Balada Ukraina #8

Sebuah bangunan tua yang terbengkalai.

Sebuah bangunan tua yang terbengkalai.

Waktu kecil, seperti banyak anak Indonesia lain, saya sering dicecoki cerita-cerita tentang hantu atau setan dengan berbagai jenisnya: wewe gombel, genderuwo, pocong, kuntilanak, tuyul, dan bahkan alien dari planet lain. Yang mencecoki bisa teman-teman, bisa juga orang-orang tua. Atau kadang acara-acara horor di radio setiap malam Jumat. Magrib adalah waktunya para orangtua memanggil anak-anaknya yang masih asyik bermain. “Sudah magrib! Pulang, pulang! Nanti ada setan lewat,” ibu saya sering berkata begitu, saat saya sibuk bermain benteng atau petak umpet di jalanan depan rumah. Tentu saja saya pulang, karena teman-teman juga langsung kabur ke rumah masing-masing.

Kompleks rumah saya dulu memang mendadak sepi saat magrib tiba. Pernah, waktu SD, saya les matematika di rumah seorang bapak yang entah dari mana ibu saya menemukannya. Rumah bapak itu di kampung sebelah kompleks saya. Lesnya mulai setiap jam 19.30-21.00. Jalan ke sana sangat gelap. Kampungnya juga dilingkari pepohonan besar dan tinggi, ditambah pekuburan tak jauh dari situ. Semua cerita horor itu berubah menjadi ketakutan tak beralasan. Jalanan sepi, gelap, dan setan-setan pun berkelebat di otak. Sesekali saya mempercepat langkah atau lari sekalian. Sampai di rumah si bapak, bukannya langsung mengajar, dia malah mengajak saya minum teh dan ngemil, sambil bercerita ini-itu. Termasuk cerita-cerita seram. Entah apa maksud si bapak dengan mengobral cerita horor itu. Kadang-kadang les itu sendiri cuma berlangsung setengah jam.

Beberapa abad kemudian, di Dnipropetrovsk, saya sering pulang malam dan melewati jalanan gelap dan seram. Lucunya, saya tak merasa takut sedikit pun. Dalam pikiran saya, kalaupun ada setan lewat, saya dan setan itu pasti sama-sama merasa asing dan bingung. Bahasa berbeda, bentuknya pun pasti berbeda dengan setan-setan di Tanah Air yang jauh lebih banyak variasinya. Dan, pikir saya, mana mungkin wewe gombel dan kawan-kawannya usil mengejar saya sampai ke Ukraina? Apa mereka nggak takut diajak berantem sama hantu-hantu lokal sini?😀

Sebenarnya, hantu di Ukraina standar sekali: hanya arwah orang yang sudah mati, banyak juga biasanya hantu tentara yang tewas pada Perang Dunia II. Bergentayangan di puri-puri tua atau bangunan-bangunan terbengkalai. Itu kalau kau percaya hantu. Ini saya dapat dari cerita teman-teman saya. Banyak di antara mereka bahkan bingung kalau ditanya soal cerita hantu. “Apa, ya? Aku sendiri tak memikirkan hal-hal itu,” kata Sveta, mahasiswi Ekonomi di Dnipropetrovsk National University.

Suatu sore sepulang mengajar, Sveta menelepon saya. Aksen bahasa Inggris Sveta bagus dan jelas. Gadis 17 tahun ini nyambi mengajar bahasa Inggris di sebuah tempat kursus bahasa. Sore itu dia menjemput saya di apartemen. Sveta minta tolong kepada saya untuk mengisi kelas percakapan di tempatnya mengajar, karena ada rekannya yang berhalangan datang. Kami berjalan melewati jalanan yang sepi. Langit mendung seperti biasa. Tumpukan salju masih terlihat di beberapa tempat. Pepohonan hanya memamerkan sedikit daun-daun hijaunya, menandakan musim semi hampir tiba. Sepanjang jalan, ada satu-dua bangunan terbengkalai dan tampak pas sekali jadi latar film horor.

Lokasi tempat kursus itu berada di lantai dua gedung Dnipropetrovsk Technical University. Sveta memperkenalkan saya kepada manajer Global English, nama tempat kursus itu. Nina, nama perempuan muda itu. Setelah briefing sebentar, Nina menggiring saya masuk ke sebuah kelas berisi 10 orang. Saya suka momen itu—ketika orang-orang Ukraina terperangah melihat orang asing berkulit cokelat. Tapi penerimaan mereka cukup baik. Hampir semuanya tampak antusias, apalagi saat saya memperlihatkan puluhan kartu pos bergambar alam Indonesia. Mereka langsung riuh dan berdecak kagum.

Pertemuan pertama dalam sebuah kelas percakapan menurut saya hampir selalu mudah. Saya sebagai orang asing memperkenalkan diri, dan menit-menit berikutnya percakapan berlangsung penuh antusiasme. Kelas tersebut jadi mengasyikkan karena para murid, yang semuanya anak SMA atau mahasiswa, berlomba-lomba ingin bicara. Salah satu murid bahkan punya teman di EG, sekolah tempat saya mengajar.

Satu jam terasa sebentar. Padahal saya suka dengan murid-murid di kelas itu. “Terima kasih, ya,” kata Nina di ruangan guru usai saya mengajar. Malam itu saya dibayar 80 hryvnia (sekitar $ 16) untuk satu jam mengajar. Lumayan lah buat jajan satu-dua minggu.🙂 Itu juga saya rada asal-asalan menyebut angka. Waktu berangkat dari apartemen saya tadi sore, Sveta sudah memberitahu saya kisaran angkanya.

Sveta sudah selesai mengajar dan kami pun pulang berjalan kaki. Sebenarnya arah pulang kami masing-masing berlawanan, tapi Sveta memaksa menemani…dan saya jelas nggak keberatan sama sekali. 

Si imut Sveta.

Si imut Sveta.

Berjalan kaki sambil ngobrol sudah saya rasakan sebagai kenikmatan tersendiri di kota ini. Entah itu siang, sore, apalagi malam. Hawa yang dingin, trotoar yang sepi, dan gadis pirang yang cantik…kenapa tidak?😛 Sveta kuliah di Dnipropetrovsk dan numpang tinggal di rumah neneknya, walau orangtuanya masih tinggal di sekitaran Dnipropetrovsk Oblast (Oblast = provinsi). Dia baru kuliah dua semester, dan mengisi waktu luangnya dengan mengajar bahasa Inggris dan mencoba aktif di AIESEC.

“Kau mau mengajar lagi di Global kapan-kapan? Nina senang kalau sesekali ada orang asing mengisi kelas di sana,” kata Sveta.

Saya jelas menyambut gembira kesempatan itu. Tambahan uang saku selalu menyenangkan, bukan? “Mau dong! Kalau ada kesempatan lagi, kasih tahu ya!” Lagipula, malam hari toh saya tak punya banyak kesibukan. Dan saya tak melanggar peraturan dengan bekerja di luar jam sekolah. Mengajar di tempat kursus suasananya terasa beda dibandingkan dengan sekolah swasta.

Saya merasa, di tempat kursus, murid-muridnya lebih apresiatif. Mungkin ada hubungannya dengan tingkat ekonomi para muridnya. Di EG, orangtua murid harus membayar $6000 per tahun untuk uang sekolah. Di sana, mereka cenderung merasa bebas bertingkah seenaknya—atau mungkin hanya kepada saya. Di tempat kursus, para murid datang dari kelas sosial yang lebih rendah. Mendapati orang asing di kelas mereka sebagai sparing partner untuk bicara bahasa Inggris, tentu mereka lebih termotivasi. Jarang-jarang mereka mendapat kesempatan ngobrol dengan orang asing menggunakan bahasa Inggris. Sementara murid-murid di EG mendapatkan kualitas kelas satu. Berlibur pun mereka terbiasa di luar negeri.

Di sebuah persimpangan, saya dan Sveta berpisah. Tentunya setelah cipika-cipiki dulu, dong. Saya jalan lurus dan dia belok kanan. 

Berjalan kaki melewati jalanan-jalanan yang gelap dan sepi, saya hanya takut berpapasan dengan pemabuk yang minta duit buat beli minuman keras, bukan takut setan atau hantu asing. Dan itulah yang terjadi di dekat apartemen saya. Malam itu dingin seperti biasa. Beberapa burung gagak hitam yang berkaok-kaok di pepohonan tak berdaun menambah seram suasana. Saat itu bahkan belum jam 9 malam. Tapi mobil pun sudah jarang yang lewat.

“Hei! Kau! Punya lima hryvnia?” tiba-tiba suara berat seorang pria mengagetkan saya saat sedang berjalan sambil melamun di Jl. Lenin. Gara-gara teriakannya itu pula, seekor gagak terbang pergi dan berkaok keras. Sosok pria itu hanya terlihat sebagian, tersembunyi di sebuah gang kecil di samping sebuah bangunan berlampu neon biru di bagian depan. Kata Nik dulu, itu bar striptease.

Net! Tidak!” jawab saya sambil mempercepat langkah.

Pria itu menyeberang jalan. Tinggi kurus, rambut agak panjang dan acak-acakan. Terhuyung-huyung. Satu tangannya mencekik botol. Walah, alamat bakal dipalak nih! Saya langsung kabur. Gedung apartemen tinggal 100 meter lagi.

“Eh, tunggu!” teriak pria itu. Saya sudah tak peduli lagi. Hari ini sudah cukup melelahkan tanpa harus diganggu seorang pemabuk. Lari! Dan seperti biasa, saya berkeringat dan terengah-engah saat tiba di kamar di lantai tiga. Diganggu pemabuk lebih menyeramkan daripada setan-setan di masa kecil. []

6 thoughts on “Balada Ukraina #8

  1. Windu Darlina Cantik

    Aku pikir mau cerita setan setan yang ada di ukraina namanya apa saja, aku tungguin ampe abis ternyata setannya pemabuk doang yak xixixixixixi

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Menggantung? Kayak kasus korupsi aja🙂 Bacanya: ni-pro-pe-trovsk🙂 Tiga konsonan terakhir harus bunyi semuanya…hehehe….

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s