Balada Ukraina #26

Salah satu sudut kota Dnipro.

Salah satu sudut kota Dnipro.

Setelah mandi, saya mulai bisa tenang dan berpikir jernih. Saya tahu, tindakan Vova sangat berisiko. Bagaimana kalau para pemuda itu besok-besok melakukan sweeping? Mudah sekali mencari anak muda Asia Tenggara berkulit cokelat di sini, karena sayalah satu-satunya orang itu. Ada apa sih dengan orang-orang macam ini? Sekarang saya jadi tahu rasanya jadi minoritas. Batin benar-benar tersiksa. Tapi, di luar itu, sejujurnya saya sangat berterima kasih kepada Vova—bahkan senang sekali ada orang yang menghajar bangsat-bangsat rasis itu untuk membela saya.

Saya lalu memutuskan menelepon beberapa orang malam itu. Pertama, saya menelepon tiga anak AIESEC: Nik, Julia, dan Nastya. Tentu saja mereka terkejut mendengar cerita saya. Kami lalu janjian ketemu esok harinya di resto Mr. Smak.

Nik meyakinkan saya bahwa semuanya akan baik-baik saja dan meminta saya bersabar. “Aku akan memberi tahu semua anggota AIESEC di Dnipro lewat mailing list kami dan lewat SMS.”

“Terima kasih, Nik,” saya menutup percakapan.

Kedua, saya menelepon Oleg. Ia berjanji akan melakukan sesuatu Senin minggu depannya, membicarakan hal ini dengan pihak sekolah.

Ketiga, saya menelepon Mas Arif, sekretaris di KBRI Kiev, tapi tak diangkat. Dia menelepon balik setengah jam setelah menerima SMS saya. Mas Arif sendiri sedang berada di Odessa untuk urusan dinas. 

“Halo, Indra! Gak apa-apa, kan?”

“Gak apa-apa sih, Mas. Cuma jadi makin ngeri aja kalo lagi di jalanan,” jawab saya.

“Gimana sih kejadiannya? Kok bisa begitu?”

Saya menceritakan semuanya dengan terperinci, lengkap dengan adegan kekerasan yang dilakukan Vova.

“Waduh, Ndra! Kok pake acara bikin bocor kepala orang segala?”

“Yaa, gimana lagi, Mas? Temen saya tuh lagi marah banget…”

Mas Arif lalu bercerita bahwa ada staf KBRI yang juga pernah mengalami perlakuan rasisme di jalanan Kiev. Namanya Pak X. Waktu ia sedang memasuki mobilnya, sebelum sempat menutup pintu mobil, tiba-tiba beberapa pemuda skinhead tanpa permisi langsung memukulinya. Pak X sempat diseret menjauh dari mobil sebelum ia berhasil lari ke mobilnya untuk mengambil pistol. Para berandalan itu sudah berlari cukup jauh ketika Pak X mengacungkan pistolnya.

Mendengar cerita itu, saya jadi makin khawatir. Pasalnya juga, beberapa hari sebelumnya saya sempat menonton satu program di TV yang mengangkat topik rasisme. Acara itu menunjukkan beberapa video yang sepertinya dibuat oleh beberapa geng rasis. Ada pula liputan tentang kehidupan seorang pemimpin geng rasis. Tubuhnya dipenuhi tato, kepalanya botak licin, setiap hari berlatih angkat beban, tapi kehidupannya normal sekali. Lelaki itu punya anak lelaki yang masih balita, istrinya juga cantik. Tapi, seramnya, acara itu juga menunjukkan beberapa dokumentasi “kegiatan” si botak rasis ketika sedang beraksi bersama gengnya di jalanan. Ia bahkan tak segan-segan menyerang sekelompok demonstran yang sedang berunjuk rasa menentang rasisme. “Untungnya”, kelompok rasis itu ada di di Rusia.

“Kalau dari jauh udah liat sekelompok orang, apalagi yang lagi minum, kamu nyeberang aja, pindah jalur. Atau pura-pura masuk ke toko,” Mas Arif menyarankan. “Hindari jalanan sepi, dan kalau bisa, kamu jangan jalan sendirian kalau malam. Pokoknya, hati-hati, ya!”

Setelah menelepon semua orang itu, saya jadi sedikit tenang. Setidaknya, orang-orang penting sudah saya hubungi semua.

***

Dnipro sebenarnya kota yang cukup indah, apalagi saat musim semi dan panas.

Dnipro sebenarnya kota yang cukup indah, apalagi saat musim semi dan panas.

Sabtu siang, Julia sudah menunggu saya di Mr. Smak. Sambil menemani saya makan banyak (maklum pake kupon gratis), Julia mendengarkan cerita saya dengan wajah prihatin. Tak lama, Nik pun datang. Dia bilang, Nastya titip salam, tidak bisa datang karena ada keperluan lain.

Saya jadi mengulang cerita yang sudah saya katakan kepada Julia.

“Indra, kuharap kau paham bahwa ini bukan kejadian biasa. Rasisme hampir tidak pernah terjadi di sini. Aku tidak pernah dengar ada orang asing diperlakukan seperti itu di Dnipro.”

“Ya, ya…aku paham. Tapi kau tentu juga paham bahwa aku shock. Tidak nyaman rasanya berada di jalanan dan ada orang-orang yang menatapku hanya karena warna kulitku berbeda.”

Lalu, saat saya ngobrol dengan Julia, Nik permisi mau menelepon seseorang di luar. Tak sengaja saya sempat curi dengar, tampaknya Nik menelepon Vova. Saya khawatir Vova lagi dimarahin Nik karena aksi heroiknya tadi malam.

Tak lama, Sveta dan seorang anak muda lain datang. Anak ini bernama Vova (lagi!), anak AIESEC juga, yang baru pertama kali saya temui. Yeah, banyak sekali Vova di negara ini. Supaya nggak keliru, kita sebut saja dia Vova B—akronim nama belakangnya. Pemuda ini punya anting di telinga kirinya. Orangnya tidak terlalu tinggi, berdagu tegas, dengan wajah sedikit kasar dan sangar, tapi cewek-cewek Indonesia pasti termehek-mehek melihatnya.😛 Anak-anak AIESEC menjulukinya dancing Vova—karena dia jago breakdance dan aneka street dance lainnya. Vova B sedang bermain bola bersama beberapa orang lain di depan resto Mr. Smak. Yeah, another Vova in my Ukrainian life.🙂

Setelah (saya) makan, saya, Vova B, Julia, dan Sveta jalan-jalan di sekitar situ. Nik pamit karena punya urusan lain. Resto Mr. Smak terletak di sebuah pedestrian berkonblok sepanjang 150 meter bernama Theatralniy Bulva. Di sepanjang jalan itu, selain ada resto dan kafe, juga ada banyak kios yang menjual buku-buku bekas, DVD, dan game komputer. Di ujung jalan, dekat sebuah gedung teater, kami membeli secangkir plastik teh panas, dan sambil minum kami melihat-lihat pedagang kaki lima yang banyak berjualan di situ. Di bawah sebuah patung-entah-apa, beberapa orang tua menjual pernak-pernik sisa Perang Dunia II: jas jenderal Soviet, pin-pin berbau militer, koin-koin kuno zaman soviet, dan banyak lagi.

Puas nongkrong dan ngobrol-ngobrol, kami pun berpisah. Sebelum pergi, Vova B meminta nomor ponsel saya. “Simpan nomor ponselku, ya. Aku kerja magang di dekat sekolahmu. Kalau ada apa-apa, telepon saja aku,” katanya dengan bahasa Inggris logat Ukraina—harus konsentrasi dengernya.😛

Yah, setidaknya kini saya merasa lebih tenang setelah bertemu teman-teman.

***

Seninnya, menjelang pulang mengajar, Oleg menghampiri saya. “Good news. Aku sudah bertemu dengan kepala sekolah. Dia memutuskan, mulai hari ini, setiap kau pulang dari sekolah, ada satu satpam yang akan menemanimu ke halte sampai kau naik trem atau marshrutka.”

Saya bengong. “Oleg, apa itu tidak berlebihan?”

“Yaah….cuma untuk berjaga-jaga. Kami tidak ingin kau mengalami kejadian semacam itu lagi. At least, that’s all we can do about this. Hati-hati juga di jalan. Satpamnya tidak mungkin menemanimu setiap saat.”

Jadilah mulai sore itu seorang satpam menemani saya sampai ke halte setiap sore sepulang dari sekolah. Namanya Alexei. Seperti umumnya orang Ukraina, atau mungkin karena dia satpam, wajahnya dingin dan kaku. Badannya tinggi besar. Cocok sekali jadi petugas keamanan. Sering ia berjalan sambil memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaketnya. Mungkin juga ada pistol di baliknya—tapi sepertinya itu hanya khayalan saya. Dia juga pelit bicara, jadi kami lebih banyak diam ketika sedang berjalan kaki. Stok basa-basi saya dalam bahasa Rusia juga sudah habis.

Kikuk juga rasanya. Tapi, bagaimanapun, seumur hidup baru kali ini saya punya bodyguard pribadi!🙂 []

2 thoughts on “Balada Ukraina #26

    1. Indradya SP Post author

      Asiik lhooo punya bodyguard!😛 Vova B? Sabaar….sengaja diumpetin dulu biar cewek2 penasaran😛

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s