Balada Ukraina #22

Bulan April tampaknya jadi bulan terburuk saya di sini. Empat kesialan terjadi seminggu sekali. Dan semuanya satu tema: rasisme. Kesialan pertama terjadi saat saya sedang berjalan kaki ke ATB, supermarket langganan saya. Sejak bertemu lagi dengan Vova secara tak sengaja di sana, kami saling bertukar nomor ponsel dan dia berjanji mengajak saya jalan-jalan. Salah satu meeting point-nya ya di depan ATB.

Suatu hari, saat berjalan menuju perempatan besar Jl. Titova, lokasi ATB, seorang pria paruh baya berpenampilan agak lusuh berpapasan dengan saya. Dia tampak menatap saya dengan ekspresi kesal, lalu mengatakan sesuatu dengan nada marah. Sudah melewati saya pun dia masih menoleh ke arah saya. Bahasa Rusia saya memang pas-pasan, tapi beberapa kata yang bisa saya tangkap sudah cukup menjelaskan apa yang dikatakannya: “Orang Afrika sialan! Pulang sana ke negaramu!” Selebihnya ada lagi, tapi saya nggak ngerti.

Afrika? Gila. Bahkan orang itu tidak tahu dari benua mana saya berasal. Kulit saya sawo matang, masih jauh sekali dari warna kulit hitam kelam orang Afrika. Kebetulan Vova sudah menunggu di depan supermarket. Saya langsung menceritakan kejadian semenit lalu itu. “Mana orangnya? Ayo kita samperin. Mungkin kita bisa beri dia sedikit pelajaran geografi,” katanya, entah serius atau bercanda.

“Sudahlah, lupakan saja,” kata saya. Tapi Vova agak memaksa dan kami menyusuri jalan yang baru saya lalui tadi. Tentu saja orang itu sudah tidak ada.

“Di sini banyak babushka yang menggelar lapak untuk berjualan, dan kadang gelandangan juga nongkrong di sini,” kata Vova.

“Ya, orang tadi memang pakaiannya agak lusuh dan dekil,” komentar saya.

“Mungkin dia memang gelandangan…ya, sudahlah. Mudah-mudahan kau tidak perlu mengalami hal itu lagi.”

Rasisme memang salah satu hal yang saya khawatirkan terjadi selama tinggal di sini. Sebelum saya tiba di sini, saya sudah browsing ke sana kemari soal yang satu ini. Pada kenyataannya, sebelum ada orang yang memaki saya seperti di atas, saya tidak/belum mengalami pengalaman rasisme yang serius. Sehari-hari, di jalanan atau di kendaraan umum, memang ada segelintir orang yang memandang saya penuh rasa ingin tahu—atau dengan ekspresi yang membuat saya tidak nyaman. Penyebabnya gampang ditebak: warna kulit. Selama masih berupa pandangan atau kata-kata, saya tidak terlalu peduli.

Setelah beberapa lama tinggal di sini, dengan mudah saya bisa memastikan bahwa saya adalah satu-satunya orang Indonesia di Dnipro pada saat itu. Saya juga sudah menanyakan soal ini ke Mas Arif di KBRI Kiev tempo hari—dan memang tidak ada orang Indonesia di Dnipro pada semester pertama 2008.

Di seluruh Ukraina pun orang Indonesia hanya ada kurang dari 60 orang pada 2008—yang sebagian besarnya adalah staf KBRI beserta keluarga mereka. Jadi, setelah beberapa minggu di sini, saya sudah terbiasa diliatin orang di jalan. Mungkin perasaaan yang sama juga dialami bule yang blusukan di jalanan kota-kota di Indonesia.

Dan perkara perlakuan rasis yang saya ceritakan tadi…well, ternyata itu bukan yang terakhir.

***

Saya cepat akrab dengan Vova. Orangnya easy going, malah cenderung polos dan kekanakan. Dia terus terang mengatakan, “Aku tidak pernah berteman dengan orang asing sebelumnya. Lagi pula, aku ingin melancarkan bahasa Inggrisku.”

Tentu saja saya tak keberatan. Bersama Vova, saya malah jadi tahu sudut-sudut Dnipro yang tidak pernah saya datangi sebelumnya. Kalau sebelumnya saya hanya tahu kawasan pusat kota, Vova mengajak saya ke pasar tradisional, taman-taman kota, naik metro (kereta bawah tanah), dan main ke apartemennya.

Di Globa Park.

Di Globa Park.

Ternyata Dnipro punya beberapa taman kota yang cukup besar dan indah saat musim dingin berlalu. Tak terlalu jauh dari apartemen saya, ada taman yang namanya Globa Park. Seperti umumnya taman di Dnipro, Globa Park tampak tua, sedikit tak terurus. Namun di musim semi dan musim panas, taman ini mendadak cantik karena menghijau. Saat akhir pekan, suasananya ramai. Banyak orang bermain perahu remote control di danau buatan di tengah taman.

Di taman ini juga ada merry-go-round kecil yang ramai dengan anak-anak. Juga ada beberapa pedagang kaki lima yang menjual burger, hotdog, atau es krim. Ada juga panggung yang atapnya berbentuk mirip rumah siput. Di musim semi dan panas, biasanya ada pertunjukan musik dan semacamnya di panggung tersebut. Sebenarnya, saya rasa suasananya tak jauh beda dengan pasar malam di kita.

Vova menyewa sebuah apartemen berkamar empat di pinggiran Dnipro—tiga kamar lainnya dihuni teman-temannya, sehingga biaya sewa apartemen jadi lebih irit. Karena dia tinggal agak jauh dari pusat kota, kami harus naik metro menuju tempat tinggalnya. Rute metro di Dnipro konon punya panjang paling pendek sedunia: cuma 7,1 kilometer—dan hanya punya 6 stasiun!

Sepatu murah made in China. :)

Sepatu murah made in China.🙂

Vova juga membantu saya membeli jaket hoodie dan sepatu kets di pasar tradisional. Namanya Ozerka. Pasar ini berupa satu bangunan besar berisi blok-blok yang masing-masing khusus menjual satu jenis barang yang sama. Mungkin mirip Pasar Baru di Bandung atau Pasar Beringharjo di Jogja. Saya bahkan menemukan sepatu Nike made in Indonesia di sana!

Mencari jaket dan sepatu yang harganya sesuai anggaran saya ternyata tidak mudah. Akhirnya saya membeli sepasang sepatu yang mereknya nggak jelas, made in China, setelah capek menawar di kios seorang pedagang asal Armenia, dan harganya sekitar 100 UAH (kira-kira Rp 200 ribu). Segitu juga termasuk murah. Di toko, harganya mungkin bisa dua-tiga kali lipat. Nggak jelek juga sih, tapi gara-gara saya lupa bawa sepatu kets, jadinya terpaksa beli di sini. Sepanjang musim dingin saya selalu memakai sepatu bot pinjaman dari Nastya. Sepatunya sih nyaman dipakai, tapi perasaan saya sepatu ini tidak akan berumur panjang….hehehe!

Jaketnya? Yaa kayak di foto itu. Murmer lah pokoknya. Harganya sekitar 75 UAH (Rp 150 ribuan). Gara-garanya sampai harus beli jaket, itu karena di musim semi jaket musim dingin saya terasa terlalu tebal. Mungkin juga saya terpengaruh kata-kata Vova:

“Orang-orang banyak yang melihatmu,” katanya suatu hari waktu kami nongkrong di Alun-Alun Lenin.

“Kenapa?”

“Mungkin karena kau pakai jaket tebal di musim semi. Kelihatan aneh.”

Atau mungkin juga karena saya orang asing.

Saya pernah cukur rambut murmer di sebuah salon tak jauh dari apartemennya. Di salon itu, tentu saja saya jadi pusat perhatian. Para karyawannya berbisik-bisik sambil melirik saya, bikin saya grogi dan jengah. Tapi Vova mencoba mencairkan suasana, mengobrol dengan si mbak kapster, dan malah main tebak-tebakan dengan mereka tentang asal negara saya.

“India?”

“Mesir?”

“Cina?”

Dan kami pun tertawa keras-keras. Hasil pangkas rambutnya? Yaa, lumayanlah…hehehe!🙂

Vova adalah pria Ukraina pertama yang saya lihat hampir tak pernah menyentuh minuman beralkohol. Malah, dia dengan polosnya pernah bertanya tentang kesukaan saya membeli minuman teh botolan saat sedang jalan-jalan, “Buat apa minum teh kemasan gitu? Lebih enak minum teh di rumah.” Maksudnya mungkin teh celup. Tapi saya juga bingung jawab pertanyaan kayak gitu.

“Di negaraku, semua orang suka minum teh, di mana saja,” kata saya asal-asalan tanpa menyebut merek.😛

Sementara itu, Vova lebih sering minum….susu!😀 Anak ini memang keranjingan hidup sehat. Selain menguasai aikido, dia juga gemar bersepeda dan menyelam di laut saat liburan musim panas tiba. Vova sebenarnya berasal dari Kherson, sebuah kota dekat hilir Sungai Dnipro menuju Black Sea (Laut Hitam) di bagian selatan Ukraina. Selepas kuliah, dia mencari peruntungan di Dnipro dan kini bekerja sebagai junior accountant di sebuah perusahaan kargo.

Vova, sobat saya di Dnipro.🙂

Buat yang penasaran—khususnya pembaca cewek—seperti apa tampang Vova, sekarang saya pasang nih fotonya. Selamat menikmati…hehehe!😛

(Bersambung)

4 thoughts on “Balada Ukraina #22

  1. yusmei

    hmmmmm ternyata vova memang imut2 hahahha
    Eh tapi kalau di sana dulu, aku malah beberapa kali diajakin foto bareng sama orang lokal…kayak orang indonesia yang ngajak foto bule. Kalau dipandangin sih mungkin sama juga dengan di sini ya mas, suka lirik2 dan cengar2 atau bisik2 pas ada bule hahahaha

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Cieeeh😀 Lha mbaknya ke sana 2012, di sana lagi dalam suasana hepi. Bbrp tahun sebelum 2012 kan FIFA sempat ragu dan pengen ganti negara penyelenggara krn Ukraina tampak diragukan kesiapannya. Akhirnya jadi, dan turis pun membludak. Kalo nggak ada gelaran Euro, jumlah turis gak akan sebanyak itu. Tapi memang, di Kiev dan Donetsk orangnya cenderung “cuek” sama orang asing yg beda warna kulit sekalipun. Gak ada yg lirik2, kayak udah biasa aja. Mungkin saya ada faktor apes juga di Dnipro waktu itu🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s