5. Sementara UAH 1 = 100 kopeck (sen dalam mata uang Ukraina).

Setelah membayar, kondektur selalu memberi secarik tiket kepada penumpang. Trem pun bergerak lamban, naik dan turun. Kontur kota Dnipro memang berbukit. Jarak sekolah European Gymnasium (EG) dari apartemen saya sebenarnya tak jauh-jauh amat. Sekitar  4 kilometer saja. Namun kini saya belajar bahwa kalau pagi lebih baik berangkat 1 jam sebelumnya. Bukan karena jalanan macet, tapi lebih karena risiko transportasi umum penuh.

Marshrutka sedang beraksi.

Marshrutka sedang beraksi.

Sebenarnya sih ada transportasi lain selain trem, yaitu marshrutka. Ini semacam angkot kalau di negara kita. Semua marshrutka menggunakan mobil van Mercedes Sprinter. Untuk menyetopnya, cukup lambaikan tangan. Saat naik, langsung bayar ongkos ke sopirnya, jauh-dekat tarifnya sama. Untuk turun, tinggal teriak saja, “Ostanovite, pazhaluista!” (terjemahan bebasnya: Stop di sini, Bang!). Naik dan turun boleh di mana saja, tak perlu di halte (yang juga jarang ada di Ukraina). Nah, mirip angkot, kan?😛

Saat musim dingin, naik marshrutka cukup nyaman karena ada penghangat (heater), tapi kalau mobil penuh dan terpaksa berdiri di belakang, ya repot juga pas mau turun. Soalnya, pintunya cuma satu dan ada di depan, sejejer sopir. Saya tidak hafal nomor rute marshrutka yang lewat dekat sekolah saya, jadi trem adalah pilihan terbaik. Lebih murah pula. Belakangan, saya memerhatikan sesuatu yang menarik saat naik minibus ini. Kalau kita naik, sebenarnya bisa langsung duduk dan bayar belakangan. Nah, lucunya, kalau misalnya kita duduk di bangku belakang, kita bisa nitip bayar dengan cara memberi uang ke penumpang di depan kita, dan penumpang itu akan mengoper terus ke depan hingga duitnya tiba di tangan sopir. Kalau uang kita ada kembaliannya, si sopir akan menyerahkan duit kembalian dengan cara mengoper ke orang di belakangnya. Begitu terus hingga duitnya sampai di kita.😛 Hebatnya, duit itu nggak tiba-tiba lenyap atau berhenti dioper di “tengah jalan”. Hahaha!😀

Di Dnipropetrovsk sebenarnya juga ada metro subway, tapi rutenya hanya ada di bagian selatan kota, satu jalur, dan hanya melayani 6 stasiun! Konon ini adalah rute subway terpendek sedunia, dengan panjang rel hanya 7,1 kilometer!😛 Kata Nik, proyek kereta subway itu dihentikan karena pemerintah kekurangan dana. Selain ketiga alat transportasi di atas, tentunya ada juga bus kota yang di sini disebut trolley bus. Bus ini berjalan menggunakan listrik yang menyambung dengan bentangan kabel listrik yang malang-melintang di sepanjang jalan. Saya nggak pernah naik bus ini. Kalau pagi, padatnya sama mengerikannya dengan Metro Mini di Jakarta. Sudah begitu, bus-busnya tampak sudah sangat tua dan berkarat, sehingga pikir saya bisa ambruk sewaktu-waktu.

Turun di halte terdekat dari sekolah, saya kemudian berjalan kaki sekitar 200 meter. Gedung sekolah berada di tengah perumahan yang agak elit. Jalan yang menuju ke sekolah dari halte trem hampir selalu sepi, dan saya juga jarang berpapasan dengan murid, karena tampaknya semua murid diantar orangtuanya naik mobil. Maklum, ini sekolah swasta elit. Muridnya adalah anak-anak orang kaya kota ini. Pemandangan di sekitar juga nyaris monoton: bangunan-bangunan berwarna kelabu dan pohon-pohon yang sebagian besar daunnya sudah rontok dihajar musim dingin.

Saat itu baru jam 08.30 pagi. Murid yang datang baru beberapa. Gedung sekolah EG ini bertingkat empat. Lantai paling bawah dihuni anak-anak TK dan meja satpam sekolah. Lantai 1 sampai tiga dihuni anak-anak kelas 1 sampai 11. Di lantai 4 ada ruang kepala sekolah, ruang audio-visual, satu ruang kelas, dan ruang tidur anak-anak TK.

Hari pertama itu, oleh Oleg, saya diperkenalkan kepada staf guru, kepala sekolah, dan para satpam yang tampangnya dingin dan berbadan kekar. Terus terang saya tak bisa langsung hafal nama-nama mereka. Lagi pula, hampir semua dari mereka tidak bisa berbahasa Inggris. Selain Oleg, hanya ada satu guru bahasa Inggris lagi bernama Tanya yang mengajar anak-anak SD (kelas 1-3). Setelah berkenalan dengan dengan para guru, hari itu saya dijadwalkan “mengajar” di setiap kelas dengan ditemani Oleg. Berhubung masih hari pertama, kerjaan saya cuma memperkenalkan diri.

Presentasi saya sederhana, cuma cuap-cuap memperkenalkan diri, bicara sedikit tentang Indonesia, bikin kuis berhadiah bendera merah putih, angklung, dan suvenir berupa kartu pos dan dompet koin kecil motif batik. Hampir semua murid tampak antusias. Ini awal yang bagus buat saya untuk menumbuhkan rasa percaya diri. Latar belakang saya bukan guru. Pengalaman mengajar yang saya punya juga bukan mengajar sekolah umum, tapi mengajarkan bahasa Indonesia untuk orang asing. Untunglah tugas utama saya adalah mengisi kelas-kelas percakapan (conversation class), jadi nggak pusing-pusing amat sepertinya.

Di sekolah ini, ada dua kali jadwal makan, jam 10.30 dan makan siang jam 13.00. Saya sendiri bebas mau makan jam berapa, asal sedang jam kosong. Ibu kepala kantin, yang sudah diperkenalkan kepada saya, cuma bisa ngomong beberapa kata bahasa Inggris, sementara empat anak buahnya tidak bisa bahasa Inggris sama sekali. Oleg juga mewanti-wanti ke ibu itu bahwa saya tidak makan babi dan ikan.😛 Tidak semua kelas bisa saya hadiri hari itu. Sorenya, Oleg memberikan saya jadwal mengajar selama dua minggu ke depan.

“Kenapa cuma untuk dua minggu?” tanya saya.

“Di sini jadwal pelajaran kadang berganti-ganti. Kau harus siap, nanti juga tahu sendiri,” jawab Oleg tersenyum. Dia kemudian juga menjelaskan bahwa gaji saya akan dibayar tunai setiap akhir bulan dan dalam mata uang Ukraina, senilai kurs USD yang sedang berlaku.

Moct City Center, mal di pusat kota Dnipro.

Moct City Center, mal di pusat kota Dnipro.

Hari itu jam mengajar saya selesai jam 4 sore. Saya naik trem menuju pusat kota, janjian sama Nik sore itu di Lenin Square, yang terletak di Karla Marksa Prospekt alias Jl. Karl Marx. Dia mengajak saya jalan-jalan di sekitar situ, sambil menunggu teman-teman lain datang. Sore itu suhu udara semakin dingin. Sekitar -5°C. Nik pun mengajak saya ngopi-ngopi sambil makan roti di Moct (baca: most), mal paling besar di Dnipro. Tentu saja alasannya karena dingin, bukan karena nggak ada tempat nongkrong lain di kota ini.

“Bagaimana hari ini di sekolah?” tanya Nik.

“Asyik, sekolahnya bagus. Anak-anaknya juga kayaknya baik-baik!”

Nik kuliah di National Mining University of Ukraine, Fakultas Ekonomi, tingkat akhir. Dia juga sempat magang di beberapa perusahaan besar, salah satunya P&G. Menjelang kuliahnya rampung itu, dan berkat hasil kerja magangnya, Nik punya cukup uang saku untuk tinggal terpisah dari orangtuanya. Mungkin juga supaya bisa kumpul kebo bareng pacarnya yang sempat ketemu saya waktu tiba di Dnipro beberapa hari lalu. Anak satu ini selalu tampak sibuk dan membawa laptop ke mana-mana. Julia menelepon saya, mengatakan dia batal datang karena ada urusan lain. Nastya juga cuma mampir sebentar. Ngopi secangkir, lalu bergegas kabur dengan sedan birunya. “I’ll call you tomorrow!” kata Nastya sebelum pergi, sambil cipika-cipiki ke kami.🙂

Puas kongkow-kongkow, Nik mengantar saya hingga ke sebuah perempatan, lalu menunjuk ke sebuah arah di kiri. “Kau jalan teruuuss ke sana, sampai mentok,” katanya memberitahu arah apartemen saya. Sekitar jam 8 malam, barulah saya tiba di apartemen. Berkeringat. Ini karena jalan kaki dari alun-alun dan menanjak bukit sampai ke puncak Lenina Street, ditambah naik tangga 3 lantai ke kamar saya. Cukup bikin ngos-ngosan untuk orang yang jarang jalan kaki di negaranya.🙂

Hari ini cukup oke. Tapi ini baru hari pertama dari enam bulan masa tinggal di sini. Tantangannya masih banyak. Kapan-kapan saya lanjutin ceritanya ya….🙂 []

12 thoughts on “Balada Ukraina #5

  1. dewi

    Kisah yg inspiratif kak. Senang bisa dapat informasi ttg pengalaman GIP Aiesec, jarang2 adaa yg memposting pengalamannya seperti mas Indra. Kmrn aku sudah dapat pengalaman GCDP Aiesec di Poland selama 2 bln. Rencana skrg ingin ikut GIP Aiesec (baru lulus kuliah) tp msh ngumpulin dana buat “modal awal”. Great story anyway!😉

    Reply
  2. David gebie

    Mas masih diukraina,saya rencana mau kesana.kebetulan saya ikud program acara anastasia date itu cweknya dari ukraina.tolong diberitahukan informasi itu benar atau tidak mas.makasih,

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s