Balada Ukraina #21

Senin-Jumat, saya biasanya mengajar dari jam 9 pagi sampai jam 9 malam. Sampai jam 16.00 saya mengajar di EG. Setelah itu saya pulang ke apartemen untuk sholat dan leha-leha sebentar. Jam 18.00 atau 19.00 saya harus mengajar lagi di Big Ben.

Dengan durasi kerja yang lumayan berat, satu-satunya yang bisa membuat saya rileks adalah berkumpul dengan teman-teman, termasuk membantu beberapa kegiatan AIESEC.

Seperti saat itu, saat saya diajak Sveta mengisi acara sharing di kampus National Mining University. Lumayan, sebelum jam 4 sore saya sudah bisa kabur dari sekolah…hehehe. Cuma sekali naik trem dari halte dekat sekolah, jalan kaki sedikit, dan saya tiba di gerbang kompleks universitas itu. Gedungnya tampak tua, dengan warna kelabu mendominasi dindingnya. Cocok banget buat setting film horor.🙂

Nunggu giliran "tampil". :D

Nunggu giliran “tampil”.😀

Sebenarnya saya tidak tahu mau disuruh apa sama Sveta sore itu. “Cuma sharing aja kok,” begitu jawabnya via SMS. Di lantai paling atas sebuah gedung, meminjam satu ruang kuliah. Sekitar 20-an orang sudah duduk manis di situ.

Sveta berbisik ke saya, “Indra, nanti kau bicara soal entrepreneurship di Indonesia, ya.”

“Hah?” Gawat, topiknya kok rada serius begini. Tapi untunglah, waktu kuliah dulu saya sempat jadi koresponden majalah Entrepreneur Indonesia (sekarang jadi Teknopreneur). Jadi, saat giliran saya bicara, saya berusaha mengingat-ingat apa yang saya tulis dan menceritakannya di depan forum.

Lagipula, entrepreneur level mahasiswa di kita kan dimulai dari hal-hal sederhana. Beberapa teman saya memulai dari usaha kecil-kecilan. Misalnya, ada yang bikin usaha mug dan desain merchandise, T-shirt, buka warung bakso, dan banyak lagi. Sebagian sukses, sebagian lagi banting setir. Sementara saya, pernah mau jualan bubur ayam aja gagal…hehehe!

Tapi bagi para mahasiswa sini, tampaknya itu hal baru. Apalagi saat saya mencarikan foto-foto di Google dan memperlihatkannya kepada mereka. Termasuk waktu saya tunjukkan foto-foto pasar kaget “sunday morning” di kawasan UGM tiap Minggu yang selalu penuh penjual dan pembeli, dengan beraneka jenis dagangan. Maklum, di sini tak seperti di Indonesia, yang kalau mau jualan bisa nyaris di mana-mana alias kaki lima.

Di sini tak bisa sembarangan buka lapak di trotoar. Di beberapa kawasan yang sudah ditentukan, misalnya di Andriyivski Uzviz di Kiev, pedagang kaki lima boleh berjualan. Memang sih ada segelintir orang yang buka warung shaurma/kebab, atau jualan pulsa di pinggir jalan, tapi umumnya mahasiswa Ukraina tak menganggap hal itu sebagai entrepreneurship. Dan saya lihat yang jualan di trotoar Dnipro itu kebanyakan orang tua, bahkan babushka (perempuan tua/nenek-nenek) juga kadang menggelar hasil kebun dan dijajakan di trotoar.

Selesai cuap-cuap, saya kembali duduk. Sveta berbisik lagi ke saya, “Bagus. Tapi kau kok berkeringat begini sih? Hehehe….”

Sial, dia nyindir rupanya. Saya memang suka gugup kalau harus bicara di depan banyak orang, terutama kalau disuruh bicara tentang topik yang tidak saya siapkan sebelumnya. Tapi ya sudahlah. Habis itu toh ada acara games dan pulangnya saya ditraktir makan sama Sveta…asyiiik!😀

***

Kartu diskon :)

Kupon “sakti”🙂

Sebagai trainee AIESEC, saya mendapat semacam kupon yang isinya logo beberapa tempat: English Movie Club (EMC), Mr. Smak (kantin), Puzata Hata (restoran), dan Bekir (kafe).

Untuk ikutan acara EMC, dengan menunjukkan kupon ini saya boleh masuk gratisan. Untuk resto Puzata Hata, diskonnya berlaku seminggu sekali untuk makan di tempat. Begitu juga dengan kafe Bekir. Sementara untuk Mr. Smak, saya malah boleh makan gratis tiap Sabtu-Minggu hingga entah hingga berapa UAH. Soalnya, saya selalu ambil banyak karena sistemnya prasmanan. Semuanya tinggal menunjukkan kupon. Lumayan, kan?😀

Kalau makan di Puzata Hata atau Mr. Smak, saya selalu mengajak teman. Satu orang saja cukup, dan bisa berganti-ganti setiap minggunya. Soalnya, selain buat teman ngobrol, si teman ini juga saya senang karena saya iming-imingi makan gratis. Jadi, jatah makan gratis sekali seminggu sebagian saya “sedekahkan” buat teman. Selain itu, kalau ada teman lebih enak, karena saya bisa tanya-tanya “ini apa, itu apa?” kepada mereka. Maklum, pelayannya nggak bisa bahasa Inggris. Asal bukan baboy, pasti saya embat menu apa saja. Dan, kalau saya ambil banyak makanan, saya bisa titip di piring si teman, jadi pelayannya nggak perlu segitu amat ngeliatin piring saya yang penuh.😀 Biasanya, saya makan sekenyangnya hingga seharian itu nggak perlu jajan lagi. Di sini makanan mahal, bo!😀

***

Setiap Jumat malam jam 19.00, komunitas English Movie Club (EMC) mengadakan acara pemutaran film di gedung History Museum. Selain dikelola anak-anak muda Dnipro, ada juga beberapa ekspatriat dari Amerika yang memandu acara. Yeah…orang Amerika memang ada di mana-mana—bahkan di kota ini, tempat saya menjadi satu-satunya orang Indonesia yang tinggal di sini (!).

Penonton di acara EMC kebanyakan adalah mahasiswa dan pelajar Dnipro yang ingin memperdalam kemampuan bahasa Inggris mereka. Selain nonton film, mereka (yang rada pede) kadang juga mengajak kenalan beberapa mahasiswa asing yang muncul di situ. Tapi kebanyakan mahasiswa asing di Dnipro berasal dari Cina dan beberapa negara Afrika—yang bahasa Inggrisnya juga pas-pasan…hehehe!

Jadi, sebelum film dimulai, biasanya MC mengajak ngobrol para penonton dulu, kemudian mereka memutar slide yang berisi beberapa potongan dialog yang diambil dari film yang akan diputar, lalu 1-2 orang Amerika itu akan membahas serangkaian vocabulary yang ada dalam dialog, plus beberapa kalimat expression. Dengan begitu, saat film diputar, peserta sudah memahami kosakata dan kalimat-kalimat ekspresi yang ada dalam dialog film. Apalagi yang menjelaskan tadi native speaker langsung.

Sesekali, pengurus EMC juga mengadakan kuis. Orang yang akan menjawab diharuskan naik ke panggung dan diajak berbicara agak banyak oleh MC (sesekali dikerjain juga). Dengan begitu, orang yang akan menjawab kuis itu dipaksa berbicara dengan native speaker dan di depan orang banyak. Sekali pemutaran film, yang datang biasanya di atas 50 orang.

Ini alternatif acara yang asyik kalau saya lagi nggak ada kerjaan sehabis mengajar di EG dan kalau tidak ada jadwal mengajar di Big Ben. Lagipula, saya selalu bisa masuk gratis dengan menunjukkan kupon, sementara penonton umum harus membayar sekitar 10 UAH. Film yang diputar selalu film Hollywood yang rilisnya sudah beberapa tahun lewat. Walau bukan film baru, asal saya belum pernah menonton, pasti saya usahakan datang ke EMC.

Alasan lain: karena film-film baru di bioskop seluruh Ukraina sudah di-dubbed ke bahasa Rusia/Ukraina! Bayangkan sekarang Harry Potter lagi ngomong bahasa Rusia! Hahahaha… :D[]

(Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s