Balada Ukraina #24

Setelah insiden kentut dan di-bully pemuda rasis minggu lalu, minggu berikutnya saya mendapatkan kejutan yang sangat menarik. Saat jam pelajaran saya untuk kelas 7, empat anak masuk. Sergey, Kyryl, Vova, dan Yulia.

Saat itu saya hanya mempersiapkan materi listening sambil menambah vocabulary. Yang bikin beda, tak lama setelah anak-anak itu masuk, kepala sekolah ikut masuk. Jadi, itulah sebabnya anak-anak tampak kalem saat masuk kelas tadi. Biasanya mereka masuk sambil berteriak-teriak seperti orang demo.

Bu Kepsek ini memang punya aura menakutkan. Cocok banget jadi kepala sekolah. Berwajah kaku, bertubuh tinggi kurus, dengan aura keanggunan yang terasa dingin mencekam, seperti Dementor di Harry Potter. Secara fisik, Bu Kepsek mengingatkan saya pada karakter Prof. McGonagall. Hanya, perempuan ini seperti tak pernah tersenyum seumur hidup. Pelit senyum, pelit bicara. Dan dia tidak bisa bahasa Inggris. Atau mungkin dia mengerti, tapi cuma malas ngomong.

Saya jadi paham kenapa anak-anak kelas 7 begitu takut sama Bu Kepsek, karena saya juga gemetar kalau berada di dekatnya. Sampai-sampai saya lupa siapa nama Bu Kepsek ini. Sejak awal, komunikasi saya hampir selalu dengan Oleg. Ketemu Bu Kepsek juga hanya 1-2 kali waktu diperkenalkan dulu.

Sementara Bu Kepsek duduk tenang di belakang, saya menyiapkan materi. Untuk 20 menit pertama, saya membagikan kertas berisi lirik lagu What I’ve Done-nya Linkin Park, dengan 10 kata saya ganti dengan titik-titik. Saya ingin mereka berlatih listening dengan lagu itu. Hasilnya benar-benar di luar dugaan…

Empat anak bandel itu dengan semangat malah bernyanyi bareng-bareng. Terutama bagian reffrain-nya:

“What I’ve doneeee…!!
I’ll face myself
To cross out what I’ve become
Erase myself
And let go of what I’ve doneeee…!!”

Seru sekali melihat mereka nyanyi bareng-bareng begitu. Sergey dan Vova bahkan sampai mengangkat tangan dan mengangguk-anggukkan kepala saking semangatnya, seolah sedang menonton konser Linkin Park live! Mereka bahkan minta lagunya diputar sekali lagi. Saya melirik Bu Kepsek. Masih saja dingin tanpa ekspresi. Saya jadi khawatir dia tidak menyukai cara mengajar saya. Habis itu, kami sama-sama mengecek jawaban, lalu membahas apa kira-kira makna lirik lagu ini dan kata-kata yang belum mereka pahami.

Tak perlu ada jawaban yang benar soal makna liriknya. Saya hanya ingin mereka menyampaikan secara lisan apa yang mereka pikirkan saat menyimak lagu dan lirik lagunya. Dan ternyata mereka memahami dengan cukup bagus untuk anak seumuran mereka.

I think this song is about someone who made mistakes,” kata Kyryl. Hmm, not bad.

“…and then maybe he feels sorry,” Sergey menambahkan.

So, when you make mistakes, or when you hurt someone accidentally, do you apologize?” tanya saya.

Yeap!” jawab anak itu yakin, seolah lupa insiden kentut minggu lalu itu. Dasar bocah!🙂

Dua puluh menit terakhir (satu jam pelajaran = 40 menit), saya mengajak mereka bermain-main mencari persamaan kata-kata dalam British dan American English. Untuk pertama kalinya, saya merasa sedang mengajar anak-anak kelas 7 yang pintar, manis, dan sopan. Sebagai guru (walaupun gadungan), sebenarnya kepuasan mengajar ada di saat-saat seperti ini. Ketika para murid patuh dan mau diajak bekerja sama. Sayangnya, saya tidak punya kemampuan yang cukup untuk mengatasi anak-anak yang sulit diajak kerja sama.

Usai jam pelajaran, setelah ruangan saya sepi, Oleg masuk. 

“Nah, bagaimana?” tanyanya.

Saya masih terbengong-bengong saat itu. “Oleg, you wouldn’t believe it! Anak-anak tadi betul-betul manis dan menyenangkan! Gila!”

Oleg terbahak-bahak. “Tentu saja, karena mereka diawasi kepala sekolah! Tapi bagus lah, setidaknya kau bisa melihat sisi lain dari anak-anak setan itu. Mereka sebenarnya pintar-pintar, kok!”

“Pintar memang iya. Tapi soal manis dan sopan, itu baru kelihatan tadi!” balas saya.

Kami pun ketawa bareng-bareng.

“Oh, satu lagi,” sela Oleg. “Kepala sekolah menyukai cara mengajarmu.”

DENGGG!!!!

Saya langsung cengengesan girang.😀

***

Sabtu, kalau sedang tak ada jadwal mengajar di Big Ben, saya biasanya menyempatkan mampir ke game center. Bukan untuk main online game, tapi untuk ngecek e-mail atau mencari materi ajar. Soalnya, di sekolah belum ada akses internet yang bisa digunakan. Payah deh…😦

Biasanya saya ngecek e-mail di game center dekat sekolah, tapi kali itu saya mau coba yang di dekat apartemen. Baru juga nongkrong 15 menit, saat saya sedang mengetik e-mail untuk ibu dan istri, seorang pemuda mendekati saya. Semua monitor komputer di situ menghadap koridor, jadi semua orang bisa melihat monitor orang-orang lain.

rubel

Tulisan tangan “kenang-kenangan” dari tukang palak yang gagal.😀

Awalnya dia cuma menegur biasa dan menanyakan saya orang mana. Lama-kelamaan…dia minta duit. Sejak awal saya meladeni omongannya dengan bahasa Inggris dan selalu bilang, “Saya tidak bisa bahasa Rusia.” Karena sebal, dia mengambil buku catatan saya, lalu menulis dalam bahasa Rusia, “Beri saya uang rubel kertas.” Lho, kok rubel? Itu kan mata uang Rusia?

Tapi saya pura-pura bego dan terus mengangkat bahu. Dia bahkan menggambar uang kertas di buku saya, dan akhirnya menunjukkan uangnya. Tapi seorang babushka yang sedang mengepel lantai menghampiri kami. Tampaknya dia sudah memerhatikan saya diganggu dari tadi. Mereka beradu mulut selama beberapa saat, sebelum akhirnya si pemuda tadi menyingkir. Lalu perempuan itu mengatakan kepada saya, “Jangan dengarkan orang ini. Dia gila,” katanya sambil menempelkan ujung telunjuk ke pelipisnya dan memutar jarinya itu. Itu memang gestur orang Ukraina untuk mengatakan “gila”.

Tapi setelah babushka itu pergi, pemuda tadi kembali. Masih juga meminta uang. Lama-lama kok tambah agresif, karena dia mulai colek-colek pundak saya. Untunglah saya sudah selesai. Saya keluarkan sekeping uang logam 50 kopeck (sekitar Rp1000) dan saya letakkan di meja, lalu kabur, diikuti pandangan heran seorang gadis berambut pirang di meja admin.

Ngomong-ngomong, bukannya saya kabur nggak bayar, tapi memang sistem di game center di Ukraina itu bayar di awal. Jadi, misalnya saya hanya ingin menggunakan internet untuk satu jam, maka saya bayar paket sejam. Kalau setelah sejam kerjaan saya belum selesai, akses internet akan putus sendiri, setelah muncul pop-up peringatan lima menit sebelumnya.

Trauma dengan kejadian minggu lalu, saya mempercepat langkah sambil sesekali menengok ke belakang. Takut si pemuda tukang palak tadi mengikuti saya. Ah, belakangan saya makin merasa tidak aman di kota ini.[]

(Bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s