Berbagi Impian

travel

Kawan, ketika engkau diminta menulis tentang orang tercintamu, katakanlah istrimu, bagaimanakah kau akan menulisnya? Kisah pendek ini adalah kisah tentang diriku, impianku, dan orang tercintaku. Tapi menulis tentang orang tercintaku itu juga sulit kalau tak menulis tentang diriku juga. Bukankah separuh dirinya adalah diriku? Kenapa mirip lagu Noah gini, ya? Beribu jura untukmu yang bersedia menyimak walau sejenak.

***

CIMG0531Singapura, Februari 2012

Dia tak henti berdecak kagum saat kami menumpang MRT sore itu. Matanya tak berkedip memandangi gedung-gedung pencakar langit dan lanskap kota modern yang bersih lewat jendela. Esoknya, wajahnya sumringah saat kami sarapan nasi lemak murah di Chinese Garden yang indah. Senyumnya mengembang melihat Chinatown yang penuh suvenir dan bangunan berarsitektur khas Cina. Hari yang sama, dia melompat-lompat gembira saat melihat patung Merlion yang legendaris itu. Main ke Universal Studio walau tak sanggup beli tiketnya. Berfoto di globe berputar di depan wahana itu sudah cukup memunculkan keriaan pada dirinya.

“Aku tidak menyangka bisa pergi melihat negeri-negeri asing. Tadinya kukira hanya bisa dilakukan orang-orang kaya,” katanya saat aku bersiap tidur siang di sebuah taman tak jauh dari gedung Esplanade. Aku hanya tersenyum waktu itu. Kantuk sudah tiba.

***

Kawan, saat kecil dulu, apa jawabanmu kalau ditanya tentang cita-cita? Jawabanku standar, seperti anak-anak lainnya: jadi pilot, insinyur, atau dokter. Beginilah hasil sistem pendidikan yang mengutamakan keseragaman. Tapi, makin beranjak usia, makin banyak membaca buku, wawasanku jadi terbuka lebar. Menginjak bangku SMP, aku sudah tahu mau jadi apa saat besar nanti. Aku ingin menjajal segala hal yang berhubungan dengan bahasa: kerja di koran/majalah, mengajar bahasa, atau kerja di penerbit buku. Dan: aku ingin berkeliling dunia. Salahkan buku-buku itu, Kawan, merekalah yang memprovokasi cita-citaku itu.

***

Setelah empat hari mengelilingi Singapura, aku mengajaknya menuju Kuala Lumpur. Menginap di sebuah hostel murah di kawasan Bukit Bintang malam itu. Makan malam di kaki lima di Jl. Alor dan jalan-jalan di sekitar jalanan yang cukup kondang di kalangan backpacker. Esok paginya, kami berjalan kaki ke menara kembar terkenal itu. Jaraknya hanya 1,5 kilometer dari tempat kami menginap. Aku melihat lagi keceriaan di wajahnya saat melihat menara jangkung kembar kebanggaan Malaysia itu kini menjulang di hadapannya. Ikon yang selama ini hanya dia lihat di majalah, TV, atau Internet.

***

Kelas 3 SMP, aku sudah jadi korban tawuran. Saat turun dari bus Kopaja di sebuah pasar untuk lanjut naik angkot, segerombolan anak SMP mendekatiku. Hanya karena berasal dari sekolah yang mereka anggap musuh, aku diserang beberapa anak SMP brutal dengan penggaris besi 30 senti mereka. Satu toko kelontong harus jadi korban perusakan karena aku masuk untuk menghindar dan minta tolong, sebelum akhirnya beberapa anak STM memisahkanku dari mereka dan menyuruhku segera naik angkot.

Di rumah, ayahku yang sedang cuti di rumah terkejut bukan main. Ekspresinya ngeri saat melihat darah langsung menetes dari keningku ke lantai putih rumah kami. Langsunglah dia melarikanku ke rumah sakit. Ibuku langsung pulang dari kantor dengan panik. Malamnya, aku merenung dan mengutuki nasib buruk. Mengutuki Jakarta. Bukan kali itu saja aku apes terjebak dalam tawuran atau dipalak anak sekolah lain. Namun sejak hari itu, aku tahu persis: masa depanku bukan di kota ini. Aku tahu, kelak Jakarta akan hancur. Tawuran tak akan pernah berhenti. Akan selalu meminta tumbal mati. Lihatlah Jakarta hari ini, Kawan. Kau akan tahu aku benar.

***

Oktober 2012

Backpack sudah dikemas. Paspor dan tiket sudah masuk ke tas. Malam itu kami terbang ke Singapura. Transit selama 15 jam, setengahnya cukup untuk jalan-jalan lagi di kota Tumasek modern itu. Sorenya, kami terbang ke Bangkok, Thailand.

***

Besoknya, melihatku datang ke sekolah dengan kepala berselimut perban, guru olahraga yang pertama melihatku langsung mengamankan aku di kantornya. Stres dia. “Aduh, anak-anak nanti bakal tawuran ini!” keluhnya setelah mendengar ceritaku. Beberapa guru lain sayangnya terkesan menyalahkan, sehingga langsung kubantah, “Saya yang diserang, Pak! Bukan sebaliknya!”

Hari itu sekolah heboh besar. Guru-guru repot. Ada yang berkunjung ke sekolah para penyerang, mengonfirmasi. Beberapa teman di lantai dua berteriak dari atas, “Kita balas nanti siang!” kata seorang teman sambil mengepalkan tangan. Aku punya hubungan baik dengan preman-preman sekolah, walau tak pernah ikut-ikutan mereka. Dan benarlah, siang sepulang sekolah, tanpa diminta siapa-siapa, puluhan anak sekolah dari SMP-ku sudah berkumpul di pinggir jalan, siap “bertempur”. Walau tak ikut-ikutan, dari cerita seorang kawan aku jadi tahu, di pertigaan lampu merah sana puluhan teman mencegat semua bus kota dan menghajar siapa pun yang dianggap musuh. Satu kaca belakang Kopaja jadi korban lemparan batu.

Mengerikan kalau harus mengingat itu semua. Untunglah, saat itu sedang masa class meeting sehabis Ebtanas SMP. Disusul liburan untuk memulihkan diri. Setahun setelahnya, aku masih sekolah di Jakarta. Masih melihat peristiwa yang sama. Pulang dengan rasa khawatir yang sama: matikah aku hari ini? Dikeroyok pelajar-pelajar lain? Atau hanya dipalak dalam bus kota? Hingga suatu hari, saat jam pelajaran sedang berjalan, puluhan anak STM menyerbu sekolahku begitu saja. Mobil-mobil anak-anak kaya dan beberapa guru penyok dan pecah hasil lemparan batu. Sebagian murid melawan balik dalam kepasrahan. Beberapa kaca di gedung sekolah pecah berantakan. Satpam sekolah cuma bisa melerai walau tahu usahanya sia-sia. Polisi datang terlambat saat kerusakan sudah cukup parah dan pihak penyerang sudah kabur. Semua pemandangan itu sangat jelas terlihat dari kelasku di lantai dua. Mau jadi apa aku di kota busuk ini?

***

Bangkok membuat kami terperangah. Pemandangan yang langsung membuktikan bahwa Thailand adalah negara yang dikunjungi 14 juta turis setahun (dua kali lipat dibanding Indonesia) adalah kereta dari bandara yang penuh dengan backpacker waktu itu. Ransel-ransel mereka banyak yang lebih besar daripada backpack 50 liter milikku. Bahkan ada beberapa bule yang bawa backpack gede sampai dua segala, depan-belakang. Kami tak banyak bicara di dalam kereta, sibuk dengan pikiran masing-masing. Ya, perjalanan akan membuatmu menjadi manusia yang banyak merenung, Kawan. Paul Theroux bilang, “Perjalanan itu bersifat personal. Walaupun aku berjalan bersamamu, perjalananku bukanlah perjalananmu.”

***

Tak ada orangtua yang mau berlama-lama melihat anaknya menderita. Sejak tragedi kening kepala robek itu, aku sudah meminta orangtuaku agar aku bisa pindah ke kota lain. Mereka tak berpikir lama untuk menyetujui permintaanku. Orangtuaku hanya PNS biasa. Kami tinggal di kawasan padat penduduk di pinggiran Tangerang-Jakarta, di sebuah rumah yang dicicil selama 20 tahun di kompleks perumahan departemen tempat ibuku bekerja. Alasan biaya dan birokrasi pindah sekolah yang agak ruwet membuatku harus menyelesaikan kelas 1 SMA di Jakarta.

Di pikiranku hanya ada satu keinginan mutlak: hijrah ke kampung halaman ibuku, Yogyakarta.

***

“Saat jalan-jalan, semua rasa tertekan dan kelelahan bekerja lenyap,” celetuknya sambil merebahkan kepala di pundakku. Jelas ia sangat menikmati perjalanan kami. Setelah beberapa hari di Bangkok, kami melanjutkan perjalanan dengan kereta malam menuju Surat Thani, dan lanjut naik bus ke Krabi. Menikmati suasana kota kecil yang tenang dan jauh dari hiruk pikuk Bangkok yang metropolis.

***

Malam itu, hari yang sama dengan peristiwa pengambilalihan kantor DPP PDI dengan kekerasan di Jakarta, kereta Senja Utama bergerak pelan menuju Yogyakarta dari stasiun Gambir. Peristiwa penyerbuan oleh massa Soerjadi terhadap pendukung Megawati  tersebut memicu kerusuhan massal di beberapa tempat di kota jahanam itu. Masih belum percayakah engkau kepadaku, Kawan? Bahkan pada malam aku meninggalkan Jakarta, salam perpisahannya justru adalah sebuah peristiwa kerusuhan.

***

Krabi Town adalah kota yang tenang. Namun dalam radius 30-60 menit, engkau akan mendapatkan pemandangan pantai-pantai yang cantik dan kepungan batu kapur (limestone) yang bagaikan perhiasan. Warga Muslim juga cukup banyak di sini, sehingga tak sulit menemukan makanan halal dan masjid.

Sesekali aku biarkan dia bicara bicara kepada orang-orang lokal. Melatih keberanian bicara kepada orang asing sering kali bukan perkara mudah, Kawan. Pernah, ketika aku sedang menemui tamu relasi penerbitku, orang Denmark, kutinggalkan dia sendirian bersama tamuku. Menjebak sekaligus memaksanya untuk bicara bahasa Inggris. Memang harus begitu, menurutku.

Saat menyewa perahu di Krabi, kudorong dia untuk berani bercakap-cakap dengan si pemilik perahu yang Inggrisnya agak lancar walau terpatah-patah. Sesuatu yang kusengaja untuk melatih telinganya mendengar bahasa asing ini dalam berbagai aksen. Dia menikmati setiap momennya. Berinteraksi dengan penduduk negara lain.

***

Aku tinggal bersama kakek dan nenekku di rumah tua tak jauh dari stasiun Tugu. Masa SMA di Yogya aku lalui dengan mulus. Hilanglah semua ketakutan dan ketidaknyamanan yang kurasakan di Jakarta. Dengan teman-teman yang wataknya lebih santai, tenang, sederhana, dan polos, aku menikmati kehidupanku di kota kelahiran ibuku ini. Aku bahkan sering malas ke Jakarta saat liburan dan minta orangtuaku saja yang ke Yogya. “Dia sudah terlalu cinta sama Yogya. Mana mau dia disuruh ke Jakarta,” kata pamanku kepada ibuku suatu hari.

Tanpa hambatan berarti, tahu-tahu aku sudah lulus SMA. Melihat bocah pindahan ini—yang berperingkat 39 dari 41 murid waktu kelas 2 SMA, namun menjadi lulusan ber-NEM 51,60; tertinggi kedelapan di SMA, teman-teman merasa berhak mencorat-coret seragamku dengan tulisan dan gambar macam-macam. Dan dengan nilai Bahasa Inggris tertinggi nomor satu di sekolah, aku harus merelakan rambutku diolesi lem kayu, sebelum akhirnya dibentuk jadi jambul ayam dan disemprot cat pilox warna-warni.

Jadilah aku satu-satunya lulusan berambut mohawk ajaib pada hari yang indah itu, sekaligus menjadi objek untuk foto bersama. Butuh setengah botol sampo untuk menormalkan rambutku. Itu pun setelah lolos dari adangan kakek dan nenekku yang shock berat melihat rambut cucunya dipermak begitu rupa.

***

Hemingway

Dalam perjalanan kami, aku banyak mengajarinya untuk mengerjakan segala detail perjalanan secara mandiri. Mencari informasi tentang destinasi, memantau tiket promo, mencari hostel murah, dan sebagainya. Kawan, perjalanan kami bukan perjalanan mewah. Tidur di bandara, menginap di apartemen teman lama, tidur di hostel murah atau bahkan butut, dan makan murah di warung kaki lima demi menghemat uang. Ketahuilah, Kawan, dia terbukti tidak manja dan cukup tangguh dengan gaya perjalanan seperti ini. Perjalanan ini pelan-pelan menempanya.

***

Tahap perjuanganku berikutnya sama saja seperti jutaan lulusan SMA lainnya. Tahun pertama UMPTN, aku gagal, tapi masih diterima di program D3 UGM. Dua tahun kemudian, aku coba lagi dan kali ini berhasil masuk ke Fakultas Sastra di universitas yang sama. Masa-masa kuliah berjalan cukup mulus, dengan sedikit drama di sana-sini, yang tak perlu kuceritakan sekarang.

Terkadang, aku jenuh. Merasa tak banyak yang bisa kudapatkan di bangku kuliah, aku mencari kegiatan lain yang lebih asyik. Bergabung dengan pers mahasiswa, sekaligus bergabung dengan drum band universitas. Masing-masing mengantarkan kesenangan dan pelajarannya sendiri-sendiri.

Sembari kuliah, sempat pula aku “bermain-main” jadi wartawan di sebuah majalah entrepreneur. Ini mengantarku ke Hong Kong untuk meliput tentang TKW di sana. Tentu saja, aku menyempatkan diri berkeliling di kota modern tersebut, ditambah jalan-jalan ke dua kota di Cina selatan: Shenzhen dan Guangzhou. Nafsu keliling dunia mengganas dari sini.

***

Setelah Krabi, kami menuju ke selatan, ke Hatyai. Dari sana, kami akan naik bus malam ke Malaysia. Uang baht kami betul-betul tinggal recehan. Tapi masih cukup untuk membeli beberapa potong buah pepaya dan nanas plus sebotol air mineral untuk sekadar ganjal perut. Malamnya kami berangkat ke Kuala Lumpur, bermain seharian di sana, sebelum terbang pulang ke Bandung.

Kawan, perjalanan mengajarkan kami bahwa hidup itu lebih mudah jika dijalani dengan pasangan yang cocok denganmu. Konon, sifat asli seseorang akan keluar atau kelihatan saat melakukan perjalanan (traveling) bersama. Tapi dalam perjalanan itu juga, kita bisa belajar untuk lebih saling mengenal, menyesuaikan, dan memaklumi sifat pasangan kita.

***

Aku menyelesaikan ujian skripsi dengan nilai A- hari itu. Keluar dari ruang ujian, tak ada siapa pun yang menyambut. Hampir semua teman seangkatanku sudah lulus. Dengan kelulusanku hari itu, tinggal tiga orang yang belum rampung juga mengerjakan skripsinya. Tanpa memedulikan acara wisuda, aku pergi ke Jakarta. Bagaimana lagi? Pekerjaan relatif lebih mudah didapat di kota ini. Setelah dua minggu menjadi sales kutu kupret di sebuah galeri lukisan, aku menemukan pekerjaan yang lebih baik: instruktur bahasa Indonesia untuk orang asing. Pekerjaan yang menyenangkan!

Beberapa bulan sebelumnya, aku bergabung dengan sebuah organisasi mahasiswa internasional. Organisasi itu punya program kerja magang di negara-negara lain. Setelah pulang pergi naik motor bebekku dari Yogya ke Semarang beberapa kali, singat cerita aku dinyatakan lolos ujian dan berhak menjadi calon magang. Setahun kemudian, aku mendapatkan pihak yang tertarik dengan CV-ku: sebuah sekolah swasta di Ukraina mencari guru bahasa Inggris. Aku diterima.

***

Dia bukanlah orang yang sering melakukan perjalanan. Lahir dan besar di Purwakarta, kemudian menamatkan SMA dan kuliahnya di Bandung, yang hanya satu jam jaraknya dari rumah orangtuanya. Perjalanan terjauhnya adalah ke Borobudur saat SMA. Berkeliling dunia sama sekali tak pernah tebersit dalam benaknya. Hingga pada suatu hari, saat menghadiri pernikahan sahabat SMA-nya, dia bertemu aku. Sahabatnya yang menikah itu ternyata juga sahabatku. Kata orang, mereka yang bertemu dalam acara pernikahan, akan berakhir dengan pernikahan juga. 

Tiga tahun kami pacaran jarak jauh, Yogya-Bandung. Dalam setahun mungkin kami hanya bertemu empat kali, karena pacarnya yang kere ini hanya sanggup beli tiket kereta setiap tiga bulan. Akhirnya, kami pun memutuskan menikah secara sederhana di rumahnya. Setelah menikah, kami tinggal di sebuah loteng butut sebuah rumah kontrakan di Bandung. Aku bekerja di Jakarta, dia di Bandung. kami hanya bertemu seminggu sekali di akhir pekan. Begitulah, Kawan. Setelah menikah pun kami masih jarang bertemu.

***

Tibalah hari ketika aku harus berangkat ke Ukraina, sebuah negeri pecahan raksasa komunis Uni Soviet yang namanya jarang didengar orang Indonesia. Padahal kami baru menikah lima bulan. Mungkin jauh di lubuk hati dia tak ingin ditinggal. Namun di satu sisi dia juga tak ingin mengekang diriku yang selalu bermimpi menjelajahi negeri demi negeri. Dengan berbagai cara. Walaupun harus “menyamar” sebagai guru bahasa.

Setengah tahun berjuang di Ukraina, diwarnai berbagai pengalaman yang mengayakan batin, termasuk empat kali jadi korban rasisme di jalanan, aku pulang dengan segudang pengalaman—dan segepok uang. Tiga tahun kemudian, kami pindah dari loteng butut itu ke  rumah mungil kami sendiri. Lokasinya di tengah sawah dengan pemandangan gunung-gemunung, dengan 1,5 kilometer jalan rusak dan berlubang menuju jalan besar. Namun itu istana kami sendiri. Di rumah mungil itu, kami membincangkan impian-impian kami, dunia-dunia kami.

***

Bertahun-tahun aku menabung, hasil didikan orangtua, hasilnya sudah mendekati final untuk menebus selembar tiket promo ke Eropa Barat. Solo backpacking ke Eropa, impian sejak lama, sudah di depanku saat aku menemukan tiket Qatar Airways ke Denmark seharga $550 saja. Teman di Denmark juga sudah siap menampung. 

Namun tragedi menghampiri. Ayah mertuaku ditabrak motor pada suatu Subuh di jalanan. Kecelakaan itu memicu penyakit diabetesnya. Butuh biaya besar untuk rumah sakit. Aku merelakan sebagian tabunganku yang sudah cukup untuk ngegembel ke Eropa. Tak mengapa. Toh, aku sudah pernah ke Eropa (Timur). Yang Barat bisa menanti.

Mungkin di situlah hikmahnya. Dengan tabungan khusus traveling yang tersisa, aku mengajak istri untuk bertualang ke tiga negara Asia Tenggara. Aku ingin sedikit berbagi impian dengan perempuan yang sudah bersumpah hidup di sisiku sehidup semati. Perempuan yang dengannya aku semakin yakin bahwa suami-istri haruslah menjadi sahabat dalam mengarungi bahtera rumah tangga ini. Aku sudah cukup sering melihat teman-teman perempuanku yang hancur bahteranya. Diselingkuhi suami, menjadi korban KDRT, dan banyak lagi.

Setelah aku melakukan investigasi, kesimpulannya jelas sekali: mereka tidak bersahabat dengan pasangannya. Sebab, Kawan, menikah itu hanya hitam di atas putih. Sementara, persahabatan tak perlu pembuktian tertulis. Pembuktiannya ada di dalam tindakan dan perbuatan. Kawan, engkau bisa menikah dengan siapa pun dan mungkin tak pernah bercerai. Tapi tanpa persahabatan dalam rumah tanggamu, jangan harap ada kehangatan. 

Aku harus bersyukur: di rumah kami, selalu ada canda dan tawa setiap hari. Ya, setiap hari.

***

Perjalanan adalah sesuatu yang mengayakan batin. Perjalanan mengajari kita untuk melihat ke dalam diri dengan cara yang berbeda. Perjalanan menyediakan kacamata baru dalam memandang kehidupan. Perjalanan memaksa kita untuk mengakui keberanian dan ketakutan kita. Perjalanan mengajarkan kita untuk saling berbagi, melatih kesabaran, menghargai usaha seremeh apa pun, dan menikmati hasilnya.

Perjalanan ini hanya sebuah awal. Aku masih ingin terus melihat negeri-negeri lain. Bagiku, jalan-jalan itu konsepnya hampir sama seperti rezeki—oleh Tuhan, tempat-tempat indah dan orang-orang berbagai karakter ditebar di muka bumi agar kita mau berikhtiar datang dan melihat semua itu. Agar kita bisa mau belajar dari semua itu. Agar kita selalu merasa kecil di hadapan-Nya dan tak lupa bersyukur karena telah diberi kesempatan melihat secuil keindahan bumi-Nya. Begitulah.

Kayak ini ibarat bahtera rumah tangga kami. Selama kami kompak mendayung, semuanya akan baik-baik saja.

Kayak ini ibarat bahtera rumah tangga kami. Selama kami kompak mendayung, semuanya akan baik-baik saja.

Yang pasti, kami masih akan terus melakukan perjalanan bersama. Tujuan sudah tak penting lagi. Dalam atau luar negeri sudah tak ada bedanya lagi. Perjalananlah yang kami ingini. Uang bisa dicari. Tak ada uang tak apalah menanti. Aku mungkin tak bisa membahagiakan dia dengan kekayaan materi, tapi dia tahu aku sanggup memberinya kekayaan pengalaman dan batin. Dengarlah, Kawan. Engkau tak perlu menjadi orang hebat bagi dunia. Kau hanya perlu menjadi orang hebat bagi orang tercintamu.[]

Catatan: tulisan ini dibuat sebagai tugas di writing class asuhan Om Benny Rhamdani.

28 thoughts on “Berbagi Impian

  1. zedeen

    bagus beud…baru lihat gaya nulis yang alurnya maju mundur bergantian..enak untuk disimak…btw tulisan sampean tentang backpacking bikin saya penasaran untuk nggembel juga😀

    Reply
  2. Rini Nurul Badariah

    Dan benar ternyata, terpengaruh buku yang “cetiit” itu. Ah pokoknya mah, prikitiew!:))

    Reply
  3. Ira Subrata (@subrataira)

    Hhhmm … tulisan yg indah. Pertama, suka banget dgn kutipan Ernest Hemingway-nya, dan kedua, suka banget dgn konsep pernikahan-persahabatannya. Itu, keren banget menurutku! Lanjutkan perjalanannya, Mas Indra, terima kasih utk selalu berbagi kisah-kisahnya. Semoga sakinah mawaddah wa rohmah selalu utk pernikahannya, aamiin.

    Reply
  4. Yuliani Liputo

    Tulisan yang indah, Indra, bravo… Gaya bercerita flashback tapi mengalir lancar, bikin betah bacanya sampai akhir, saya sampai mengulang-baca beberapa kalimat yang berkesan. Great one!

    Reply
  5. Rini Nurul Badariah

    Komentar pertama: setuju dengan ucapan eh pernyataan tertulis Ernest Hemingway itu. Kedua: Setahun hanya ketemu empat kali bisa langgeng sampai menikah, aku jempoli dua:D

    Reply
  6. Windu Darlina Cantik Sekali

    Pantesan lama postingnya, ternyata panjang ya rek, aku tadi cuma sejam nulisnya hehehehe, ternyata menulis pengalaman pribadi mengalir saja yaaa

    Reply
  7. Lita Julita

    Aku baru baca setengahnya. Tapi sudah belasan kali tersenyum penuh arti pada monitor jadul ini. Hm, kenapa kata “Dia” terasa sangat romantis di tulisan ini ya? Like this🙂

    Reply
  8. Retnadi

    duh, sampai nangis haru baca ini. manis bgt🙂 paling suka bagian ini “Dengarlah, Kawan. Engkau tak perlu menjadi orang hebat bagi dunia. Kau hanya perlu menjadi orang hebat bagi orang tercintamu.”—langsung bacain ini buat suami😀

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Hehehe…trims ya mbak. Senang udah bisa bikin orang lain nangis. Biasanya saya cuma gangguin anak kecil sampe nangis😛

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s