Balada Ukraina #23

Kejadian dimaki orang di jalanan minggu lalu sudah saya lupakan. Kegiatan mengajar di EG juga berlangsung seperti biasa. Sementara, pekerjaan mengajar di Big Ben semakin bervariasi. Suatu hari, saya ditelepon oleh Nataliya, bos saya di Big Ben. Ia dan Janna, salah seorang pengajar di Big Ben, akan menjemput saya sekitar jam 16.15 di perempatan dekat EG.

Sore itu ia akan mengajak saya ke BADM, sebuah perusahaan farmasi, corporate client baru Big Ben. Beberapa manajer di sana oleh perusahaan diberikan fasilitas kursus bahasa Inggris khusus percakapan. Kebetulan Big Ben mendapat proyek tersebut, dan kebetulan mereka sedang mempunyai guru asing. Lumayan buat menambah gengsi tempat kursus yang sebenarnya tak terlalu besar itu. Jadilah saya dibawa sore itu ke sana.

Beberapa saat sebelum jam makan siang tiba, berandal-berandal kelas 7 kembali membuat ulah di kelas saya. Seperti biasa, mereka tidak bisa diam. Lompat sana, lompat sini, jungkir balik di meja. Tapi saat itu mereka membuat kesalahan fatal. Sergey saat itu sedang duduk di atas meja, tiba-tiba dia menungging dan…kentut di depan saya (!). Tampak sangat disengaja. Saya marah luar biasa. Tapi, saya masih bisa menahan diri untuk tidak menampar bocah itu.

“Oke, sekarang kalian sudah kelewat batas! Siap-siap nanti dipanggil kepala sekolah!” saya mengancam.

Mereka panik. “Tidak! Tidak! Tunggu! Itu tadi tidak sengaja!” Kyryl membela temannya. Yang lain juga ikut merubungi saya, meminta saya tidak melapor ke kepala sekolah.

Saya mengamati sesuatu. Wajah mereka luar biasa panik. Tadinya saya kira mereka tidak takut kepada siapa pun. Mungkin di situ kuncinya.

“Aku biarkan kalian bebas di kelas selama ini. Tapi sekarang…habislah kalian!” Persis saat itu bel berbunyi. Jam pelajaran saya sudah usai. Agar mereka tidak terus-terusan merubungi saya, saya bilang akan pikir-pikir dulu. Saya minta mereka berjanji untuk tidak rusuh lagi di kelas saya, dan mereka menyanggupi.

Tapi, saya tidak sebaik itu. Begitu Oleg kembali ke ruangan, saya ceritakan semuanya.

What?” Oleg rupanya lupa kata fart (kentut). Jadi saya harus pantomim sedikit. Dia terdiam, lalu geleng-geleng.

“Oke, aku akan menemui kepala sekolah habis ini. Itu memang sudah keterlaluan.”

Dan terjadilah. Saya melihat beberapa anak laki-laki kelas 7 masuk ke ruangan kepala sekolah tak lama kemudian, setelah jam makan siang selesai. Sorenya, menjelang jam pulang sekolah, beberapa anak kelas 7 melewati ruangan saya.

You said you won’t tell the headmaster,” kata Kyryl, yang kayaknya jadi “wakil” kelas 7 karena bahasa Inggrisnya paling bagus.

If that doesn’t stop you guys, I don’t know what else to do,” jawab saya cuek sambil mengangkat bahu.

Oleg masuk ke ruangan setelah itu. Dia memberitahu saya, “Mulai minggu depan, setiap kau mengajar kelas 7, kepala sekolah akan mendampingimu di kelas.”

Wow! Dijamin aman ini sih kalau kepala sekolah turun tangan! Tapi ini artinya saya juga akan dinilai langsung sama kepala sekolah, ngajarnya bener nggak…hehehe!🙂

***

Seusai jam sekolah, saya langsung menuju halte tempat janjian dengan Nataliya dan Janna. Tempatnya tidak jauh, sekitar 200-an meter dari sekolah EG. Sekelompok orang sedang menunggu bus atau marshrutka di sana. Belum sepuluh menit berdiri di situ, seorang pemuda mendekati saya. Badannya gempal, usianya sekitar akhir 20-an atau awal 30-an. Ia memakai topi kupluk katun. Tangan kanannya mencekik botol.

“привет, halo,” tegurnya. Wajahnya keras. Badannya sedikit lebih tinggi daripada saya. Ia memelototi saya dari kepala sampai kaki.

“привет,” jawab saya.

“Где ты пришел, kau orang mana, sih?” tanyanya. Wajahnya agak mendekat ke saya. Brengsek, nafasnya bau alkohol.

“Я из Индонезии, aku orang Indonesia.”

“Ngapain kau ada di sini, hah? Ngapain kau ada di tanah Ukraina?” Volume suaranya meninggi. Saya langsung menyadari situasinya. Pemuda itu melanjutkan ocehannya. Tatapannya tampak benci sekali kepada saya. Rasis dan sedang mabuk. Kombinasi yang buruk buat dihadapi orang asing berkulit cokelat di sini. Saya tidak melihat tanda apa pun—tato atau emblem—yang menandakan pemuda ini pengikut Neo-Nazi, skinhead, semacamnya.

Saya tidak terlalu menangkap apa yang dikatakannya. Saya hanya menangkap kata “pergi dari Ukraina”, “aku tidak suka”, “kulit putih”. Berkali-kali saya hanya mengangkat bahu dan berkata, “Я не говорю по России, saya tidak bisa bahasa Rusia,” sambil berharap ia pergi.

Racist-Dog-Granny-Cartoon

Sekadar ilustrasi. Gambar pinjam dari sini.

Pemuda itu, sambil terus mengoceh, mulai agresif. Ia menunjuk-nunjuk saya, dan kemudian ia menyentuh dada saya agak keras dengan telunjuknya. Jelas sudah. Ini pemuda rasis. Karena berkali-kali bilang “saya tidak bisa bahasa Rusia”, ia berteriak ke arah kerumunan orang yang sedang menunggu bus. “Hei! Ada yang bisa bahasa Inggris?!?” Lalu ia berjalan menuju orang-orang itu.

Saya mulai panik dan berkeringat dingin. Dalam hati saya berpikir untuk kabur saja. Adu lari dengan pemuda gemuk yang sedang mabuk rasanya bukan perkara sulit. Tapi, mau lari ke mana? Lagi pula saya janjian ketemu di sini. Saya mulai mengutuki Nataliya yang telat datang menjemput saya.

Pemuda rasis itu kembali sambil menyeret seorang laki-laki. Ia menyuruh laki-laki itu menerjemahkan perkataannya. Tapi tampaknya orang itu juga tak bisa bahasa Inggris. Pemuda rasis itu tetap menyentuh-nyentuh saya dengan agresif. Laki-laki yang diseret tadi tampaknya juga gelisah.

What does he want?” tanya saya kepada laki-laki itu. Ia hanya menggeleng dengan wajah cemas.  Saat itu sudah 10 menitan saya di-bully. Puncaknya, si pemuda rasis merenggut topi kupluk saya dan mencampakkannya ke dada saya. Saat itu saya sudah pasrah. Bismillah aja deh, batin saya. Kalau harus lari ya lari, harus berantem ya berantem.

Di saat-saat genting itu, sebuah taksi tiba-tiba berhenti sepuluh meter dari saya. Nataliya melongokkan kepalanya dan melambai dari pintu kanan belakang yang ia buka. Tanpa pikir panjang, saya langsung berlari dan melompat ke dalam mobil. Begitu sopirnya tancap gas, saya mengeluarkan tangan kanan dari jendela dan mengacungkan jari tengah.

Tentu saja Nataliya dan Janna bingung. Setelah saya ceritakan, mereka cuma bengong.

“Aku baru dengar yang seperti itu di Dnipro,” Nataliya berkomentar. “Tapi tidak apa-apa. Orang itu pasti sedang mabuk.”

Saya tahu dia hanya berusaha menenangkan saya. Tapi, saya mulai merasa tidak tenang. Kalau Nataliya tidak datang saat itu, bakal diapakan saya oleh pemuda rasis tadi? Dan ini sudah kedua kalinya saya diganggu orang karena saya saya orang asing non kulit putih di kota ini.

Betapa apesnya hari ini. Sudah dikentutin murid, masih pula diganggu pemuda rasis.😦

***

Kolega di Big Ben: (ki-ka) Janna, Nataliya, Diana, dan saya.

Kolega di Big Ben: (ki-ka) Janna, Nataliya, Diana, dan saya.

Kantor BADM terletak di pinggiran Dnipro, di sebuah kawasan industri. Halaman parkirnya sangat luas, gedungnya pun besar. Sepertinya kantor dan pabrik farmasi ini berada dalam satu kompleks. Di sekeliling kompleks itu saya lihat juga ada banyak gedung-gedung besar.

Satpam kantor mengantar kami ke sebuah ruangan yang tampaknya biasa dipakai untuk rapat. Oleh Nataliya, saya diberi penjelasan singkat lebih dahulu, bahwa saya akan mengajar di sini setidaknya seminggu sekali. Kantor ini menginkan kursus privat sebanyak dua kali seminggu, dengan satu sesi di antaranya menjadi “milik” saya untuk kelas percakapan.

Sepuluh menit kemudian, lima orang masuk satu per satu ke ruangan tersebut. Merekalah yang akan menjadi murid saya nanti. Ada empat perempuan dan satu laki-laki: Tatiana, Taia, Larisa, Julia, dan Andrei. Kelas pertama itu tak sulit. Setelah Nataliya cuap-cuap, giliran saya yang mengisi sesi pertama itu. Cuma memperkenalkan diri, cerita sedikit tentang Indonesia, sambil memperlihatkan setumpuk kartu pos bergambar alam Indonesia. Habis itu giliran mereka untuk memperkenalkan diri, bertanya tentang saya, tentang Indonesia, atau apa pun. Sesi pertama ini saya manfaatkan untuk memetakan kemampuan setiap orang. Rata-rata semuanya masih level intermediate.

Tak terasa, satu setengah jam pun berakhir. Taksi sudah menunggu di halaman parkir dan saya pun diantar ke apartemen. “Mulai minggu depan, kau harus ke sana sendiri, ya. Nanti kuberitahu marshrutka nomor berapa yang lewat sana,” kata Nataliya.

Sampai di kamar, saya menjatuhkan badan ke kasur. Hari ini sangat melelahkan. Dan saya belum bisa melupakan kejadian di-bully pemuda rasis tadi sore. Bagaimana kalau kejadian itu terulang lagi? []

(Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s