Balada Ukraina #13

Senin pagi jam 6 kurang saya sudah tergopoh-gopoh berlari ke luar apartemen. Penjaga piket, seorang perempuan tambun yang masih terkantuk-kantuk, menatap sebal pada saya yang sepagi itu sudah ribut menitipkan kunci kamar. Maklum, jam segitu tergolong masih subuh di sini.

Berjalan cepat menuju halte, naik trem no. 1 menuju vokzal—stasiun kereta, tak sampai 15 menit kemudian saya sudah tiba di stasiun. Sehari sebelumnya saya sudah menelepon Julia untuk menemani saya di stasiun. Untung dia mau, padahal kereta berangkat jam 06.20 ke Kiev. Saat itu saya belum bisa membaca huruf-huruf Cyrillic yang lucu itu. Jadi saya minta ditemani sekadar untuk ngobrol dan minta bantu bacain huruf-huruf aneh di tiketnya….hehehe🙂

Kereta ke Kiev.

Kereta ke Kiev.

Jam 06.20 kereta berangkat tepat waktu. Saya sengaja naik kereta Stolichny Express pagi biar lebih cepat sampai. Kondisi keretanya nggak jauh beda sama kereta eksekutif di Indonesia, dengan formasi bangku 2-2.  Jam 12.30 siang saya tiba di Kiev. Awal Maret itu langit mendung di ibukota Ukraina itu. Jalanan juga basah karena hujan baru saja reda. Suhu masih sangat dingin bagi saya, antara 0-5 derajat Celcius.

Di stasiun, saya dijemput oleh Rimma, anak AIESEC Kiev. Sebelum jalan-jalan, kami makan siang dulu di sebuah resto di sebelah stasiun. Kata Rimma, “Hari ini ada dua orang yang akan menemanimu jalan-jalan. Setelah aku, nanti sore ada Igor yang akan menemani sampai malam. Habis itu, kalian mampir sebentar ke kampusnya. Nanti ada Daniel di sana dan kau akan menginap di apartemennya malam ini.”

Saya melongo mendengar penjelasan Rimma. AIESEC Kiev tampak profesional sekali untuk urusan ini. Saya yang anak magang dari Dnipropetrovsk, kota berjarak 450 kilometer dari Kiev, bisa diservis seperti ini untuk urusan jalan-jalan doang…hehehe!🙂

“Kami sudah biasa begini. Lagi pula, aku pun jadi punya kesempatan bertemu orang-orang dari negeri-negeri lain. Kau orang Indonesia pertama yang kutemui,” kata Rimma panjang lebar sambil mengunyah roti. Puas makan siang, kami jalan-jalan sedikit di sekitar situ. Rimma, cewek Kiev yang baik hati ini, dengan fasih bertindak sebagai pemandu wisata saya siang itu, sambil bercerita banyak hal tentang Kiev.

Dari resto, kami berjalan-jalan menyusuri Khreshchatyk, melewati stasiun Kiev lagi. Stasiun kereta Kiev Passazhyrskyi (Київ-Пасажирський), terletak di Khreshchatyk (Хрещатик) Street, di pusat kota. Stasiun ini juga terkoneksi langsung dengan stasiun metro (kereta bawah tanah) Vokzalna.

Dari stasiun Kiev Passazhyrskyi, backpacker juga bisa menumpang keretabaik langsung maupun koneksi/ganti kereta—yang menuju kota-kota lain di Eropa Tengah dan Timur, bahkan hingga Asia Tengah! Beberapa di antaranya: Bratislava, Belgrade, Moskow, Budapest, Sofia, Praha, Saint-Petersburg, hingga kota-kota eksotis seperti Astana, Baku, dan Vladivostok, kota di Rusia yang letaknya berbatasan dengan Cina dan Korea Utara. Vladivostok bisa dicapai dalam delapan hari delapan malam naik kereta dari Kiev! Gileee….saya jadi ngiler bertualang naik kereta ke tempat-tempat itu!🙂

DSCN2914

Saya dan Rimma di Maidan Nezalezhnosti.

Kemudian kami sampai di alun-alun besar Maidan Nezalezhnosti—alias Independence Square. Kalau akhir pekan, atau sore hari setiap hari, kawasan ini ramai dengan orang-orang yang  nongkrong bareng teman-teman mereka. Kadang ada juga konser musik kecil-kecilan pada akhir pekan. Di sinilah ribuan orang nonton bareng laga-laga Piala Eropa 2012 yang ditayangkan lewat beberapa giant screen. Tapi ingat, cerita saya ini latarnya tahun 2008 lho….hehehe!😛

“Tempat ini dulu pernah jadi saksi sejarah bagi Ukraina. Oktober 2004, di sini ada demonstrasi besar-besaran, dikenal dengan nama Orange Revolution,” Rimma bercerita. “Waktu itu, rakyat berdemo memprotes pemilu yang dinilai curang dan penuh manipulasi dan intimidasi. Kiev menjadi pusat gerakan revolusi ini dengan ribuan demonstran berunjuk rasa setiap hari.”

Lanjut Rimma, protes yang menjalar ke seluruh negeri tersebut berhasil membatalkan hasil pemilu curang itu dan pemilu pun diulang oleh pemerintah pada tanggal 26 Desember, 2004. Di bawah pengawasan pengamat internasional dan lokal, pemilu ulang ini dinyatakan “bersih dan bebas”. Hasil akhir dimenangi oleh Victor Yushchenko yang pada pemilu pertama dikalahkan oleh pesaingnya, Victor Yanukovych. Yushchenko lalu diangkat menjadi presiden pada tanggal 23 Januari 2005 di Kiev.

Hmm…saya cuma manggut-manggut. Bisa dibayangkan situasi dan jumlah demonstran saat itu dengan melihat luasnya alun-alun ini. Saya malah jadi ingat demo besar 1998 menuntut Soeharto turun di Indonesia.

“Kenapa disebut Revolusi Oranye?” tanya saya.

“Itu warna ‘resmi” kubu Yushchenko saat pemilu waktu itu.”

Di Maidan, kami bertemu dengan Igor, “pemandu wisata” saya berikutnya. Saya bertukar alamat e-mail dengan Rimma, sebelum kami berpisah karena dia sedang punya urusan di kampusnya. Mendadak hujan turun lagi. Saya dan Igor langsung kabur ke…resto terdekat! Hehehe! Tapi berhubung saya baru makan, di sana kami cuma makan roti dan beberapa cangkir teh panas. Sambil ngobrol ngalor-ngidul. Setelah hujan reda, saya minta tolong dia untuk beli tiket pulang ke Dnipro untuk dua hari lagi.

Setelah itu, Igor mengajak saya balik ke Maidan. Sambil muter-muter nggak jelas, dia mengajak saya turun ke terowongan bawah tanah. Di situ banyak toko dan pedagang kaki lima. Saya tertarik beli topi kupluk wol murah meriah yang berlogo coat of arm Ukraina berwarna biru-kuning. “Keren!” kata Igor nyengir sambil mengangkat jempol.

Seruas jalanan di Kiev.

Seruas jalanan di Kiev.

Dari situ kami melanjutkan jalan kaki ke atas bukit. Walaupun sudah terbiasa berjalan kaki sejak tiba di Ukraina, saya tetap saja ngos-ngosan mendaki. Sementara Igor dengan enaknya berjalan seolah-olah tanahnya datar. Sesekali dia nyengir melihat saya minta berhenti sebentar karena kehabisan napas. Sepanjang jalan, saya melihat banyak gedung-gedung tua yang masih bagus; gedung pemerintahan, universitas, dan banyak lagi. Di tengah perjalanan, Igor menunjukkan stadion milik Dynamo Kiev. “Kau tahu, kan? Dynamo sering masuk putaran final Liga Champions. Biasanya bareng musuh bebuyutan kami, Shakhtar Donetsk.”

Igor mengajak saya melihat Kiev dari atas bukit. Ah, benarlah impresi yang saya punya sejak kecil tentang musim dingin. Kiev saat itu didominasi warna abu-abu kelam dan cokelat. Melewati taman-taman kota yang banyak terdapat di kota ini, saya melihat pohon gundul di mana-mana, walau ada juga sedikit warna hijau daun yang bertahan dari dinginnya musim salju.

Sebuah taman kota di Kiev.

Sebuah taman kota di Kiev.

Langit pun lebih sering mendung. Kini saya bisa merasakan sendiri betapa suramnya suasana musim dingin. Tak heran para penduduk di negara empat musim sangat merindukan musim panas. Walaupun sering kali pemandangan salju sangat memesona, suhu beku dan kesan suram musim dingin mau tak mau memengaruhi mood juga. Mungkin untuk itulah salju diciptakan: memoles pemandangan suram agar lebih cantik.

Di depan stasiun metro Arsenalna.

Tak terasa, langit sudah gelap. Serpihan-serpihan es kecil mulai turun. Gerimis salju! Kami lalu berjalan ke stasiun metro bernama Arsenalna (Арсенальна). Ada monumen meriam di depan stasiun ini—pantaslah namanya Arsenal (= gudang senjata). Di Kiev memang sepertinya bertaburan monumen-monumen peringatan Perang Dunia II. Stasiun ini juga salah satu stasiun dengan lokasi paling dalam di dunia. “Kedalamannya 107 meter,” celetuk Igor memberitahu saat kami turun dengan eskalator.

Membeli tiket metro gampang caranya, kita tinggal menuju loket pembelian tiket untuk membeli token—koin plastik, lalu memasukkan koin itu ke mesin di pintu masuk. Kira-kira mirip dengan token untuk naik MRT di Kuala Lumpur. Harga satu buah tokennya sekitar 50 kopecks (0,5 UAH alias setengah sen)) waktu itu. Satu token berlaku untuk satu kali perjalanan, jauh-dekat. Jadi kalau misalnya kita perlu beberapa kali naik kereta, kita mesti beli token beberapa buah, tergantung berapa kali perjalanan kita dengan metro.

Metro di Kiev cukup bersih. Karena musim dingin, banyak jejak sepatu dan tanah basah yang terbawa dari luar. Yang paling nggak enak adalah naik metro saat jam sibuk. Penumpang berjejalan seperti naik Metro Mini di Jakarta. Penting: jangan berdiri di dekat pintu kereta, karena secara otomatis pintu akan tertutup dengan sangat keras. Bahu bisa ngilu kalau terhantam pintu. Dan biasanya kereta juga tidak akan berangkat kalau ada sesuatu yang mengganjal pintu otomatisnya.

Saljuuu!! :D

Saljuuu!!😀

Kami turun di stasiun Universytet (Університет). Kenapa namanya begitu, ya karena lokasinya bersebelahan dengan gedung-gedung universitas. Begitu kami keluar dari stasiun, hujan salju turun sangat lebat. Salju! Wah….saya girang bukan main. Hujan salju kedua saya di Ukraina!

Dengan noraknya saya meraup segenggam salju di tanah dan melempari Igor dengan es serut itu. Igor tertawa-tawa sambil menghindar. Tentu saja saya langsung minta difoto, mumpung hujan salju lagi deras-derasnya mengguyur Kiev malam itu. Benda putih yang selalu ingin saya sentuh dan rasakan sejak kecil itu akhirnya turun menemui saya Maret itu dalam jumlah melimpah. Gila…cantik sekali pemandangan malam itu. Padahal saat itu menjelang musim semi, tapi hujan salju masih saja turun sesekali. []

4 thoughts on “Balada Ukraina #13

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s