Balada Ukraina #9

Sebuah sudut di pusat kota Dnipro.

Sebuah sudut di pusat kota Dnipro.

Suatu malam di akhir Februari yang dingin, Nastya menelepon saya. “I have good news for you!” katanya riang. “Kau mau tambahan uang saku?” Rupanya, ada sebuah lembaga kursus bahasa Inggris yang mencari orang asing untuk mengisi kelas percakapan (conversation). Mengajar tiga kali seminggu pada sore atau malam hari, termasuk Sabtu, durasi 1-2 jam, dengan honor $250 sebulan. Hah, jelas saya mau dong! *mata duitan*😛 Gadis itu lalu bilang akan menjemput saya besok dan membawa saya ke tempat kursus itu. “Siap-siap diwawancara, ya!” Nastya mewanti-wanti.

Sebenarnya ini adalah bagian dari proyek English Marathon yang digagas AIESEC Dnipropetrovsk. Idenya, mencari rekanan entah sekolah atau tempat kursus bahasa untuk menampung magang kerja anggota AIESEC dan anak-anak muda yang bergabung dengan internship AIESEC. Selain magang kerja sebagai pengajar, si trainee ini nantinya juga dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan organisasi, juga untuk menambah international atmosphere para anggotanya. Saat itu, hanya sayalah trainee dari luar negeri yang ada di Dnipropetrovsk.

Besok malamnya, Nastya menjemput saya di apartemen dengan sedan birunya. Ada seorang wanita di kursi penumpang di sebelahnya yang ternyata ibunya. Ia menyapa saya ramah—sayang tak bisa berbahasa Inggris, lalu menyodorkan sebuah kantong plastik. “Kupinjamkan kau sepatu bot. Mudah-mudahan ukurannya pas. Kudengar kau jatuh terpeleset beberapa hari lalu,” kata Nastya sambil tertawa meledek. Ya, di jalanan yang masih berselimut salju atau es yang mencair menjelang musim semi, sepatu kets justru membuat pemakainya mudah terpeleset. “Sepatunya langsung dipakai, ya!”

Nastya tancap gas dan melaju kencang ke sebuah jalan lebar bernama Titova. Cewek satu ini tampaknya doyan ngebut. Suka film Fast & Furious kayaknya. Jl. Titova malam itu agak remang, lampu jalan banyak yang mati. Jalan besar ini dibelah taman yang memanjang dari ujung ke ujung, padahal panjangnya mungkin 1,5 kilometer lebih. Sesekali sepertinya mobil Nastya bergetar saat melewati lubang-lubang. Tapi belum separah jalanan di  Bandung sih.

Malam hari di Dnipro, dilihat dari Pulau Monastirstky.

Suasana malam di Dnipro, dilihat dari Pulau Monastirsky.

Nastya berbelok ke kanan, ke belakang sebuah gedung apartemen. Buset, gelap banget di sini! “Yuk, ikut aku,” kata Nastya. Ibunya menunggu di mobil. Sekarang jelas kenapa Nastya meminta saya langsung memakai sepatu bot. Begitu turun dari mobil, kolam lumpur langsung menyambut. Sisa-sisa salju yang mulai mencair membuat tanah jadi becek dan mirip kubangan kebo. Masih ditambah dengan keadaan sekitar yang nyaris gelap gulita.

Kami berjalan ke sebuah bangunan berlantai dua. Begitu pintu dibuka, keadaannya berubah total dibandingkan dengan di luar. Di tembok luar di sebelah pintu, ada tulisan Big Ben School of English. Di balik pintu pertama ternyata hanya sebuah ruang kecil tempat kita harus membersihkan sepatu yang bawahnya berlumpur. Di balik pintu kedua, meja resepsionis dan dua ruangan yang terang dan hangat. Plus satu toilet kering dan bersih. Saya sempat takjub melihat tempat kursus yang sebenarnya bisa dibilang sempit ini. Sepertinya kantor Big Ben hanya mengambil tempat di sebuah apartemen, kemudian dua ruangan terbesar di situ difungsikan sebagai ruang kelas. Ruang direkturnya malah berada di belakang salah satu ruang kelas, sehingga kalau sang direktur lewat atau ada orang yang mau ke ruangan direktur, dia harus masuk ke kelas dulu dan menuju ke belakang.

Saya diajak menemui dua orang wanita paruh baya. Natalia Tarasova dan Svetlana Mykhajlivna. Yang pertama adalah kepala pengajaran sekaligus guru bahasa Inggris di Big Ben, yang kedua adalah direktur Big Ben sekaligus pemiliknya. Mereka berdua telah berkongsi mendirikan tempat kursus bahasa ini sejak tiga tahun sebelumnya. Malam itu saya ceritanya akan diwawancara oleh mereka, terutama oleh Natalia yang bahasa Inggrisnya cukup bagus dan jelas untuk ukuran orang Ukraina, dibandingkan Svetlana yang masih terbata-bata. Mungkin karena Natalia pernah tinggal di Amerika, begitu ceritanya belakangan.

Wawancaranya berlangsung santai. Natalia hanya mengajak ngobrol, menanyakan banyak hal tentang saya, tentang Indonesia, dan sebagainya. Di negara yang bukan English speaking country ini, jelas saya sangat pe-de bicara. Aksen Amerika dicampur sedikit aksen Inggris saya berhasil meyakinkan mereka. Setidaknya Natalia tampak puas. Gaya bicara Natalia tegas, dia tipe orang yang cukup sering memotong pembicaraan. Perempuan itu nyaris melakukan penekanan pada setiap kata yang diucapkan dan itu membuat saya berpikir dia adalah perempuan yang kolot, keras, dan disiplin. Walau Inggrisnya lancar, aksen Ukraina/Rusia yang berat makin menambah kesan itu. Sementara, Svetlana lebih kalem dan banyak tersenyum.

 Malam itu juga saya resmi dikontrak menjadi pengajar bahasa Inggris di Big Ben, dan mulai mengajar minggu depannya. Everybody’s happy. Big Ben senang karena setelah beberapa lama akhirnya mereka memiliki pengajar asing lagi. Nastya senang telah berhasil memasukkan saya sebagai pengajar demi melancarkan program English Marathon-nya, dan saya senang karena bisa menimbun dolar untuk ditabung atau beli rumah kelak….hehehe![]

4 thoughts on “Balada Ukraina #9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s