Balada Ukraina #14

DSCN2923

Keren ya, pemandangan hujan salju🙂

Sekretariat AIESEC Kiev menempati sebuah ruangan sempit namun panjang di lantai paling atas gedung National Economics University. Gedung ini berlantai lima. Lift-nya rada kecil sehingga diisi enam orang pun sudah sesak. Terpaksalah saya dan Igor naik tangga ke lantai lima.

Di sana saya ketemu teman-teman baru yang asyik-asyik. Awalnya cuma ada 1-2 orang di sana. Sesekali saya ditinggal sendirian dan saya gunakan kesempatan itu untuk nebeng online di situ. Makin malam, makin banyak yang datang. Vlad, yang pernah menjemput saya di depan stasiun Kiev saat pertama kali saya tiba di Ukraina, juga datang. “Hey, man, what are you doing here?” sambutnya terkejut melihat saya.

Belakangan, Daniel  dan beberapa temannya tiba. Daniel-lah yang akan menampung saya di apartemennya selama dua hari. Pemuda gondrong pirang ini tak banyak bicara, tapi murah senyum. Lalu ada Oxana, gadis pirang mungil yang lebih pendek dari saya. “Hi, Indra! Gimana jalan-jalan hari ini?” sapa cewek manis itu.

Oxana rupanya adalah Reception Coordinator di AIESEC Kiev. Salah satu tugasnya mengatur siapa-siapa yang bertugas menemani anak magang dari luar negeri, termasuk yang sengaja berkunjung ke Kiev dari kota-kota lain di Ukraina, untuk urusan keorganisasian ataupun untuk yang sekadar jalan-jalan kayak saya.

Sambil ngobrol-ngobrol utara-selatan, saya mulai tebar pesona bagi-bagi suvenir berupa dompet koin motif batik yang saya beli di Pasar Baru, Bandung, seharga Rp 50 ribu untuk 100 buah. Suasana jadi tambah meriah saat saya sibuk mempromosikan film indie buatan saya tentang kampanye Dilarang Kencing Sembarangan. Sayang, sekarang VCD film saya itu sudah hilang entah ke mana. Sebagian nonton film pendek itu di laptop dengan serius, walau di akhirnya ketawa juga.

“Film bikinanmu kok pas banget ya,” komentar Sasha ngakak. Belakangan saya mengerti maksudnya. Daniel menjelaskan, di Ukraina, kondisi toilet umum biasanya sangat jorok dan mengerikan. Kalau beruntung, sih, bisa saja menemukan toilet yang rada bersih. Tentu saja, di mal-mal toiletnya selalu bersih. “Kalau lagi kebelet dan sedang di ruang terbuka, lebih baik kencing di balik pohon atau semak-semak,” kata Daniel sambil nyengir.

Bareng anak-anak AIESEC Kiev.

Bareng anak-anak AIESEC Kiev.

Ah, anak-anak ini asyik semua. Mereka menerima saya dengan hangat dan semuanya bisa berbahasa Inggris dengan baik. Seandainya ada tukang bakso di dekat situ pasti lebih asyik lagi. Dingin-dingin makan bakso panas dengan sambal melimpah, sambil nongkrong dan ketawa-ketiwi bareng teman-teman baru. Luda, cewek jangkung dan cantik, sambil malu-malu bertanya, “Indonesia itu di mana, sih?”

Teman-temannya langsung tertawa. Tapi Luda langsung sigap menyambar, “Hey! Like you know where it is?” sentaknya sambil menunjuk Sasha.

“Ehm….nggak juga, sih,” jawab Sasha malu-malu, disusul sorakan teman-temannya. Saya cuma ngakak melihat kejadian seperti itu. Untungnya ada peta dunia digantung di tembok. “Sini aku tunjukkin!” kata saya. Kami langsung merubung di depan peta itu.

“Ngomong-ngomong, kalian tahu Indonesia ada di benua apa?” tanya saya curiga, jangan-jangan mereka nggak tahu juga.

Mengajar geografi :)

Mengajar geografi🙂

“Afrika.”

“Asia.”

“Amerika Selatan?”

Hah? Lagi-lagi saya cuma bisa ketawa. Miris juga yah lihat orang nggak tahu negara kita ini di mana? Malam itu saya pun terpaksa jadi guru geografi dadakan dan menunjukkan letak Indonesia di peta. Sementara itu, Sasha mengambil kamera saya dan memotret ke sana kemari. FYI, nama Sasha di negara-negara berbahasa Rusia itu singkatan dari Alexander (untuk cowok) dan Alexandra (cewek). Nah, Sasha yang ini kebetulan cowok.

Malam itu kami pulang ke apartemen Daniel. Hujan salju sudah reda. Jalanan Kiev tampak dramatis bagi saya karena diselimuti es serut cukup tebal. Kami lalu naik metro bareng Luda dan Oxana. Turun di stasiun Kharkiv’ska, lalu berjalan kaki sekitar 15 menit ke distrik Nova Darnytsya. Di sebuah gedung, kami naik lift ke lantai delapan.

Daniel tinggal bersama orangtuanya di kawasan timur Kiev. Apartemen mereka cukup besar. Ada dua kamar tidur berukuran lapang, satu kamar mandi, dan satu dapur. Saya ditempatkan di sebuah ruang yang sebenarnya difungsikan sebagai gudang, namun ukurannya cukup luas dan bersih. Ada ranjang yang tampak cukup lebar dan nyaman. Wah, beruntung banget saya dapat tumpangan begini.

“Kalau mau mandi, silakan saja. Ada air panas, kok,” kata Daniel.

“Hohoo! Thanks, man!” girang sekali saya. Seharian jalan-jalan rasanya bikin badan agak lengket. Walau masih musim dingin, karena banyak berjalan kaki sebenarnya badan jadi terasa agak hangat.

Seorang pria keluar dari sebuah kamar. Wajahnya lempeng seperti umumnya orang sini. Dia tersenyum singkat dan menghampri saya. “Oh, ini ayahku,” kata Daniel. Kami pun bersalaman. “здравствуйте, apa kabar?” sapa saya.

“здравствуйте,” balasnya. “Dari mana?” tanyanya dalam bahasa Ukraina. 

“Я из Индонезии, saya dari Indonesia.”

Dan sampai di situ saja percakapan kami. “Ayahku tidak bisa bahasa Inggris,” kata Daniel tersenyum. Klop, deh. Bahasa Rusia saya juga masih terbatas beberapa kata atau kalimat ringan sehari-hari. Oh ya, di Kiev, orang-orangnya berbicara dalam bahasa Ukraina, bukan Rusia. Meskipun aksara yang dipakai tetap Cyrillic, kata-katanya cenderung berbeda, walau ada kemiripan. Misalnya, dalam bahasa Rusia nama ibukota Ukraina ini ditulis “Kiev”, dalam bahasa Ukraina menjadi “Kyiv”. Mungkin seperti bahasa Melayu dengan Indonesia. Kota tempat saya tinggal, Dnipropetrovsk, masuk wilayah timur yang dominan bahasa Rusia, sementara Kiev di bagian barat yang dominan adalah bahasa Ukraina. Namun, hampir semua orang Ukraina setidaknya menguasai kedua bahasa itu.

Saya lalu pamit sebentar buat mandi. Nikmatnya mandi air panas di tengah suhu beku rasanya segar luar biasa. Tapi karena bukan di apartemen sendiri, saya nggak bisa berlama-lama. Setelah ganti pakaian, Daniel memanggil saya dari dapur. “Makan, yuk,” ajaknya. Rupanya dia baru saja membuat salad. Nah, inilah yang bikin hidup saya sehat banget selama tinggal di Ukraina. Nyaris tak pernah bersentuhan dengan makanan yang digoreng dan setiap hari jalan kaki berkilo-kilometer. Padahal, betapa nikmatnya makan nasi goreng tek-tek malam-malam dingin begitu. Dilanjut dengan minum bir pletok hangat.😛

Sambil makan, kami banyak ngobrol dan saling bercerita tentang negara dan diri masing-masing. Daniel rupanya sudah biasa menerima tamu asing anggota AIESEC yang menginap di apartemennya. Itu cukup menjelaskan kenapa bahasa Inggrisnya sangat fasih. “Besok, kau akan ditemani Sasha Kovbasko dari pagi sampai siang. Habis itu ada beberapa orang lagi yang akan bergantian menemanimu sampai malam. Barulah aku menjemputmu lagi,” jelasnya. Nah, kan. Profesional sekali mereka ini! Backpacking ke Kiev jadi sangat murah ongkosnya berkat jaringan ini.🙂

Jam 11, saya mulai menguap. “Poka, Indra! Selamat malam!” kata Daniel. Malam itu saya tidur sangat nyenyak. []

8 thoughts on “Balada Ukraina #14

  1. Pingback: Pengetahuan Baru Setiap Hari | Olahraga Kami: Kejar Deadline | Web Sweet Web

    1. Indradya SP Post author

      Ehm, maksudnya….Nikita pada dasarnya nama cowok. Tapi ada juga sedikit perempuan yg punya nama Nikita, walau mungkin sangat jarang.🙂

      Reply
  2. Rini Nurul Badariah

    FYI, nama Sasha di negara-negara berbahasa Rusia itu singkatan dari Alexander (untuk cowok) dan Alexandra (cewek). – *catet* Selama ini kusangka Sasha selalu cowok.

    Reply
  3. putriviona

    waaaaah lagi internship AIESEC di Kiev? pengen jugaaaa. saya pengen banget ke ukrainaaa, tahun lalu ikutan GCDP di Poland, di kota Rzeszow, deket banget sama Ukraina tp karena visa nya beda jd ga bisa main ke sana😦 padahal udah sampe przemysl yang jaraknya sejam doang ke ukraina. udah main ke Lviv beloom? katanya Lviv paling cantik ya, kayak semacam kota budaya gitu? room mate waktu exchange kemaren juga orang ukraina, dan namanya juga Oksana. di Ukraina banyak nama Oksana ya hehehe😀 semoga suatu saat bisa main ke ukraina juga. sukses ya GIP nya! (GIP kan? hehe)

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s