Nongkrong di Hong Kong #5

Nasi rames @HKD 15. :)

Nasi rames @HKD 15.🙂

Minggu Pagi di Victoria Park. Ini bukan cuma judul film Indonesia yang dibintangi Titi Sjuman dan Lola Amaria, tapi di situlah kami berada Minggu pagi itu. Setelah membeli dua bungkus nasi rames lauk telur dan ayam goreng di Warung Chandra, kami memutuskan sarapan di Victoria Park yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari warung Chandra.  Setiap Minggu, taman kota terbesar di Hong Kong ini disesaki TKW asal Indonesia.

Di Hong Kong berlaku peraturan libur sehari dalam seminggu bagi para domestic helper (sebutan bagi PRT asing di sini). Kebanyakan memilih hari Minggu sebagai hari liburnya, sehingga atmosfer Indonesia akan sangat terasa di hari itu. Dengan mudah kita akan menemukan ribuan TKW berkumpul di Victoria Park atau ber-window shopping di Causeway Bay.

Pernah ada joke yang bilang, artis Indonesia pun bakalan minder bila bertemu dengan para TKW di Hong Kong. Pakaian dan cara mereka berdandan tak beda dengan penduduk Hong Kong umumnya: modis dan keren. Tak ketinggalan, ponsel model terkini dalam genggaman mereka. Logat Jawa yang kental kerap terdengar ketika sedang berjalan di kawasan tersebut.

Kebanyakan TKW di Hong Kong berasal dari Jawa Timur dan Tengah. Dulu, sekitar 10 tahun lalu, para TKW di Victoria Park ini banyak yang gelar lapak, berjualan makanan, piknik, sementara yang lain duduk-duduk beralas koran. Pemandangannya jadi mirip pasar tumpah di Boulevard UGM ataupun Unpad Jatinangor di hari Minggu. Pemerintah Hong Kong memang pernah mengeluhkan taman kotanya yang kotor penuh sampah setiap Minggu. Sekarang pemerintah  melarang siapa pun berdagang tanpa izin di taman kota itu. Tentu saja, kegiatan lain seperti arisan, pengajian, kongkow-kongkow, dan banyak lagi tetap dibolehkan. Yang jelas, dilarang nyampah seenak udel. Di Hong Kong, buang sampah sembarangan, meludah, dan merokok di ruang publik dendanya mencapai HK$ 1.500 alias lebih dari Rp 2 juta.

Victoria Park. Gak berani motret yang gothic. :P

Victoria Park. 10 tahun yang lalu tempat ini mirip pasar kaget saat hari Minggu. :P

Komposisi warga negara asing di Hong Kong yang penduduknya lebih dari 7 juta jiwa ini sangat beragam. Warga Indonesia kini tercatat sebagai warga negara asing terbanyak, yaitu lebih dari 150 ribu orang, yang sebagian besarnya adalah para TKW (nyaris semua TKI di sini wanita).

Di Hong Kong, hukum yang mengatur kesejahteraan para tenaga kerja asing (termasuk Indonesia) tampaknya relatif kuat dibandingkan negara-negara Asia lain. Jarang sekali terdengar kasus penganiayaan terhadap PRT oleh majikannya, seperti yang sering terjadi di Timur Tengah. Konon, gaji para TKI di Hong Kong menempati peringkat keempat gaji tertinggi di Asia, setelah Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Tahun 2013 saya dengar gaji TKW di sini mencapai Rp 6 juta.

Di pintu masuk taman, ada beberapa kelompok TKW yang asyik nongkrong dengan kelompoknya masing-masing. Ada yang berpakaian menor tapi masih normal, ada kelompok yang berpakaian serba hitam ala gothic yang seram dengan celak hitam di mata dan rambut jabrik, ada juga yang bergaya K-Pop gagal.😀

Habis sarapan sekaligus makan siang itu, kami memutuskan jalan ke Ngong Ping. Menuju ke sana sangat mudah. Kami tinggal naik MTR ke stasiun Tung Chung di Pulau Lantau. Saat kereta sudah keluar dari Pulau Hong Kong, posisinya tidak lagi berada di bawah tanah, sehingga kami bisa melihat pemandangan: bukit-bukit dan perairan yang hampir tak berombak.

Tiba di Tung Chung, ada dua pilihan menuju Ngong Ping: naik cable car alias kereta gantung atau naik bus. Naik kereta gantung lebih mahal, dan antreannya gila, bisa mencapai satu jam kalau lagi apes. Saya sendiri harus mengantre sekitar 40 menit. Tapi memang pengalamannya breathtaking karena kita diajak melayang di ketinggian sambil melihat pemandangan teluk dan pulau-pulau kecil, dan bukit-bukit di bawahnya.

Pemandangan dari kereta gantung.

Pemandangan dari kereta gantung.

Setelah beli tiket seharga HK$ 135/orang (harga termurah saat weekend) untuk naik kereta gantung bolak-balik, kami masih harus mengantri lagi selama sekitar 15 menit. Entah ada berapa ratus orang mengantri dari terminal bus sampai ke konter loket penjualan tiket. Perjalanan dengan kereta gantung ini memakan waktu 25 menit dengan jarak tempuh 5,7 kilometer. Dari atas, saya juga bisa melihat jalur trekking yang panjang di bawah, naik-turun perbukitan. Asyik sekali! Apalagi kereta gantungnya bergerak stabil, tidak bergoncang, padahal angin cukup kencang saat itu.

Sekitar satu kilometer sebelum masuk ke stasiun kereta gantung, tampak siluet patung Buddha raksasa di kejauhan. Patung itulah yang menjadi daya tarik utama Ngong Ping. Keluar dari stasiun, kami langsung memasuki kawasan Ngong Ping Village. Yah, bukan benar-benar desa, sih. Untuk menuju desa betulan kita masih harus jalan kaki lebih jauh lagi. Namanya juga area buatan, di “desa” ini ada banyak restoran dan toko suvenir…hehehe.🙂

CIMG7083

Ngong Ping. Siluet Big Buddha di latar belakang.

Pemandangan di sekitar Ngong Ping Village ini keren. Bukit-bukit hijau selalu tampak sejauh mata memandang. Bangunan-bangunan di area seluas 1,5 hektar ini juga dibangun dengan gaya arsitektur Cina. Atraksinya macam-macam, terutama yang berbau Buddha.

Selain restoran bermenu masakan Barat dan Cina, atraksi multimedia Walking with Buddha bagi yang tertarik mempelajari sedikit tentang Siddharta Gautama, ada Bodhi Wishing Shrine tempat dengan replika pohon Bodhi tempat sang Buddha mendapat pencerahan, juga ada Cable Car Gallery tempat kita bisa melihat-lihat model kereta gantung dari berbagai negara, dari masa ke masa.

CIMG7066

Patung dewa dengan Buddha di latar belakang.

Selepas itu, kita akan melihat gapura besar dan deretan selusin patung di sepanjang jalan menuju patung Big Buddha dan Po Lin Monastery. Dalam beberapa aliran di agama Buddha, dipercaya ada 12 dewa pelindung Buddha/Twelve Divine Generals (yaksha). Salah satunya bernama General Indra. Namun, dalam ajaran Hindu, Indra juga dikenal sebagai dewa cuaca dan raja kahyangan. Oleh orang-orang bijaksana, ia diberi gelar dewa petir, dewa hujan, dewa perang, raja surga, pemimpin para dewa, dan banyak lagi sebutan untuknya sesuai dengan karakter yang dimilikinya. Dewa, ya, bukan dewi. Makanya, kalau punya anak perempuan jangan dikasih nama “Indra”, soalnya itu nama laki-laki…hehehe.🙂

Sayang sekali sedang tidak ada event khusus hari itu. Kalau tidak salah, setiap bulan Mei ada perayaan hari lahir Buddha, dan banyak pertunjukan jalanan di area ini, seperti pertunjukan kungfu, juggling, musik, dan banyak lagi. 

Objek wisata utama di Ngong Ping tentu saja adalah patung Tian Tan atau lebih dikenal dengan sebutan Big Buddha. Patung setinggi 26 meter ini adalah patung perunggu Buddha (duduk) tertinggi di dunia. Beratnya sekitar 202 ton, dengan 268 anak tangga untuk mencapainya dari bawah.

Seorang pengunjung sedang sembahyang.

Seorang pengunjung sedang sembahyang.

Lumayan ngos-ngosan juga saat naik tangga ke atas. Persis di bawah patung Buddha, ada bangunan yang ceritanya sebagai podium tempat sang Buddha duduk. Bangunan itu sekaligus berfungsi sebagai museum. Di dalamnya ada lukisan-lukisan cat minyak, piagam, benda-benda keramik, dan banyak lagi. Sayang, keterangan yang ada semuanya berhuruf Cina. Di tengah ruangan, ada sebuah lonceng raksasa. Pada hari raya nasional bulan April atau Mei, saat perayaan hari lahir Buddha, lonceng itu akan berdentang 108 kali, yang pemukulnya digerakkan oleh komputer.

Pemandangan dari podium Big Buddha.

Pemandangan dari podium Big Buddha.

Selain Big Buddha, ada Po Lin Monastery di sisi lain area ini. Sayang, biara itu sedang direnovasi. Tampak beberapa pengunjung membakar dupa dan bersembahyang di depan biara. Di samping bangunan biara, ada resto Po Lin Vegetarian Restaurant yang katanya sih terkenal dengan masakan-masakan vegetarian yang harganya terjangkau dan lumayan mengenyangkan. Tapi saya sih punya rencana lain…hehe!🙂 Kami juga terpaksa sholat di bangku taman di belakang resto itu. Tidak ada mushola di area ini.

CIMG7067

Pemandangan Ngong Ping di sore hari.

Idealnya memang datang ke Ngong Ping atau Lantau ini di pagi hari. Beberapa spot, seperti desa nelayan di Tai O dan jalur trekking yang sepertinya menarik untuk dijelajahi, harus saya lewatkan karena sudah hampir gelap waktu itu. Menjelang maghrib, kami pun pulang. Sial, antrean pulang juga luar biasa. Kami baru mendapat giliran naik kereta gantung, kembali ke Tung Chung, setelah 40 menit. Tahu begini saya tadi mending beli tiket one way aja, balik ke Tung Chung bisa naik bus yang terminalnya tak jauh dari situ. Tapi, saat mengantre di depan restoran-restoran, cobalah nyalakan wi-fi di ponsel, karena hampir semua resto di situ memberi akses wi-fi gratis dan sinyalnya bocor ke sekitar situ.🙂

Beef curry super lezat! :)

Beef curry super lezat!🙂

Setiba di Tsim Sha Tsui, kami sowan ke resto favorit saya, Cafe de Coral, di sebuah mal di dekat terminal bus TST. Ini adalah jaringan resto lokal di Hong Kong yang menyajikan banyak menu. Pembelinya juga selalu membludak, terutama ketika jam makan siang dan malam. Menu favorit saya dari dulu adalah beef brisket/curry with rice. Biasanya menu ini hanya disediakan malam hari. Menunya ada di dinding di samping konter pesan/kasir, dengan bahasa Inggris dan Kanton. Pesan, bayar, lalu ambil pesanan kita di konter dapur.

Sesuai namanya, ini memang kari sapi biasa. Tapi buat saya rasa karinya gurih banget. Potongan daging sapinya juga banyak dan besar. Disajikan dengan sepotong kentang rebus di dalam kuah kari, plus sepiring nasi dengan potongan kacang panjang dan nanas. Porsi menu ini cukup banyak, sehingga kami hanya memesan seporsi untuk dimakan berdua. Lima tahun lalu, waktu transit di Hong Kong dari Kiev, harganya sekitar HK$ 30, sekarang naik jadi HK$ 43.😦 Tapi udah termasuk segelas teh susu panas sih. Pulang dari resto tinggal jalan kaki 15 menitan ke hostel. Capek, kenyang, dan senang.[]

(Bersambung)

3 thoughts on “Nongkrong di Hong Kong #5

  1. dblueholic

    *cuma penasaran
    Emangnya porsi nasi rames segitu cukup buat Mas Indra? Porsi nasi kari emang cukup buat berdua? Curiga setengah bagian istrinya Mas Indra diembat juga nih… :p

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Ah, Dyah gak percayaan niih…dalam situasi duit pas-ngepas, aku bisa kok makan dikit🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s