Pak Celana Dalam dan Sepotong Bakwan Terakhir

Setahunan lalu, ada satu keluarga yang mengontrak rumah di jalanan kuldesak di kompleks kami. Dua nomor di kanan rumah saya. Sang istri tinggal di situ bersama dua anaknya, sementara suaminya bolak-balik kerja di Jakarta. Pemilik rumah kontrakan itu sendiri tinggal di Sukabumi.

Setelah beberapa minggu, saya mulai menyadari ada yang aneh di rumah itu. Sering terdengar suara pintu dibanting dan suara perempuan menjerit². Semakin lama, suara² itu semakin sering terdengar, siang dan malam, sehingga saya curiga: jangan² ada KDRT.

Saat hitungan minggu menjadi bulan, keributan itu makin sering terjadi di malam hari. Masih saya pantau. Saya masih sabar. Suatu Sabtu malam, hampir jam 10, keributan itu sudah saya anggap keterlaluan. Suara gubrak² pintu dan jeritan² histeris makin menggila. Saya khawatir juga itu bukan cuma KDRT. Lha kalo ada yang mati gimana? Saya kan ngeri tinggal di sebelah rumah yang ada korban pembunuhan. 😅

Saya kabari warga RT via WA, bahwa saya akan gerebek rumah rusuh itu. Saya panggil satpam di posnya, 20 meter dari rumah, untuk membantu. Saat satpam menggedor rumah tadi, Pak RT dan beberapa warga mulai berdatangan.

Sang suami keluar. Bertelanjang dada dan hanya memakai celana dalam. Usianya mungkin 45 atau lebih. Saya jauuuh lebih muda dan lincah.😛 Tergagap dia menjelaskan kepada warga, “Nggak ada apa² kok, bapak². Istri saya cuma lagi kalut aja. Nggak apa², nanti juga tenang.”

Setelah Pak RT memberikan wejangan, pelan² kami bubar. Sejak malam itu, di grup WA, Pak Herlan tetangga belakang saya menyebut sang suami tadi dengan julukan “Pak Celana Dalam”. 🤣

Selesai? Ooh, tidak semudah itu, Sumarso. Persis besoknya, Minggu pagi, keributan itu terjadi lagi. Kali ini sang istri mengamuk di garasi, melemparkan jemuran, helm, bantal, guling, dsb ke jalanan di depan.

Waktu itu saya dan bapak² lagi nongkrong di depan rumah saya sambil ngemil bakwan. Melihat itu, kami samperin lagi rumahnya. Kami melihat sang istri dalam keadaan menyedihkan: mata bengkak dan merah akibat nangis terlalu lama, rambut acak²an, daster kumal. Pedih juga melihatnya.

Melihat kami datang, sang istri langsung curhat dalam volume tinggi: “Maaf ya Paak…saya udah gak tahaan! Suami saya bajingaaan! Dia selingkuuh!”

Pak Celana Dalam keluar tergopoh², lalu membujuk² istrinya untuk masuk. Tapi, sang istri berontak dan terus nyerocos, “Bajingan! Kenapa kamu masih ngontak perempuan itu, hah! Dia di Surabaya kan? Jangan bohong kamu! Aku lihat di Facebook kamu! Apa²an kamu dikirimin foto bugil dia, hah! Apa kamu mau lihat saya bugil juga? Niih! Niih!” Perempuan itu nyaris saja mencopot dasternya sebelum akhirnya dipegangi suaminya.

Saya dan para tetangga terbengong² melihat kejadian yang sangat sinetron itu. Pak Celana Dalam dengan wajah super malu berhasil membujuk istrinya masuk, dan kami kembali nongkrong di depan rumah saya.

Saat saya berhasil merebut bakwan terakhir sebelum Pak RT mencomotnya, Pak Celana Dalam berjalan menghampiri kami. Dia mohon maaf ke warga, bilang bahwa semua yang diocehkan istrinya cuma salah paham, urusan rumah tangganya pribadi. Dia bicara seolah² kami hanya mengganggunya.

Pak Uskandar dan Pak Dani angkat bicara. Intinya warga sini itu akrab, jadi kalau ada apa² ya pasti bertindak. Khawatir ada kejadian nggak enak.

Saya menambah tekanan psikologis dengan berkata, “Pak, kalo urusan rumah tangga, kami nggak bakalan ikut campur. Itu kami paham. Kami nyamperin rumah bapak, pertama, khawatir kalau ada yang terluka atau apa. Kedua, kami terganggu istirahatnya karena keributannya terlalu sering dan berlebihan, pagi-siang-malam. Gitu lho Pak cara berpikirnya. Jadi bukan kami ikut campur urusan rumah tangga sampeyan…”

Pak Celana Dalam manggut² sambil tersenyum malu dan minta maaf lagi. Dia lalu pamit. Bapak² masih meneruskan obrolan. Beberapa orang kasihan sama anak² Pak Celana Dalam, dengan kondisi perselingkuhan bapak mereka yang membuat sang ibu jadi stres dan histeris. Tak lama kemudian bapak² juga bubar. Toh bakwannya sudah tandas. Dan sejak itu pun keributan di rumah no. 23 itu perlahan menghilang.

Dua bulan kemudian, saya lihat rumah itu kosong. Saya tanya Pak Satpam, katanya keluarga itu memang sudah pindah. Menurut Ima, pengantar Aqua galon yang anak majikannya pacaran sama anak perempuan Pak Celana Dalam, keluarga itu pindah ke desa sebelah di selatan sana.

Ah, saya harap warga sana tidak terganggu juga dengan jeritan pedih di malam hari.[]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s