“Diwawancara”

meja

Meja kerja editor yang selalu berantakan.

Berawal dari obrolan-obrolan random yang kadang nggak jelas dengan Rini Nurul Badariah—seorang penerjemah/editor lepas, akhirnya “wawancara” tentang pekerjaan kami berdua itu dimuat di blognya. Silakan menikmati.🙂

Indradya SP: Penerjemah dan Editor Lepas Sebaiknya Punya Blog

Apr 1, 2013 by Rini Nurul

Kendati paham menyungainya tugas editor in house, tak ayal saya bertanya-tanya mengapa mereka yang punya blog sangat jarang menulis tentang hal-hal berbau pekerjaan. Indradya, editor Mizan Pustaka yang kini identik dengan buku traveling karena blognya dan beberapa buku yang ia sunting (Geography of Bliss dan Bikepacker Nekat di antaranya) sama saja. Ketika saya minta menulis barang sedikit tentang penerjemahan dan penyuntingan, katanya seperti disuruh lari 10 kali keliling Bangkok. Untunglah Indra bisa saya “ganggu” dengan tanya ini-itu alias wawancara santai, dengan banyak ngalor-ngidul di awalnya.

Berikut obrolan tempo hari:

R: Sebelum jadi editor in house, gimana bayangan Indra mengenai tugasnya? Apakah kenyataannya sekarang mirip, atau jauh berbeda?

I: Sebelum jadi editor in house, saya malah jadi guru bahasa inggris. tapi saya sudah cukup banyak tahu seperti apa detail pekerjaan seorang editor. Modal untuk tahu soal itu cuma dengan browsing dan blogwalking. Ditambah minat, tentu saja. Setelah jadi editor di sini selama 4 tahun, tugas editor tak jauh berbeda dengan bayangan saya. Aslinya sih saya memang ingin jadi editor.

R: Kabarnya penerjemah bisa ketahuan lebih bagus di nonfiksi atau fiksi. Adakah kriterianya?

I: Ciri paling gampang bisa dilihat dari apa minat bacanya. Kalau bacanya hampir selalu buku fiksi, ya kemungkinan besar di situ kemampuan dan pengetahuannya. Saya sendiri membaca banyak tema, baik fiksi maupun nonfiksi. Imbasnya, buku yang saya edit juga beragam temanya. Sejauh ini saya sangat menikmati kok.

R: Jadi Indra sekarang menangani nonfiksi saja atau fiksi juga?

I: Saya sekarang lebih banyak diberi jatah buku nonfiksi. Persentasenya kira2 65% nonfiksi dan 35% fiksi.

R: Apakah pernah menangani buku yang dirasa kurang cocok?

I: Editor in chief kan udah tau genre ini cocoknya buat editor A atau B, sudah terpetakan di sini. Kalaupun saya ngerasa nggak sanggup, boleh nolak kok… atau cari editor freelance yang pas untuk naskah tersebut.

R: Bagaimana cara Indra sendiri menentukan penerjemah yang cocok untuk naskah tertentu?

I: Diliat track record juga, plus ngobrol-ngobrol dulu. Buku ini temanya begini-begitu, sanggup/mau nggak?

Kalau dari pengalaman, penerjemah yang merasa tidak sanggup atau tidak berminat pasti menolak. “Wah, saya mendingan buku bisnis/manajemen aja Mas.”

Untuk penerjemah/editor freelance baru, dalam artian yang belum pernah bekerja sama dengan penerbit saya, ya tentunya dilihat CV-nya, dites dulu, plus ngobrol dan dilacak hal-hal lainnya, misalnya blog atau buku-buku yang pernah dia terjemahkan di penerbit lain. Makanya, penerjemah/editor freelance perlu banget punya blog. Apalagi kalau si editor/penerjemah lepas ini juga bisa nulis bagus, makin tinggilah skornya. Makin besar kesempatan buat dicolek sama penerbit.

R: kalau memang biasa garap berbeda-beda genre/tema, gimana cara beralih dengan mulus waktu nerjemahin/ngedit?

I: Awalnya baca bismillah dulu, abis itu skimming dan scanning. Dengan beban pekerjaan seperti ini, begitu satu naskah sudah masuk percetakan, lupakan yang sudah lewat dan langsung hajar yang berikutnya.

R: Bisa otomatis melupakan gitu aja?

I: Lama-lama ya biasa. Kalo buku yg sudah dicetak ada masalah, memori itu akan kembali, karena jeda waktunya juga tidak lama.

R: Apa asyiknya industri perbukuan buat Indra?

I: bisa terus belajar skill editing dan penerjemahan, sama nulis. Ini masih ditambah kesempatan belajar memburu penulis potensial yang belum “digosok”. Kalo ada kesempatan mungkin saya mau aja belajar cara mencetak buku di percetakan.

R: Banyak yang bilang editor buku kerjanya berat, tapi pendapatannya tidak besar. Menurut Indra gimana?

I: Ada beberapa pekerjaan yg menurut saya menuntut dedikasi. Beberapa di antaranya: wartawan dan editor buku. Soal pendapatan itu kan relatif banget. Tentu jangan dibandingkan dengan kerja di perusahaan minyak global. Dalam kasus saya, pekerjaan sebagai editor buku itu secara penghasilan dan kepuasan batin baik2 aja tuh. Dalam pekerjaan ini, setiap buku yang digarap selalu punya cerita yang berbeda. Tantangannya juga selalu berbeda. Ketika melihat buku keluar dari percetakan dengan tampilan keren, saat mengetahui buku yang saya garap jadi bestseller, atau berhasil membimbing seseorang yang berpotensi yang belum menulis hingga dia selesai menulis, kepuasan semacam ini sulit dilukiskan.

Khusus editor buku, ini jenis profesi yang menuntut kecintaan. Anda bisa jadi staf keuangan atau administrasi di semua perusahaan. Tapi editor buku hanya bisa bekerja di penerbit buku, termasuk editor freelance yang bersimbiosis mutualisme dengan penerbit. Yaa paling banter masih bisa kerja di surat kabar atau ngajar bahasa deh. Kecuali orang tersebut memang punya keahlian lain di luar yang saya sebutkan itu.

Kalau saya, sejak dari mahasiswa sudah mencoba menjelajahi berbagai profesi yang berhubungan dengan bahasa. Wartawan, guru bahasa Indonesia untuk orang asing, guru bahasa Inggris, dan sekarang editor buku. Saya lebih menikmati yang terakhir ini.

Catatan: Indra menempuh studinya di jurusan Sastra Prancis UGM.

R: Editor in house kadang mendapat tugas menerjemahkan untuk kantornya, adakalanya bersama editor lain. Adakah kiat menerjemahkan atau mengedit keroyokan?

I: Memang agak merepotkan ya. Menerjemahkan keroyokan itu biasanya kan karena penerbit ingin buru-buru menerbitkan sebuah buku terjemahan demi mengejar momentum. Yang pasti, sering-sering komunikasi sama rekan lain. Dari awal pastikan aja beberapa hal yang perlu. Misal lagi mo ngerjain novel, pastikan mau pake kata ganti apa, mau kalimatnya seluwes apa, berapa halaman yang dikerjakan masing-masing, dsb.

Soalnya nanti di tengah-tengah, kalau kita kebagian nerjemahin yang bukan dari awal, mungkin sekali kita rada ahistoris. Si A ini siapa sih? Hubungannya apa sama si B? Wataknya gimana? dll

Kalo udah selesai nerjemahin, enaknya dibaca lagi, baik terjemahan sendiri atau terjemahan rekan. Idealnya barengan.

Terima kasih, Indra. Hidup Pesta Kolesterol!😛

Tulisan asli bisa dibaca di sini.

6 thoughts on ““Diwawancara”

  1. Pingback: Indradya SP: editor buku, jenis profesi yang menuntut kecintaan | Editrice. Tradutrice. Et cetera.

  2. Rini Nurul Badariah

    Wawancara paling santai yang pernah kulakukan, dan jadi mikir, “Oh, begini toh kalau narsumnya editor:D.” BTW kirain fotonya yang menyorot makanan dari dekat itu:))

    Reply
  3. Pingback: Indradya SP: Penerjemah dan Editor Lepas Sebaiknya Punya Blog | Ada Deadline di Balik Batu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s