Balada Ukraina #10

Sama anak-anak kelas 1 yang imut. Di sebelah saya itu Oleg, guru bahasa Inggris lokal.

Sama anak-anak kelas 1 yang imut. Di sebelah saya itu Oleg, guru bahasa Inggris lokal.

“Mr. Indraaaaa!”

Ah, saya selalu suka anak-anak kelas 6 ini. Sejauh ini mereka anak-anak paling sopan di EG. Kalau cuma pintar, hampir semua murid saya di sini pintar. Satu lagi: hanya anak-anak kelas 6 yang memanggil saya dengan kata “Mister”.🙂 Yang lain cukup memanggil saya dengan nama.

Pagi itu kebetulan kelas 6 menjadi kelas giliran pertama saya. Punya murid seperti mereka asyik juga. Begitu saya masuk, anak-anak yang masih bermain atau berlarian langsung duduk. Ada 9 anak di kelas 6; empat perempuan dan sisanya laki-laki. Anak-anak ini sangat patuh dan hampir selalu antusias terhadap apa pun yang saya minta kerjakan.

Hampir setiap hari saya selalu mengajak mereka bermain game. Saya juga tidak pernah bergaya kaku. Pernah saya minta mereka semua duduk santai di sofa dan di karpet, sambil main game tentang meneruskan kalimat dari satu teman ke teman yang lain. Satu anak hanya boleh mengucapkan satu kata dalam bahasa Inggris. Anak yang mendapatkan giliran harus meneruskan kata itu dengan pilihan kata apa pun, asalkan logis dan nggak saru.🙂 Saya bertugas menulis kata-kata mereka di papan tulis supaya mereka tidak lupa. Saya jugalah yang berhak mengatakan “period!” kalau kalimatnya sudah terlalu panjang.

Dengan main-main seperti itu, tak terasa 40 menit (satu jam pelajaran) cepat selesai. Sehabis mengajar, kalau jam pelajaran berikutnya masih lama, saya biasanya menyepi di ruang guru bahasa Inggris atau melipir ke kantin untuk sarapan. Biasanya saya sarapan justru menjelang siang, sekitar jam 10 atau 11.

Menu di kantin memang jauh dari konsep “pesta kolesterol”. Hampir semuanya makanan serba rebus dan kukus, hanya kadang-kadang saja ada yang digoreng. Coba lihat: kentang lumat (mashed potato), salad, bubur, makaroni (besar), ayam rebus, daging sapi rebus, sayur, sup, telur rebus, roti, sosis (rebus), atau kadang nugget dan nasi warna cokelat yang rasanya agak aneh.

Masih untung ada saos tomat untuk sedikit menambah rasa. Orang Ukraina jarang menaburi masakan mereka dengan garam dan merica. Kalaupun iya, biasanya sedikiit sekali. Minumnya: teh, jus buah, dan air.  Saya selalu mengusahakan makan lagi sorenya, supaya malam tak perlu jajan atau tinggal makan buah saja. Ini bukan sok hidup sehat. Lebih tepatnya: terpaksa.🙂 Jajajan kaki lima di sini paling cuma shaurma. Makan di resto mahal. Lagi pula, kalau ke resto agak repot kalau nggak bareng teman. Saya kan nggak tahu itu makanan apa.🙂 Tambahan lagi, semua tulisan di negara ini 90% lebih pakai huruf Cyrillic. Saya bisa bacanya, tapi belum tentu ngerti…hehehe!

Kelas lain yang juga imut adalah anak-anak kelas 1. Oke, sebenarnya anak-anak di sini hampir semuanya imut. Tapi anak-anak kecil ini sungguh menggemaskan. Saat belum akrab, mereka tampak malu-malu kucing. Ketika sudah semakin sering bertemu saya, mereka  mulai berani menegur. “Hello, Indra! How are you?” begitu mereka biasanya menyapa saya. Anak yang pemalu biasanya cuma bisik-bisik sambil melirik-lirik. Tentu saja, kosakata mereka masih sangat terbatas untuk sebuah percakapan sederhana yang lancar. Anak-anak kelas 1-4 masih didampingi guru bahasa Inggris mereka, Tanya. Perempuan jutek itu bertugas menerjemahkan omongan saya dan membantu “permainan” di kelas.

Anak-anak kelas 1 yang jumlahnya 16 orang itu dibagi jadi dua kelompok. Bergantung pada hari mengajar, satu kelompok berisi delapan anak digiring ke ruangan saya, dan kelompok satunya lagi main di kelas. Kadang keenam belas anak itu juga disatukan di kelas mereka yang luas dan tugas saya hanya mengajak mereka bermain. Walau sejujurnya, saya paling kagok saat harus mengajar kelas 1. Saya tidak berpengalaman mengajar anak-anak sekecil ini…..hehehe!😛

Ah, lain kali akan saya ceritakan lebih banyak soal anak-anak ini.🙂

***

DSCN2983

Onggokan salju. Seperti tumpahan es serut.

Sore itu, sepulang mengajar, saya berjalan sendirian ke halte trem. Seperti biasa, suhu udara sangat dingin. Walaupun belakangan suhu “menghangat”, dari minus naik ke 0-5 derajat, saya tetap memakai jaket tebal sambil menunduk dan tangan masuk ke saku. Maklum, kadang embusan angin bikin badan menggigil. Sesekali saya menepuk-nepuk lengan jaket yang dijatuhi debu mirip kapas atau apa pun itu yang jatuh mengotori jaket biru tua saya. Tapi kotoran itu datang lagi dan lagi. Eh, ini bukan debu! Bukan kapas! Ini … Saya mendongak. Ini salju!

Saya sering melihat onggokan salju di jalanan-jalanan kota ini. Tapi baru sekarang saya melihat hujan salju secara langsung. Saya berhenti berjalan, tengok kanan-kiri, depan-belakang, atas-bawah. Tidak ada orang! Horeeee! Sambil menengadah, saya mengangkat kedua tangan. Mirip pose orang berdoa, padahal saya sedang girang bukan main karena dihujani salju.

Awalnya, benda putih itu turun seperti sedikit-sedikit, seperti kapas yang dirobek-robek dan ditumpahkan dari langit. Begitu jatuh menimpai jaket, “kapas” itu langsung membasah. Seperti mencair. Betul-betul seperti es serut! Makin lama, salju semakin lebat.  Hujan salju makin sempurna. Duh, indah sekali! Saya sampai terbengong-bengong.

Salju turun hanya sekitar setengah jam waktu itu. Tapi saya cukup puas menikmatinya. Begitu trem no. 1 tiba, saya langsung melompat naik. Sore itu saya harus pulang sebentar ke apartemen untuk sholat dan ngaso barang sejenak. Malamnya saya harus mengajar di Big Ben.

Begitulah. Karena mata duitan, saya harus bekerja dari jam 9 pagi sampai 9 malam. Nine to nine. Tapi, saya tahu saya akan mendapatkan pengalaman berbeda karena mengajar di dua tempat yang berbeda tipe: sekolah swasta dan tempat kursus. It’s not all about the money.[]

11 thoughts on “Balada Ukraina #10

    1. Indradya SP Post author

      Trims Mbak Evi. Stay tune terus di sini ya, masih banyak cerita2 di sini yg nanti dikembangkan jadi buku dan film…hihihi😛

      Reply
  1. Rini Nurul Badariah

    Sore itu, sepulang mengajar-> Ingatan Indra tajam juga ya, sudah sekian lama masih bisa cerita sedetail ini:)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s