Balada Ukraina #25

Suasana kota Dnipro saat senja tiba.

Suasana kota Dnipro saat senja tiba.

Saat itu hari Jumat. Kebetulan malamnya saya tidak punya jadwal mengajar di Big Ben, jadi saya mengajak teman-teman nonton film di acara mingguan English Club. Setiap Jumat malam, komunitas English Club mengadakan acara pemutaran film di gedung History Museum. Selain dikelola anak-anak muda Dnipro, ada juga beberapa ekspatriat dari Amerika yang memandu acara.

Pesertanya kebanyakan adalah mahasiswa dan pelajar Dnipro yang ingin memperdalam kemampuan bahasa Inggris mereka. Jadi, sebelum film dimulai, biasanya MC mengajak ngobrol para penonton dulu, kemudian mereka memutar slide yang berisi beberapa potongan dialog yang diambil dari film yang akan diputar, lalu 1-2 orang Amerika itu akan membahas serangkaian vocabulary yang ada dalam dialog, plus beberapa kalimat expression. Dengan begitu, saat film diputar, peserta sudah memahami kosakata dan kalimat-kalimat ekspresi yang ada dalam dialog film.

Foto pinjam dari sini.

Foto pinjam dari sini.

Malam itu saya nonton bareng Julia, Sveta, dan Vova, sambil makan shaurma. Film kali ini adalah Shooter yang dibintangi Mark Wahlberg, diputar menggunakan subtitle bahasa Inggris. Pulangnya, kami berjalan kaki sambil bercanda dan membahas film yang baru kami tonton. Tak banyak orang berlalu lalang, padahal saat itu masih terbilang ‘sore’, jam 9 malam. Julia dan Sveta pulang ke arah yang berbeda dengan saya dan Vova, jadi kami berpisah di jalan. Saya dan Vova memilih berjalan kaki ke Alun-alun Lenin, mungkin nongkrong sebentar sebelum pulang.

Saat kami menuruni Jalan Karl Marx menuju Alun-alun, sekelompok anak muda berjalan dari arah berlawanan. Seorang dari mereka berjalan agak dekat dengan saya. Saya dan Vova begitu asyik mengobrol sampai tiba-tiba saya merasa wajah saya seperti tepercik sesuatu yang basah dan kental. Tadinya saya pikir hujan turun.

Vova tampaknya juga menyadari bahwa ada yang tidak beres. Dia tampak bingung sambil menengok bolak-balik antara saya dan gerombolan sialan itu. Saya baru sadar sedetik kemudian. “Shit! He spat on my face!” teriak saya sambil mengelap wajah dengan lengan jaket. Kenapa? Pasti karena warna kulit saya. Apa lagi memang alasannya? Tapi, para pemuda tadi tampak biasa, seperti mahasiswa. Kepala mereka tidak botak licin, lehernya tidak bertato, rahangnya tidak tegas bentuknya, badannya juga tidak kekar/gempal—ciri khas skinhead atau geng rasis yang setidaknya bisa saya temukan pada tubuh-tubuh mereka.

Vova cepat tanggap. Dia berjalan menghampiri mereka sambil melontarkan makian dan tampak siap berkelahi. Enam pemuda itu hanya menoleh sekilas dan berjalan terus seakan tak terjadi apa-apa. Tapi si pemuda yang meludahi saya tadi tampak mengatakan sesuatu.

Semua detail kejadian tadi berlangsung begitu cepat, tapi saya masih bisa berpikir dengan kepala dingin. Mereka berenam, dengan badan lebih tinggi dan lebih besar daripada kami. Vova hanya satu-dua sentimeter lebih tinggi daripada saya. Tubuhnya pun tidak lebih besar daripada saya. Saya tahu dia jago aikido, tapi kalau sampai kami berkelahi dengan lawan yang berjumlah lebih banyak dan berbadan lebih besar, kedengarannya sangat konyol. Di luar negeri pula!

Saya cepat-cepat meraih bahunya dan menghalanginya bertindak lebih jauh. “Vova, biarkan saja! Aku tidak apa-apa!” Tentu saya juga marah, tapi bisa apa kami menghadapi enam orang itu? Jangan-jangan saya hanya akan babak belur. Meringkuk di ranjang rumah sakit dengan perban di sana-sini, absen mengajar selama sekian hari atau minggu. Itu bayangan yang mengerikan!

Saya berhasil menghalangi Vova dan memepetnya ke tembok sebuah toko. “Sudahlah, Vova! Biarkan saja mereka,” bujuk saya. Vova mulai bertingkah seperti orang gila. Dia mengacak-acak rambutnya dan menyemburkan sumpah serapah bahasa Rusia. Kakinya melayang menendangi pohon atau pot tanaman di trotoar. Matanya merah karena marah dan malu. Saya tahu dia malu. Ada orang yang melecehkan tamunya di negerinya sendiri dengan tindakan rasisme.

Dia kemudian menatap nanar ke arah para pemuda tadi menghilang. Tiba-tiba dia berkata, “Kau bisa lari kencang?”

Kening saya berkerut. “Memang kenapa?”

“Ayo, ikut aku!”

“Vova!”

Saya terpaksa mengikutinya berlari ke belokan gang di samping tempat insiden tadi terjadi. Satu blok kemudian, ternyata ada pagar kawat setinggi dua meter menutupi jalan. Keadaannya remang-remang di situ. Vova berhenti di depan sebuah pintu besi di sebelah kanan. Ia mendorongnya. Tidak terkunci. Saya mengikutinya masuk ke dalam. Gedung itu hanya sebuah apartemen biasa. Lantai dasarnya remang dan lembap. Selain pintu tempat kami masuk tadi, di sisi lain lantai dasar gedung itu juga ada satu pintu lagi. Vova membukanya. Pintu itu menghadap ke gang lain. Kalau berjalan ke kanan, di ujungnya pasti bertemu dengan jalan yang akan dilewati para pemuda tadi. Kota Dnipro, seperti umumnya kota-kota lain yang pernah menjadi wilayah Uni Soviet di masa lalu, memang ditata dengan sistem grid alias kotak-kotak dan lurus. Jadi, tak sulit menebak jalan mana bakal tembus ke jalan mana.

“Kau tunggu di sini…dan jangan tutup pintu ini!” katanya sambil berlari meninggalkan saya.

“Hei, kau mau ngapain?” Vova sudah telanjur berlari dan menghilang dalam kegelapan.

Saya bingung dan cemas. Apa yang akan ia lakukan? Sekitar lima menit saya menunggu di situ, ketika suara tapak kaki orang berlari berangsur makin dekat dan jelas. Vova berlari masuk, membanting pintu besi, dan memasang gerendelnya. Suara gaduh itu memekakkan telinga di tengah ruangan kosong itu.

“Ayo, lari!” Vova menarik tangan saya dan kami berlari keluar gedung melalui pintu pertama. Persis ketika kami keluar, pintu yang baru saja digerendel Vova digedor-gedor dengan keras. Saya jadi panik. Ini pasti ada hubungannya dengan para pemuda tadi. Apakah mereka sedang mengejar kami?

Kami berlari cepat sekali dan membelok ke kanan melewati tempat saya diludahi tadi. Kalau sampai gerombolan tadi berhasil menyusul kami, bisa-bisa saya digilas jadi dendeng di negeri asing ini. Sebuah marshrutka tampak mendekat dan Vova segera melambaikan tangan untuk menyetopnya. Kami melompat naik dengan tergesa-gesa dan marshrutka pun kembali melaju.

Vova, what the hell was that?!” tanya saya tersengal-sengal. Vova, sambil terbatuk-batuk dan menepuk-nepuk dadanya, hanya cengengesan. Ia beberapa kali melirik spion mobil untuk memastikan kami tidak sedang dikejar. Para penumpang lain menatap heran melihat dua anak muda berbeda ras yang sedang ngos-ngosan ini.

Begitu ia menoleh kembali ke arah saya, tampak ada sesuatu di hidungnya. “Dude! Your nose is bleeding!” kata saya ngeri.

Tapi Vova cuma mengelap hidungnya dengan bahu tangan. Saya lihat lengan jaketnya robek sedikit. Dia lalu bercerita, dia sengaja mencari gerombolan orang yang salah satunya meludahi saya tadi. Dia mengambil jalan pintas memutar dan menemukan mereka sedang berjalan ke arahnya. Lalu pelan-pelan dia mendekati mereka sambil berlagak sedang berjalan santai. Vova masih ingat bahwa pemuda yang meludahi wajah saya berjaket putih.

Untungnya, orang-orang yang menyerang saya tidak semengerikan ini. Foto pinjam dari sini.

Untungnya, orang-orang yang menyerang saya tidak semengerikan ini. Foto pinjam dari sini.

Dalam keremangan, dia melihat hanya satu yang berjaket putih, yang lainnya berpakaian warna gelap. Mereka tak mengenalinya karena jalan itu agak gelap. Begitu jarak mereka makin dekat, Vova menghajar hidung pemuda berjaket putih sampai patah, menendang jatuh seorang lagi yang mencoba membantu temannya, dan menghajar kepala orang ketiga dengan botol vodka sampai botolnya pecah (!). Semuanya berlangsung sangat cepat, namun satu orang berhasil menonjok wajah Vova. Tiga orang yang belum kena hajar kemudian mengejar Vova.

Ternyata….itulah sebabnya Vova membawa saya ke lantai dasar gedung tadi. Dia hafal wilayah itu. Setidaknya, pintu yang satunya dan pagar setinggi dua meter tadi akan menghalangi mereka dan memberi kami waktu untuk melarikan diri.

Saya cuma bisa bengong. “Bagaimana kalau orang yang kau hajar itu bukan orang yang meludahiku?”

“Apa bedanya? Dia meludahi temanku tanpa alasan, dan aku meremukkan kepala temannya! Tampak adil bagiku,” jawabnya enteng.

“Kau sinting!” sahut saya nyaris tersedak. “Tapi, dari mana kau dapat botolnya?”

“Orang ketiga memang sedang minum, jadi kurebut botolnya dan kuhajar kepalanya karena dia mencoba menyerangku juga.”

“Kau…gila!” kata saya sambil terbatuk-batuk. Tapi kemudian, diiringi tatapan heran para penumpang, kami malah tertawa terbahak-bahak. Kami kemudian turun di alun-alun Lenin untuk “merayakan” malam yang gila ini. Kami membeli vanilla coke di sebuah kios dan berjalan kaki menuju apartemen saya. Di jalan, kami menemukan apotik yang masih buka. Vova membeli obat merah dan kapas untuk menyumpal hidungnya dan mengoles beberapa lecet di punggung tangannya. Mungkin kena pecahan botol vodka tadi.

“Kau tidak apa-apa pulang sendiri? Mungkin malam ini kau bisa menginap di apartemenku,” kata saya.

“Oh, tidak. Tidak apa-apa. Ini cuma luka kecil, kok. Ayo, kuantar kau pulang dulu.”

Sebenarnya saya bisa saja pulang sendiri. Jarak dari alun-alun ke apartemen saya hanya sekitar satu kilometer. Tapi, setelah kejadian tadi, Vova tampaknya tidak mau mengambil risiko dan ia memaksa menemani saya pulang.

“Maafkan kejadian tadi, kawan. Aku tidak menyangka ada orang Ukraina yang begitu memalukan,” katanya ketika tiba di depan gedung apartemen saya.

“Itu sama sekali bukan salahmu. Lupakan saja.”

“Kalau begitu…selamat malam. Kita ketemu lagi besok?”

“Kapan saja, Vova. Telepon saja aku,” jawab saya tersenyum.

Kami mengangkat botol-botol plastik kami dan bersulang. “Take care, man,” kata saya. Vova kemudian berjalan menuruni bukit. Semoga masih ada marshrutka malam itu.

Saya naik ke lantai tiga dan masuk ke kamar. Badan lengket berkeringat, napas tersengal-sengal. Ini benar-benar malam yang gila dan melelahkan. Dengan anak muda gila yang setia kawan luar biasa. Ah, rasanya saya butuh mandi air panas sebelum tidur. []

(Bersambung)

10 thoughts on “Balada Ukraina #25

  1. van adam

    hallo mas Indra..tadi saya ketemu n ngobrol banyak sama Katerina di Cologne, Jerman. Dia anak International Relation angk 2007 di Dnypopetrovsk katanya. Dia kenal sama mas Indra lewat AIESEC, karena saya bilang saya orang Indonesia.

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Halo juga….eh, Katerina siapa namanya? Abis banyak sih yang namanya itu, dan temen Ukraina saya yang ke Jerman juga banyak🙂

      Reply
  2. lulu

    Ternyata Vova bisa ngamuk juga :)) Sebenernya berisiko juga ya, mengingat mas satu-satunya WNI di sana, mestinya sangat mudah dikenali. Untung ga ketemu geng itu lagi, atau jangan-jangan ketemu, abis ceritanya masih bersambung sih hehe…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s