Makan Siang yang Mencerahkan

Pada suatu hari yang biasa, seorang teman mengajak makan siang bersama. Sebut saja namanya Bunga (kok kayak nama korban di artikel berita perkosaan ya…haha!). Karena ge-er, saya mengiyakan. Kenapa ge-er? Karena saya kira bakalan ditraktir makan, nggak tahunya bayar sendiri-sendiri…hehehe!

Kami makan di Ampera di daerah Arcamanik. Tempatnya asyik, persis di seberang supermarket Griya. Di pelataran Griya, ada penjual kue pukis, kue kesukaan saya. Sambil menikmati menu nasi liwet lauk perkedel kentang, bakso goreng, sate usus, pepes jamur, sambal lalap, dan minuman timun serut segar, saya mendengarkan cerita Bunga.

“Aku mau kuliah lagi. Lanjut ke S-2,” mulainya.

Bunga sudah sebelas tahun bekerja di perusahaan yang sama dengan saya, walau berbeda unit dan gedung. Dulu dia menamatkan pendidikan sarjananya di Fikom UNPAD, dan sekarang ingin melanjutkan pendidikan karena dia ingin menjadi dosen di almamaternya itu. Persoalannya, biayanya mahal.

“Dua puluh juta per semester. Duit dari mana, ya?” kata Bunga sambil melahap otak sapi.

Usai membahas topik tersebut secara “teknis”, saya mengajukan pertanyaan, yang lebih tepat ditanyakan kepada diri sendiri.

“Memang betul ya…yang namanya manusia itu nggak akan pernah puas. Tapi kalau nggak puasnya dalam konteks positif, kenapa nggak?” celetuk saya sok bijak.

Bunga hanya manggut-manggut.

“Kamu masih mending. Kamu pengen kuliah lagi karena ada tujuan bagus di akhirnya. Aku juga pengen kuliah lagi, tapi di luar negeri. Dan kalau boleh jujur, aku pengen kuliah bukan karena suka belajar formal, tapi lebih karena pengen jalan-jalan….hehehe!” kata saya.

Bunga tertawa. Dia sudah lama tahu bahwa saya memang sejak kecil maunya jalan-jalan melulu. Ditambah lagi saya sudah “keracunan” baca buku-buku Agustinus Wibowo.

Saat beberapa jeda untuk mengunyah dan meneguk minuman, saya merenung dalam-dalam. Saya berpikir tentang Bunga yang sedang merancang jalan setapak baru dalam peta hidupnya.

work hardSaya sendiri sudah bekerja 6 tahun di perusahaan ini. Sistem di perusahaan dan jenis pekerjaan saya tidak membuat saya tertarik untuk menapak ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu selevel manajer. Mungkin saya sudah puas begini, walau di mata orang lain bisa jadi dianggap “begitu-begitu saja”.

Saya berada di zona aman dan nyaman. Tapi siapa tahu, kelak pada suatu titik, saya akan berpikir seperti Bunga: untuk move on dan mewarnai hidup dengan sesuatu yang baru. Bukan berarti pekerjaan saya ini buruk dan membosankan. Sebaliknya, menyenangkan bagi saya. Tapi, itulah manusia. Selalu tidak pernah puas. Selalu ingin sesuatu yang lain, yang baru.

cameraApakah saya ini gampang puas atau memang kurang ambisius, entahlah. Saya merasa sudah punya semua yang saya butuhkan: punya rumah (yang masih nyicil 10 tahun lagi), punya kendaraan bermotor roda empat (dalam bentuk dua sepeda motor), punya penghasilan tetap, bisa menabung, bisa liburan sesekali, dan kadang-kadang dapat proyek kecil yang hasilnya bisa ditabung. Alhamdulillah. Kurang apa? Mobil? Ah, saya nggak butuh mobil. Dan walau belum diberi momongan, saya merasa itu di luar kuasa manusia. Urusan kita cuma berdoa dan ikhtiar, selebihnya pasrahkan saja kepada Gusti Allah.

Kalau bicara keinginan, tentu tidak akan ada habisnya keinginan manusia. Lalu apa yang sebaiknya saya kejar dalam hidup ini? Sesuatu yang setidaknya bukan keinginan materialistis?

lifeSaya lantas merasa, apa yang membuat hidup ini layak dijalani tentu adalah kalau kita selalu memiliki cita-cita dan harapan, kemudian memperjuangkan itu. Apakah nanti cita-cita dan harapan itu tercapai atau tidak, itu bukan masalah. Bahkan terkadang hikmah dari perjuangannya terasa lebih nikmat daripada tujuan akhir itu sendiri.

Saat mencuci tangan sehabis makan, saya merenung. Rasanya tindak lanjut dari kegalauan saya pada siang yang mencerahkan itu adalah:

1. Menghasilkan karya. Yang paling realistis adalah menerbitkan buku (solo) karya sendiri. Habis bisanya cuma ini, sih. Yang ini masih dikerjakan. Malu sama Pramoedya Ananta Toer yang pernah bilang, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Atau seperti celetukan seorang sahabat, “Sibuk membidani karya-karya orang lain, tapi tak punya waktu melahirkan karya sendiri.” Jleb! Dan satu lagi: mulai cari beasiswa! Biar bisa jalan-jalan! *eh* 😀

2. Menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama manusia. Gimana, ya? Sejauh ini saya cuma bisa bayar zakat, kurban tiap tahun, sedekah juga angkanya nggak bisa dibilang fantastis. Yah, mudah-mudahan sih apa yang saya keluarkan tepat ke sasaran. Jadi anak yang berbakti kepada orangtua? Mungkin sedikit, tapi insya Allah bukan anak durhaka. Ibadah? Standar. Rasanya harus berbuat yang lebih lagi, semata demi pahala.

Saya belum berhasil mencapai kedua tujuan mulia itu, tapi jelas saya ingin melakukan keduanya. Buddha pernah bilang, “Keinginan adalah sumber segala penderitaan manusia.” Yah, bahkan punya keinginan positif pun kita harus “menderita” dulu. Bunga harus menabung lebih dan bekerja ekstra hingga tabungannya cukup untuk kuliah lagi. Tapi, itulah cita-cita Bunga. Dan ia mau berjuang meraihnya.

good deedsTak apa-apa punya keinginan. Tak apa-apa harus berjuang mati-matian untuk mencapainya. Itulah yang membuat kehidupan ini jadi bermakna. Asalkan pada akhirnya seperti yang diajarkan Rasulullah, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.” Saya jadi makin berpikir keras: apakah saya sudah menjadi orang yang seperti itu? Wallahualam. Tapi saya jelas ingin sekali.

***

Setelah makan, saya mampir sebentar ke teras Griya untuk beli pukis keju. Nah, betul, kan, manusia tidak pernah puas? Sudah makan siang, masih juga beli kue! Hehehe!😀 Sambil memerhatikan si Mbak menyiapkan pukis, saya melamun lagi.

Saya tidak ingin hidup seperti jawaban Rambo. Ketika selesai menembaki markas tentara dengan senapan mesin sampai hancur dan beranjak pergi, tokoh yang diperankan Sylvester Stallone ini ditanya Trautman, mantan komandannya, “How will you live, John?”

Jawab Rambo, “Day by day…” []

4 thoughts on “Makan Siang yang Mencerahkan

  1. i.summers

    mskp terlihat selalu ceria dan terkesan gak banyak pikiran, kepala org ini ternyata penuh dgn pemikiran keren tp gak njelimet. contohnya ya tulisan ini. kreatif, menghibur sekaligus religius. kena langsung ke intinya tanpa byk tetek bengek yg gak penting disebutkan. sambil mikir juga sebenernya, koq bisa dari sekedar curhatan temen pas makan siang jadi tulisan sekeren ini?! pertanyaan gak penting yg gak perlu dijawab kan. hehehee..
    tulisan ini menyadarkan sy : iya, ya..hidup ini memang perlu tujuan seumpama naek angkot, mo turun dimana ntr? gak berarti selama ini sy hidup tanpa tujuan. cuma abis baca tulisan ini, sy jadi lebih nyadar lagi kalo tujuan adalah intinya. sepenting niat dari semua tindakan. agar hidup lebih bermakna.
    makasi byk udah posting. lanjut trs ya nulisnya🙂

    Reply
    1. Indradya SP Post author

      Jelas gak banyak pikiran lah…wong nyoblos aja ogah….hidup jadi lebih tenang….wkwkwk!😛

      Reply
    1. Indradya SP Post author

      Hehehe…trims. Tipsnya cuma: banyak baca, banyak nulis, banyak makan, dan banyak jalan2🙂

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s