Balada Ukraina #15

Pagi yang putih di Kiev. Jam. 07.30 saat kami keluar dari gedung apartemen Daniel hari itu. Salju sisa hujan semalam tampak menyelimuti taman-taman kota dan bahu jalan. Walau udara masih terasa dingin beku, matahari bersinar sangat cerah. Udara pun terasa cukup segar. Sebagian jalanan tampak licin dan agak becek. Saya dan Daniel menyeberang jalan dan menunggu di halte bus. Tak lama, datanglah seorang gadis berambut panjang kecokelatan dan memakai kacamata hitam yang gaya.

“Sasha,” katanya memperkenalkan diri. Nama panjangnya Alexandra Kovbasko. Biar lebih mudah, saya sebut saja Sasha K.

“Sampai siang jam 12 ini kau ditemani Sasha ya,” kata Daniel.

Bus yang kami tunggu pun tiba. Barulah saya merasakan suasana transportasi publik Kiev pada jam kerja: sami mawon kayak di kota-kota kita. Berdesak-desakan. Tapi enak sih, karena jadi anget, sementara di luar suhunya sangat dingin. Hehehe!🙂 Saya mencatat nomor ponsel Daniel di Samsung butut saya. “D-a-n-i-e-l,” saya mengetik namanya di phone book.

“Ehm, sebenarnya sih bukan begitu mengeja namaku,” kata Daniel.

“Lho? Terus gimana?”

“D-a-n-i-i-l,” dia mengeja. “Tapi nggak apa-apa kok, nama Daniel itu versi bahasa Inggris namaku…hehehe…” Daniel nyengir.

Di sebuah halte, Daniel turun. Dia mau pergi ke kampus. “Sampai ketemu nanti malam,” katanya sambil melambai ke arah kami. Saya dan Sasha meneruskan perjalanan beberapa halte lagi, baru kemudian melompat turun. Sebenarnya, saya punya dua tujuan wajib dalam kunjungan ke Kiev ini.

Pertama, ke kantor perwakilan Turkish Airlines. Saya mau mengganti tanggal kepulangan saya dua minggu lebih cepat. Di bulan Juli ada acara summer camp buat anak-anak sekolah EG. Berdasarkan diskusi dengan seorang teman asal Indonesia yang kuliah di Singapura dan pernah mengajar di EG dua tahun sebelum saya, acara di sana cenderung membosankan bagi trainee dari luar negeri. Saya masih ingat e-mail dari Diana tentang hal itu:

Well…I think the Summer Camp is more like an offer. NOT A MUST. I did go though coz I was there for quite a short period of time and I wanted to learn more. But to be frank…I did not enjoy it. Why? Their camp is different from our outdoor camp. They have their buildings, programmes going on and the thing is.. no one really speaks English. I find myself bored to death.. although yeah..you learned more things there too, especially when the kids and teachers perform. I know Jeffrey did not go for the camp.. it will be hard to get the students to study in a camp..and you have to prepare for lessons and not just being there to have fun. It was frustrating for me…and it was lonely.

Hahaha… hope I dont scare you that much.

Take care and keep in touch ok. Be strong!

Dee

Nah, untungnya memang acara summer camp Juli itu sifatnya opsional. Saya sudah berpikir masak-masak. Rasanya, kalau melihat agenda, saya sudah cukup capek dengan anak-anak di sekolah. Kapan bisa backpacking kalau saya terus bergabung dengan acara sekolahan?😛 Lama-lama, saya pikir saya ini cuma guru gadungan. Nebeng program magang di luar negeri for the sake of traveling.😛

Jadi, saya mengganti acara summer camp itu dengan rencana backpacking ke beberapa kota di Ukraina. Saya juga belum tahu apakah pihak sekolah mau menanggung biaya apartemen saya kalau saya tidak ikut summer camp. Kalau memang tidak mau, saya masih punya waktu untuk mencari tebengan tempat tinggal atau, pilihan terparah, menabung untuk membayar sewa apartemen sendiri.

Kedua, saya mau mampir ke Kedubes RI di Kiev. Entah mau apa, yang jelas ibu saya punya kenalan di sana, dan mungkin saya bisa ketemuan dengan orang itu sekadar menjaga kontak dengan masyarakat Indonesia. Sukur-sukur bisa minta jatah mie instan atau uang saku. :P Selain dua tempat itu, saya bebas meneruskan acara jalan-jalan di Kiev.

Pagi di Kiev.

Pagi di Kiev.

Baru jam  08.30 waktu kami menemukan kantor agen maskapai itu di Pushkinskaya. “Maaf, kami baru buka jam sembilan nanti,” kata petugasnya dari balik pintu. Jadi, kami mampir dulu ke sebuah kafe di sebelah kantor Turkish yang baru saja buka. Kebetulan nih…lagi pula tadi saya hanya sarapan mashed potato dan roti di apartemen Daniel. Saya memesan pancake, croissant, dan teh panas rasa buah, lalu berbincang akrab dengan Sasha tentang diri kami masing-masing.

Walau terkesan pendiam, gadis ini ternyata punya banyak cerita menarik. Setelah diajak ngobrol, baru ketahuan dia ini cerdas dan mudah akrab dengan siapa saja. Dia bahkan bisa sedikit bahasa Perancis, jadi kami sesekali menyelingi obrolan dengan bahasa itu.

Sasha kuliah di jurusan Ekologi di National University Kyiv-Mohyla Academy. Ia tinggal dengan ibunya di kawasan timur Kiev. Saya tak ingat di mana persisnya. “Aku sudah tak punya ayah. Dia tewas akibat terpapar radiasi waktu reaktor nuklir Chernobyl meledak pada 1986, beberapa bulan sebelum aku lahir,” Sasha bercerita.

Mendengar kata “Chernobyl”, saya teringat sebuah peristiwa ledakan reaktor nuklir paling dahsyat dalam sejarah umat manusia. Saat itu, Sasha melanjutkan, Ukraina masih menjadi bagian dari raksasa komunis Uni Soviet. Ayah Sasha bekerja sebagai kru pemadam kebakaran di Pripyat, kota berjarak sekitar 110 kilometer di utara Kiev, tak jauh dari perbatasan Ukraina – Belarus. Pripyat dihuni hampir 50 ribu orang yang sebagian warganya bekerja di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Chernobyl. PLTN ini jaraknya hanya empat kilometer dari Pripyat, sementara kota Chernobyl sendiri malah berjarak 14 kilometer dari PLTN.

The ghost town of Pripyat today. Gambar pinjam di sini.

The ghost town of Pripyat today. Gambar pinjam di sini.

Malam hari tanggal 25 April 1986, reaktor no. 4 di Chernobyl rencananya akan dimatikan untuk perawatan reguler. Entah kenapa, mungkin karena kesalahan operasional atau memang peralatan yang rusak, terjadilah ledakan. Sabtu dini hari, sekitar pukul 01.30 tanggal 26 April, ledakan di reaktor itu mengakibatkan atap reaktor jebol dan melayang tinggi; 500 ton nuklir dan sembilan ton material radioaktif terlempar ke langit dalam bentuk bola-bola api. Material dan awan radioaktif berembus hingga ke nyaris semua wilayah Ukraina, lalu juga Belarus, Rusia, Polandia, dan sebagian wilayah Baltik. Konon, tingkat radioaktif akibat ledakan Chernobyl lebih besar 100 kali dibandingkan bom atom di Hiroshima.

Uni Soviet sengaja menyembunyikan informasi soal ledakan itu dari dunia, namun sebagian material yang tersapu hingga ke wilayah Swedia membuat informasi itu tak bisa dirahasiakan lebih lama. Saat kejadian, dua orang tewas di tempat. Lalu, 29 kru pemadam kebakaran, yang masuk untuk memadamkan api namun tanpa pelindung yang semestinya terhadap radiasi, tewas beberapa minggu kemudian.

“Ayahku adalah salah satu dari 29 kru itu,” kata Sasha. “Ibuku dulu sering bercerita kepadaku tentang ayah dan Chernobyl.”

Chernobyl. Gambar pinjam dari sini.

Chernobyl. Gambar pinjam dari sini.

Sekitar 350 ribu warga Pripyat dan Chernobyl serta desa-desa kecil di sekitarnya dievakuasi keluar hingga radius minimal 30 kilometer dari PLTN itu. Kakak ayah Sasha dan keluarganya yang bekerja di Pripyat termasuk dalam rombongan besar warga yang dievakuasi oleh tentara. Menyusul ledakan itu, empat ribu orang tewas bertahap akibat radiasi, jutaan orang menderita penyakit-penyakit aneh atau cacat permanen yang mengerikan, hutan-hutan dan sungai juga terkontaminasi. Reaktor terakhir, no. 3, akhirnya dimatikan total pada tahun 2000.

“Eh, kau nggak kena radiasi?” saya menyela.

“Tidak, ibuku sedang berada di rumah orangtuanya di Odessa waktu itu. Jauh sekali dari Chernobyl,” kata Sasha.

Lucunya, sejak beberapa tahun lalu ada beberapa agen tur yang menyediakan paket wisata ekstrem ke area Chernobyl dan kota mati Pripyat, kata Sasha. Entah apa serunya main ke tempat-tempat mengerikan itu. Ada rumor yang mengatakan bahwa di Chernobyl, ada orang yang pernah melihat sekelompok buaya mutan raksasa yang mungkin terkena radiasi nuklir. Cerita-cerita seperti yang terakhir ini banyak beredar, tapi sulit dibuktikan kebenarannya. Bagaimanapun, membayangkan kisah Sasha sudah cukup menyeramkan. Saya tak berani menanyakan bagaimana kondisi fisik ayahnya yang tewas terkena radiasi.

“Hei, sudah sejam kita di sini!” Sasha mengingatkan sambil menunjuk jam tangannya.

Kami pun membayar makanan kami dan menuju kantor Turkish untuk mengurus perubahan tanggal tiket pulang saya. Petugasnya lancar berbahasa Inggris sehingga saya tidak butuh Sasha untuk menerjemahkan. Setelah itu, barulah kami jalan-jalan lagi. Tak sengaja, kami melihat sebuah bangunan dengan papan bertulisan Kiev Lodging Hostel & Chernobyl Tours. Masih di jalan yang sama.

“Chernobyl Tours?” tanya saya sambil menoleh ke Sasha.

“Hmm…Ini mungkin salah satu agen tur yang kuceritakan tadi. Kalau mau, ayo kita tanya-tanya ke dalam.”

Seorang staf bernama Uri menyambut kami. “Indonesia? Wah, Anda orang Indonesia pertama yang mau ikut tur Chernobyl dengan kami,” katanya dengan bahasa Inggris yang bagus.

“Ehm, saya mau tanya-tanya dulu, kok,” kata saya.

Menurut Uri, ini satu-satunya hostel yang menyediakan paket tur ke Chernobyl. Mereka punya semua dokumen legal untuk menyelenggarakan tur dengan aman dan dengan harga yang terjangkau kantung backpacker. Harga one-day tour satu orang di sini sekitar 120 dolar AS—sepertiga gaji saya di EG. Angka itu sudah termasuk pemandu berbahasa Inggris, pakaian anti-radiasi, topeng gas, mobil antar-jemput, makanan dan minuman, pass resmi untuk memasuki Pripyat dan zona terdalam Chernobyl. Semua tur ke Chernobyl mesti dalam kelompok, tidak bisa sendirian.

“Ini harga yang bagus bagi backpacker untuk tur satu hari. Di tempat lain, Anda mungkin dikenai harga di atas 150 dolar, bahkan ada yang 200,” Uri malah promosi dengan bersemangat.

Saya jawab saja saya sedang cari informasi. Bagaimanapun, saya juga masih khawatir dengan keamanannya. Bagaimana kalau saya kena sisa radiasi dan berubah jadi mutan? Masa saya harus gabung dengan X-Men?😛 Uri meyakinkan saya bahwa Chernobyl sekarang aman. Bahkan kita tak perlu memakai topeng gas. Tingkat radiasi di beberapa tempat di sana malah kurang dibandingkan dengan ketika kita berada di pesawat di ketinggian 10.000 meter. Namun, kita tetap harus hati-hati. Kalau melihat suatu area dengan rambu-rambu bertanda simbol radioaktif, artinya jelas: jangan pergi ke situ.

“Pemandangan Pripyat dan Chernobyl sebelum musim semi ini menggetarkan, karena pohon-pohon masih gundul. Bagus sekali suasana yang didapat, terutama bagi fotografer yang menginginkan foto-foto tentang sebuah kota mati yang ditinggalkan semua penduduknya,” jelas Uri. “Gimana, tertarik?”

“Wah, saya cuma punya kamera jelek begini,” kata saya sambil menunjukkan kamera saku saya. Uri hanya tertawa. “Saya pikir-pikir dulu, ya. Kalau oke, nanti saya hubungi.”

“Oke, silakan. Ini nomor telepon kami,” kata Uri sambil menyodorkan sebuah brosur.

Kami lalu keluar dan melanjutkan jalan-jalan sambil membahas tur Chernobyl tadi. “Aku tahu Chernobyl memang sudah beberapa tahun belakangan jadi objek wisata ekstrem. Tapi baru pertama kali aku masuk ke kantor agen tur macam itu.” Saya merasa kunjungan ke agen tur tadi membangkitkan kenangan Sasha tentang ayah yang hanya ia kenal lewat cerita-cerita dari ibunya. Tentang mimpi buruk bernama Chernobyl. Betapa merinding ketika membayangkan para warga kota yang dibangunkan paksa pada dini hari, dievakuasi tentara, diperintahkan meninggalkan rumah dan kota tercinta, menyadari bahwa mereka tak akan pernah kembali lagi. Itu pun kalau selamat tak terkena radiasi.

“Kau tertarik ikut turnya?” tanya Sasha.

“Sebenarnya tertarik. Aku penasaran. Cuma, aku masih ragu soal keamanan tur seperti itu. Harganya mahal sekali. Ada, sih, duitnya, tapi aku masih sangat ragu.”

“Hahaha…ya sudah, jangan maksa. Atau, kita bisa main ke Museum Chernobyl. Itu lebih aman. Banyak info menarik yang bisa kau lihat di sana.”

“Eh, benar? Ayo deh, kalau begitu!”

Kami memilih naik metro dan turun di stasiun Kontraktova Ploshcha. Sayang, saat kami tiba di museum itu, gedungnya sedang ditutup untuk renovasi. Di bagian luar, kami masih bisa melihat beberapa mobil tua yang digunakan untuk mengevakuasi warga dari Pripyat dan Chernobyl saat kecelakaan itu terjadi.

“Ada apa saja, sih, di dalam?” tanya saya.

“Hmm…artefak, foto-foto, film, macam-macam deh…benda-benda yang dipamerkan untuk mengedukasi publik tentang berbagai aspek dari peristiwa ledakan reaktor nuklir itu.”

Berhubung saya tidak berjodoh untuk melihat-lihat museumnya, kami melanjutkan jalan-jalan lagi ke sembarang tempat. Saya berpikir, beruntungnya saya bisa bertemu warga lokal yang bisa bercerita banyak tentang negeri mereka, dengan bahasa yang bisa saya mengerti.

“Mungkin peristiwa Chernobyl-lah yang menggerakkanku untuk belajar ekologi di bangku kuliah,” cerita Sasha. Kami berjalan di trotoar yang masih menyisakan onggokan salju di sana-sini. “Ukraina punya masalah besar dengan lingkungan hidup,” lanjutnya. “Dan ayahku jadi salah satu korbannya.”

Menurut Sasha, masalah-masalah lingkungan hidup di Ukraina sebagian masih berhubungan dengan limbah nuklir Chernobyl dan kontaminasi sisa radiasinya dan polusi industri. Belum lagi persediaan air yang layak minum, masalah penebangan hutan, juga polusi air dan udara. Di sini, kita tak bisa meminum air langsung tanpa memasaknya lebih dahulu.

Patung Mykola Vitaliyovych Lysenko.

Patung Mykola Lysenko.

Sambil jalan-jalan, sesekali, Sasha berhenti dan menunjuk beberapa gedung indah atau patung berukuran jumbo sambil menjelaskan banyak hal. Kiev adalah kota dengan banyak patung: seniman, komposer, sastrawan, atau pemimpin politik di masa lalu. “Ini patung Mykola Lysenko. Dia komposer terkenal Ukraina yang hidup di abad ke-18,” kata Sasha sambil menunjuk ke sebuah patung di sebelah gedung orkestra.

Setelah sekitar satu jam berjalan kaki, Sasha mengingatkan, “Katamu, kau mau mampir ke Kedubes Indonesia?”

“Yep…”

“Punya alamatnya?”

Saya merogoh tas dan mengeluarkan buku catatan saya. “Ini…” saya menyodorkan buku itu di halaman yang ada alamat KBRI yang sudah saya catat beberapa hari sebelumnya.

Sasha tampak segera tahu alamat itu. Kami berjalan ke sebuah halte dan naik bus kota. Sebenarnya, warga Kiev menyebut bus ini marshrutka, namun jenis mobilnya berbeda dengan di Dnipro. Yang ini menurut saya lebih pas disebut bus 3/4.

Tak sampai setengah jam kemudian, kami melompat turun dari bus. Menyeberang jalan, ada sebuah taman yang tampak sepi dan menyedihkan. Berbelok ke kanan, ke seruas jalan sepi. Ada sebuah bengkel mobil dekat situ, sisanya gedung-gedung kelabu yang sepertinya gedung-gedung apartemen. Tak lama, saya melihat bendera merah-putih berkibar di langit biru cerah. “Itu dia!” teriak saya senang.

Gedung KBRI di Kiev. Bagus, ya! :)

Gedung KBRI di Kiev. Bagus, ya!🙂

Di sana, saya mencari yang namanya Arif, kenalan ibu saya. Siang itu, selain Arif, ada juga beberapa staf lain di sana. Wah, ternyata, saking jarangnya ada orang Indonesia di Ukraina, mereka agak terkejut dan menyambut saya dengan hangat, seolah sudah kenal saya sebelumnya. Kami ngobrol di ruangan Pak Harry, Sekretaris I, sambil minum teh panas dan ngemil biskuit. Macam-macam pertanyaan mereka waktu itu.

“Kamu ngapain jauh-jauh ke Ukraina?”

“Kamu kuliah? Kerja?”

“Ini siapa? Pacar kamu?”😛

Pak Harry juga meminta saya mencatatkan diri dulu di KBRI. Untung saya bawa paspor. Sambil ngobrol-ngobrol, Mas Arif—Sekretaris III Bidang Ekonomi—mengantarkan saya berkeliling di bagian dalam gedung itu. Sasha saya perkenalkan pada alat musik tradisional kita: angklung. Lagi pula, saya kan juga mengajar angklung di EG. Habis itu lanjut ke gudang. #eh

“Ada kantinnya nggak, Mas? Saya kangen nasi goreng nih!”

“Hehehe…lagi tutup. Kadang-kadang ada istri-istri staf sini yang masak dan bawa masakannya ke kantor,” kata Mas Arif. “Dan kamu lagi apes, hari ini nggak ada yang bawa makanan,” lanjutnya sambil ketawa.

“Indomie ada?”

“Buseet!” Mas Arif ngakak. “Kamu ke rumahku aja, deh. Banyak tuh stok Indomie!”

Persahabatan Indonesia - Ukraina. :)

Persahabatan Indonesia – Ukraina.🙂

Setelah nongkrong setengah jam lebih di sana, saya pamit mau jalan lagi. Sebelumnya, saya meminta kartu nama beberapa orang KBRI. Penting, dong. Saya di negeri jauh yang tak populer di mata orang Indonesia. Kalau ada apa-apa kan saya tahu harus menghubungi siapa. Apalagi orang Indonesia di Ukraina sangat sedikit. “Paling cuma 60,” kata Mas Arif.

Dari KBRI, kami kembali ke pusat kota. Sasha mengajak saya makan siang di Puzata Hata, sebuah jaringan restoran yang menyediakan menu-menu tradisional Ukraina. Salah satu menu favorit saya adalah borsch, sejenis sup yang konon menjadi kebanggaan warga Ukraina. Buat saya, sup ini lumayan cocok di lidah. Kadang-kadang saya pikir rasanya mirip sayur asem…hehehe! Borsch berbahan utama beetroot (sejenis umbi), yang menghasilkan warna merah keunguan pada sup ini.

Saya juga mengambil (di sini sistemnya prasmanan) beberapa roti dan kotleta po-kievsky (Котлеты по-киевски)—dada ayam tak bertulang yang di dalamnya diisi sayuran dan digoreng garing dengan balutan panir di bagian luarnya. Di beberapa resto atau kafe di Indonesia menu ini juga ada. Cari saja yang namanya chicken kiev.

“Kau tahu, chicken kiev bukan masakan asli Ukraina,” kata Sasha sambil kami menyantap makan siang masing-masing.

“Eh, kok bisa?” kata saya sambil menabur beberapa bungkus kecil lada dan garam. Maklum, lidah orang bule memang hambar.🙂

“Ya. Jadi, ceritanya, kira-kira pada pertengahan abad ke-18, bangsawan Rusia mengirim para chef-nya ke Paris untuk belajar masak. Waktu kembali ke Rusia, mereka membawa resep yang disebut Mikhailovska cutlet. Masakan yang dibuat di Paris itu aslinya menggunakan daging sapi muda. Tapi, di Moskow, hidangan ini dibuat dari ayam karena harga daging sapi muda mahal. Hidangan ini disajikan di ruang makan mewah dan jamuan makan malam resmi di Rusia, tapi justru Amerika-lah yang memopulerkan nama chicken kiev.”

“Lha, kok gitu?” Saya menenggak jus jeruk saya.

“Iya. Setelah Perang Dunia Kedua, para chef restoran fine dining di New York mulai menyajikan hidangan ini. Hidangan ini diberi nama chicken kiev untuk menarik imigran Rusia dan Ukraina yang banyak tinggal di New York pada masa itu. Nama masakan itu belakangan menjadikan nama kota Kiev sangat terkenal.”

Saya cuma manggut-manggut—sambil meraih roti dan mencelupnya ke sup. Betapa kisah dan sejarah di balik sebuah masakan bisa demikian ruwet! Sehabis melicinkan mangkuk yang tadinya berisi borsch, saya bersiap membantai ayam kiev yang tampak menggoda itu.

“Kalau cara memasaknya benar, mentega di dalam ayam baru meleleh setelah dipotong,” jelas Sasha saat saya sedang memotong daging ayam yang empuk itu. DanEh, benar juga! Saya sangat puas dengan menu siang itu. Juga senang karena berkenalan dengan mahasiswi Kiev yang baik hati dan berwawasan luas seperti Sasha.

“Enak banget makan siangnya!” kata saya—sambil menjilati jari-jari saya.

Sasha cuma nyengir—mungkin karena melihat kelakuan saya.

Bareng Sasha K habis makan siang. :)

Bareng Sasha K habis makan siang.🙂

Selepas makan siang, datanglah guide saya berikutnya. Namanya…Sasha Havronska. Haduh, Sasha lagi! Kedua perempuan itu bahkan tertawa-tawa saat berkenalan. Lho, ternyata mereka belum kenal. “Semua guide-mu hari ini, walau belum kenal, menyimpan jadwal dan nomor kontak masing-masing,” kata Sasha H—sebutan saya untuk membedakan dengan Sasha K dan Sasha-Sasha lainnya. Hahaha!😀

Setelah bertukar nomor ponsel dan alamat e-mail, Sasha K memeluk saya dan pergi ke kampusnya. “Sampai ketemu lagi, ya!” ia melambai.

Bye! Kontak-kontakan terus, ya!” balas saya.

Saat itu jam dua siang. Saya dan Sasha H langsung bersiap jalan-jalan lagi sampai sore.[]

21 thoughts on “Balada Ukraina #15

  1. Astrie

    Ke Beijing, setelah itu ke salah satu dari 3 provinsi disana. Tapi hanya sekitar 35 hari karena program voluntir. Ada suggest mungkin maskapai apa yang oke (harganya, hehe) buat kesana? Oya Mas, kalo pihak KBRI kira2 ada nggak sih kemungkinan untuk ngasih bantuan berupa dana?

    Reply
          1. Indradya SP Post author

            Blum pernah pake. Kalo mau ke Beijing cobain AA aja, ke KL dulu. Atau Cebu, ke Manila dulu. Cek semua rute kalau mau menekan biaya. Capek dikit gapapa.

            Reply
  2. yusmei

    Pernah mau ikut tur ke Chernobyl juga, tapi biayanya diurusin staf KBRI cuma 500 ribu rupiah, tapi akhirnya batal karena pengajuan tur harus 10 hari sebelum keberangkatan. Katanya harus izin ke Departemen Kesehatan dan Keamanan kalau gak salah. Hehe. Eh itu gedung KBRI….ya ampuun, jadi kangen mas ke sana🙂

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      500 ribu = 50 dolar?? Ah, yang bener?? Orang KBRI gak ada yg bilang sih…tau gitu saya mau aja😦

      Reply
      1. yusmei

        iya bener,,,dulu yang ngurusin namanya Alex, staf KBRI tapi orang Ukraina..dia udah nelfon ke tur agen…biayanya cuma 50 dolar…kita batal gara2 udah keburu pulang. Nyesel juga sih😦

        Reply
        1. Indradya SP Post author

          Wah…pantesan…harga orang lokal tuh😀 Kata temen saya kalau mau nekat sih coba aja pergi sendiri. Sewa mobil, lewat jalan rahasia yg nggak dijaga tentara…hehe😀

          Reply
    1. Indradya SP Post author

      Ah, kalo sama trio macan politik mulu, masbro…saya eneg sama politik😛

      Reply
  3. Astrie

    Salam kenal Mas Indra. Nama saya Astrie, saat ini saya sedang proses matching untuk program Global Community Development Program AIESEC. Mau tanya pendapatnya Mas Indra, saya masih ada waktu untuk mengurus keberangkatan sekitar 5-6 minggu. Memungkinkan nggak untuk apply permohonan dana buat mengcover biaya tiket pesawat? Saya berencana apply ke beberapa institusi pemerintah, termasuk kampus saya. Terima kasih Mas!

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s