Balada Ukraina #11

Berandal-berandal kelas 8. Saya malah kalah gede!  Ki-ka: Stanislav, Vova, Vova, Marko.

Berandal-berandal kelas 8. Saya malah kalah gede! Ki-ka: Stanislav, Vova, saya,Vova, Marko.

Setiap pekerjaan pasti mempunyai level atau zona stresnya sendiri-sendiri. Dalam kasus saya adalah mengajar kelas-kelas yang anak-anaknya sulit diatur. Anak-anak yang super bandel dan usil. Sungguh bikin stres dan melelahkan.

Saya menjuluki kelas-kelas ini sebagai “war zone”—julukan yang belakangan diamini juga oleh Oleg, guru bahasa Inggris lokal. Dari 11 kelas yang harus saya isi, tiga di antaranya termasuk kategori berbahaya: kelas 7,8, dan 11. Seharusnya ada travel warning agar hati-hati waktu masuk ke kelas-kelas tadi. Kalau sedang apes, dalam satu hari saya harus menghadapi semua war zone itu sekaligus. Istilah war zone ini rasanya tidak berlebihan. Contohnya, pada suatu pagi, ketika saya harus mengajar kelas 8 di jam pelajaran pertama, jam 9 pagi.

Begitu membuka pintu, seisi kelas tampak berantakan seperti baru dibom, sementara penghuninya sedang sibuk “bertempur”. Lompat dan lari-lari di atas meja dan kursi, lempar-lemparan kapur dan bola sepak, kadang yang laki-laki bergulat dan ber-smack down ria di karpet sambil berteriak-teriak heboh. Padahal kelas 8 cuma berisi tujuh murid, lima laki-laki dan dua perempuan. Tapi soal kelakuan sih sama saja. Yang perempuan juga ikut-ikutan bikin rusuh.

Melihat saya masuk, mereka cuma menyapa, “Hi, Indra!” sambil tersenyum, lalu senyum tadi berubah jadi ganas saat mereka meneruskan kerusuhan. Semua kelas di EG rata-rata luas, dengan lemari atau rak berisi barang-barang sesuai kebutuhan masing-masing kelas. Semakin kecil angka kelasnya, biasanya di rak-rak itu semakin banyak mainan. Dan mainan-mainan itulah yang kini sedang beterbangan di angkasa kelas 8. Untunglah mereka tidak melempar kursi atau yang sebesar itu. Lucunya, saat teman-temannya asyik merusuh, ada satu anak yang tampak anteng bermain PSP (PlayStation Portable) di pojokan. Sesekali dia hanya balas melempar balik benda apa pun yang mampir ke arahnya.

Butuh beberapa menit untuk melenyapkan kerusuhan itu. Tentu saja tanpa gas air mata, apalagi pentungan. Cukup dengan menunjukkan wibawa. Saat kerusuhan mereda, barulah saya bisa “mengajar”. Perkenalkan, setan-setan kecil ini bernama Yuri, Marko, Stanislav, Vova, dan Vova. Ya, ada dua Vova. Di negara-negara eks Soviet, nama Vova ini biasanya singkatan dari nama Vladimir, Volodymyr, Volodnya, atau Volodka. Dua cewek di kelas ini bernama Anna. Ya, dua-duanya Anna. Yang satu Yatsenko Anna, satu lagi Klimenko Anna. Tapi dua-duanya hanya mau dipanggil Anna. Jadi, sekali panggil akan datang dua Anna, yang satu gendut dan satu lagi kurus. Tinggal pilih.😛

Mengajak setan-setan ini untuk belajar “serius” biasanya susah sekali. Mereka baru bisa diajak “belajar” kalau sambil bermain. Kalau saya sudah putus asa, satu-satunya jalan adalah melapor ke Oleg. Begitu guru bahasa Inggris itu datang, pelan-pelan setan-setan kecil ini berubah jadi malaikat. Mereka mau duduk manis dan mengerjakan tugas atau apalah. Jauh lebih cepat ketimbang kalau saya yang menyuruh-nyuruh mereka.

Kalaupun mereka tenang, itu biasanya karena “jasa” PSP yang mereka mainkan di kelas. Maklum, anak-anak orang kaya. Kayaknya kok tiap anak punya banyak gadget. Selain PSP, tentu saja mereka punya smartphone. Waktu itu komputer tablet bisa dibilang belum ada, alias tak semassal sekarang. Kadang saya hanya bisa memandang sedih ke ponsel Samsung butut saya. Laptop pun tak punya.

***

Sehabis sarapan di kantin, jam pelajaran berikutnya adalah … oh, no. Another war zone: Grade 7. Sambil berjalan menuju kelas 7, saya mengingat-ingat awal pertemuan saya dengan mereka. Delapan anak yang manis-manis: tiga perempuan dan lima laki-laki. Yang laki-laki bernama Sergey, Rostislav, Artem, Kyryl, dan Vlad. Sementara yang cewek adalah Nastya, Yulia, dan Yuliya. Yah, dua terakhir sebenarnya sama saja, kalau dipanggil ya dua-duanya nengok.😛

Saat itu, saya ingat benar, masih kelas perkenalan. Sejak awal, saya menerapkan “kebijakan” untuk tidak kaku mengajar. Kalau Oleg mengajar seperti umumnya di kelas, yaitu murid-murid duduk manis di kursi, saya lebih suka membebaskan mereka duduk di sofa atau karpet. Beberapa pertemuan awal masih di bawah pengawasan Oleg, jadi mungkin mereka masih sungkan untuk berulah di depan saya, si guru asing dari negeri nun jauh di timur sana.🙂 Setidaknya, mereka tampak antusias dan kooperatif waktu diajak ngobrol. Bahkan ada yang malu-malu segala. Wah, manis sekali anak-anak ini!😛

Duo perusuh dari kelas 7: Artem dan Sergey.

Duo perusuh dari kelas 7: Artem dan Sergey.

Tapi yang namanya setan memang bermuka dua. Setelah saya dilepas mengajar sendiri, pelan-pelan mereka mulai menunjukkan ke-setan-an mereka. Kelakuan mereka tak beda dengan kelas 8. Nggak cowok nggak cewek, pokoknya rusuh. Soal lompat-lompat meja dan kursi itu biasa. Mereka pikir lagi latihan parkour, mungkin. Menghadapi kelas 7 harus dengan bermain, sama seperti kelas 8.

Dilemanya: anak-anak ini cerdas semua. Hampir semuanya sudah cas-cis-cus berbahasa Inggris. Tergolong bagus untuk anak seumuran mereka. Dikasih kerjaan macam apa juga mereka bisa, walau porsi usilnya lebih banyak dibanding belajarnya.

Yang paling cerdas bernama Artem. Sementara itu, yang paling sering di-bully adalah Rostislav. Bocah gendut ini sering tampak pasrah dikerjai Vlad yang sok ganteng dan Sergey yang hiperaktif.

Sialnya, setelah hampir dua bulan mengajar, tampaknya mereka mengalihkan target dari Rosti, panggilan anak ini, ke saya…hehehe! Bahkan Rosti pun malah jadi bocah jahil setelah saya mengajar.

Sebenarnya bukan cuma saya yang stres menghadapi mereka, Oleg pun sama. Mungkin karena saya terlalu sering mengeluh soal anak-anak kelas 7, pada suatu hari Oleg memisahkan kelas itu jadi dua kelompok. Empat bersama saya, sisanya dia yang menangani. Tapi yang namanya setan, walau jumlahnya sedikit, tidak berarti mereka berhenti berulah. Saya ceritain lagi kapan-kapan yaaa!🙂

2 thoughts on “Balada Ukraina #11

  1. Rini Nurul Badariah

    Lucunya, saat teman-temannya asyik merusuh, ada satu anak yang tampak anteng bermain PSP (PlayStation Portable) di pojokan. Sesekali dia hanya balas melempar balik benda apa pun yang mampir ke arahnya.-> Ada fotonya? Menarik sekali anak ini:D

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Entah ya mbak, harus dicari dulu. Kan gak tiap hari saya bawa kamera ke sekolah🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s