Balada Ukraina #19

Anak muda itu saya perkirakan baru berusia 23 tahun. Perawakannya pendek untuk ukuran orang Ukraina. Tingginya sama dengan saya, tapi badannya lebih atletis dan jabatan tangannya kukuh. Perkenalan saya dengannya terjadi sebulan lalu di depan gedung Dnipropetrovk History Museum. Saya dan Julia sedang menunggu Nik pada suatu siang di akhir pekan.

Tak lama, Nik datang bersama temannya. “Vova,” anak muda itu memperkenalkan diri. Nama “Vova” biasanya adalah panggilan akrab untuk nama Vladimir, Volodymir, dan sejenisnya. Teman Nik ini bukan anggota AIESEC. Ia hanya sedang tertarik bergabung. Setelah basa-basi sejenak, kami berempat pun masuk ke museum. Biaya tiketnya waktu itu sekitar UAH 10 atau kurang-lebih Rp 20 ribu.

History Museum di Dnipropetrovsk.

History Museum di Dnipropetrovsk.

Sayangnya, pengunjung dilarang memotret di dalam. Penjaga museum, seorang wanita tua, membuntuti kami selama berada di dalam. Persis seperti kalau kita lagi lihat-lihat barang di department store dan ada pegawai yang berdiri dekat-dekat kita…hehehe! “Itu prosedur standar, bukan karena dia curiga kita akan mencuri barang antik,” Nik berbisik.

Kalaupun saya tidak mengunjungi museum ini bersama teman-teman saya, paling-paling saya cuma bisa bengong.  Keterangan di dalam museum hanya tersedia dalam Rusia dan Ukraina.

Buat saya, isi museum ini tidak terlalu membosankan. Bagian dalam museum cukup bersih dan tampak terawat dengan baik. Saya jadi bertambah wawasan tentang masa lalu Ukraina. Tapi cerita soal ini nanti aja deh di versi bukunya….hihihi!

Gedung tua yang cantik ini didirikan tahun 1849. Selain benda-benda purbakala—patung-patung dan pernak-pernik lain yang ditemukan dalam penggalian-penggalian untuk kepentingan arkeologi, museum ini juga memamerkan koleksi vas Cina, kereta kuda, perabot-perabot kuno, koran-koran Rusia abad ke-18, dan bahkan mumi seorang wanita Mesir dan anaknya, yang menjadi salah satu koleksi kebanggan museum.

Yang paling saya suka adalah senjata-senjata kuno yang dipakai para Cossack di masa lalu: pedang, pisau, kapak, bola berduri, panah, dan banyak lagi. Cossack adalah satu kaum yang didominasi orang-orang Slavia timur yang menghuni kawasan Ukraina dan Rusia selatan pada abad ke-17. Cossack punya peranan penting dalam sejarah dan budaya Rusia dan Ukraina.

“Beberapa koleksi museum hilang saat Perang Dunia II. Beberapa koleksi diekspor ke luar negeri, misalnya ke Jerman,” kata Nik memberitahukan informasi yang dibacanya di sebuah teks keterangan. “Koleksi yang ada saat ini sekitar 250 ribu item.”

Beberapa bangkai peralatan perang di halaman museum.

Beberapa bangkai peralatan perang di halaman museum.

Setelah puas menjelajahi bagian dalam museum, Nik mengajak kami keluar. Di bagian belakang gedung, ada diorama “Battle of Dnieper”, yang menggambarkan beberapa adegan dalam Perang Dunia II. Di depan diorama itu, beberapa bangkai peralatan perang dipamerkan: tank, meriam, helikopter, dsb.

Setelah puas menjelajahi museum luar-dalam, kami berkumpul di halaman. Nik pamit duluan, ada kerjaan lain. Begitu juga Vova. Sementara saya diajak Julia mampir ke apartemennya di daerah Pravda di left bank, sisi seberang sungai. Cukup sekali naik marshrutka menuju ke apartemen Julia, tapi jaraknya agak jauh dari pusat kota. Wilayah tersebut penuh bangunan apartemen berwarna abu-abu atau kecokelatan, dengan kondisi jalan raya yang tak bisa dibilang mulus.

Turun dari marshrutka, kami berjalan kaki di antara bangunan-bangunan apartemen, berbelok ke sebuah gang yang tampak kotor dan banyak sampah, masuk dari pintu belakang, dan naik lift ke lantai enam. Di depan sebuah pintu, pacarnya yang bernama Wael, pemuda asal Mesir, menyambut kami.

Wael, yang saya kenal di Global Party di hari kedua saya di Dnipro, ternyata sudah beberapa bulan pacaran dengan Julia. Ia salah seorang dari sekian banyak orang Mesir yang mencoba peruntungan di negeri yang jaraknya empat jam terbang dari Mesir ini. “Cukup banyak orang Mesir yang cari kerja di Ukraina. Aku sendiri masih bekerja serabutan di sini, dan sekarang sedang mencoba masuk ke klub sepakbola lokal. Siapa tahu berhasil.”

Kata pemuda asal Kairo ini, sudah biasa kalau ada pria Mesir yang mencari jodoh cewek Ukraina. “Aku pun begitu,” bisiknya sambil nyengir ketika Julia sedang di kamar mandi. Saya manggut-manggut. Tubuh jangkung atletis dan tampang Wael yang rupawan khas orang Arab mungkin memang disukai cewek-cewek sini…hehehe.😛

Lalu, saat Julia dan Wael sibuk di dapur, saya pun meminjam laptop Wael untuk nyicil bahan mengajar di sekolah. Saya dilarang masuk ke dapur. “Kau tunggu saja. Nanti tinggal makan,” kata Wael. Tak sampai satu jam kemudian, makan malam sudah siap. Menunya ayam, mashed potato, dan salad. Lumayan lah daripada beli…hehe!😛

Saat itu, Wael menyodorkan sepisin sambal warna pink. “Kudengar kau suka pedas. Coba ini, deh.” Begitu saya coba, sambal itu langsung membakar lidah dan tenggorokan. Saya buru-buru menenggak air dingin, sementara Wael ketawa-ketawa. Sambal itu memang pedas luar biasa, tapi saking pedasnya malah tidak menyisakan sedikit ruang buat yang namanya kelezatan. Nggak kayak sambal terasi gitu deh…😦

Hingga langit gelap, saya nongkrong di apartemen mereka sambil melanjutkan ngetik di laptop buat bikin lesson plan. Wael sengaja memutar MP3 murotal di laptop yang lain. “Dasar wong edan,” batin saya geli. “Muter murotal tapi kumpul kebo sama gadis cantik Ukraina.” Setelah pekerjaan selesai dan ngobrol-ngobrol lagi sebentar, saya pamit mau pulang, tapi minta dianterin sampai naik angkot marshrutka.

“Kebetulan kami mau ke kota. Bareng aja yuk…” kata Julia.

Di pusat kota, Wael masih mengajak nongkrong di kafe atau dugem, tapi saya menolak dengan alasan capek. Nongkrong di night club atau pub tidak pernah masuk dalam kalender sosial saya, dan tampaknya mereka bisa melihat keengganan saya. Saya bukan orang yang suka pesta—kecuali pesta kolesterol.😛 Sesuatu tentang energi yang terbuang dan pembicaraan tanpa tujuan biasanya membuat saya merasa bosan dan tak bersemangat.

Kami pun berpisah di situ. Saya masih harus pulang berjalan kaki sekitar 1 kilometer menuju apartemen. Begitu masuk ke kamar, saya cuci kaki, cuci tangan, sholat, lalu tidur nyenyak.

***

Seminggu setelah berkenalan dengan Vova di museum, saya tak sengaja bertemu dengannya lagi di supermarket ATB di dekat apartemen. Saat itu saya sedang sibuk memasukkan belanjaan ke ransel (di sini, untuk plastik belanjaan pun kita harus bayar, jadi mending bawa tas sendiri), ketika ada orang yang memanggil saya. “Hey, Indra!”

Saya mendongak. Ternyata Vova yang saya temui waktu main ke museum tempo hari.

Hi! Remember me?” tanyanya sambil tersenyum.

Of course I do. How are you?”

Kami bercakap-cakap sebentar di pinggir jalan. Vova ternyata rutin berlatih aikido di sebuah dojo dekat ATB. Dia malah mengajak saya ikutan latihan aikido kapan-kapan. Anak ini bersemangat sekali, walau awalnya dulu tampak agak kalem dan pendiam. Kami bertukar nomor telepon, dan berjanji akan ketemu lagi kapan-kapan.

Kelak, pemuda ini akan menjadi salah satu sahabat terbaik saya di Ukraina—yang mengantarkan saya ke sisi-sisi lain Dnipro: ghetto, petualangan, dan perkelahian dengan orang-orang rasis di jalanan Dnipropetrovsk. Pssst, buat pembaca blog JOS yang cewek, Vova ganteng lho. Tapi fotonya nanti aja yaa di seri-seri berikutnya….hihihi!😛

(Bersambung)

7 thoughts on “Balada Ukraina #19

  1. yusmei

    Mana dooong fotonya vova jadi penasaran🙂
    Jadi inget dulu masuk ke museum buku di Kiev, sampai di dalam juga cuma bengong, keterangannya gak ada yang pake bahasa inggris blas🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s