Balada Ukraina #28

Tak sampai dua minggu setelah mendapat pengawal pribadi, saya dapat jatah libur lagi karena di sekolah akan diadakan ujian. Jelas saja saya pengen jalan-jalan lagi. Untuk hal-hal begini, Nastya adalah orang yang paling tepat untuk dihubungi. Sabtu pagi jam 10, kami janjian ketemu di Globa Park, taman kota yang lokasinya tak jauh dari apartemen saya.

Sebenarnya saya masih agak khawatir berkeliaran di ruang publik begini. Sejak peristiwa diludahi tempo hari itu, saya mengurangi acara jalan-jalan sendirian di jalanan, kecuali kalau ada teman-teman yang menemani. Bagaimana kalau nanti saya apes karena geng rasis yang dihajar Vova itu tiba-tiba lewat dan saya sedang sendirian? Sudah jelas saya satu-satunya orang Asia Tenggara di Dnipro. Satu-satunya yang berkulit sawo matang. Mudah sekali dikenali, walaupun orang yang buta dunia akan menyangka saya orang Afrika.

Saya memasang kupluk jaket saya dan duduk di bangku di bawah sebuah pohon rimbun di dekat pintu masuk.

Sepuluh menit kemudian, saya melihat sebuah sedan biru berdecit berhenti di seberang jalan tak jauh dari pintu masuk. Itu jelas Nastya. Anak satu itu nggak pernah bisa nyetir pelan-pelan, rutuk saya dalam hati. “Hei! Ayo, naik!” Nastya berseru dari jendela. Saya berlari kecil menyeberang jalan.

“Apa kabar?” sapa Nastya riang begitu saya menutup pintu.

I’m good…and I need vacation!” balas saya.

Nastya hanya tertawa.

“Mau ke mana kita?” tanya saya begitu Nastya tancap gas.

“Ke Coffee Life. Ada rapat sama teman-teman di sana.”

Coffee Life adalah sebuah kafe tempat anak-anak AIESEC biasa nongkrong untuk rapat atau sekadar mojok. Letaknya strategis, di Gagarina Street, dikelilingi beberapa kampus besar di kota Dnipro. Di mobil, saya kemudian menyinggung tentang rencana main ke Donetsk, kota tetangga yang jaraknya sekitar tiga jam naik kereta dari Dnipro.

Setelah serangkaian peristiwa rasis di jalanan dan kebandelan anak-anak di sekolah, menghilang selama beberapa waktu dari Dnipropetrovsk sepertinya gagasan bagus. Setidaknya untuk beberapa waktu ke depan saya tidak perlu terlalu khawatir akan ketemu lagi dengan geng yang dihajar Vova malam itu. Ke mana pun oke.

“Kau tahu sendiri, kan, anak-anak AIESEC di Donetsk sangat akrab dengan kami di Dnipro. Jadi pastinya kau akan diurus dengan baik di sana,” kata Nastya.

Terang saja saya langsung mengiyakan. Lagi pula, jalan-jalan seperti ke Kiev kemarin itu sangat irit. Tak perlu menginap di hotel, sudah ada teman yang mengantar berkeliling, dan siapa tahu ada yang kasih makan…hehehe! Lagian, beberapa teman yang waktu itu kenalan sama saya di acara LCC tempo hari juga sudah mengundang saya ke Donetsk.

Di Coffee Life, sementara teman-teman saya rapat, saya memilih mojok sambil baca buku, minum cokelat hangat, dan makan croissant. Beberapa teman yang jarang saya lihat mengajak ngobrol sebentar sebelum bergabung dengan Nastya untuk rapat. Mereka semua sudah mendengar tentang insiden malam itu ketika saya diludahi dan Vova menghajar sebagian dari orang-orang brengsek itu.

Setelah rapat selesai, setengah jam lebih kemudian, Nastya mendekati meja saya.

“Beres! Aku sudah menelepon teman-teman di Donetsk. Kau bisa ke sana Rabu nanti. Minta tolong sama yang lain ya untuk beli tiket kereta,” kata Nastya.

“Oh, masih lama ternyata?”

“Kami butuh kau hari Selasa. Ada acara diskusi tentang intercultural relation and communication di kampus. Nanti kau akan dihubungi. Oke?”

“Heh? Aku disuruh ngapain?”

“Paling cuma disuruh ngomong semaumu…hahaha! Sudah, ya! Aku pergi dulu!” Nastya pamit dan kabur dengan sedan birunya.

Haduh, cewek satu itu selalu terburu-buru.

Di kafe itu saya bertemu lagi dengan beberapa teman anggota baru yang kemarin ikut acara LCC. Sepulang rapat, lima orang anak baru mengajak saya jalan-jalan ke sebuah taman kota, Park Shevchenko, yang jaraknya hanya beberapa ratus meter dari kafe.

Nongkrong bareng teman-teman di tepian Sungai Dnipro.

Nongkrong bareng teman-teman di tepian Sungai Dnipro.

Suhu hari itu sekitar 10° Celcius. Masih sangat dingin buat saya, apalagi karena saya tidak lagi memakai jaket musim dingin. Hanya kaos, sweater, dan jaket katun berkupluk. Tapi karena banyak berjalan kaki, tubuh terasa lebih hangat.

Nama Park Shevchenko bukan didedikasikan untuk pesepakbola top Ukraina, Andrey Shevchenko, melainkan untuk Taras Shevchenko—sastrawan dan pujangga kebanggaan masyarakat Ukraina. Saya baru pertama kali main ke taman ini, padahal jaraknya tak jauh dari sekolah tempat saya mengajar.

Park Shevchenko, difoto dari Monastyrsky Island.

Park Shevchenko yang menghijau di musim semi.

Dari Park Shevchenko, ada jembatan langsung untuk menyeberang ke Monastysrky Island, sebuah pulau kecil di Sungai Dnipro yang lebar itu. Saya pernah ke sini sebelumnya, tapi waktu itu malam hari dengan teman saya Nikita yang sama-sama mengajar di Big Ben, kursus bahasa Inggris tempat saya bekerja di malam hari.

Saat hari menjelang sore, rombongan kami berpisah karena ada keperluan sendiri-sendiri. Semua, kecuali saya dan Tanya. Kami berjalan-jalan di Monastysrky dan di sepanjang tepian sungai. Berfoto selfie dan saling bercerita tentang diri dan negeri kami masing-masing.

Nama Tanya (atau Tania) di negara-negara berbahasa Rusia biasanya adalah nama panggilan untuk Tetyana atau Tatyana. Dia tertawa ketika saya bilang kata “tanya” dalam bahasa Indonesia artinya “ask“.

Selfie bareng Tanya.

Selfie bareng Tanya.

Cewek cantik ini kuliah di National Metallurgical Academy of Ukraine, mengambil jurusan Sastra Inggris. Kampusnya ternyata juga tak jauh dari sekolah saya. Masih anak sekitar situ lah…hehehe! Belakangan, Tanya akan jadi salah satu sahabat saya di Dnipro. Bahkan nantinya kami digosipkan berpacaran saking akrabnya…hahaha!

Tiba di apartemen, walau lelah, saya sudah bisa melupakan kejadian-kejadian tak mengenakkan yang menimpa saya beberapa waktu terakhir ini. Teman saya kini bertambah.[]

(Bersambung)

24 thoughts on “Balada Ukraina #28

  1. leo

    Akhirnya selesai juga baca semua tentang ukraina di blog ini, duh seneng banget dpt banyak cerita, saya kebetulan pacaran sama orang ukraina, juni 2016 mungkin dia ke bandung karena saya belum dapet cuti panjang buat kesana, makasih ya mas buat postingannya..obat kangen selain skype…sukses selalu

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Wah, pacarnya orang Ukraina? Kenalin dong….udah lama gak ketemu orang sekampung nih…hahaha😛

      Reply
      1. leo

        ciee udah jadi orang ukraina asli yah :)) kita ketemuan aja mas tar kalo dia ksni sama2 di Bandung kan kita🙂

        Reply
  2. fahrurrozi

    Salam kenal, Mas

    Saya baru saja menyelesaikan program erasmus mundus dan dalam rentang dua tahun perkuliahan saya berkenalan dengan dua orang teman dari Ukraina. Satu orang bahkan sempat menginap di flat saya bersama keluarganya waktu wisuda tahun lalu. Kesan saya terhadap dua orang teman dari Ukraina ini adalah mereka orang yang bersahabat dan cukup ramah (dan luar biasa pintar). Saya berencana jalan-jalan ke sana sebenarnya dalam waktu liburan musim panas ini, tapi ada sedikit kendala di visa. Rencananya sih mau mengunjungi keluarga teman saya di Kiev dan satu orang teman saya yang akan menikah di Kharkiv.

    Anyway, pas membaca tulisan ini saya ada sedikit rasa khawatir untuk berjalan-jalan di sana (tanpa panduan teman saya, yang pastinya sudah sibuk setelah menikah). Ada tips atau saran untuk bisa travelling dengan aman di sana? Saya sendiri menganggap peristiwa apes yang mas alami itu lebih disebabkan oleh orang-orang yang tidak jelas hidupnya (pemabok dkk). Tapi ya, biar bagaimanapun, lebih baik sedia payung sebelum hujan.

    Mas Indra sendiri masih di Ukraina atau sudah pindah?

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Halo Fahrurrozi,
      Secara umum sih jalan2 di Ukraina aman. Tapi itu dulu ya, saya sih udah lama pulang. Kesulitannya jelas di masalah bahasa. Orang Ukraina jarang ada yang bisa bahasa Inggris, tapi coba tanya2 orang yang kira2 mahasiswa. Biasanya mereka bisa dikit2. Masalah lain, susah menemukan rambu2 dengan huruf latin atau bahasa Inggris, semuanya pake huruf Cyrillic. Kalo bisa baca atau ngomong bahasa Rusia sih beres semua masalah….hehehe!🙂

      Satu lagi, sekarang Ukraina kan lagi konflik sama Rusia. Jadi, usahakan hindari kota2 yang diduduki Rusia (biasanya di bagian selatan) atau orang2 Ukraina pro Rusia (biasanya di timur). Kiev saya kira aman, dan ada lebih banyak orang yg bisa bahasa Inggris di jalanan (biasanya ya mahasiswa). Ukraina jarang didatangi orang Asia, jadi biasakan dilirik orang di jalan kalo lagi jalan sendirian. Kalo lagi sendirian di tempat umum, sebaiknya emang hindari jalanan2 sepi. You’ll never know, kan…

      Saya sendiri pernah backpacking keliling beberapa kota di Ukraina. Selama perjalanan sih gak ada masalah apa2, gak ada orang yang ganggu atau berbuat jahat. Sebagian malah berusaha akrab dan ngajak ngobrol walau dia gak bisa bahasa Inggris. Jadi pengalaman jadi korban rasis itu emang apes aja. Tapi cerita soal ini emang blm saya tulis di blog….hehehe🙂

      Gitu lah kira2…🙂

      Reply
      1. fahrurrozi

        Hmm.. Makasih, Mas buat infornya.
        Hasil ngobrol tempo hari dengan teman sih katanya daerah-daerah Donetsk kurang dianjurkan untuk dikunjungi saat ini. Dia waktu itu mau ngajakin ke Lviv dan Odessa (tapi ya sekarang tinggal rencana). Dan warna kulit saya ketahuan banget deh orang Asia, cokelat gelap. Jadinya mereka ga kesulitan untuk menebak saya dari mana.😀

        Untuk Cyrillic, saya lumayan bisa membacanya walaupun masih agak lamban. Dan kebetulan saya belajar bahasa Ukraina (lumayan niat) dari buku dan teman saya (sewaktu dia masih di sini). Untuk percakapan dasar seperti salam dan ini-itu masih bisa sih. Cuma ya untuk urusan serius saya masih ga bisa.

        Ok deh. Di tunggu tulisan lanjutannya tentang Ukraina ya, Mas. =)

        Reply
  3. Edo

    kira-kira udah aman gak mas untuk stay di dnipropetrovsk? soalnya rencana mau ambil study satu semester di national mining university di sana. nanti di sem 3 bisa ambil studi di china atau ukraina. awalnya sih pengen ke ukraina, tapi setelah krisis di sana ama cerita rasis yang mas alami. jadi ragu2 ya buat study disana.

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Kata temen2 saya di Dnipro sih aman. Warga Dnipro pro-Ukraina soalnya. Tapi agak ke timur dikit, di Provinsi Donetsk, itu bahaya karena banyak orang yang pro-Rusia dan di beberapa kota di sana ada perang tentara Ukraina vs pemberontak pro-Rusia. Di beberapa kota di bagian barat juga ada konflik. Kuliah di mana ini kok mau ambil studi di sana?🙂 Kalo soal rasisme, yaa gimana ya…mungkin ada dikit, tapi ya tergantung faktor apes nggaknya juga sih🙂

      Reply
      1. Edo

        di TU freiberg, jurusan teknik pertambangan. memang struktur programnya, sem 1 di loeben (austria), 2 di freiberg, 3 di dnipropetrovsk atau beijing, 4 pilih lagi dari kampus disemester sebelumnya. semacam program erasmus mundus.
        berarti memang lagi apes aja ya mas dulu dapet pengalaman kaya gitu? asal hati2 aja kalo jalan diluar pas malem

        Reply
        1. Indradya SP Post author

          Bisa karena apes, bisa juga emang ada segelintir orang rasis. Kombinasi keduanya. Tapi, waktu saya tanya2 temen2 saya orang Ukraina, buat mereka sih kasus rasisme itu rada mengherankan karena jarang terjadi. Mungkin jg karena di Ukraina orang Asia atau Afrika sangat sedikit jumlahnya. Waktu saya di sana, orang Indonesia aja paling cuma ada 50-60. Itu juga sebagian besar staf KBRI, keluarga, dan beberapa tamu. Di Mining Univ, saya sering liat mahasiswa2 asal Cina dan Afrika, tapi mereka gak pernah jalan sendirian sih. Di Donetsk, waktu saya main ke sana, warganya gak ada yg sampe ngeliatin saya segitunya. Cenderung cuek sama orang asing beda warna kulit. Di Kiev, pernah ada orang KBRI yg digebukin sama geng rasis pas dia lagi jalan ke mobilnya. Untung orang ini punya pistol, jadi kabur deh itu geng rasis. Biasanya yg rasis ini orangnya pasti model: penganggur, gelandangan, preman, orang mabuk, dsb. Yah, itu sih dari pengalaman saya doang ya…🙂 Orang Ukraina banyak yang kuliah atau kerja di Jerman. Coba cari dan tanya2 mereka….hehehe😛

          Reply
          1. Edo

            oke, makasi mas. cuman kalau baca dari tulisan balada ukraina, mereka lumayan welcome juga ya ama orang asing/

            Reply
            1. Indradya SP Post author

              Secara umum lumayan welcome lah mereka. Mahasiswa sana sih asik2 aja sama orang asing…🙂

              Reply
    1. Indradya SP Post author

      Biasanya pake Turkish Airlines. Transit di HK atau Spore, terus transit lagi di Istanbul. Bisa main di Turki sekalian🙂 Kalo soal murah ya tergantung, pas dapet tiket promo nggak. Pantau terus aja maskapai yg ke Ukraina. Jarang sih ada yg backpacking ke sana, apalagi orang Indonesia🙂

      Reply
  4. Salim

    Kayanya Ya, brarti ada kemungkinan ga bisa… Hahaahha… Tu smua jurusan ya mas… Soalnnya saya jurusan Teknik Informatika (IT)… Btw, mas indra kan guru english tu, bagi tips donk biar english lancar mas

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Oh gampang. Banyak baca buku dalam bahasa Inggris, dengerin musik, dan nonton film. Jangan lupa komat-kamit, latihan pengucapan…hehehe. Banyak cara lah pokoknya, apalagi sekarang zaman Internet. Cari aplikasi belajar bahasa di Playstore juga banyak, gratis pula. Jangan lupa, harus berani ngomong sama orang asing🙂

      Reply
  5. Salim

    Finally selesai juga ubek2 blog mas indra, 2 hari kelar bacanya…hehehhw… Senang banget ya mas bisa jalan2… Dan tetap masih bisa berkarya…. Dulu cita2 saya juga pengen banget ke luar negri, entah jadi volunter ato sekedar magang kerja, tapi klo mau di realisasikan sekarang sepertinya umur sudah tidak bersahabat… Heheehw.. Mas indra bisa minta alamat email ga, biar share2 dan tanya2.. Boleh… Thanks before

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Wah, makasih udah mau baca blog saya selama 2 hari mas…hehehe. Btw, jangan biarkan umur menghalangi cita2…hahaha!😀

      Reply
          1. agus

            Pengennya Mas….. Mas saya ada follow twitternya ya… Mas klo seumuran saya masih bisa gabung di AIESEC ga ya…. Klo bisa gmna caranya.. Soalnya kampus saya ga join sama AIESEC

            Reply
            1. Indradya SP Post author

              Kayaknya bisa, tapi cuma ikut program magang kerjanya aja. Saya dulu di UGM gabungnya ke AIESEC Undip, karena di UGM ga ada local committee-nya.

              Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s