Bumi Tuhan

20140923_065128

Judul: Bumi Tuhan: Orang Buangan di Pyongyang, Moskwa, dan Paris (1960-2013)

Penulis: Waloejo Sedjati

Penerbit: Penerbit Kompas

Terbit: November 2013

Tebal: 350 halaman

“Apa gerangan yang akan terjadi di bumi ini seandainya tidak lahir manusia ajaib bernama Karl Marx itu? Mungkin perjalanan sejarah umat manusia akan berbeda. Juga perjalanan hidupku.”

– Waloejo Sedjati

Sampulnya memang tidak begitu menarik: berwarna dasar putih dengan gambar yang baru jelas ketika dilihat dari dekat. Tapi setelah saya baca, kisah di dalam buku ini ternyata sangat menarik dan meninggalkan kesan mendalam.

Waloejo Sedjati adalah pemuda kelahiran Pekalongan yang bercita-cita menjadi dokter, untuk mengabdi kepada tanah airnya setelah menyelesaikan pendidikan di Pyongyang. Namun, tragedi 30 September 1965 mengubah seluruh jalan hidupnya. Ia terpaksa mengembara selama 48 tahun hingga wafat di Paris sebagai warga negara Prancis pada tahun 2013. Sebelumnya, ia tinggal di Korea Utara selama 10 tahun dan Uni Soviet selama 15 tahun.

Keakraban Indonesia dengan negara-negara sosialis membuat Waloejo pada 1960 dikirim untuk belajar di Pyongyang selama delapan tahun. Tidak banyak orang Indonesia yang belajar di sana atau mengetahui kondisi negara tersebut, sehingga pengalamannya selama di Korea Utara bagi saya sangat menarik. Kisah selama di Korut ini memakan porsi terbesar dari isi buku ini.

Pertama kali datang sebagai mahasiswa yang akan belajar di sana, Waloejo mendapat sambutan luar biasa. Selain disambut rombongan mahasiswa di stasiun, ia juga diajak mengunjungi pabrik-pabrik, menonton pertunjukan teater, dan mendapat hadiah pakaian musim dingin langsung dari pemimpin Korea Utara saat itu: Kim Il Sun. Namun, ia tidak boleh mengetahui nama dan bersahabat dengan dua pemuda yang menemaninya selama acara tersebut, karena mereka dilarang berteman dengan orang asing di luar tugas.

Selama kuliah, mahasiswa asing di Korut mendapat asrama tersendiri dan makanan yang jauh lebih baik dibandingkan mahasiswa lokal yang cuma dikasih jatah sejenis bubur dan tinggal berdesakan dalam satu kamar. Namun, mahasiswa asing harus sekamar dengan satu mahasiswa lokal, yang sebenarnya bertindak sebagai mata-mata.

Sebagai pemuda dari keluarga sederhana yang merasa bangga mendapat kesempatan belajar di luar negeri, Waloejo semula sempat shock setelah menyadari bahwa fasilitas dan mutu pendidikan di universitasnya di Korea Utara sangat sederhana. Ia juga mendapati bahwa ilmu kedokteran di negara sosialis jauh tertinggal dibandingkan negara-negara Barat.

Pada bagian ini, cerita Waloejo berhasil membuat saya mengagumi rakyat Korut yang ulet dan giat membangun negerinya yang hancur akibat perang. Saya seolah diajak langsung mengamati wajah Korea Utara tahun ’60-an. Selama kuliah, Waloejo juga sempat membantu delegasi Indonesia yang melawat ke Korut atau delegasi Korut yang berkunjung ke Indonesia.

Menurut pengalaman Waloejo di beberapa negara sosialis, Korea Utara adalah negara komunis paling ketat. Sebagai mahasiswa asing, ia tidak boleh memiliki teman penduduk lokal, asramanya diisolasi dan dijaga oleh dua petugas piket, bahkan setelah seluruh mahasiswa asing lainnya sudah pergi dan ia tinggal sendirian.

Ia juga dilarang berbelanja di mana pun kecuali di toko khusus untuk orang asing. Seorang teman kuliah Koreanya yang bersedia ia ajak makan bareng di restoran khusus orang asing harus membayar kenekatannya melanggar peraturan dengan kerja paksa dan diberhentikan dari kuliah. Sementara itu, seorang dosennya yang memainkan biola di depan Waloedjo di ruang autopsi dipindahkan dan belakangan malah hilang.

Setelah peristiwa 30 September dan pemerintahan di RI berganti, mahasiswa Indonesia di Pyongyang diminta mengikuti skrining. Mengikuti nasihat perwakilan Indonesia di sana saat itu, Waloedjo menolak dan menyatakan tetap setia kepada Presiden Sukarno, sehingga paspornya dicabut.

Setelah tidak memiliki kewarganegaraan, Waloejo mencoba bekerja sebagai dokter dan mempelajari akupuntur dari dosen pembimbingnya. Namun, sistem komunis Korut yang terlalu ketat dirasakannya terlalu kejam, sehingga ia pindah ke Uni Soviet pada 1970.

20140916_135835Dibandingkan dengan Korea Utara, kehidupan di Uni Soviet terasa bebas, karena saat itu Soviet telah melakukan revisi dalam pelaksanaan komunisme dan mengarah ke kapitalisme. Selama di Uni Soviet, Waloejo menjadi dokter bedah dan meneruskan pendidikan S-3 sehingga memperoleh gelar PhD pada 1990. Selain bekerja di rumah sakit, ia juga praktik penyembuhan akupuntur, yang belakangan membawanya ke Beograd dan membangkitkan minatnya untuk pindah ke negara Barat.

Dibantu sahabat lamanya, Waloejo pindah ke Paris. Namun, kepindahan ke negara Barat itu tidak membuat semua masalah beres. Waloejo tidak bisa berbahasa Perancis. Akibatnya, ia tidak bisa mengikuti ujian persamaan sebagai syarat untuk bisa bekerja sebagai dokter di klinik atau rumah sakit. Usianya yang sudah setengah abad membuatnya kesulitan belajar bahasa baru.

Perjuangan hidupnya dimulai dari nol lagi. Kesulitan ekonomi apabila tidak bekerja membuat sisa hidupnya di Perancis diisi dengan bekerja sebagai asisten juru rawat hingga pensiun. Setelah menjadi warga negara Prancis ia sempat mengunjungi keluarga di Indonesia.

Saat bertemu kembali dengan kedua orangtuanya, Waloejo mendapat kabar bahwa semua teman dekatnya disiksa dan dibunuh, termasuk mereka yang tidak begitu paham arti komunisme atau sekadar simpatisan tak penting. Keluarganya juga dikucilkan dari masyarakat setelah tragedi tersebut.

Di halaman-halaman terakhir, Waloejo menceritakan bagaimana ibunya “menggugat”nya: “Kau! Coba katakan! Kenapa bencana itu menimpa kami? Apa benar kau anggota PKI seperti yang dituduhkan orang-orang kampung itu? Kau pasti tahu mengapa kami harus membayar teramat mahal atas dosa yang tak kami mengerti!”

Waloejo tak sanggup menjawab semua itu. Semua pengalaman pedihnya ini menimbulkan rasa sedih luar biasa hingga akhirnya Waloejo, yang setelah tinggal di Perancis memakai nama Valery Selancy, wafat.

Beruntunglah ia masih sempat menulis memoar ini, sehingga kita bisa banyak belajar tentang Waloejo—seorang anak bangsa yang ilmunya disia-siakan, mubazir tak terpakai di negeri sendiri, dan namanya pun akan dilupakan zaman. Sayang di buku ini nggak ada foto-fotonya.

Walaupun ideologi komunis sudah tak laku lagi dunia, di Indonesia rasa takut akan gerakan tersebut masih dipelihara hingga kini. Padahal banyak ancaman lain yang jauh lebih nyata dan berbahaya, misalnya semakin maraknya korupsi atau intoleransi yang mengatasnamakan agama oleh kelompok-kelompok pemuja kekerasan dan pelestari kebodohan.

Tragis.[]

2 thoughts on “Bumi Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s