Balada Ukraina #12

“Indra!! Come here…quick! Quick!” Timur, si gendut dari kelas 11, menyerbu ruangan saya dengan wajah panik. Kami lalu berlari ke ruang kelas 11, yang letaknya hanya di seberang ruangan saya. Levan dan Dima, dua cowok kelas 11, tampak berdiri di depan pintu kelas dan memandang ke dalam kelas dengan wajah cemas.

“Ada apa, sih?” tanya saya rada panik. Timur menunjuk temannya, si jangkung Nikita, yang sedang sempoyongan sambil memegangi lehernya. Wajahnya pucat dan dia mengeluarkan suara tercekik, seperti orang keracunan. Sementara itu, murid-murid perempuan tampak panik dan beberapa memegangi pundak Nikita.

Beberapa detik kemudian, Nikita jatuh berdebam ke lantai, setelah sebelumnya menabrak meja dan kursi macam dewa mabuk, diiringi jerit anak-anak perempuan. Darah tampak menghiasi mulutnya. Sebagian mengalir turun ke lantai. Tapi, saya bukan orang yang gampang percaya dengan siapa pun. Saya langsung berjongkok dan mengamati wajahnya. Darah itu tampak asli. Setidaknya mirip darah betulan. Tapi…

“Lho…kenapa dia malah tersenyum?” kata saya heran.

Dan bubarlah sandiwara anak-anak kelas 11. Nikita membuka mata dan berdiri sambil cengengesan, sementara anak-anak lain melemparinya dengan pensil dan kapur. “Booo….stupid fool!” teriak mereka sambil tertawa. Saya bertepuk tangan sambil tertawa. “Pertunjukan yang hebat!” saya menyindir. Kalau saja cengiran Nikita tidak lepas, mungkin saja saya akan percaya dia betulan kolaps.

Good luck next time, guys!” kata saya sambil melambai dan meninggalkan kelas. Saat itu memang bukan jam pelajaran saya. Kelas 11 adalah war zone terakhir selain kelas 7 dan 8. Ada sebelas anak di kelas ini, empat laki-laki dan sisanya perempuan. Selain Nikita dan Timur, ada si gondrong Levan dan si bocah Yahudi, Dima. Catatan: Di negara-negara berbahasa Rusia, Nikita adalah nama laki-laki. Di kita, mungkin setara dengan Joko atau Bambang. Jadi, tak perlulah menamai anak perempuan Anda Nikita, seperti artis mana tuh…😛

Bareng setan-setan kelas 11. Ki-ka: Dima, saya, Timur, Levan, dan Nikita.

Bareng setan-setan kelas 11. Ki-ka: Dima, saya, Timur, Levan, dan Nikita.

Anak perempuan di kelas ini semua namanya berakhiran “a”: Kristina, Maria, Xenia, Alina, Regina, Victoria, dan Anastasia. Wajahnya sih cantik-cantik khas perempuan Slavia, tapi judesnyaaa…mana tahan! Angkuh, sok cool, dan keras kepala. Belakangan, kata Oleg, anak-anak perempuan ini juga sering bikin kesal Jeffrey, guru sebelum saya yang asal Kanada. Menolak belajar, sibuk dengan make-up di kelas, dan macam-macam lagi.

Ini Nirvana. Oke, Levan sama Nikita emang gak gitu mirip Kurt sama Krist. :P

Ini Nirvana. Oke, Levan sama Nikita emang gak gitu mirip Kurt sama Krist.😛

Dua cowok, Levan dan Nikita, mengingatkan saya pada si kembar George dan Fred Weasley di serial Harry Potter, yang usil namun cerdas. Drama “berdarah” di atas tadi cuma salah satunya. Mereka juga selalu punya “mainan” yang aneh-aneh. Walaupun kelakuan Levan dan Nikita mirip si kembar Weasley, wajah mereka, sekilas–kalau dilihat dari mobil ngebut–malah mirip Kurt Cobain dan Krist Novoselic, dua personel band Nirvana. Lengkap dengan rambut gondrong mereka. Bedanya, ini Kurt dan Krist versi unyu, belum ada jenggotnya….hehehe!😛

Kelas 11 termasuk kelas yang tak mudah saya taklukkan. Anak-anak cowoknya nggak masalah buat saya. Walaupun jahil setengah mampus, mereka masih mau diajak ce-esan sama saya, asalkan saya sesekali mau diajak gila-gilaan.

Pernah, suatu hari, mereka masuk ke ruangan saya sambil membawa sepucuk pistol. “Eh, apa-apaan ini?” protes saya sambil berdiri. Saya kira mereka mau menembak saya, seperti ulah beberapa psikopat yang memberondong anak-anak sekolah di Amerika dengan senjata api.

“Hei, hei….tenang, Indra. Ini pistol mainan, kok!” kata Levan cengengesan. Nikita menutup pintu. Mainan, katanya, tapi dilihat lama-lama pun benda itu tidak terlihat seperti mainan.

“Kami mau ngetes pistol ini di sini…boleh, ya?” kata Timur. Dima si bocah Yahudi cuma cengar-cengir melihat kelakuan teman-temannya. Bocah ini termasuk pendiam dan kalem, jarang usil seperti ketiga temannya. Tapi, seperti jamaknya orang Yahudi, anak ini cerdas. Bahasa Inggrisnya fasih dan konon dia jawara matematika satu sekolahan ini.

“Pistol apa, sih?” saya malah penasaran. Ndilalah, saya kok malah ikut-ikutan setan-setan ini.

Keempat bocah usil-tengil itu mendemonstrasikan caranya. Pistol itu punya peluru logam yang sangat kecil—jauh lebih kecil daripada kelereng, sehingga ketahuan itu memang mainan. Tapi begitu ditembakkan dari jarak dua meter ke sasaran—misalnya kamus Oxford milik Timur, peluru itu mampu melesak hingga satu senti ke dalam buku tebal itu. Saya bahkan dipersilakan mencoba menembak satu kali—dengan tangan gemetaran dan pundak dipegangi dua orang. Sebenarnya sih, asyik juga. Tapi karena ini masih dalam lingkungan sekolah, saya segera menyudahi acara “latihan menembak” itu.

“Jangan laporin ke Oleg, ya. Kalau sampai kepala sekolah tahu, kau dan kami bisa dikeluarkan dari sekolah,” kata Levan sok polos.

“Lain kali, jangan bawa benda itu lagi ke sekolah. Kalau aku dikeluarkan, aku cuma disuruh pulang ke rumah. Tapi, kalian bisa di-DO dan habislah pendidikan kalian,” kata saya tegas. Mereka tampaknya paham konsekuensinya dan cuma bisa manggut-manggut.

Kata Nikita, di luaran, mereka kadang mencari lapangan kosong dan “berlatih” menembak dengan target kaleng kosong atau botol bekas bir dan vodka.

Sebenarnya, saya menanggapi soal itu dengan ringan saja. Jelas terlihat, mereka hanya anak-anak usil yang gemar bermain-main dalam segala situasi. Dengan sekali gertak, mereka sudah bisa membayangkan akibatnya. Toh, di sini juga nggak ada yang namanya tawuran pelajar seperti hobinya anak sekolah Jakarta. Gawat betul kalau tawuran sambil bawa-bawa pistol “mainan” itu!

Dan memang, di hari-hari berikutnya mereka tidak pernah lagi membawa-bawa “mainan” itu.

***

Setelah hampir dua bulan mengajar, saya mendapat jatah libur di akhir Maret. Saya langsung menelepon Nastya untuk memastikan saya nggak bengong saat ada jatah libur seminggu. Mengajar itu aktivitas yang melelahkan. Apalagi menghadapi kelas-kelas war zone yang bikin stres itu. Saya butuh liburan!

“Kau mau ke mana liburan ini?” tanya Nastya di telepon Jumat malam itu.

“KIEV!” kata saya mantap.

“Oke. Aku nanti bilang ke anak-anak Kiev ya. Biasanya mereka bisa menampung tamu dari luar, atau minimal mengajakmu jalan-jalan keliling kota.”

“Asyiiiik!! Thanks, Nastya!” saya bersorak kegirangan. Besoknya, Sabtu, selepas mengajar di Big Ben, saya minta diantar Olya ke stasiun untuk beli tiket kereta ke Kiev. Rasanya lega sekali saat malam itu hang out bareng teman-teman sambil makan di kafe dan membayangkan backpacking ke ibukota Ukraina, Kiev.[]

4 thoughts on “Balada Ukraina #12

  1. Rini Nurul Badariah

    Wajahnya sih cantik-cantik khas perempuan Slavia, tapi judesnyaaa…mana tahan! Angkuh, sok cool, dan keras kepala.-> persis kesanku atas wajah-wajah Eropa Timur di film dan majalah *sungguh komen tidak penting*

    Reply
  2. ishtar281

    Bagusnya yg yahudi itu dbawa k indonesia. Suruh ngajar disini. Kali aj ikutan pinter ;p

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s