Balada Ukraina #17

Pemandangan sepanjang jalan. Double-decker ala Inggris ini dijadikan kafe. :)

Nggak sengaja nemu pemandangan ini pas jalan-jalan di Kiev. Double-decker ala Inggris ini dijadikan kafe.🙂

“Kau belum mampir ke St.Michael, kan? Yuk, ke sana!” ajak Victor. Sambil berjalan kaki, kami mengobrol tentang banyak hal. Bahasa Inggris Victor bagus dan artikulasinya jelas, sementara Yuliya sedikit lambat.

Victor kuliah di jurusan Manajemen di International Christian University (ICU) di Kiev. Di kampusnya, perkuliahan dilakukan dalam bahasa pengantar Inggris dan Ukraina, dengan beberapa dosen tamu berasal dari AS, Inggris, dan tentu saja dosen lokal Ukraina. “Well, that explains,” komentar saya sambil nyengir.

Victor sendiri berasal dari Mariupol, sebuah kota di Donetsk Oblast, provinsi di Ukraina timur. Sementara itu, Yuliya berasal dari Lviv, Ukraina barat. Dia kuliah di kampus yang sama dengan Daniel. “Lviv kota yang keren. Kota budaya dan bersejarah. Kau pasti suka. Mainlah ke Lviv kapan-kapan,” Yuliya berpromosi.

Ayo cari yang mana tulisan Jakarta! :)

Ayo cari yang mana tulisan Jakarta!🙂

Masih di Maidan, Victor mengajak saya melihat sesuatu. “You might wanna see this,” katanya. Di dekat pintu masuk sebuah bangunan yang ternyata gedung kantor pos, ada sebuah monumen yang di atasnya ada bola dunia. Namanya Globus. Di bagian bawahnya, tampak pola melingkar yang di pinggirnya ada tulisan-tulisan dan angka-angka. “Nah, ini nama-nama kota besar di dunia dan jaraknya dari Kiev. Lihat, ini Jakarta,” kata Victor sambil menunjuk sebuah kata. Saya membacanya dengan tersendat. Jakarta! Jaraknya 9.582 kilometer dari sini. Keren!🙂 Bisa-bisanya saya melewatkan monumen kecil ini, padahal sudah melewati Maidan beberapa kali.

Setelah itu, saya pasrah diajak mereka berdua ke mana saja. Kami saling menceritakan soal diri kami masing-masing, saling tebak umur, dan bergurau sesekali. Walau tujuan jalan-jalan kami ke  gereja St. Sophia dan St. Michael, mereka mengajak saya menyusuri Sungai Dnipro dulu. Saat duduk-duduk di tepi Sungai Dnipro, saya izin lima menit buat sholat dulu. Mumpung sepi.🙂 Mencari masjid di Kiev tampaknya sesulit mencari jarum di padang pasir. Itu juga kalau ada.😛

Tentu saja Victor dan Yuliya memandang heran. Mereka tahu saya Muslim. Tapi melihat orang sholat pasti baru kali itu. Dan tentu saja mereka “menuntut” penjelasan setelah saya selesai, walau reaksi mereka cuma manggut-manggut. “Katanya, sih, Muslim di Ukraina lebih mudah ditemukan di wilayah selatan, dekat Laut Hitam. Tapi aku belum pernah melihat cara beribadah kalian. Dan waktu main ke sana pun aku belum pernah lihat masjid,” kata Victor nyengir.

“Ngomong-ngomong, kenapa sungai ini namanya sama dengan Dnipropetrovsk?” tanya saya sambil menunjuk sungai lebar itu.

“Kau tahu, ini sungai terpanjang keempat di Eropa,” Victor menjelaskan. “Panjang totalnya lebih dari 2.000 kilometer. Di tiga negara, namanya sama. Sungai ini melewati Rusia, Belarus, dan Ukraina. Tapi yang paling panjang ya di Ukraina ini. Soal nama Dnipropetrovsk, setahuku itu diambil dari nama sungai Dnipro dan nama belakang seorang pendiri kota itu dulu, Grigory Petrovsky, seorang pemimpin Komunis.”

“Tahu nggak,” Yuliya menimpali, “di musim dingin, kadang-kadang ada sekelompok orang gila yang suka berenang di sungai ini. Padahal suhunya di bawah nol dan sebagian permukaan air beku jadi es!”

“Semacam extreme sport di sini. Aku sendiri pernah coba tahun lalu, dan langsung sakit!” kata Victor sambil tertawa. “Tapi ada juga sebagian orang yang berenang di es dalam rangka ritual agama.”

Saat itu kami berada di sisi seberang Hydropark—sebuah taman rekreasi yang populer bagi warga Kiev. Pada musim dingin, taman itu ditutup. Namun pada musim panas, ramainya bukan main. Walau jauh dari laut, Kiev mempunyai “pantai”nya sendiri, yaitu pantai di pinggir sungai. :P Kami berjalan lagi dan sempat ngaso sebentar di….McDonald’s!

Yuliya dan Victor.

Yuliya dan Victor.

Kami lalu meneruskan perjalanan sambil ngobrol dan menonton jalan macet ala Kiev. Setengah jam kemudian kami sampai di area katedral St. Michael. Di halamannya, ada sebuah kolam air mancur dengan batu salib di atasnya. Saat itu air mancurnya sedang tidak dinyalakan. “Namanya Fountain of Dreams. Kalau kau bisa menempelkan koin di bagian tiang yang menjorok ke tepian itu, make a wish,” kata Yuliya.

Saya pun iseng-iseng ikut main di situ. Selain kami, ada juga beberapa orang yang mencoba “peruntungan” masing-masing. “Menempelkan” koin di situ bukan soal mudah.

Begini penampakan koin yang berhasil "ditempel". :)

Begini penampakan koin yang berhasil “ditempel”.🙂

Pertama, koin harus dibasahi sedikit, lalu ditekan agak lama di ujung tiang tadi. Walaupun bertahan agak lama, beberapa detik kemudian koin bisa jatuh juga. “Itu tandanya, keinginanmu akan dikabulkan, tapi cuma beberapa detik,” kata Yuliya sambil tertawa.

“Sssstt, cewek itu dari tadi melihatmu terus…kau minta apa, sih? Cewek Ukraina, ya? Hahahahaa!!” Victor meledek saya. Tampaknya cewek yang dimaksud Victor itu mendengar dan mengerti maksudnya. Tapi dia hanya tersenyum-senyum.

Mejeng di depan gereja St. Michael.

Mejeng bareng Victor di depan biara berkubah emas St. Michael.

Setelah merasa puas main-main di situ, Victor mengajak saya jalan lagi. “Eh, kau mau lihat sunset? Kita ke atas bukit, yuk! Aku tahu spot yang bagus untuk melihat sunset Kiev yang indah,” kata Victor. Sunset? Di kota besar begini? Wah, saya jadi bersemangat.

Kami berjalan kaki melewati Maidan lagi, lalu menyeberangi jembatan penyeberangan bagi pedestrian yang menuju ke kaki bukit, lalu berjalan naik ke atas. Victor mengajak kami berjalan di jalan setapak, keluar dari jalur, belok sana belok sini, menembus semak belukar, dan tiba di suatu tempat di balik batu besar di dekat tebing. Ada ruang seluas sepertiga apartemen saya, cukup untuk duduk-duduk bertiga, tanpa terhalangi pepohonan. Kami berdiri memandang ke arah pusat kota.

Sunset di Kiev, dengan monumen Behehynia yang menjulang.

Sunset di Kiev, dengan monumen Berehynia yang menjulang.

Ladies and gentlemen, please welcome…Kiev with the sunset,” kata Victor dengan gaya agak membungkuk dan melambai ke arah Maidan Nezalezhnosti. Saya terbengong-bengong. Indah sekali pemandangan dari atas sini.

Posisi kami saat itu tidak terlalu tinggi di atas bukit. Tapi spot yang kami tempati sangat strategis untuk menikmati Kiev sore itu. Suara kesibukan jalanan Kiev nyaris terdengar samar. Selama beberapa saat kami hanya duduk-duduk diam di situ. Saya duduk bersandar pada sebuah pohon. Tiba-tiba saya penasaran.

“Ngomong-ngomong, kalian ini pacaran, ya?” tanya saya iseng.

Yuliya yang pertama menyambar. “Pacaran? Sama dia? Ih, males banget!”

Victor tak mau kalah. “Kalau pacaran sama dia, aku harus pakai masker. Dia jarang mandi!”

“Eh, sembarangan, ya!” Yuliya melempar Victor dengan botol plastik air mineral kosong.

“Wah, kalian mesra sekali, ya!” saya nyeletuk sambil tepuk tangan. Kali ini giliran botol kosong tadi yang dilempar ke saya.😛 Kami bertiga tertawa-tawa. Matahari yang sedang pulang ke peraduan pun mungkin tersenyum-senyum menonton kami.

“Ngomong-ngomong, itu patung apa, ya? Aku sudah beberapa kali lihat, tapi tidak tahu apa itu,” kata saya.

“Itu Berehynia,” kata Yuliya. “Jadi, dalam mitologi Slavia, Berehynia adalah roh perempuan. Semacam dewi, kira-kira. Fungsinya sebagai penjaga ibu pertiwi.”

“Dan Slavia sendiri…kelompok etnik, iya kan? You guys are Slavs, right?”

“Ya. Orang Slavia tersebar banyak, dari daratan Rusia, Asia Tengah, hingga ke negara-negara pecahan Yugoslavia.”

“Apa bedanya orang Slavia Ukraina dengan di negara-negara lain? Aku tidak bisa membedakan orang Ukraina dan Rusia….”

“Hmm….apa ya? Banyak, kok. Bahasa kami masing-masing berbeda, meskipun sama-sama memakai aksara Cyrillic. Kultur dan sejarah kami juga beda. Yang jelas, gadis-gadis Slavia itu cantik-cantik…seperti aku,” kata Yuliya kenes.

“Dasar genit!” seru Victor. Botol plastik pun melayang lagi.

Saat hari mulai gelap, Yuliya menerima telepon, lalu mengajak kami ke sekretariat AIESEC. “Daniel telepon, dia akan menjemputmu di sana,” katanya.

Menjelang malam di Kiev.

Menjelang malam di Kiev.

Seperti umumnya sebuah kota besar, pagi dan sore di Kiev selalu ada rush hour, entah di jalanan maupun di stasiun kereta bawah tanah. Victor dan Yuliya mengajak saya naik metro. Tiket metro di Kiev sangat murah, saat itu hanya 50 kopecks, atau sekitar 0,09 dolar AS sekali jalan. Rata-rata stasiun metro di Kiev terletak cukup dalam di bawah tanah. Warna gerbongnya mengikuti warna bendera nasional Ukraina, dominasi biru langit dan garis kuning. Bentuknya kotak dan tampak agak kuno, tapi bagian dalamnya cukup bersih. Sejauh yang saya lihat, di dalam dan di luar gerbong tak ada grafiti, begitu juga di stasiun-stasiunnya.

Yang bikin saya ngeri dengan kereta ini adalah pintunya. Saat menutup, pintu otomatisnya berdebam lumayan keras. Pundak pasti ngilu berat kalau sampai kena hantam pintu itu. Pintu kereta metro Kiev ini juga cukup sensitif. Kalau ada satu ruas pintu yang terhalang benda lain, entah itu kaki atau jaket yang terjepit, pintunya akan membuka-tutup tanpa henti. Masinisnya pasti tahu dan tidak akan menjalankan kereta. Kalau sudah begitu, petugas keamanan akan melotot mencari pintu mana yang terhalang itu.

Suasana stasiun metro di Kiev.

Saat jam pulang kantor, semua stasiun sepertinya tampak ramai luar biasa. Kereta yang datang setiap 2-3 menit saat jam sibuk pun rasanya kewalahan menampung beban entah berapa ratus penumpang dalam satu rangkaian kereta. Begitu kereta datang, penumpang yang akan naik sudah berdiri memepet gerbong. Bagusnya, mereka masih memberi jalan buat penumpang yang akan turun. Setelah itu, barulah aksi dorong masuk ke gerbong dimulai.

Saya dan Yuliya berhasil masuk, tapi Victor gagal menyusul. Begitu pintu otomatis menutup dengan keras, Victor cuma bisa dadah-dadah di luar pintu. Kereta pun melaju.

“Eh, gimana ini?” tanya saya terbengong-bengong.

“Tenaaang….biasanya kalau kita pergi beramai-ramai dan ada yang tertinggal, kita turun di stasiun berikutnya,” kata Yuliya.

Benar saja. Setelah kami turun di stasiun berikutnya dan menunggu beberapa menit, Victor muncul sambil cengengesan. “Sorry,” katanya.

Lalu kami menunggu kereta berikutnya. Tapi yang namanya rush hour Kiev padatnya bukan main. Kali ini Victor berhasil masuk…tapi Yuliya malah ketinggalan! Saya dan Victor berpandangan, lalu ketawa keras-keras.

“Kalian ini gimana, sih? Sering begini, ya?”

“Hahaha! Tenang, tenang…kita turun di stasiun berikutnya, ya” kata Victor sambil ketawa.

Saat kami menunggu di stasiun berikutnya, Yuliya pun muncul sambil cengengesan. “Sekarang jangan sampai ada yang ketinggalan lagi! Cuma tiga orang aja kok ketinggalannya giliran,” seru Victor sambil ketawa. Dan ketika kereta datang, kami bergandengan tangan dan akhirnya berhasil masuk…tiga orang lengkap!😛

Setelah turun di stasiun Universytet, kami berjalan kaki ke gedung kampus Daniel. Tak ada hujan salju malam itu. Daniel tiba tak lama setelah kami tiba di ruang sekretariat AIESEC. Lalu saya dan Daniel pulang ke apartemennya. Setelah mandi air panas, menjamak sholat, dilanjutkan dengan makan malam berupa salad (haduh!) dan ngobrol ngalor-ngidul, jam 10 malam saya langsung terkapar di kasur. Badan pegal, tapi hari itu sangat menyenangkan.

Esok paginya, diantar ayah Daniel ke stasiun, saya kembali ke Dnipro naik kereta jam 07.00. Rasanya belum puas menjelajahi Kiev. Tapi saya toh sudah pasti akan ke kota ini lagi menjelang musim panas nanti, karena toh saya akan pulang lewat Kiev.[]

(Bersambung)

11 thoughts on “Balada Ukraina #17

  1. yusmei

    Eh victor kece juga tuh…haha. waah baru tahu cerita unik beberapa tempat di kiev…dulu pas di sana kebanyakan jalan sendiri, jd gak tau banyakncerita. Jadi pengen balik lagi🙂

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Hehehe…malah ngecengin Victor🙂 Yuk ke sana lagi bareng2?🙂 Btw, di Kiev dulu nginep di mana?

      Reply
  2. lulu

    Wah, kalau di Jakarta bisa susah kalo sampai ketinggalan kereta. Datengnya bisa setengah jam sekali😀 Tapi seru yaa

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s